Terjebak di kubangan kelompok terlarang

Senin, 2 Juli 2018 06:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Terjebak di kubangan kelompok terlarang Mahasiswa demo tolak radikalisasi dan terorisme. ©2018 Merdeka.com/Liputan6.com

Merdeka.com - Wangi pakaian gamis biru di badannya begitu harum. Dipadu dengan peci di kepala dan sorban cokelat muda disangkutkan di bahu kanan. Terlihat rapi. Siang itu, Ustaz Azis memang bersiap melaksanakan Salat Jumat. Sebuah kewajiban ibadah bagi pria muslim. Kebetulan dia mendapat kesempatan mengisi khotbah di Hotel Mulya, Jakarta.

Sebelum salat dimulai. Azis duduk bersila di saf ketiga. Bersama jemaah lainnya. Tengah berzikir. Menunggu kesempatan berceramah. Penampilannya terlihat kontras. Rata-rata para jemaah merupakan pegawai hotel. Mereka banyak mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Hingga tiba Azis berceramah. Membahas banyak hal baik diajarkan Islam.

Di balik penampilan rapi, mungkin tidak banyak orang tahu. Masa lalu Azis pernah menjadi seorang ekstremis. Pemikirannya terpapar paham radikal. Tidak percaya dengan ideologi negara. Termasuk Pancasila. Menginginkan sebuah negara berdasarkan syariat Islam.

Kami sempat berbincang dengan Azis sebelum Salat Jumat. Mendengar cerita dirinya ketika salah jalan. Masuk ke dalam kelompok Negara Islam Indonesia (NII). Itu dialami ketika masih berstatus mahasiswa di kampus Islam negeri bilangan Ciputat.

Azis muda begitu aktif dengan dunia organisasi. Beberapa kali juga mengisi waktu luang bekerja sebagai pengajar. "Hitung-hitung meringankan beban orangtua sambil belajar mandiri," ujar Azis kepada merdeka.com.

Di Indonesia, kelompok NII merupakan organisasi terlarang. Pendirinya adalah Kartosuwiryo. Dia dikenal sebagai teman seperguruan Soekarno ketika mereka masih muda. Gerakan ini didirikan pada 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya. Bahkan kala itu sampai menyebar ke Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Sang pendiri kelompok itu sudah ditangkap pasukan TNI di Gunung Geber, Jawa Barat, pada 4 Juni 1962. Lalu dihukum mati.

Sejak tahun 2011, Azis tahu isu tentang NII masuk kampus begitu santer. Termasuk di tempat kuliahnya. Sebagai aktivis, Azis terus mengikuti perkembangannya. Lewat Badan Eksekutif Mahasiswa, Azis bersama para temannya sampai melakukan kajian ideologi ditawarkan NII. Dengan itu diharapkan bisa mencegah penyebaran paham tersebut lebih luas ke mahasiswa. Mereka pun membuat diskusi. Membedah NII beserta ideologinya.

Niat untuk mencegah penyebaran ideologi itu, justru menjadi bumerang bagi Azis. Sekitar Mei 2012 lalu, dirinya justru terperosok dan menjadi bagian kelompok NII. Semua itu berawal ketika mendekati pelaksanaan diskusi kajian NII. Menurut Azis, salah satu senior pengisi materi mendadak berhalangan hadir tiga hari sebelum pelaksanaan.

Bingung mencari pemateri. Azis mendapat dorongan dari para rekannya. Dianggap cukup kompeten menggantikan seniornya tadi. Dia hanya punya waktu tiga hari. Semua persiapan dikebut. Banyak buku dibaca dalam waktu singkat. Tapi, dia masih merasa kurang. Takut materi disampaikan kurang aktual. Tak sesuai fakta di lapangan. Hingga dia berinisiatif mencari dan bertanya langsung dengan anggota kelompok NII.

Azis pun bertemu. Tersambung dengan salah satu anggota NII di kawasan Ciputat bernama Suyono. Setelah mengatur waktu, mereka akhirnya bertemu di masjid kampus. Di situ Azis pertama kalinya bertemu dengan Suyono. "Kamu kalau mau tahu ruang lingkup organisasi NII ya harus masuk ke dalamnya. Kalau sudah masuk, kamu akan tahu," kata Azis menirukan pernyataan Suyatno kala itu.

Tawaran itu disetujui Azis. Pikirannya kala itu menilai bahwa tawaran Suyono masuk akal. Sebab, untuk mengetahui sesuatu memang ada baiknya untuk terjun langsung. Apalagi dia saat itu tengah terdesak. Belajar dengan kelompok NII dirasa menjadi pilihan tepat. Sehingga bisa menyampaikan materi dalam diskusi. Tawaran itu lalu disetujui Azis.

Tak lama, Azis diajak Suyono menghadiri kajian NII. Kala itu dia tak datang sendiri. Ada dua orang lainnya juga datang bersama Suyono. Tapi Azis tak mengenal dua orang itu. Setelah itu mereka berkenalan. Dari situ, Azis baru tahu kalau dua rekan barunya adalah seorang teller bank dan mahasiswa.

Tak ada gerak-gerik mencurigakan saat pertama kali mengikuti kajian NII. Ia melihat, peserta kajian selayaknya jemaah pengajian biasa. Mulai dari pakaian, cara berkomunikasi sampai berbagai tema kajian. Lagi pula dia sengaja datang untuk mempelajari langsung paham diyakini kelompok NII. Bahkan ketika itu Azis percaya diri imannya kuat dan tidak terpengaruh paham ekstrem NII.

Azis salah. Di pertemuan perdananya itu dia justru terjebak. Baru pertama kali datang dan langsung diminta berbaiat (bersumpah). Berjanji untuk ikut mengimani apa diajarkan kelompok bentukan Kartosuwiryo itu. Azis tak bisa melawan. Ketika itu dirinya merasa seperti terhipnotis.

"Saya hanya ditepuk bahunya dari belakang, seperti dihipnotis, saya langsung melupakan tujuan datang ke sana. Hilang semua itu," ungkap Azis.

Sejak saat itu menjadi bagian dari NII di Ciputat. Kehidupannya sedikit demi sedikit berubah. Mulai dari menarik diri dari lingkungan pergaulan. Absen saat perkuliahan. Termasuk meninggalkan kesempatan sebagai pemateri kajian. Hingga tak lagi mengajar. Perubahan Azis sangat disoroti para dosen. Dia bahkan sampai dicari dosen lantaran kerap meninggalkan perkuliahan. Terlebih Azis adalah peserta beasiswa prestasi.

Tiga bulan pertama Azis menuruti semua perintah ajaran baru diikutinya. Azis mulai meninggalkan berbagai ibadah rutin dilakukan. Terutama salat lima waktu. Sejak dia bergabung dengan kelompok NII, tak pernah lagi salat. Sebab dalam ajaran kelompok, salat bukanlah kewajiban.

Bahkan dalam kultur NII, Azis menyebut semua jemaah wajib memberikan sedekah. Ada 27 jenis sedekah wajib dibayar Azis dan anggota lain. Beberapa di antaranya sedekah harian, sedekah mingguan, sedekah bulanan hingga sedekah dibayar tiap tahun. Lebih dari itu, tiap jemaah wajib menyebutkan nominal tiap jenis sedekah di awal bergabung. Hal ini membuat Azis habis-habisan memberikan semua uangnya untuk kelompok tersebut.

Memasuki bulan keempat, Azis mulai merasakan ada kejanggalan. Hanya saja dia tak bisa melawan. Sempat beberapa kali mencoba. Namu, selalu merasa sakit kepala. Padahal tekadnya sudah kuat untuk keluar dari belenggu itu. Sampai terkadang bila dianggap mulai menjauh dari kelompoknya, para senior akan menelepon dan membujuk untuk kembali mengikuti ajaran NII.

Uang beasiswa bulanan diterima Azis selalu disetorkan kepada kelompok NII. Gajinya sebagai guru privat dan uang jajannya semua diserahkan. Pun dengan uang cicilan motornya. Bahkan Azis sampai berutang kepada para temannya untuk memenuhi kewajiban sedekah itu. "Total utang saya ke teman-teman itu Rp 13,5 juta," ungkap Azis.

Masalah finansial inilah yang akhirnya menjadi jalan Azis kembali. Cicilan motor yang tak kunjung dibayar membuat penagih utang mendatangi rumah orangtua Azis. Hal ini pun membuat keluarga curiga. Orangtua Azis lalu menyusul ke indekos Azis di Ciputat. Mencari keberadaan anaknya. Sebab sudah lima bulan tak pulang ke rumah.

Setelah bertemu Azis, orangtuanya membawa paksa ke kampung halaman. Di rumah dia terus di paksa untuk salat. Hingga suatu hari, saat azan Zuhur berkumandang. Azis diminta orangtuanya untuk salat. Semenjak bergabung dengan kelompok NII, Azis memang tak lagi melaksanakan ibadah wajib sebagai muslim. Perintah orangtuanya itu itu lagi-lagi ditolak. Namun, orangtuanya memaksa. Lalu diseret Azis ke kamar mandi. Disuruh berwudu.

Keran air sengaja dibuka. Azis lalu ditinggal sendirian. Dia hanya terdiam melihat air dalam keran terbuang ke lantai. Lama dia termenung. Hatinya bergejolak. Ingin kembali tapi berat rasanya untuk mengambil air wudu. Dan, tiba-tiba bahu kirinya serasa ditepuk seseorang. Azis menoleh ke belakang. Dalam keadaan frustasi itu, dia melihat sosok wajah almarhum kakeknya tersenyum. Seketika itu dirinya tersadar. Belenggu dialaminya hilang begitu saja. Azis menangis. Sejadi-jadinya. Duduk bersimpuh di bawah kucuran air keran.

"Dari situ saya sadar dan nangis sejadi-jadinya," ungkap Azis.

Azis bertaubat. Memutus hubungan dengan kelompok NII. Mulai mengganti nomor kontak dan mengundurkan diri dari kampus. Untuk membayar utang-utangnya dia pun memulai bisnis ternak lele. Salah satu ilmu diajarkan ketika masih bergabung dengan kelompok NII.

Kini selain menjadi peternak lele, Azis juga mengurus pesantren di kawasan Bogor. Bahkan sudah menjadi ulama. Kerap diundang sebagai penceramah di berbagai acara. Tiap pekan juga berkeliling mengisi khotbah Salat Jumat. [ang]

Topik berita Terkait:
  1. Radikalisme
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini