Saran Grant Thornton ke Pelaku Industri Otomotif yang Terpukul akibat Pandemi

Selasa, 19 Mei 2020 22:51 Reporter : Syakur Usman
Saran Grant Thornton ke Pelaku Industri Otomotif yang Terpukul akibat Pandemi Grant Thornton. ©2017 Merdeka.com/Syakur Usman

Merdeka.com - Industri otomotif merupakan industri yang paling terdampak dari pandemi Covid-19, menurut Grant Thornton, organisasi tax, audit, dan advisory global asal London.

Data penjualan produk otomotif di April lalu turun hingga 90 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Secara nasional, penjualan mobil diproduksi turun sekitar 50 persen menjadi 600 ribu unit hingga akhir tahun ini.

Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia, sebagai industri paling terdampak dari Covid-19, pabrikan otomotif sebaiknya bertahan dulu sesuai dengan kondisi arus kas atau cash flow masing-masing perusahaan. Sambil bertahan, perusahaan juga perlu mencoba melihat situasi perusahaan di tengah kondisi pandemi ini.

"Harapannya industri otomotif segera reborn dan kegiatan ekonomi di RI mulai terbangun," ujar Johanna dalam diskusi online, Selasa petang (19/5).

Kurniawan Tjoetiar, Business Advisory Partner, menambahkan pelaku usaha/bisnis sebenarnya sudah mengenal medan masing-masing termasuk pelaku industri otomotif. Mereka memiliki kajian sendiri terhadap kondisi krisis saat ini. Misalnya secara historis, tipikal konsumennya seperti apa.

"Di sisi lain, tidak mudah melakukan efisiensi pegawai. Kemudian lakukan stop produksi untuk mengatur arus kas/cash flow," tambahnya.

Kurniawan mengaku efek domino pandemi ini sangat luar biasa terutama di sektor ekonomi dan bisnis di Indonesia.

Secara umum, Johanna Gani, menjelaskan kunci untuk bertahan adalah tetap optimis dan selalu beradaptasi dengan keadaan. Pengusaha dapat menyusun rencana terstruktur baik di masa pandemi ini maupun setelah krisis mereda, sehingga akan mampu bergerak lebih cepat kembali pada trajektori pertumbuhan semula.

Situasi Covid-19 yang terus berkembang pasti akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan serta di masing-masing industri. Para pengusaha perlu memastikan mendapat informasi terkini dari sumber berita yang kredibel sebelum menentukan strategi bisnis mereka.

Grant Thornton Indonesia merangkum lima area yang bisa menjadi fokus pengusaha untuk melewati 'krisis' ini:

1. Cash Management

Pengaturan arus kas menjadi kunci utama perusahaan untuk dapat melewati tantangan berat di tahun ini. Perusahaan perlu mengambil langkah-langkah untuk mengamankan persediaan kas mereka, termasuk mengambil tindakan yang diperlukan seperti memperpanjang pembayaran kreditor, negosiasi penangguhan pembayaran sewa dan kredit bank, serta negosiasi dengan pelanggan untuk pembayaran lebih awal.

Hingga mempertimbangkan keringanan pajak dan program pemerintah yang memberikan kemudahan bagi pengusaha. Cash Management juga meliputi bagaimana perusahaan mampu melakukan forecast keuangan jangka pendek dan menengah dengan baik.

2. Contingency Planning

Panduan tanggap darurat perlu langsung disusun untuk mengetahui apa saja sektor krusial dalam perusahaan dan memastikan strategi yang diambil aman untuk kelangsungan bisnis ke depan. Ketahui di mana titik-titik kritis dalam rantai pasokan, menyiapkan cadangan darurat saat persediaan menipis, dan mengidentifikasi pasokan alternatif termasuk perencanaan darurat ini.

Pastikan juga karyawan-karyawan yang berada di posisi krusial mendukung bisnis perusahaan agar tetap dapat bekerja dengan fleksibilitas tinggi melalui kebijakan work from home dan remote meeting.

1 dari 1 halaman

3. Pengelolaan Pemegang Saham

xpander

©2017 Merdeka.com

Perkiraan arus kas yang baik akan menempatkan perusahaan pada posisi yang lebih kuat, saat berdiskusi dengan para pemegang saham. Disarankan perusahaan untuk proaktif dan mengambil inisiatif untuk secara aktif berhubungan dengan otoritas pajak, pemberi pinjaman hingga supplier utama untuk tetap mendapat dukungan keuangan yang mungkin saja tersedia.

4. Perhatikan Karyawan

Memahami profil karyawan menjadi sangat penting dalam situasi ini untuk menemukan berbagai opsi untuk solusi tenaga kerja dalam perusahaan. Pada beberapa situasi, pengusaha akan menghadapi posisi sulit antara mempertahankan karyawan atau harus melakukan pengurangan demi kelangsungan bisnis.

Kebijakan yang jelas untuk work from home, unpaid leave hingga kapan karyawan harus dikarantina di kondisi kesehatan tertentu, perlu disampaikan agar karyawan tahu bagaimana posisi mereka dan dapat menerima pesan dari pemimpin bisnis.

5. Bentuk Tim Manajemen Krisis

Bentuk tim khusus dan pastikan perwakilan dari tiap divisi saling berkomunikasi untuk membahas dan menentukan prioritas masalah yang dihadapi perusahaan dan mengantisipasi masalah yang dapat muncul ke depannya.

Komunikasi sejak dini dan keterbukaan dengan tim dapat membangun sistem komunikasi yang sehat dan menjangkau semua karyawan baik mereka yang bekerja dari rumah maupun yang masih melakukan pekerjaan di kantor. Komunikasi yang baik juga mengurangi ketidakpastian dan kekhawatiran para karyawan.

[sya]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini