Torehan Misterius Buah Iseng Tangan-Tangan Jahil

Senin, 21 Februari 2005 20:37 Sumber :
Kapanlagi.com

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Torehan misterius berupa tapak dara (tanda tambah) dan garis warna putih (colek pamor) pada sejumlah bangunan suci milik keluarga (merajan) dan pura desa di Bali, merupakan buah iseng tangan-tangan jahil.

Hal itu diduga dilakukan oleh si tangan-tangan jahil untuk mencari popularitas semata, kata Ketua II Saba Sulinggih Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba di Denpasar, Senin (21/02).

Ia mengatakan, akibat perbuatan dari orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu, merajan dan pura yang mendapat coretan kapur putih perlu segera diprascita yakni dibersihkan secara ritual.

"Prascita tersebut dengan cara memercikan air suci yang diperoleh dari sulinggih (pendeta) dalam lingkungannya masing-masing," Ia mengatakan, air suci tersebut dipercikan pada torehan misterius berupa tapak dara (tanda tambah) dan garis warna putih (colek pamor), kemudian kepada anggota keluarga dan umat yang menyungsung tempat suci tersebut.

"Tapak dara itu sebenarnya mengandung makna yang sangat sakral. Sungai Nil misalnya sengaja diberi tanda tambah, dengan harapan sungai terpanjang di dunia itu lestari sepanjang masa," kata Ida Pedanda Manuaba.

"Tapak dara yang diisi oleh orang yang berkepentingan itu melambangkan keseimbangan dan membawa keselamatan. Sebaliknya tanda tambah yang diisi oleh orang yang tidak bertangungjawab harus segera dapat dinetralkan," ujar Ida Pedanda Buruan.

Hal senada juga diungkapkan Ketua I PHDI Bali, Drs I Gusti Ngurah Sudiana, MSI mengharapkan masyarakat tetap tenang, tidak panik terhadap torehan misterius tersebut.

Untuk itu masyarakat tetap melaksanakan ajaran agama dengan baik, karena agama berada di atas ajaran mistik serta tetap waspada, khususnya terhadap lingkungan masing-masing, kata Gusti Sudiana.

Tapak dara dan garis warna putih (colek pamor) yang semula hanya muncul di dua kabupaten, Karangasem dan Buleleng, kini meluas ke wilayah Badung, Gianyar dan Tabanan.

Di Kabupaten Badung, torehan atau coretan kapur sirih merebak muncul di wilayah Kuta, sedang di Gianyar tampak di Batubulan dan Sukawati.

Beberapa warga di lokasi yang pelinggih atau merajan-nya (tempat sembahyang umat Hindu di rumah-rumah) kini tertera garis putih, mengaku tak pernah tahu tentang siapa-siapa yang telah membuat torehan itu.

Warga umumnya mengaku bahwa sebelumnya tidak pernah melihat torehan tersebut, namun tahu-tahu pada pagi harinya telah muncul di mana-mana, hampir di setiap merajan penduduk di daerah-daerah yang kini terdata. (*/lpk)

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini