Peparpenas IX: Prestasi, Senyum Bahagia dan Tangisan Haru

Rabu, 13 November 2019 12:41 Reporter : Bagus Suryadinata
Peparpenas IX: Prestasi, Senyum Bahagia dan Tangisan Haru Peparpenas IX. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah atlet Boccia Fauzi Saputra ketika selesai bertanding. Sambil duduk di atas kursi roda, Fauzi bertepuk tangan dan melempar senyum ketika melewati kerumunan penonton. Pelatihnya Ati Rosita yang mendorong kursi roda Fauzi ikut meneteskan air mata kebahagian atas torehan prestasi anak asuhnya itu.

“Boccia ini olahraga baru, tapi kami beruntung, anak ini -Fauzi Saputra- (atlet pelajar disabilitas Cabor Boccia perwakilan Provinsi Banten), semangatnya tinggi. Kami bangga, medali ini adalah hasil kerja keras tim selama beberapa bulan belakangan," kata Ati Rosita atau yang biasa dipanggil Ceuceu setelah upacara penghormatan pemenang cabang olahraga Boccia diselenggarakan di Gelanggang Remaja Kecamatan Matraman pada Senin sore (11/11). Fauzi mendapatkan medali perak pada gelaran Pekan Paralympic Pelajar Nasional (Peparpenas) IX di Jakarta.

Kondisi yang sama juga dialami atlet pelajar disabilitas cabor atletik asal Sumatera Utara, Robby Syahrul Ramadhan yang mendapatkan medali emas 100 meter putra. Ia menangis setelah penyelenggaraan upacara penghormatan pemenang dilaksanakan.

"Medali ini saya kirimkan untuk almarhum bapak saya. Saya ingin bapak bangga sama saya," ucapnya menangis terharu.

Selain menyediakan wadah dan mengukur prestasi atlet-atlet pelajar disabilitas, Peparpenas yang selalu menjadi ajang rutin Kemenpora ini selalu memiliki cerita haru dan bahagia. Ketika pembukaan, Menpora Zainudin Amali menggendong atlet renang asal Riau, Latifah Fitri untuk menyulutkan api ke kaldron. Usai pembukaan pun Menpora terharu melihat semangat Latifah.

"Saya terus terang merasa terharu melihat semangat mereka (atlet disabilitas). Kaum disabilitas kita semangatnya sama dengan kita. Itu yang membuat saya bersama teman-teman dari Kemenpora terharu. Kita berharap kedepannya perhatian khususnya pemerintah daerah terhadap kaum disabilitas," ucapnya.

Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta menyampaikan mendapati diri sendiri adalah seorang disabilitas yang memiliki kekurangan fisik dan mau menerima keadaan itu adalah sesuatu yang hebat.

"Lebih lebih lagi dengan munculnya kemauan untuk menggali potensi diri yang membuat diri sendiri harus melawan kekurangan yang dimiliki," katanya.

"Memiliki kekurangan fisik sebenarnya bukan sesuatu hal yang harus disesali terus menerus. Pemerintah melalui Kemenpora memberikan wadah untuk aktualisasi diri melalui olahraga. Peparpenas adalah salah satu wadah yang akan menghantarkan pelajar disabilitas Indonesia menjadi atlet profesional dikemudian hari. Mungkin banyak hal lain yang dapat dilakukan dalam keterbatasan, tak hanya olahraga. Olahraga memberi pelajaran tentang nilai berjuang, memberi keluarga baru yang senasib sepenanggungan, serta juga memberi kesempatan untuk mengharumkan nama daerah/bangsa dengan prestasi olahraga," tambahnya.

Pekan Paralympic Pelajar Nasional IX berlangsung di Jakarta pada 6-13 November 2019. Adapun tema Peparpenas IX adalah “Wujudkan Kesetaraan, Tingkatkan Prestasi”. Cabang olahraga yang dipertandingkan pada tahun 2019 adalah boccia, renang, atletik, tenis meja, bulutangkis, dan catur. [paw]

Topik berita Terkait:
  1. Berita Kemenpora
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini