Buku, Peradaban Islam yang Hilang

Akhmad Najibul Khairi Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya/Mahasiswa S3 di Western Sydney Univeristy Senin, 12 September 2022 17:46
Buku, Peradaban Islam yang Hilang Kakek Abdallaa Abu Dawh, Pemilik Perpustakan Bawah Tanah yang Menyimpan 15.000 Buku. ©2022 REUTERS/Mohamed Abd El Ghany

Merdeka.com - Fokus tulisan ini akan bercerita tentang buku sebagai komponen dan penanda dari kemajuan peradaban Islam di masa lampau. Buku dalam format yang kita kenal seperti sekarang ini, bentuk dan fisiknya, dan bagaimana ia bisa diakses oleh publik secara umum.

Sebelum pembuatan kertas menjadi industri, ilmu pengetahuan sudah berkembang dalam dunia Islam, dengan tradisi lisan yang dominan. Catatan hanya dalam bentuk perkamen-perkamen yang hanya bisa diakses oleh kalangan terbatas.

Setelah Nabi Muhammad SAW. wafat, salah satu legasi utamanya bagi peradaban adalah sikap inklusif dan terbuka terhadap yang lain. Dalam beberapa kasus, seperti dalam peristiwa Khandaq, Nabi Muhammad SAW. terbuka dan menerima strategi perang dengan membangun parit, atas usulan Salman Alfarisi, yang diadopsi dari strategi perang bangsa Persia. Beberapa anjurannya untuk menuntut ilmu dan mencari wawasan seluas-luasnya, menjadi landasan masyarakat Muslim yang masih muda itu, untuk bergerak maju seiring dengan perluasan wilayah kekuasaan yang sangat agresif.

Pertemuan masyarakat Muslim dengan kertas, dimulai pada pertengahan abad 8 Masehi, hampir 300 tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Saat itu, wilayah Islam sudah terbentang dari India hingga Afrika Barat, dan sebagian Eropa, yang meliputi semenanjung Iberia, Sisilia dan sebagian Eropa Timur. Dan kisah itu dimulai dengan terjadinya Perang Talas, yang berlangsung di Samarkand.

Perang yang terjadi pada tahun 751 M ini merupakan konflik perbatasan antara Bani Abbasiyah Arab dengan Dinasti Tang Cina yang memperebutkan kekuasaan di Syr Darya. Saat itu kaum muslim berhasil menawan beberapa orang dari Cina, yang ahli dalam pembuatan kertas. Mengetahui hal tersebut, para ahli kertas itu diberi fasilitas untuk memperlihatkan keterampilan mereka. Akan tetapi, bahan baku utama pembuatan kertas yang dikenal oleh para ahli dari Cina itu adalah pohon Murbei, yang tidak bisa didapatkan di wilayah Samarkand atau wilayah Islam lainnya. Hal tersebut kemudian melahirkan inovasi baru yang sangat penting. Kaum Muslim memperkenalkan bahan baku lain dari pohon linen, kapas dan serat, menjadikan bambu sebagai pengering kertas yang masih lembab, dan menambahkan pemutih dan bahan kimia lainnya. Pada tahap pemotongan kertas, kaum muslim memperkenalkan inovasi baru dengan menggunakan kanji gandum, sehingga permukaan kertas menjadi lebih licin dan bisa ditulis dengan tinta.

Dari Samarkand, industri kertas meluas ke wilayah-wilayah Islam lainnya. Tahun 793 M, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid, percetakan kertas pertama dibangun di Baghdad. Selanjutnya di Damaskus, Tiberia, Cairo, Tripoli, Fez, Sisilia Islam hingga Jativa dan Valencia Islam di Spanyol.

Pada akhir abad ke 10, pabrik-pabrik kertas terapung, telah dibangun di sepanjang sungai Tigris. Pada tahun 1151, Jativa, Spanyol Islam, yang saat itu dikenal sebagai salah satu pusat industri kertas terkemuka di dunia, telah memperkenalkan teknologi kincir air untuk menggerakkan alat-alatnya. Eropa baru membuat pabrik kertas pertama di Fabrino, Italia, pada tahun 1276. Selanjutnya di Nurenberg pada tahun 1390.

Munculnya industri kertas lalu melahirkan profesi baru yang saat itu dikenal dengan nama Warraqin (spesialis kertas). Yaitu mereka yang mengelola distribusi kertas, sekaligus menuliskan beragam manuskrip berdasarakan pesanan pembelinya. Fungsinya seperti percetakan dan penerbit buku pada zaman ini. Selanjutnya, para Warraqin ini mendirikan kios-kios penjualan yang menjamur di kota-kota utama Islam.

Al-Ya’qubi, seorang sarjana Muslim terkenal dari akhir abad 9, mencatat bahwa ada lebih dari seratus toko buku di kawasan pinggiran kota Baghdad. Toko-toko buku itu selanjutnya bertransformasi menjadi tempat diskusi akademis yang dihadiri para sarjana muslim dari berbagai wilayah. Salah satu toko buku terkenal di Baghdad dinamai dengan An-Nadim, dengan koleksi ribuan buku dan manusukrip. Format buku-buku itu berbentuk lembaran-lembaran kertas yang diikat dengan sampul yang terbuat dari kulit. Persis, atau hampir mirip dengan buku yang kita kenal pada zaman modern.

Setelah toko-toko buku, yang muncul selanjutnya adalah perpustakaan. Salah satu yang paling terkenal adalah Baitul Hikmah yang mendapat dukungan penuh dari negara. Baitul Hikmah tidak hanya berfungsi sebagai kolektor buku, namun juga berperan besar dalam penerjemahan buku-buku dari bahasa asing, dan menjadi pusat penelitian dan diskusi akademis. Pada saat lembaga ini dihancurkan oleh tentara Mongol pada tahun 1258, ada 39 lembaga sejenis di kota Baghdad. Dan hampir setiap lembaga-lembaga tersebut menyediakan ruangan khusus bagi para penulis, warraqin atau penyalin buku. Bukan hanya di Baghdad, perpustakaan bisa dengan mudah di dapatkan di kota-kota Islam lainnya, seperti Fez, Kairo, Damaskus, Samarkand, Cordoba dan Bukhara.

Ada tradisi yang patut dicermati dalam proses penerjemahan dan penyalinan buku-buku pada saat itu. Bahwa para penerjemah dan penyalin buku itu, hampir semuanya menyertakan catatan kritisnya terhadap buku-buku yang digarapnya. Setelah selesai, mereka akan menyerahkannya kepada penulis aslinya, untuk diperiksa dan diperbaiki, dan mendapatkan persetujuannya. Lalu berdasarkan kesepakatan bersama, penulis akan mendapatkan royalti.
Hingga abad ke 15, penerbitan buku di dunia Islam masih dominan jika dibandingkan dengan belahan dunia lainnya. Dari abad 7 hingga abad 15, selama 800 tahun, ilmu pengetahuan dan buku mendapatkan penghormatan yang luar biasa. Berawal dari wahyu (Al-Qur’an) pertama, Iqra’, Nabi Muhammad saw. telah meletakkan pondasi besar bagi sebuah peradaban agung, yang berlandaskan ajaran luhur agama dan ilmu pengetahuan, dengan buku sebagai instrumen utamanya. Berbagai disiplin ilmu pengetahuan tumbuh subur dan berkembang. Arsitektur, kedokteran, seni dan sastra, filsafat, dan seterusnya. Disamping tentu saja, dalam bidang agama. Setelah abad 15, buku sebagai instrumen peradaban berangsur-angsur menghilang dari dunia Islam. Bukan dari segi kuantitas, namun secara kualitas. Dan tugas kita semua untuk mengembalikan sejarah, menjadikan buku sebagai entitas utama peradaban. Semoga bisa.

[has]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini