KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Upah dan makanan mewah bagi mereka yang lelah

Selasa, 16 Mei 2017 08:19 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Pendukung Ahok bermalam di kantor koperasi Graha Artamas. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Jumat (12/5) kemarin menjadi malam keempat bagi segelintir orang berpakaian kotak-kotak, menginap di depan markas komando (Mako) Brimob, Kelapa Dua, Depok. Mereka mulai terbiasa tidur beratapkan langit. Beruntung angin malam itu tidak terlalu dingin menusuk tulang. Mereka tak lagi menghiraukan kendaraan yang lalu lalang.

Malam menunjukkan pukul 20.49 WIB, belasan pendukung Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama beristirahat di depan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Gideon, yang bersebelahan dengan Mako Brimob. Cahaya lilin yang dibiarkan menyala, menyinari wajah lelah mereka yang tak bisa disembunyikan. Kemeja kotak-kotak mulai lusuh, masih menempel di badan. Sebagian di antara mereka duduk di halte mako Brimob.

Tak berselang lama, seorang laki-laki berkaos putih datang menghampiri mereka. Dia memberikan selembar uang, masing-masing mendapat jatah Rp 20.000. Tangannya menggenggam formulir bergambar lambang penguasa. Dia tak lama berada di sana, dan berlalu begitu saja setelah urusannya selesai.

Jarum jam terus berputar, sekitar pukul 21.30 WIB mobil Toyota Avanza berwarna abu-abu berhenti di depan mereka. Pria berbaju kotak-kotak menghampiri. Mobil itu lalu memutar arah ke seberang mereka. Mobil tersebut kemudian berhenti di samping tenda pecel lele yang berada di seberang Mako Brimob. Dua orang turun dari mobil. Mereka berbincang singkat.

"Yang di Pengadilan (Pengadilan Tinggi DKI) gimana? Sudah pada bubar ya?" tanya pendukung Ahok kepada pria yang membawa mobil.

"Mungkin mereka habis di sana," jawab pria itu.

Lalu mereka membuka pintu belakang mobil. Beberapa kardus merek air mineral dikeluarkan. Mereka yang semula merebahkan tubuh, bangkit membantu menurunkan kardus dari mobil. Setelah itu mereka berfoto dengan dua orang yang mengendarai mobil. Setelah tugas selesai, mobil bergegas meninggalkan mereka. Kardus-kardus itu diangkut ke teras koperasi simpan pinjam Graha Artamas yang berada tepat di seberang gereja Gideon.

Malam semakin larut, lilin-lilin mulai padam. Dua orang pendukung Ahok hilir mudik ke gerbang gereja. Di sudut lain, wanita paruh baya mengambil sobekan kardus sekadar untuk alas duduk. Ada juga laki-laki yang membawa dua kantung plastik besar hitam. Lalu mereka kembali ke teras koperasi simpan pinjam itu.

Beberapa orang terlihat terlelap tak kuasa menahan kantuk dan lelah. Sebagian lainnya masih terjaga. Kardus pemberian pun dibuka. Isinya makanan siap saji, McDonald's dan Kentucky Fried Chicken (KFC). Sambil berbincang, perut mereka isi. Di antara mereka, ada yang berlogat Sulawesi. Tidak semua dari mereka menyantap makanan siap saji itu. Ada yang memilih memesan Pecel Lele di seberang tempat mereka bermalam.

"Bu, Lele ya satu. Lelenya goreng kering" pinta seorang pria.

Seorang wanita berpakaian muslim datang menghampiri mereka yang beristirahat di teras koperasi. Dia berbaur dan berbincang dengan mereka. Kepulan asap rokok menutupi wajah mereka.

Pintu gerbang koparesi simpan pinjam ditutup tepat pukul 00.00 WIB. Satu per satu mulai mengambil posisi yang nyaman untuk memejamkan mata. Hanya dua orang yang masih terjaga sambil berbincang. Suasana jalan di sekitar Mako Brimob semakin sepi. Lalu lalang kendaraan berkurang, dan hanya segelintir pedagang masih bertahan karena kulakannya belum habis terjual.

Bagi mereka yang menginap dan menemani Ahok di Mako Brimob, tidak mempedulikan dari mana asal muasal makanan dan uang yang diberikan. Kalau ada yang sukarela memberi, mereka senang hati menerima. Contohnya Yudo. Diakuinya, kadang ada saja orang yang memberi mereka uang dan makanan. Namun dia tidak menyebutkan secara detil sosok yang memberinya uang.

"Kalau pendanaan ini dari pengusaha-besar besar biasanya," ucapnya.

"Tapi Kalau masalah uang enggak usah dibahaslah, ada saja yang ngasih dari simpatisan. Saya sendiri juga dari kantong saya sendiri pernah, terus dari orang-orang yang lewat pernah. Saya ini punya kos-kosan keluarga, 60 pintu mas," sambung Yudo.

Merdeka.com mencoba mencari tahu asal muasal makanan dan uang itu kepada salah satu perwakilan temanAhok. Namun telepon dan pesan singkat yang dikirim tidak direspons. [noe]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.