Pengabdian 100% Pascal Wilmar untuk Dunia Voli Indonesia

Rabu, 8 Agustus 2018 12:15 Reporter : Iwan Tantomi
Pascal Wilmar ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Bagi generasi milenial, nama Pascal Wilmar mungkin masih terdengar asing di telinga. Padahal sosok pria ini merupakan seorang legenda olahraga yang pernah membuat bangsa Indonesia bangga. Tubuhnya yang tinggi besar menjadi senjata mematikan bagi setiap lawan yang menghadapi Pascal dan timnya. Padahal, siapa sangka kalau ternyata dirinya dulu nyaris memilih jadi pianis.

"(Mulanya) ingin menjadi pemain piano gitu, terus sudah tujuh tahun saya les piano, kata Pascal.

Namun apa mau dikata, garis nasib justru membawanya menjadi olahragawan. Berawal dari kunjungan ke rumah kakeknya di Maluku, dirinya malah ditawari untuk bergabung bersama sebuah klub voli. Bahkan Pascal mengakui bahwa dirinya langsung jatuh cinta dengan aktivitas barunya tersebut.

Begitu saya main voli, ikut klub di Maluku ini, hilang saja gitu (kemampuan main) piano saya. Gak tahu karena passion-nya pokoknya di voli enak saja gitu, olahraga beregu, kita (menjalin) kekompakan, kebersamaan, kayaknya seru saja anak-anaknya," lanjutnya.

Pada 1991, Pascal Wilmar mendapat kesempatan untuk memperkuat timnas voli. Sayangnya, dia gagal menembus skuat utama. Semangat kemenangan tampaknya begitu berkobar di dadanya. Dua tahun kemudian dia kembali mengikuti tes pemain nasional bola voli. Kali ini hasilnya positif. Pascal Wilmar masuk dalam kontingen Indonesia untuk kompetisi 7th Asean University Games 1992 di Selangor, Malaysia, bahkan Pascal meraih predikat pemain terbaik.

"Iya, 1993 itu kan mereka lihat mungkin permainan saya bagus gitu, mereka ke PB minta,'Pascal, Candra Halim, sama Rudi Hartono'. Kebetulan di kejuaraan itu, liga Malaysia pertama, saya dapat pemain terbaik MVB Player," ungkap Pascal, mengenang #CeritaKemenangan di masa lalu.

Kejayaan Pascal Wilmar di dunia voli berlanjut. Di tahun 1993, namanya masuk dalam daftar tim nasional voli untuk SEA Games. Tak mau melewatkan kesempatan itu, Pascal bersama rekan-rekannya menjawab kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan medali emas.

Saat ini Pascal Wilmar tetap menyibukkan diri dalam dunia voli. Tiga kali seminggu dirinya melatih sebuah klub voli di Jakarta. Lebih hebat lagi, dia melakukannya tanpa meminta bayaran sepeser pun! Pria berdarah Belanda-Ambon ini berharap jerih payahnya bisa menghasilkan atlet-atlet voli berbakat yang berguna bagi Indonesia.

"Cita-cita saya sih ingin mencetak pemain, setidaknya untuk PON, Proliga, Pemain Nasional. Ini kan pembibitan perlu waktu, ya, gak mungkin langsung instan, ya, mungkin 3-4 tahun baru mulai kelihatan," sambung Pascal. "Saya sih ingin bola voli kita ini bicara di kancah Asia, mungkin bisa lagi ke Olimpiade."

Berkat dedikasinya yang luar biasa di dunia voli, Grab mengajak Pascal Wilmar untuk bergabung dalam kampanye #KemenanganItuDekat. Sebuah ajakan bagi Pascal dan semua warga negara Indonesia agar lebih peduli dengan perkembangan olahraga di Tanah Air. Salah satu agendanya adalah mengajak Pascal Wilmar untuk menjadi torch bearer, pelari yang membawa obor Asian Games 2018 dalam torch relay yang digelar di Bali dan Palembang.

Selain itu, Grab, sebagai official mobile platform partner Asian Games 2018 juga memberikan apresiasi kepada Pascal Wilmar dalam bentuk giant check senilai Rp25 juta. Diharapkan, penghargaan dari Grab tersebut akan membuat Pascal Wilmar makin bersemangat untuk meningkatkan prestasi voli Indonesia. [tmi]

Topik berita Terkait:
  1. Asian Games 2018
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini