KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Wujudkan Rasa Cinta Tanah Airmu

Kamis, 7 September 2017 11:49 Reporter : Hery H Winarno
Rhenald Kasali. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Oleh Rhenald Kasali

Kata orang, salah satu cara mewujudkan rasa cinta Tanah Air adalah biasakan menerima perbedaan. Sebab kalau kita jelajahi negeri ini, selalu kita temui perbedaan.

Duduk di taman pada sebuah gereja di Ende, Flores, menyaksikan sebuah pesta adat tak jauh dari tempat mendiang Ir Soekarno menggali konsep Pancasila, Anda bisa menemukan jawabannya.

Berkain tenun, puluhan anggota keluarga berkumpul sambil membawa makanan dan masak bersama. Sambil bernyanyi, sebuah pesta besar tengah dipersiapkan. Tak ada yang tahu perbedaan apa yang ada di antara mereka. Sebab kulit mereka sama. Bahasa dan rambutnya juga sama.

Perbedaan baru tampak saat mereka mulai antre mengambil makanan. Sekelompok orang memilih antrean di sisi kiri. Sekelompok lainnya di sisi kanan. Mereka semua bersaudara, tetapi makanan yang boleh mereka makan berbeda karena keyakinan mereka tidak sama.

Mereka tak bertengkar karena berbeda keyakinan, melainkan saling bekerja sama. "Kami bahkan tak tahu si A agamanya apa. Kami baru tahu saat antre memilih makanan," ujar seorang teman.

Perbedaan seperti itu tak banyak Anda temui di antara bangsa-bangsa lain. Di sini kita berjalan sedikit saja, maka akan menemukan nuansa perbedaan. Bahasa, tata cara, desain tenun, corak batik, keyakinan, ornamen kesenian, cara berpikir dan seterusnya.

Rhenald Kasali ©2017 Merdeka.com


Sekarang pergilah ke benua Eropa maka Anda baru menemukan perbedaan seperti itu begitu paspor Anda dicap petugas imigrasi pertanda Anda telah berada di negeri lain. Di Indonesia, Anda tak harus melewati batas negara untuk menyaksikan perbedaan hidup berdampingan dengan damai.

***

Kata orang, cara lain mewujudkan rasa cinta Tanah Air adalah 'hadir' di mana negara belum atau tidak hadir. Kata mereka, kita lebih baik menyalakan lilin di ujung terowongan agar manusia bergerak ke sana ketimbang mengutuk si gelap.

Tetapi sebagian orang lainnya kini lebih senang mengutuk kegelapan ketimbang 'menyalakan lilin'. Mereka nyinyir pada negara, nyinyir pada para pemimpin sendiri.

Ini benar-benar aneh. Lebih banyak bangsa lain yang percaya kita, prestasi pemimpin-pemimpin kita, ketimbang bangsanya sendiri. Sebagian kita bukan 'hadir' untuk memperbaiki, tetapi lebih senang menjadi 'yang pertama dalam memotret' keburukan diri sendiri.

Tetapi saya tidak pesimis. Duduk dalam berbagai penjurian kami terus mendorong media massa memotret heroisme yang dilakukan anak bangsa. Bertemu Kamilus Tupen di Pulau Adonara, saya menyaksikan cara-cara kreatif yang dilakukan untuk memberantas kemiskinan. Tupen menggunakan pendekatan adat dalam memberantas kemiskinan melalui 'bank tenaga kerja'. Komunitasnya disebut lewolerang.

Ia mengajarkan kepada kita bahwa bukan hanya uang yang bisa ditabung, melainkan juga tenaga kerja. Rasa cintanya pada Tanah Air diwujudkan dengan mengangkat kesejahteraan kaum terpinggir di saat negara belum sempat hadir.

Di Jakarta, saudara Alfatih Timur yang dibesarkan di Bukit Tinggi berhasil menggunakan media sosial untuk merajut kebersamaan memobilisasi kapital sosial.

"Problem kita," imbuh Alfatih, "banyak orang yang ingin menolong sesama tetapi tidak cukup untuk membiayai pembangunan jembatan atau rumah untuk orang-orang miskin. Tetapi yang lebih merepotkan, yang punya uang tak punya waktu dan tak tahu harus berbuat apa."

Timmy, sebutan Alfatih, memilih untuk menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan tadi. Dia mendirikan Kitabisa.com yang menyalurkan kebaikan dan memobilisasi energi bangsa menghadirkan uluran tangan.

***

Kata orang yang lain sebenarnya menunjukkan cinta Tanah Air juga tak perlu repot-repot amat. Cukup jaga kata-kata dan perbuatan saja agar tak merusak peradaban. Akan lebih bagus lagi kalau kita bisa menyatukan, menyinkronkan antara kata-kata dan perbuatan. Ini akan jauh lebih ideal lagi. Seiya-sekata.

Tetapi jangankan seiya-sekata. Berkata-kata baik saja, belakangan ini, cukup sulit diucapkan oleh sebagian di antara kita. Kita menjadi lebih mudah melampiaskan ketidaksenangan terhadap apa saja yang menimpa hidup kita.

Rhenald Kasali ©2017 Merdeka.com


Ibarat berfoto bersama yang kini banyak dilakukan siapa saja, foto itu dikatakan jelek kalau ia melihat dirinya tak terlihat elok di dalam foto itu. Kita menjadi amat sensitif dan self-centered. Selalu melihat diri sendiri dalam potret kita bersama.

Tak banyak yang menyadari kata-kata yang diucapkan dan ditulis mencerminkan tingkat peradaban yang telah dicapai manusia. Bukankah manusia yang beragama peradabannya lebih tinggi dari yang belum mengenal Tuhan? Tapi apakah itu kini sudah terjadi? Ini pertanyaan besar yang harus dijawab kita dalam bingkai NKRI.

Tengok saja manusia yang benar-benar mengamalkan keyakinan beragamanya, Anda pasti menemukan kedamaian, kolaborasi, kesantunan, rasa hormat, keadilan dan seterusnya. Manusia yang beragama akan memajukan peradaban. Namun benarkah kita sudah beragama dengan baik dan menjunjung hidup yang lebih beradab? Jangan-jangan kita belum beragama seperti yang diajarkan para nabi.

***

Duduk di bangku nomor 1C pada pesawat Citilink yang membawa saya dari Solo ke Jakarta, masih terngiang harapan orang-orang muda yang saya temui pagi tadi di Solo.

Muda, polos, penuh harapan dan cita-cita, saya melihat masa depan putra-putri Indonesia yang begitu indah. Saya bayangkan masa depan itu terbuka luas sebab mereka hidup dalam peradaban global yang jauh lebih damai, bebas dari diskriminasi dan pertentangan ras, teknologi-teknologi baru yang mempermudah mereka untuk saling berkolaborasi dan tentu saja biaya-biaya yang kelak akan jauh lebih murah.

Tetapi saya juga khawatir dengan hadirnya orang-orang yang gemar merusak kedamaian dan tidak bahagia melihat mereka hidup bahagia. Hadirnya mesin-mesin perusak suasana yang mengadu kedamaian dengan keburukan, mengadu domba sesama anak bangsa membuat yang satu merasa terzalimi, lalu saling membalas untuk sesuatu yang tak ada manfaatnya dipertentangkan.

Pagi itu di Solo, saya baru saja menayangkan tiga buah drum besar yang menggambarkan dunia yang dibentuk oleh 3 zona waktu: The Past, The Present dan The Future. Saat kaum muda menapaki masa depan, menghadirkan masa depan ke hari ini, mereka juga berhadapan dengan masa lalu yang membelenggu sebagian besar para seniornya.

Para mahasiswa bidang ilmu-ilmu kesehatan yang berkumpul di Solo hari itu adalah bagian dari masa depan bangsa ini. Mereka memang 'miskin masa lalu', miskin pengalaman tetapi mereka punya masa depan yang jauh lebih kaya dari mereka yang 'hanya masa lalu'.

Andaikan mereka bisa menikmati kedamaian seperti yang saya nikmati kemarin dan hari ini, dalam bingkai Indonesia yang bersatu dan saling menerima perbedaan, tentu Indonesia akan terus terpelihara dan namanya tetap abadi dalam peta dunia.

Indonesia yang indah itu perlu terus kita perjuangkan dan satukan, bukan kita pertanyakan perbedaannya. Itu hanya mungkin kalau kita bersama-sama mau hadir mengulurkan tangan saat negara tidak hadir. Kita bersama-sama menyalakan lilin di ujung terowongan yang gelap ini. Bukan mengutuk si kegelapan yang kita tidak sukai itu.

Selamat merayakan hari kemerdekaan.

Rumah Perubahan, Agustus 2017 [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Kolom Merdeka
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.