Syafrizaldi Menambah Perbendaharaan Medali Perunggu

Sabtu, 9 Desember 2006 09:55 Sumber :
Syafrizaldi Menambah Perbendaharaan Medali Perunggu
Kapanlagi.com

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Syafrizaldi menambah perbendahaan medali perunggu Indonesia setelah menempatkan diri di urutan ketiga dari lima binagarawan yang maju ke babak final kelas -70kg putera Asian Games XV yang berlangsung di Al-Dana Banquet Hall di kawasan Stadion Khalifa, Doha, Jumat petang waktu setempat.

Syafrizaldi, asli keturunan Padang namun lahir di Medan 10 Juni 1965, meloloskan diri dari babak penyisihan siang hari yang diikuti 15 peserta dan pada babak final yang diikuti lima peserta, hanya mampu menempatkan diri di urutan ketiga dengan total skor 34.

Medali emas jatuh pada Chua Ling Fung dari Singapura yang mendapat total skor 10 dan medali perak pada atlet dari Bahrain, Husain Sayed Faisal, sementara dua atlet yang berada di bawah Syafrizaldi berasal dari Jepang dan Iran.

Binarawan Indonesia lainnya, Heintje Benny Pojoh, kelahiran Manado pada 19 Maret 1972, yang turun pada kelas -65 kg yang diikuti 15 peserta dan berlangsung lebih awal, pada babak penyisihan berada pada posisi ke-12 dan tidak berhak mengikuti putaran final.

Pada kelas -65 kg itu, peraih medali emas berasal dari Uni Emirat Arab, Zahmi Mohamed Salem Abdula dengan total skor 14, disusul Abd Samad Sazali dari Malaysia dan Cong Ka Lap dari Macao.

Pertandingan adu kebagusan bentuk otot yang dinilai delapan juri secara bergantian itu, disaksikan banyak penonton, terutama dari negara Bahrain dan Singapura, yang atletnya mendominasi permainan dan mendapat medali emas pada beberapa kelas yang ditandingkan.

Syafrizaldi ketika ditemui usai bertanding dua kali mengeluarkan air mata karena kecewa atas kekalahannya itu. Pertama ia menangis ketika ditemui di balik panggung dan kedua saat diwawancarai RCTI.

"Saya sangat kecewa. Banyak orang di belakang panggung mengatakan saya yang pantas keluar sebagai juara pertama, tetepi kenyataannya seperti ini. Inilah olahraga yang tidak terukur, berbagai kepentingan ada di dalamnya,"kata Syafrizaldi.

"Saya amat menyesal, padahal saya amat ingin mempersembahkan medali emas kepada bangsa dan negara. Tapi sudahlah, apa boleh buat. Ini yang namanya olahraga, ada menang dan ada kalahnya," atlet yang rambutnya dicat putih itu sembari menyebutkan, ia menghabiskan uang pribadi sekitar Rp45 juta untuk mempersiapkan diri bertanding di Doha.

Tidak puas

Manager Tim, Alamsyah Wijaya, mengatakan, cabang binaraga merupakan cabang terakhir yang diputuskan untuk dikirim ke Asian Games Doha.

"Kalau tidak salah, binaraga diputusakan ke Doha pada 25 November. Atlet memang mempersiapkan diri sendiri untuk datang ke sini,"kata Alamsyah yang juga Sekjen PB PABBSI.

Ia mengaku tidak puas dengan keputusan wasit yang menyebabkan anak asuhnya itu hanya mendapatkan medali perunggu.

" Tapi kita mau bilang apa lagi. Orang-orang di belakang panggung tadi sudah mengucapin selamat kepada kita. Tapi yang terjadi seperti ini," katanya sembari mengaku dengan tidak adanya wasit Indonesia di antara delapan wasit yang memimpin pertandingan itu, sedikit banyaknya mempengaruhi penilai secara keseluruhan.

"Pertandingan olarhaga yang tidak terukur ini penilaiannya amat subjektif. Kita tidak menuduh yang bukan-bukan, tetapi dapat saja ada kepentingan tertentu di dalamnya," katanya.

Ia mengatakan, sekretaris juri pada pertandingan binaraga Asian Games itu berasal dari Indonesia, Sinetra Kalesis, namun tidak ada warga Indonesia yang duduk di belakang meja wasit. "Kita sebenarnya memiliki kans besar untuk mendapatkan medali emas, tetapi keberuntungan belum berpihak kepada kita," katanya.

Pada pertandingan binaraga Asian Games XV, Indonesia hanya mengirimkan dua binaragawan yang turun pada dua kelas berbeda. (*/cax)

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini