Ujung ke Ujung Saling Terhubung

Senin, 26 April 2021 12:01 Reporter : Wilfridus Setu Embu, Ronald
Ujung ke Ujung Saling Terhubung Rangkaian kereta MRT melintas di kawasan Blok M. ©2021 Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Laju angkot berkelir merah terhenti. Menepi di depan plang bertuliskan pengumpan bus TransJakarta dekat BRI Unit Pondok Labu, Jakarta Selatan. Seorang penumpang telah menunggu di sana. Menanti diantar untuk menuju lokasi tujuan.

Pria separuh baya di belakang kemudi menatap ramah. Mempersilakan penumpang naik. Sebelum masuk, penumpang diarahkan menempelkan uang elektronik di dasbor mobil sebagai tanda pembayaran. Setelah naik dan memilih tempat duduk di belakang pengemudi, angkot pun langsung melaju. Seakan tidak ada lagi penumpang yang ditunggu.

Angkot merah rute Lebak Bulus-Andara itu bernama Mikrotrans Jak Lingko. Protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19 wajib diterapkan. Baik penumpang maupun pengemudi tertib memakai masker.

Beruntung penumpang cenderung sepi hari itu. Hanya dua penumpang di deretan belakang sopir. Suasana cukup terasa nyaman di dalam. Tidak perlu cemas berdesak-desakan dari titik keberangkatan hingga tempat tujuan. Meskipun lalu lintas Jakarta Selatan seperti sulit lepas dari kemacetan.

"Kita dilarang menunggu penumpang terlalu lama. Ada waktu yang harus ditempuh. Makanya sering terlihat sepi penumpang," ujar pengemudi itu menjelaskan kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

infografis transportasi publik milik dki jakarta

Mikrotrans merupakan salah satu bagian dari armada yang diturunkan TransJakarta untuk mengangkut warga ibukota yang hendak bepergian. Berbeda seperti angkot pada umummnya, transportasi umum dengan tipe mobil Multi Purpose Vehicle (MVP) dikelola Pemprov DKI Jakarta ini memang melarang para pengemudi menunggu lama para penumpang alias 'ngetem' di satu tempat.

Para pengemudi tidak mengejar jumlah penumpang harian. Sehingga sudah disiapkan titik berhenti agar tertib. Berapa pun penumpang di dalam, Mikrotrans tetap melaju.

Keunggulan lain Mikrotrans, ini mengantarkan penumpang langsung ke tempat pergantian moda transportasi. Dengan demikian, penumpang tak perlu repot mencari moda transportasi umum lain setelah turun. Seperti angkot rute Lebak Bulus-Andara ini, penumpang diantar langsung ke bibir pintu Stasiun Mass Rapid Transit (MRT) Lebak Bulus Grab.

Saat turun Mikrotans, pengemudi kembali mengarahkan penumpang menempelkan uang elektronik. Menariknya ternyata tidak ada saldo terpotong. "Biayanya nol rupiah," ungkap sang pengemudi.

Pengemudi itu juga menjelaskan bahwa saldo pembayaran di Mikrotrans nantinya terhubung bila penumpang naik TransJakarta. Waktunya hanya tiga jam batas waktunya. Ketika penumpang naik TransJakarta dalam waktu itu maka niaya yang terpotong hanya sebesar Rp5.000.

Kemewahan MRT Jakarta

Angin sepoi menyambut ketika langkah kaki sampai di lantai paling atas Stasiun MRT Lebak Bulus Grab. Bagian bangunan yang difungsikan sebagai peron ini memang dibiarkan sebagai ruang terbuka tanpa dinding. Dari situ tatapan mata bisa menyapu ke seluruh penjuru.

Sebelum masuk ke dalam area peron, penumpang diminta menempelkan uang elektronik. Masuk ke dalam, deretan bangku panjang pun disediakan operator agar penumpang makin bisa nyaman saat menunggu. Tak selang berapa lama, suara di pengeras suara mengumumkan kereta MRT segera tiba. Tanda perjalanan siap dilanjutkan.

Tidak banyak penumpang menggunakan jasa MRT siang itu. Tidak sulit mendapat tempat duduk. Setelah pintu ditutup dan kereta mulai berangkat, tiap penumpang mulai larut dalam kegiatan individual. Mulai dari mengeluarkan baku bacaan maupun membuka ponsel.

penumpang mrt jakarta

Banyak juga penumpang memilih memejam mata. Nyamannya kursi berbahan fiber ditambah sejuk udara dari AC sangat mendukung siapa saja yang hendak dan beristirahat walau sejenak.

Plt Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta (Perseroda), Ahmad Pratomo, menegaskan ketersediaan armada MRT dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Saat ini pihak memiliki 16 rangkaian kereta yang siap melayani. Dari jumlah itu, baru 14 rangkaian yang aktif beroperasi. Sedangkan 2 rangkaian lain disiapkan sebagai cadangan.

"Satu rangkaian kereta terdiri atas 6 cars atau gerbong," ungkap Ahmad kepada Merdeka.com, Sabtu pekan lalu.

Rute MRT fase I berakhir di stasiun Bundaran HI. Namun kali ini memutuskan turun di stasiun Blok M BCA. Biaya yang harus dibayarkan sebesar Rp8.000 dari Stasiun Lebak Bulus Grab. Sedangkan tarif paling besar sekali perjalanan sebesar Rp14.000.

Integrasi antara Mikrotrans dan TransJakarta dengan MRT sejauh ini memang baru berbentuk fisik. Rencana terhubung dari segi pembayaran tengah direncanakan. Seperti angkot Mikrotrans, biasanya pengemudi akan berhenti di titik stasiun MRT. Sedangkan dengan TransJakarta, bangunan integrasi dekat kantor Kejaksaan Agung masih dalam tahap pembangunan.

Melaju di Atas TransJakarta

Berjalan sekitar 200 meter dari stasiun MRT Blok M BCA, jejeran bus TransJakarta telah menunggu di terminal Blok M. Kemudian mengambil TransJakarta rute Blok M menuju Kota Tua, Jakarta Barat. Sebelum naik, lagi-lagi penumpang diarahkan kembali menempelkan uang elektronik sebagai pembayaran.

Penumpang bus TransJakarta memang cukup banyak siang itu. Sehingga tidak semuanya bisa mendapatkan kemewahan duduk sepanjang perjalanan. Harus ada yang berdiri. Tetapi hal itu tidak mengurangi kenyamanan menggunakan moda transportasi tersebut. Ini dikarenakan jarak antarpenumpang betul-betul diatur.

Animo tinggi tidak boleh mengabaikan protokol kesehatan, kenyamanan dan keamanan sesama penumpang. Tarif yang harus dibayarkan untuk perjalanan itu sebesar Rp5.000 sebagai bentuk integrasi pembayaran dari Mikrotans. Sebenarnya tarif untuk sekali naik TransJakarta sebesar Rp3.500 bila seseorang tidak naik Mikrotrans sebelumnya.

transjakarta targetkan seluruh armadanya berteknologi listrik pada 2030

Armada Trans Jakarta memang cukup diminati penduduk Jakarta sebagai moda transportasi. Menilik data yang dimiliki perusahaan, moda transportasi yang beroperasi di sejak 2004 itu mendulang cukup banyak pelanggan. Sepanjang 2019 lalu, tercatat 264.653.712 penumpang yang menggunakan TransJakarta.

Tingginya pelanggan harus diimbangi dengan layanan yang prima dari segi armada maupun rute. Jumlah armada pada 2019 sebanyak 3.865 unit. Terdiri dari bus besar 1.782 unit, bus sedang 360 unit, dan bus kecil 1.723 unit. Jumlah rute yang dilayani mencapai 247 rute.

Kehadiran Mikrotrans memperkuat dan memperluas jangkauan TransJakarta. Jika menilik kinerja pengangkutan di tahun 2019, maka 17 persen atau 47.366.369 penumpang dari total penumpang TransJakarta merupakan penumpang Mikrotrans. Sementara untuk jumlah armada, 1.723 unit dari total unit armada TransJakarta merupakan merupakan Mikrotrans. Sedang jumlah rute yang dilayani mencapai 69 rute.

Sekitar 1 jam lebih, bus TransJakarta itu tiba di Kota Tua. Kemudian berkunjung ke beberapa titik wisata di sana. Tidak butuh menggunakan banyak kendaraan jika sedang berada di sana. Cukup berjalan kaki, banyak tempat makan maupun sejarah bisa dikunjungi.

Puas berkeliling di Kota Tua, sore harinya kembali menuju Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Rute diambil pun serupa. Menaiki TransJakarta dari Terminal Kota Tua menuju terminal Blok M. Kebetulan hari itu kondisi lalu lintas sangat padat. Banyak masyarakat mengejar waktu pulang demi buka puasa di rumah.

Setibanya di terminal Blok M, kemudian menyambung naik MRT untuk kembali ke Lebak Bulus. Suasana di dalam kereta MRT juga lebih ramai, meskipun cenderung tidak padat. Total perjalanan pulang pergi tersebut memakan biaya sebesar Rp23.000.

Mewujudkan Integrasi Transportasi

Sistem moda transportasi terintegrasi merupakan mimpi Jakarta yang kian hari terus diwujudkan. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak mau berpuas diri meskipun upaya Pemprov DKI dalam mendorong integrasi moda transportasi sudah mulai menunjukkan hasil. Sebut saja anugerah penghargaan Sustainable Transport Award (STA) 2021.

Penghargaan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) tersebut dikarenakan program integrasi antarmoda transportasi publik yang dinilai sangat baik. Program tersebut juga dinilai memberikan kemudahan serta kenyamanan bagi masyarakat Jakarta.

"Ini adalah pengingat bahwa kami harus terus berupaya meningkatkan layanan transportasi yang sudah ada, sehingga kenyamanan warga dalam bertransportasi terjamin," ucap Anies.

Ahmad Pratomo menegaskan, integrasi transportasi di Jakarta berkaitan erat dengan kolaborasi antar operator moda transportasi. Termasuk antara operator dengan Pemprov DKI Jakarta.

Dalam pandangan dia, integrasi terjadi dalam dua bentuk. Yakni, integrasi fisik dan integrasi pembayaran. Terkait integrasi fisik, sudah berjalan dengan baik. Integrasi fisik antara MRT dan TransJakarta tidak melulu tampak lewat hadirnya halte TransJakarta di stasiun MRT.

"Jika di titik itu bisa kita integrasikan antara halte dan stasiun, itu dilakukan. Tapi ketika tidak memungkinkan kita cari bentuk lain. Misalnya tadi ada titik drop off, bus stop," dia menerangkan.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, mengingatkan ada empat hal harus diperhatikan ketika berbicara tentang integrasi transportasi. Empat hal itu mencakup integrasi fisik, integrasi jadwal, integrasi pembayaran, dan integrasi pelayanan. Dengan begitu masyarakat dimudahkan untuk menggunakan transportasi publik. Juga dengan biaya yang murah.

Integrasi transportasi secara fisik di Jakarta, lanjut dia, sudah berjalan dengan baik. Namun yang masih ada pekerjaan rumah yang harus dijalankan Pemprov, Salah satu satunya dari integrasi jadwal. Integrasi jadwal memudahkan masyarakat untuk merencanakan waktu perjalanan.

"Orang mudah tahu saya sampai di stasiun ini kira-kira alat transportasinya sudah sampai atau belum. Jadwal kereta sudah oke, Transjakarta ini yang belum," kata Djoko kepada Merdeka.com, Sabtu pekan lalu.

Integrasi pembayaran juga harus dijalankan. Menurut dia, integrasi pembayaran moda transportasi umum di DKI Jakarta masih berjalan parsial alias belum berjalan secara menyeluruh.

"Integrasi menyeluruh artinya kalau saya dari rumah saya naik angkutan umum, terus naik kereta, terus naik angkot lagi sampai kantor, saya bayarnya satu kali saja. Itu belum (terjadi)," dia menjelaskan.

Jika integrasi pembayaran sudah berlangsung secara menyeluruh maka bisa saja masyarakat akan berlangganan dalam menggunakan transportasi umum sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu masyarakat dapat menikmati moda transportasi umum tanpa terlalu direpotkan dengan urusan menempelkan uang elektronik ketika selesai menggunakan dan ketika hendak menggunakan moda transportasi.

"Itu nama integrasi pembayaran. Integrasi sistemnya. Cukup nanti kita langganan bulanan atau harian saja. Itu yang belum," ujar dia.

Integrasi berikut, yakni integrasi pelayanan. Jika integrasi ini berjalan maka semua moda transportasi umum memiliki pelayanan yang sama. Untuk konteks Jakarta, integrasi layanan membuat standar pelayanan yang diterima penumpang saat menggunakan MRT seharusnya tidak jauh berbeda dengan saat penumpang menggunakan TransJakarta.

Corporate Secretary PT JakLingko Indonesia, Ahmad Rizalmi, menyebutkan Jak Lingko sedang mengupayakan adanya integrasi pembayaran di moda-moda transportasi umum yang ada di DKI Jakarta. Saat ini, Jak Lingko sedang menyiapkan sistem pembayaran cerdas berbasis kartu dan aplikasi. Nantinya pengguna transportasi umum dapat mengakses semua moda transportasi umum hanya dengan bermodal dua produk itu.

"Nanti penumpang dari Mikrotrans, naik ke MRT, terus pindah ke TransJakarta semua dengan satu kartu saja," jelas Rizalmi kepada Merdeka.com, Minggu pekan lalu.

Produk ini direncanakan akan diluncurkan pertengahan Agustus. Diharapkan kehadiran dua produk ini dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk melakukan pembayaran ketika menggunakan transportasi umum. Dalam rencana jika penggunaan dua produk ini berjalan lancar maka ada tahap selanjutnya yang bisa dijalankan, yakni integrasi tarif semua moda transportasi umum.

"Mudah-mudahan kita sudah bisa mengintegrasikan tarifnya. Sehingga dengan satu tarif tentu dengan dibatasi waktu. Kalau saat ini yang sudah integrasi tarif antara Mikrotrans dengan TransJakarta. Rp 5.000 selama 3 jam. Mudah-mudahan tahun depan bisa terlaksana. Kita targetnya di quarter II 2022," dia mengungkapkan.

Integrasi tarif memang membutuhkan proses dan diskusi. Sebab melibatkan sejumlah operator transportasi. Namun, Jak Lingko meyakini integrasi tarif dapat berjalan lancar tanpa kendala. Sebab yang menjadi target utama yakni kemudahan dan kenyamanan masyarakat ketika menggunakan transportasi umum. Dengan demikian tujuan utama dari peningkatan kualitas transportasi umum dapat tercapai, yakni makin tertariknya masyarakat menggunakan transportasi umum.

Terkait upaya meningkatkan minat masyarakat pada angkutan umum, Djoko mengungkapkan, pentingnya perhatian pemerintah pada proyek pembangunan yang berorientasi pada penyediaan transportasi umum. Dengan demikian proyek pembangunan dilakukan juga mempertimbangkan kemudahan akses masyarakat terhadap angkutan umum.

Sebagai contoh, pembangunan kawasan perumahan seharusnya juga disertai dengan penyediaan trayek transportasi umum. Jika tidak demikian maka masyarakat akan mencari alternatif lain, yakni kendaraan pribadi. Hal ini bisa sangat membebankan masyarakat.

"Orang selain mencicil rumah, mencicil kendaraan bermotor juga. Bebannya berat buat masyarakat. Memang kepemilikan kendaraan itu hak pribadi. Tetapi pemerintah mengatur penggunaan jalan lebih efisien agar lebih mengutamakan angkutan umum," kata Djoko menjelaskan. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini