Yohana Baransano, Penyayang Bumi dari Tanah Papua

Jumat, 26 Juni 2020 06:05 Reporter : Syifa Hanifah
Yohana Baransano, Penyayang Bumi dari Tanah Papua Yohana Baransano Penyayang Bumi dari Tanah Papua. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Yohana Baransano tumbuh di sebuah kampung di pulau kecil yang berhadapan langsung dengan kota Jayapura. Dipisah Teluk Humbold atau lebih dikenal Teluk Yos Sudarso. Semasa kecil, Yohana banyak menghabiskan waktu di pantai. Letaknya tak jauh dari rumahnya. Satu-satunya tempat bermain bagi anak-anak di kawasan pesisir.

Pantai menjadi tempat paling menyenangkan bagi mereka. Hamparan pasir yang putih berbuih dengan laut membiru. Tapi itu cerita lama. Dia melihat langsung perubahan yang terjadi. Rusaknya tanah kelahirannya. Air sungai pun tak lagi jernih karena ternodai sampah plastik.

Tumpukan sampah mendarat di bibir pantai hingga muara sungai. Tak jarang bersembunyi di tiang penyangga rumah warga. Jika musim penghujan tiba, tampak jelas bukit plastik di muara sungai. Dekat permukiman warga.

Sampah laut bercampur sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai. Kondisi yang buruk bagi kelangsungan hidup masyarakat. Apalagi laut dan sungai telah memberi kehidupan pada mereka.

"Sehari-hari itu menjadi tempat mancing untuk makan sehari-hari. Baik untuk masyarakat kampung atau masyarakat dari pinggiran pantai yang memancing untuk mendapatkan ikan," ujar Yohana saat berbincang dengan merdeka.com pekan lalu.

Yohana tak ingin berdiam diri. Tak mau sekadar menyalahkan perilaku warga yang seenaknya mengotori sungai dan laut. Daripada mengutuk kegelapan, Yohana menyalakan lilin demi kehidupan di masa depan.

yohana baransano penyayang bumi dari tanah papua

Dari sana Yohana mengikrarkan diri. Menjaga bumi dengan caranya sendiri. Dia ingin punya andil menyelamatkan bumi dari kerusakan. Menyayangi bumi agar tetap memberi kehidupan pada generasi berikutnya.

Satu per satu rekannya dikumpulkan. Diajak menyaksikan pantai yang indah. Namun penuh sampah. Sungai yang tak lagi jernih. Yohana berhasil memotivasi beberapa orang untuk ikut bergerak dalam langkah yang sama.

"Sekitar satu atau dua tahun lalu kami ada Komunitas Sa Sayang Bumi (Saya Sayang Bumi) melakukan aksi bersih pantai. Kami termotivasi untuk harus ayo kita mulai, biarpun hanya kita saja yang mulai," katanya.

Mereka berjalan menyusuri panjangnya garis pantai. Beriringan dengan matahari yang mulai perlahan beranjak kembali ke peraduannya. Sampah-sampah yang bertebaran di bibir pantai dimasukkan ke dalam plastik sampah. Sekilas perbekalan mereka hanya trash bag, sarung tangan dan masker. Tapi jauh di dalam diri mereka, tertanam modal yang sangat kuat. Komitmen menyayangi Bumi.

"Kebetulan yang menyatakan komitmen untuk serius dan aktif itu justru teman-teman yang tinggal jauh dari pantai. Jadi kita mendorong supaya mereka juga bisa buat di danau," ucapnya.

yohana baransano penyayang bumi dari tanah papua

Setiap kali turun aksi membersihkan pantai dari sampah, Yohana tak lupa menyelipkan misi lain. Misi yang justru lebih berat. Memberi edukasi pada para pengunjung pantai. Contohnya di Pantai Holl. Yohana menemui pengunjung. Satu per satu. Mengajak mereka untuk tidak membuang sampah di pantai.

Bukan perkara mudah. Masyarakat cenderung apatis dengan gerakan menjaga kelestarian lingkungan dari sampah. Mereka merasa sudah membayar cukup mahal untuk menikmati pantai. Sehingga melupakan kesadaran untuk menjaga kelestariannya.

"Kita bilang Bapak Ibu, (Ibu) di sini itu panggilannya Mama. Mama dorang, dorang jangan bakar, jangan buang (sampah) ke laut harus dikumpulkan nanti petugas ambil," jelasnya.

Hal serupa terjadi di Pantai Hamadi yang berada tak jauh dari Jembatan Youtefa atau Jembatan Merah. Dulunya jembatan ini bernama Holtekamp. Jembatan Merah kini menjadi ikon baru Papua. Pantai Hamadi menjadi salah satu titik kumpul warga dan wisatawan. Di mana ada kerumunan, di sana sampah tertinggal. Titik kumpul warga dianggap sebagai tempat yang paling cocok untuk mereka bergerak.

1 dari 3 halaman

Api yang Tak Padam

yohana baransano penyayang bumi dari tanah papua

Tidak banyak warga yang tergerak hatinya menyayangi pantai dan sungai. Tapi Yohana tak patah arang. Janjinya menjaga Bumi tak berhenti walau kini baru ditemani 10 orang. Langkah kecil ini akan menjadi gerakan bersama. Suatu hari nanti, kesadaran akan muncul ke permukaan.

"Memang orang anggap ini hal yang sangat aneh. Kurang kerjaan sekali mau kumpul sampah terus repot, karena ini kan sebenarnya tugasnya pemerintah," selorohnya.

Harapan datang dari anak-anak Papua. Dengan kesadaran diri, mereka mengikuti langkah kaki Yohana. Kesadaran itu timbul dari rasa keingintahuan. Ketika mereka bermain di Pantai, yang biasa dilihat adalah sampah dibakar. Tapi mereka menyaksikan Yohana memungut sampah dan mengumpulkannya.

Dengan bahasa sederhana, Yohana memberikan penjelasan. Jika sampah dibiarkan, laut menjadi tercemar. Padahal laut dan pantai adalah tempat anak-anak bermain dan mencari ikan untuk dimakan. Mendengar cerita Yohana, anak-anak itu secara sukarela ikut membantu.

Tanpa kenal lelah Yohana terus mengajarkan pada mereka. Pantai bukan hanya tempat bermain dan berfoto. Di balik sunset yang indah, ada sampah yang sangat banyak. Upaya mengedukasi anak-anak dilakukan dengan baik. Berbuah hasil. Terkadang, anak-anak itu yang mengingatkan orang tua mereka agar tidak membuang sampah sembarangan.

"Saya merasa ada harapan ketika anak-anak terlibat. Ada satu anak, keponakan saya. Dia berenang ke laut mencari sampah terus dibawa (ke pantai). Dia kumpul dan dia sangat senang. Karena sambil mereka main mereka kumpul (sampah)," cerita Yohana.

2 dari 3 halaman

Gerakan di Media Sosial

yohana baransano penyayang bumi dari tanah papua

Dalam pikirannya, aksi kecil ini harus menjadi besar. Memanfaatkan media sosial. Berjejaring dengan sesama komunitas peduli lingkungan. Mengkampanyekan aksi bersih pantai agar semakin banyak orang peduli. Termasuk menggalang dukungan pendanaan yang dibutuhkan.

Kampanye yang dilakukan di media sosial juga sangat sederhana. Sekadar mengunggah foto kegiatan dengan narasi ajakan. Tidak dengan bahasa yang berlebihan, asalkan pesannya bisa dimengerti banyak orang. Sehingga sukarelawan bermunculan. Berjalan dengan tujuan yang sama.

"Di sini banyak sekali komunitas yang fokus lingkungan, kalau 500 orang turun ke pantai kan membantu sekali ya. sementara ini masih pribadi dulu bergerak, jalan," ucapnya.

Foto berbagai sampah yang ditemukan di sepanjang garis pantai diunggah di media sosial. Puntung rokok, pampers, plastik makanan, botol minuman, dan lainnya. Pengguna media sosial harus malu melihat sampah yang ditinggalkan.

Dia juga menemui Dinas Pertanaman Kota Jayapura. Karena Sampah adalah persoalan bersama. Mereka berdiskusi, mencari solusi. Membuktikan masih ada warga yang peduli.

"Target kita atau gols kita adalah sampah di lautan berkurang sampah di teluk ini terutama terbangun gaya hidup baru dimasyarakat kota mereka tidak akan membuang sampah sembarangan."

yohana baransano penyayang bumi dari tanah papua

Pendanaan gerakan ini dilakukan urunan. Saling memberi dalam keterbatasan. Terpenting, gerakan ini tetap berjalan. Diakui Yohana, gerakan ini membutuhkan dukungan. Berharap para dermawan turun tangan.

"Kami bergerak dengan biaya-biaya kami sendiri. mungkin saat kami sudah membangun konsolidasi rencana yang sudah baik dan matang bisa mulai mengakses anggaran dan bantuan," harapnya.

3 dari 3 halaman

Menanam Cinta, Menuai Bahagia

yohana baransano penyayang bumi dari tanah papua

Keindahan Papua tidak hanya ada di Raja Ampat. Semua sudut Bumi Cenderawasih itu indah. Tapi ada fakta yang sangat menyedihkan. Sekaligus mengkhawatirkan. Sampah yang merusak keindahan dan mengancam kehidupan.

Kesadaran perlu ditumbuhkan seiring pariwisata yang semakin berkembang. Sampah wisatawan bukan untuk diwariskan pada warga lokal. Mereka butuh laut dan pantai untuk melanjutkan denyut kehidupan.

"Yang harus kita ingat, kita juga sangat bergantung ke laut secara pangan," katanya mengingatkan.

Yohana ingin menanamkan rasa cinta bumi pada warga Jayapura. Memberi mereka pemahaman sederhana. Sudah terlalu banyak sampah di laut yang dikonsumsi ikan. Mengurangi sampah di laut sama dengan menjaga kualitas pangan masyarakat.

Laut dan pantai sudah memberi kehidupan pada warga. Sudah sepatutnya memberi timbal balik. Demi terjaganya keseimbangan ekosistem yang sehat.

"Pantai tempat kita mengambil energi-energi baru untuk kita bawa pulang. jadi sebagai kontribusi kita timbal baliknya kita harus memastikan pantai itu bersih."

Sembari menjaga bumi, Yohana juga mendorong orang Papua untuk mulai terbiasa memberi. Karena ada banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang tidak produktif. Padahal banyak orang yang membutuhkan. Apalagi di tengah Pandemi Covid-19 saat ini.

yohana baransano penyayang bumi dari tanah papua

Yohana mengumpulkan donasi. Sumbangan yang dikumpulkan tidak banyak. Satu orang hanya Rp5.000-10.000. Terkumpul Rp2,6 juta. Digunakan untuk membeli masker. Kemudian dibagikan secara gratis kepada warga tidak mampu dan rentan tertular Covid-19.

Dia mencontohkan pedagang di pasar Wamena yang kebanyakan ibu-ibu. Mereka tidak memiliki masker. Untuk bernapas saja mereka khawatir. Aktivitas di pasar sangat berisiko. Yohana tergerak. Sambil mengumpulkan sampah, Yohana menggalang donasi.

"Jadi ada banyak hal baik saat kita buat ketika kita membuat aksi-aksi seperti ini. Pertama kita menyelamatkan lingkungan terus kita membantu orang-orang yang sangat rentan ketika terjadi pandemi. Orang juga belajar memberi," tutupnya. [noe]

Baca juga:
Cerita Asihta Aulia Azzahra Menang Triathlon Perdana dari Pinjam Sepeda Teman
Cetak Rekor, 25 Wanita Terkaya Dunia Tinggal di Inggris
Suntikan Inspirasi Bagi Kaum Wanita dari Fimela Lady Boss
Dian Andyasuri, Perempuan Indonesia Pertama Sebagai Presdir Shell Indonesia
Putri Raja Yordania Diangkat Ayahnya Jadi Pilot Militer Perempuan Pertama

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini