Zat Berbahaya di Teluk Jakarta

Jumat, 8 Oktober 2021 15:18 Reporter : Lia Harahap
Zat Berbahaya di Teluk Jakarta Infografis tercemarnya Teluk Jakarta. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Teluk Jakarta sedianya menjadi rumah aman untuk biota laut. Tumbuh dan berkembang di tempat yang menjadi habitatnya. Tetapi, hidup mereka kian terusik. Di dalam perairan sejumlah zat berbahaya ditemukan. Membuat kelangsungan hidup mereka terancam.

Penelitian terbaru menunjukkan perairan di Teluk Jakarta mengandung paracetamol. Hasil penelitian Wulan Koagouw dan Zainal Arifin.

Ada empat titik di Teluk Jakarta yang mereka teliti. Dua di antaranya yakni di perairan Angke dan Ancol ditemukan kandungan paracetamol di atas 400 nanogram per liter. Rinciannya, kandungan paracetamol di Angke sebesar 610 nanogram per liter dan di Ancol mencapai 420 nanogram per liter.

Temuan itu sedang didalami lebih jauh oleh Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta. Dugaan awal, kandungan paracetamol di Teluk Jakarta ada kaitannya dengan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2021 lalu. Tetapi untuk memastikan, sampel air laut di Teluk Jakarta sedang diteliti.

Temuan pencemaran lingkungan di wilayah perairan Jakarta sebenarnya bukan kali ini saja. Sejumlah penelitian mengungkap kondisi mengkhawatirkan Teluk Jakarta karena banyaknya sampah hingga zat berbahaya. Bahkan selama pandemi, jumlah sampah yang mengalir ke Teluk Jakarta mengalami peningkatan.

Penyebabnya bermacam-macam. Bisa dari masyarakat membuang sampah sembarangan, hingga aktivitas industri.

"pabrik, misalnya ada masalah di alat akhirnya bocor sehingga lepas ke perairan. Dari ekskresi orang yang mengonsumsi, atau terakhir ulah oknum," kata Guru Besar Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Etty Riani, saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (6/10).

Menurutnya, temuan paracetamol di Teluk Jakarta tidak bisa langsung dikategorikan sebagai pencemaran. Suatu kejadian dikatakan mencemari ketika sudah memenuhi baku mutu. "Jadi lebih baik mengatakannya terkontaminasi saja," katanya.

Etty cukup rutin melakukan penelitian tentang pencemaran di Teluk Jakarta. Diakuinya, memang banyak sekali zat berbahaya menjadi penghuni gelap perairan Teluk Jakarta. Ada logam berat yang masuk kategori berbahaya karena tidak terurai.

Meski sebagian zat di Teluk Jakarta tidak terlalu berbahaya, tetap saja merusak kelangsungan hidup biota laut yang ada di dalamnya. Misalnya saja paracetamol mengontaminasi ikan atau biota laut lainnya. Secara tidak langsung bisa mengganggu sistem pencernaan, hati dan ginjal hewaw-hewan di Teluk Jakarta.

"Beda lagi kalau logam berat itu kan lekat, ikatan yang tidak bisa lepas karena ikatannya namanya ikatan komponen, sementara yang paracetamol enggak," jelas dia.

Dia mengajak masyarakat dan pelaku industri memahami efek buruk dari membuang sampah sembarangan. Masalah yang timbul bukan sekadar lingkungan menjadi kotor, tetapi sampai pada pencemaran.

Reporter: Lia Harahap, Leony [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini