Penjualan Mobil Lesu

Jurus Bertahan ala ADM: dari Revisi Bujet hingga Stop Perpanjang Karyawan Kontrak

Selasa, 23 Juni 2020 12:07 Reporter : Syakur Usman
Jurus Bertahan ala ADM: dari Revisi Bujet hingga Stop Perpanjang Karyawan Kontrak booth Daihatsu di GIIAS 2019. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - PT Astra International Tbk adalah raksasa bisnis otomotif di Indonesia. Pangsa pasarnya lebih dari 51 persen di pasar mobil nasional yang berkisar satu juta unit sejak lima tahun terakhir.

Di bisnis kendaraan roda empat, Astra mengelola merek Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks, dan Peugeot. Toyota dan Daihatsu merupakan dua merek teratas di pasar mobil Indonesia, masing-masing memiliki pangsa pasar 31 persen dan 17 persen.

Saat ini bisnis otomotif berkontribusi hingga 50 persen terhadap laba Astra Grup yang tahun lalu mencatat laba bersih Rp 21,7 trililun.

Namun, pandemi Covid-19 di Tanah Air membuat bisnis otomotif Indonesia merosot tajam. Per Mei lalu, penjualan ritel mobil secara nasional turun 40 persen menjadi 260 ribu unit dibandingkan periode sama tahun lalu.

Sebagai pemain terbesar di bisnis otomotif, tentu Astra Grup terdampak terbesar pula.

Tak heran, Astra menyiapkan tiga strategi kunci melawan tren penurunan bisnis otomotif selama pandemi.

Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra International yang baru hasil RUPS Tahunan 2020, menjelaskan tiga strategi kunci untuk mempertahankan kinerja perseroan di tengah penurunan pasar dan daya beli masyarakat.

Pertama, disiplin keuangan seperti merevisi belanja modal atau capital expenditure (capex). Kedua, selalu menjaga bisnis Astra Grup dengan tetap mempertahankan cost leadership. Dan ketiga, perseroan tetap harus melihat apa pun (bisnis) yang mempunyai potensi secara jangka panjang.

"Ketika bisnis cenderung menurun seperti sekarang, kami melihat kembali prioritas perseroan dan belanja modalnya. Pengeluaran yang tidak perlu, ditekan. Cash flow juga dijaga," kata Djony.

Arahan dari presiden direktur baru Astra ini tentu harus mampu diimplementasikan oleh seluruh anak usahanya yang berjumlah sekitar 200 perusahaan.

Termasuk PT Astra Daihatsu Motor (ADM), sebagai pabrikan mobil terbesar di Indonesia dengan volume produksi 500 ribu uint per tahun.

Strategi Bertahan Daihatsu

Bagaimana ADM menerjemahkan arahan presdir baru Astra itu?

Amelia Tjandra, Direktur Pemasaran ADM, menjelaskan soal cost leadership Astra Grup di bisnis otomotif Indonesia.

"Bagaimana menerjemahkan cost leadership itu, ADM melakukan revisi bujet, misalnya biaya marketing dan promosi dikurang drastis. Ini bentuk komitmen kami menjadi perusahaan yang eksis dengan menekan biaya-biaya," ujar Amelia menjawab Merdeka.com, baru-baru ini.

Penerjemahan yang kedua dari ADM, kata dia, karyawan kontrak tidak diperpanjang lagi, meski karyawan tetap tidak di-PHK. Hal ini turut menurunkan biaya juga, apalagi volume produksi juga turun.

Rencana renovasi kantor pada tahun ini juga ditunda. Prinsipnya, kami evaluasi biaya-biaya; mana yang bisa ditunda dan dikurangi seperti biaya travelling.

"Kami tidak perpanjang karyawan kontrak yang habis masa kerjanya. Saat ini jumlah karyawan kontrak ADM sekitar seribu orang dari total 13 ribu karyawan. Tapi, masih ada yang masa kontraknya habis pada September, jadi setiap bulan jumlah karyawan kontrak yang tidak diperpanjang berbeda-beda. Intinya, ADM tidak lakukan PHK, hanya tidak memperpanjang masa kerja karyawan kontrak," tegasnya.

Selain itu, mempertimbangkan protokol kesehatan, ADM menerapkan kebijakan work from home sebesar 50 persen. Sisanya bekerja di kantor sambil memperhatikan protokol penyebaran Covid-19.



1 dari 1 halaman

Laba Bersih Astra Tahun Lalu Rp 21,7 Triliun

peluncuran new astra daihatsu ayla dan daihatsu sirion 2020

©2020 Merdeka.com

RUPS Tahunan Astra pada pekan lalu  antara lain menghasilkan keputusan menyetujui penggunaan laba bersih konsolidasian Perseroan untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2019 sebesar Rp 21,7 trililun.

Rinciannya, Rp 8,6 triliun atau Rp 214 setiap saham dibagikan sebagai dividen tunai termasuk dividen interim sebesar Rp 57 setiap saham atau seluruhnya berjumlah Rp 2,3 triliun yang telah dibayarkan pada 30 Oktober 2019.

Sehingga sisanya akan dibayarkan pada 10 Juli 2020 kepada Pemegang Saham Perseroan yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada 26 Juni 2020.

Sisa laba bersihnya, Rp 13,04 triliun, dibukukan sebagai laba ditahan perseroan.

[sya]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini