Kendala teknis paksa Subhan Aksa berfikir keras

Minggu, 17 November 2013 18:51 Sumber :
Kendala teknis paksa Subhan Aksa berfikir keras Subhan Aksa Berfikir Keras

Merdeka.com - Hasil kurang memuaskan pada hari pembuka Rally Inggris, Kamis (14/11) malam waktu lokal, membuat perjuangan Subhan Aksa berikutnya lumayan berat. Dari tiga SS (special stages) awal, untuk sementara ia menempati peringkat 11 kelas WRC2 dan urutan 26 overall dari total 56 starter seri terakhir FIA 2013 World Rally Championship (WRC) itu.

Sejak pertengahan SS1 di Gwydyr, punggawa Bosowa Fastron Rally Team (BFRT) itu sudah merasakan sesuatu yang tak normal pada mesin mobil R5-nya. RPM mobil selalu tinggi melampaui batas standar, sementara kondisi lintasan sangat basah dan licin. Sayangnya, sama sekali tak ada kesempatan membenahinya karena jadwal servis ditentukan seusai SS3.

Kondisi demikian menyebabkannya kesulitan bermanuver di tikungan, apalagi di malam hari. Laju mobil sangat mudah terpelintir. Ubang dan navigator Luca Arena (Italia) pun sepakat meredam kecepatan agar laju mobil tak terlampau liar di tikungan dan berisiko kecelakaan.

"Masalah itu baru bisa ditangani seusai SS3. Semoga saja tak ada lagi hambatan teknis agar bisa mengejar ketertinggalan pada sesi berikutnya," kata Ubang sekembaliya hampir tengah malam ke service park di daerah Deeside, Wales pukul 23:30.

Ubang kini tertinggal 1 menit 41,5 detik dari Elfyn Evans, pereli tuan rumah yang sementara memimpin kelas WRC2. Ia sadar upaya pengejaran akan sangat berat. Tantangannya tak cuma saat pertarungan di dalam lintasan SS, tapi juga untuk ‘melawan’ ketentuan servis yang diterapkan panitia penyelenggara.

Pada sesi Jumat (15/11) yang melombakan SS4 sampai 9, misalnya, lokasi servis dipindahkan ke Kota Newton yang jaraknya 178 km dari Deeside. Statusnya Remote Service, karena itu alokasi waktu perbaikan pun hanya dijatah 15 menit.

"Tantangan yang sangat besar. Dua hal harus diperjuangkan dalam waktu bersamaan. Di satu sisi mengejar ketertinggalan dan sisi satunya adalah menjaga laju mobil agar tak beresiko mengalami kerusakan parah," tandasnya.

Perihal sistem servis ini, Wales Rally Great Britain memang dikenal unik dan kejam sehingga dapat julukan Rally of Legends. Ini ajang reli yang ‘memanjakan’ para mekanik dan saat bersamaan ‘menyiksa’ pereli agar tak sembrono memperlakukan pacuannya. Jika sesi Jumat hanya 15 menit untuk perbaikan (tanpa peduli tingkat kerusakannya), maka sesi Sabtu dan hari terakhir Minggu (17/11) lebih kejam lagi.

Jadwal servis Sabtu dikembalikan ke Deeside dan hanya dibuka usai finish SS16. Artinya, jika terjadi kerusakan sepanjang SS10 ke 16, peserta bersangkutan harus mampu menanganinya sendiri. Dan, sepanjang Minggu yang melombakan 6 SS terakhir pun tak ada jadwal servis.

"Mekanismenya memang begitu. Dalam kondisi tertentu pereli juga harus siap dan mampu jadi montir buat pacuannya. Buat peserta yang tengah mengejar ketertinggalan seperti kami ini, memang dilematis. Harus pol-polan tapi juga harus menjaga kondisi mobil tetap sehat," ujar Ubang yang mendapat sambutan khusus saat opening ceremony di Kota Conwy, Wales.

Pereli muda asal Makassar ini dipanggil ke atas panggung Ceremony Start dan diminta komentarnya sebagai peserta yang datang dari negeri tropis. Apakah cuaca jadi hambatan? "Betul. Kami di Indonesia terbiasa dengan suhu udara kisaran 30 derajat celcius," jawab Ubang yang disambut tepuk tangan audiens.

Di sini hanya 5 derajat celcius dan sangat dingin. Ini tentu tantangan tersendiri, namun semoga saja bukan menjadi hambatan," tambahnya.

(kpl/nzr/sdi)


Sumber: Otosia.com
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Balap Internasional
  3. Ragam
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini