Ini Pekerjaan Besar Hyundai Bangun Ekosistem Mobil Listrik di Indonesia

Kamis, 29 September 2022 09:42 Reporter : Syakur Usman
Ini Pekerjaan Besar Hyundai Bangun Ekosistem Mobil Listrik di Indonesia mobil listrik Hyundai Ioniq 5 made in Indonesia. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Kendaraan elektrifikasi di Indonesia semakin populer saat ini.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan kendaraan elektrifikasi di pameran GIIAS Agustus lalu mencapai 1.594 unit, termasuk 320 hybrid dan 1.274 unit mobil listrik baterai (BEV).

Menurut Gaikindo, "Penjualan di pameran selama 11 hari tersebut melampaui total penjualan kendaraan listrik sepanjang tahun lalu. Jumlah merek dan varian kendaraan listrik di GIIAS 2022 terbanyak dibandingkan pameran otomotif Indonesia selama ini."

Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo, mengatakan kapasitas produksi BEV di Indonesia sebesar 13.000 unit per tahun.

"Kapasitas produksi 13 ribu unit itu berasal dari dua pabrikan otomotif di Tanah Air," kata Kukuh saat diskusi dengan Forum Wartawan Otomotif Indonosia, baru-baru ini.

Ya, salah satu pabrikan BEV tersebut adalah Hyundai dengan memproduksi model Ioniq 5.

Mobil listrik Hyundai Ioniq 5 pun mendapat gelar "Mobil Listrik Pertama yang Dibuat di Indonesia". Bahkan produksi perdananya disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, medio Maret lalu.

Ini tentu kebanggaan tersendiri, ketika raksasa otomotif dunia memilih Indonesia menjadi basis produksi "mobil masa depannya" untuk pasar dunia.

Selain Ioniq 5, Hyundai Indonesia juga memasarkan model BEV lainnya, yakni Kona Electric.

2 dari 3 halaman

Bangun Ekosistem EV di Indonesia

mobil listrik hyundai ioniq 5 made in indonesia
©2022 Merdeka.com

Strategi besar Hyundai di Indonesia tidak hanya berhenti sebagai basis produksi.

Pabrikan asal Korea ini juga membangun ekosistem mobil listrik di Tanah Air.  Ini lebih fundamental bagi industri otomotif nasional. Cocok dengan visi Hyundai Indonesia menjadi "game changer".

Salah satu ekosistem EV yang Hyundai persiapkan baik untuk pasar global maupun Indonesia, yaitu BEV Ioniq 5 dan Electric-Global Modular Platform (E-GMP).

EV Ioniq 5 merupakan produk pertama yang dibangun dengan platform E-GMP. Berkat platform E-GMP, Ioniq 5 menawarkan desain interior inovatif dengan material ramah lingkungan di beberapa titik tertentu, performa kuat berpadu dengan pengisian daya sangat cepat, fungsi Vehicle-to-Load (V2L), dan sebagainya.

Sejatinya platform E-GMP menawarkan banyak kelebihan:

1. Ringkas, dirancang agar lebih ringkas untuk mengoptimalkan ruang dan bobot.

2. Efisien, meningkatkan efisiensi daya secara unik yang mana kapasitas baterai tetap sama. Namun memungkinkan jarak tempuh berkendara menjadi lebih jauh sekaligus mengembangkan teknologi cara kerja pengapian struktur koil.

3. Bebas stres saat pengisian daya, karena hanya butuh waktu 18 menit hingga 80 persen sejak pengisian daya awal.

4. Menyenangkan dalam berkendara, baterai dapat memberikan daya ke motor listrik bagian belakang, sementara untuk model tertentu juga akan menyertakan motor traksi depan.

5. Vehicle to Load (V2L), E-GMP menghadirkan fungsi V2L yang memungkinkan mobil dapat berfungsi sebagai pengisi daya listrik (110V/220V) pada kendaraan lain melalui Integrated Charging Control Unit (ICCU). Serta Vehicle Charging Management System (VCMS) tanpa menggunakan perangkat tambahan.

Selain platform E-GMP, Hyundai Indonesia juga memberikan fasilitas wall charger (AC charger) kepada pembeli mobil listriknya. Sehingga konsumen bisa mengisi daya mobilnya di rumah sendiri tanpa repot.

Selain dapat mengisi daya di rumah, Ioniq 5 juga dapat mengisi daya di fasilitas fast charging (DC charger kapasitas 50 kW) sehingga pengisian daya baterainya hingga 80 persen cukup singkat: sekitar 45 menit.

Menariknya, dalam jangka panjang, Hyundai berencana menghadirkan fasilitas super fast-charging kapasitas daya 350 kW di Indonesia. Fasilitas ini memungkinkan semua tipe Ioniq 5 dapat mengisi daya baterai hingga 80 persen hanya 18 menit!

Baru-baru ini PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) membangun fasilitas Hyundai EV Charging Station di sejumlah strategis. Fasilitas ini, selain dapat mengisi daya baterai mobil listrik dengan AC, juga ada DC fast charging yang menawarkan pengisian daya lenbih cepat.

Fasiltas ini ada di Senayan Park dan Hyundai Driving Experience SCBD, Jakarta Selatan. Di lokasi charging station ini, Hyundai menyediakan satu alat charger dengan dua kepala charger, masing-masing kepala charger mengalirkan daya listrik sebesar 50 kW.

Sebagai ilustrasi, untuk mengisi daya baterai dari 0- 80 persen, hanya membutuhkan waktu 45- 50 menit.

3 dari 3 halaman

Charging Station di Setiap Diler Resmi

diler hyundai dalam jaringan hyundai gowa

©2021 Merdeka.com

Saat ini Hyundai telah membangun sekitar 180 charging station atau stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di seluruh Indonesia.

Seluruh SPKLU ini tersebar dari Aceh hingga Papua dan dibangun di lokasi yang beragam, seperti rest area dan diler resmi Hyundai.

Oya, ada pula layanan gratis 24 jam Emergency Mobile Charging Service selama masa garansi (berlaku di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya).

“Sejak mengeluarkan mobil listrik, kami membangun ekosistem dulu. Misalnya, dari Banten hingga ujung Pulau Jawa dan Bali, kami membangun SPKLU dengan kapasitas 7,7-50 kW, seperti di rest area yang ada di Cirebon, Solo, dan Semarang,” ungkap Makmur, Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), saat dijumpai di pabrik Hyundai di Cikarang, Jawa Barat, Juli lalu.

Menurut Makmur, HMID akan terus mempersiapkan dan menambah SPKLU di titik-titik lokasi yang memang menjadi tempat tujuan favorit para pengguna mobil listrik. Seperti mal, kafe, restoran, dan hotel.

"Kami minta setiap diler resmi memiliki charging station," pungkas Makmur.

Infrastruktur termasuk charging station memang kendala dalam ekosistem mobil listrik di Indonesia.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, salah satu syarat pertumbuhan mobil listrik di Indonesia adalah membangun ekosistem kendaraan listrik. Adopsi kendaraan listrik ditentukan dengan seberapa cepat Indonesia membangun ekosistemnya.

Paling tidak ada tiga yang dibutuhkan: infrastruktur catu daya atau charging station, integrasi sistem kelistrikan, dan produksi baterai berkelanjutan.

"Pada akhirnya manfaat dari penurunan emisi gas rumah kaca ditentukan oleh energi apa yang dipakai untuk mengisi daya mobil listrik. Karena itu, integrasi power system dengan energi terbarukan yang lebih banyak akan mendorong manfaat dari mitigasi gas rumah kaca, dan juga tidak dilupakan adalah produksi baterai berkelanjutan," jelas Fabby dikutip dari merdeka.com.

Seperti kata Gaikindo, popularitas mobil listrik di Indonesia sedang meningkat. Ini membutuhkan dukungan ekosistem lebih masif dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pabrikan seperti yang ditunjukkan Hyundai dari awal.

[sya]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini