wawancara khusus

Tim UI & IPB: Satu Kesulitan Teliti Antivirus Corona di RI, Dana Ristek Belum Turun

Rabu, 18 Maret 2020 07:04 Reporter : Rifa Yusya Adilah
Tim UI & IPB: Satu Kesulitan Teliti Antivirus Corona di RI, Dana Ristek Belum Turun Ilustrasi penelitian antivirus COVID-19. ©2020 AFP Photo/STR/China Out

Merdeka.com - Wabah pandemi virus corona membuat banyak negara bekerja keras melakukan penelitian demi mencegah penyebaran. Mereka mendorong para ilmuwan segera menemukan antivirus. Sekaligus meminta masyarakat melakukan isolasi mandiri demi memutus sebaran virus.

Pentingnya segera menghadirkan antivirus merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Apalagi virus berasal dari Wuhan, China, ini menyebar cepat hingga berbagai belahan dunia. Sudah banyak pula korban meninggal akibat terinfeksi. Termasuk di Indonesia.

Israel menjadi salah satu negara yang sudah mengklaim bahwa para peneliti mereka segera menemukan vaksin corona dalam waktu dekat. Kini semua proses penelitian sedang berjalan.

Bahkan China sebagai negara tempat virus corona mewabah pertama kali, juga tidak mau ketinggalan. Tenaga medis China mulai menguji coba obat Remdesivir buatan Gilead Sciences Inc untuk diberikan pada pasien suspect corona. Obat ini sebelumnya dipakai untuk menekan wabah penyakit menular seperti Ebola dan SARS.

Negara paling dekat Indonesia, yakni Thailand tidak mau ketinggalan. Dokter asal Thailand, dr Kriangsak Atipornwanich, mengaku pasien di Rumah Sakit Rajavithi Bangkok berusia 71 tahun, dinyatakan sembuh setelah diberi kombinasi obat anti-HIV dan flu.

Sedangkan di Indonesia, para peneliti justru masih melakukan tahap awal. Hasil uji melalui Big Data, mengindikasikan bahwa buah Jambu Biji diprediksi mampu menghambat laju virus corona. Penelitian itu dilakukan gabungan ilmuwan dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI), Fakultas Farmasi UI dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Sayangnya mereka belum melakukan uji klinis lantaran dana pemerintah belum cair.

Dekan FK UI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB mengakui bahwa penelitian mereka kini mengalami kesulitan. Berikut petikan wawancara Prof Ari Fahrial dengan jurnalis merdeka.com Rifa Yusya Adilah pada Selasa, 17 Maret 2020:

1 dari 4 halaman

Seperti apa proses penelitian yang dilakukan sehingga mendapatkan hasil sementara bahwa buah Jambu Biji bisa menangkal COVID-19?

Kami menggunakan metode penelitian bioinformaika, dalam arti sempit, yaitu penelitian yang menggunakan komputer, machine learning. Jadi mesin yang bekerja sampai menemukan jawabannya dan jawaban yang keluar, yaitu jambu biji, daun kelor dan kulit jeruk.

Karena ketiganya memiliki senyawa yang mampu untuk menghambat replikasi virus dan penempelan virus dalam tubuh. Senyawa yang terkandung, yaitu hesperidin, rhamnetin, kaempferol, kuersetin dan myricetin. Namun yang akan digunakan untuk suplemen pasien virus corona, yaitu jambu biji saja karena lebih mudah dikonsumsi serta ditemukan oleh masyarakat.

Jadi penelitian yang kami lakukan bukan melalui uji klinisnya, tapi melaksanakan penelitian 4.0 yang berdasarkan dari Big Data. Data yang diambil, yaitu dari basis data HerbalDB yang berjumlah 1.377 senyawa herbal dan pemetaan farmakofor dengan metode struktur dan liga. Singkatnya, data yang sudah ada mengenai struktur virus dianalisis di internet kemudian disatukan. Istilahnya di-Docking.

Selain jambu biji, daun kelor dan kulit jeruk, apa lagi tumbuhan yang bisa menjadi suplemen pasien Covid-19?

Berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan, hasilnya baru itu saja. Jambu biji, daun kelor dan kulit jeruk. Belum ada tanaman lain

Bagaimana dengan berbagai mengonsumsi empon-empon yang sempat dikabarkan bisa menangkal virus corona?

Sebenarnya jamu-jamuan atau tanaman herbal itu berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Jadi agar tidak mudah sakit karena orang yang daya tahan tubuhnya lemah itu lebih rentan terinfeksi COVID-19.

2 dari 4 halaman

Hingga saat ini apa sudah ditemukan obat untuk menyembuhkan virus corona?

Belum ada, hoaks jika ada beredar informasi soal itu. Virusnya saja masih baru, Indonesia juga baru punya sampelnya awal bulan Maret. Sampai sekarang masih terus dilakukan penelitian untuk menemukan antivirus atau vaksinnya.

Berapa lama proses penelitian tentang tumbuhan penangkal Covid-19 tersebut dan sudah sampai mana prosesnya?

Sebenarnya sudah direncanakan dari awal bulan Februari, sudah dipersiapkan. Namun eksekusinya baru mulai. Terkait penelitian ini memakan waktu berapa lama kami juga belum tahu karena dananya saja juga belum turun.

Untuk melakukan riset, tim ini mendapat dana dari mana?

Dari Bank Dana Riset dan Teknologi.

Apa yang membuat dana penelitian tersebut tidak kunjung cair?

Ya saya kurang tahu, tanya pemerintah.

Jadi apa saja kesulitan yang dihadapi selama proses penelitian tersebut?

Kesulitannya hanya satu, yaitu terkait dana. Jika ada dananya maka penelitiannya akan jalan.

3 dari 4 halaman

Kabar beredar bahwa vaksin virus corona buatan China dan Israel akan tersedia di Bulan April. Jika dana untuk penelitian di Indonesia tidak kunjung turun, apakah nanti akan membeli vaksin dari luar negeri?

Terkait penemuan vaksin oleh negara tetangga, saya kurang tahu kebenarannya. Berita dari luar itu banyak yang hoaks. Lebih baik sekarang masyarakat fokus untuk menjaga daya tahan tubuhnya masing-masing dari pada menunggu vaksin virus corona. Nanti tahu-tahu keburu sakit jika hanya menunggu saja tanpa menjaga daya tahan tubuh.

infografis virus corona

Infografis penawar virus corona2020 Merdeka.com

Bagaimana dengan pasien yang dinyatakan sembuh dari virus corona maka tidak akan bisa terinfeksi lagi?

Itu tidak benar. Buktinya sudah ada warga negara Jepang yang sembuh dari Virus Corona kemudian dia terinfeksi lagi.

4 dari 4 halaman

Situasi Indonesia tampak genting karena COVID-19, menurut Anda apakah Indonesia perlu melakukan lockdown?

Seharusnya di lockdown karena jika masyarakatnya masih banyak berkeliaran ya akan bertambah terus jumlahnya yang positif COVID-19. Sekarang saja rumah sakit rujukan sudah penuh.

infografis virus corona

infografis pulih dari covid-19 2020 Merdeka.com

Lockdown yang dimaksud itu semua aktivitas sebisa mungkin dilakukan di rumah, hanya ke luar untuk melakukan aktivitas yang benar-benar mendesak dan penting. Bukan berarti setiap masyarakat dikawal oleh tentara, tidak boleh masuk-keluar rumah, tidak seperti itu.

Masyarakat tidak boleh menggelar acara yang menyebabkan adanya interaksi di keramaian, seperti menggelar pesta, pesta apa saja, baik itu resepsi pernikahan dan lain-lain. Saat ini seminar-seminar juga sudah tidak ada lagi, pengajian akbar juga tidak ada. Seperti Malaysia.

Peneliti China baru-baru ini mengungkap bahwa pasien yang terkena virus corona masih berpotensi menyimpan virus dalam pernapasannya selama 37 hari. Bagaimana Anda melihat terkait temuan ini?

Saya kurang tahu tentang temuan atau penelitian tersebut, saya masih harus baca publikasinya lagi karena saat ini banyak orang yang sudah bilang bahwa sudah ada publikasinya, namun ternyata tidak ada di publikasi internasional.

Jadi kita harus tetap hati-hati. Jangan sampai kemakan hoaks. Indonesia tetap berpegang teguh pada publikasi ilmiah, yaitu masa inkubasi virus corona selama 14 hari.

Sampai saat ini apa saja keluhan para dokter selama menangani para pasien virus corona?

Alat Pelindung Diri (APD) kurang. Harusnya tersedia. Kalau tidak, bagaimana para dokter bisa bekerja? Sudah ada dokter yang tertular kan? Ada yang sudah meninggal bahkan. Dokter meninggal, perawatnya meninggal. [ang]

Baca juga:
Upaya Para Ilmuwan Perjuangkan Bikin Vaksin Corona
Trump Ingin Beli Vaksin Virus Corona, Jerman: Ini Tidak Dijual
AS Mulai Lakukan Uji Coba Vaksin Virus Corona
Iran Umumkan Telah Temukan Obat Virus Corona
Menanti Indonesia Kembangkan Vaksin Virus Corona
Mengapa Butuh Waktu Lama untuk Menemukan Vaksin Virus Corona?

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini