Terganggu Sampah Sedotan Plastik

Senin, 4 Februari 2019 07:07 Reporter : Anisyah Al Faqir, Lia Harahap
Terganggu Sampah Sedotan Plastik Ilustrasi minum pakai sedotan. ©Shutterstock.com/Kzenon

Merdeka.com - Hari itu, langit sedang cerah. Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Matahari sudah bikin mata silau. Syukurlah cuaca sedang mendukung, setelah beberapa hari sebelumnya diguyur hujan saban pagi.

Sederet pekerjaan sudah menunggu. Semua perlengkapan sudah beres di dalam tas sejak malam. Saatnya berjuang melawan kemacetan DKI Jakarta. Memang belum ada obatnya kepadatan lalu lintas ini. Dari rumah di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, saya melaju dengan motor bebek matik menuju kantor bilangan Tebet, Jakarta selatan. Butuh waktu lebih kurang 40 menit buat sampai tujuan.

Memang sudah diprediksi. Perjalanan pagi di hari kerja tidak mudah. Bikin kering tenggorokan karena macet di jalan. Menguras tenaga. Ditambah saya belum sarapan. Pilihan paling cepat walau sedikit mahal, berbelok dekat restoran cepat saji asal Amerika di daerah Tebet. Saya pun singgah.

Baru memasuki area pemesanan makanan, sejauh mata memandang ada perasaan aneh. Hampir seluruh konsumen di sana jarang memakai sedotan plastik. Mereka langsung menenggak minuman softdrink dari gelas berbahan kardus.

Bagi saya ini tidak biasa. Bikin penasaran. Dalam hati lalu berkata, "Sebuah kemajuan. Kok baru tahu sadar ya?"

Setelah memesan menu sarapan pagi, lalu memilih tempat duduk. Sambil menikmati makan, saya coba perhatikan. Ternyata restoran itu tidak memberikan kotak sedotan di dekat saus lagi. Tentu ini menarik. Sampai saya bertanya kepada Rosyid, seorang asisten manager di restoran itu. Dia mengaku sudah sejak Desember tahun lalu tempatnya bekerja menyingkirkan kotak sedotan plastik.

Memang belum semua. Untuk minuman tertentu, seperti es kopi dengan tambahan ice cream dan teh kemasan botol kaca, pelanggan masih diberikan sedotan plastik. Alasannya, minuman seperti itu tidak bisa dinikmati tanpa menggunakan sedotan dan tak mungkin mengganti dengan sendok.

"Kurang elok. Jadi minuman bersoda saja yang tidak pakai sedotan," kata Rosyid kepada saya, Rabu pekan lalu.

Menurutnya, kebijakan ini bagian dari kampanye perusahaan terhadap persoalan lingkungan. Biasanya, untuk satu hari mereka bisa menghabiskan 500 buah sedotan plastik. Bayangkan saja, bila dikalikan 181 gerai di seluruh Indonesia, restoran setidaknya menyumbang lebih kurang 90 ribu lebih sampah sedotan plastik setiap harinya.

Selain menyelamatkan bumi dari sampah plastik, kebijakan ini juga berdampak positif pada pengeluaran keuangan perusahaan. Anggaran membeli sedotan bisa dipangkas lebih jauh. Meski Rosyid tak menyebut nilai spesifik.

Lebih kurang tiga bulan kebijakan dilakukan, respons pelanggan tentu beragam. Sebagian setuju, tak sedikit mengkritik dan mempertanyakan kesungguhan kampanye Go Green model ini. "Ke depannya kita memang tidak akan menggunakan plastik, tapi sekarang kita mulai dari hal terkecil," ujar dia.

ilustrasi sedotan ©2018 Merdeka.com


Sosialisasi juga dilakukan lewat selebaran kepada pelanggan. Khususnya pelanggan pesan antar. Brosur diselipkan di antara pesanan pelanggan. Memberitahukan gerai restoran cepat sajinya tak lagi menyediakan sedotan.

Usai berbincang dengan Rosyid saya kembali melanjutkan perjalanan. Tak sampai 5 menit sudah sampai tujuan. Memulai aktivitas sebagai karyawan. Sekitar jam 9 pagi saya sudah berkutat dengan pekerjaan.

Jarum jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Waktunya istirahat. Beberapa teman mengajak makan. Di sebuah warung makan berjarak 300 meter dari tempat kerja. Kami sengaja tiba setelah jam makan siang. Berharap tak perlu berdesakan di tempat makan. Maklum, tempat kami makan memang cukup ternama. Tersohor di kalangan pencinta makanan pedas. Dengan menu andalan nasi ayam mercon.

Benar saja. Tinggal beberapa pelanggan sedang makan. Juru masak terlihat asyik di balik gerobak. Tengah memindahkan makanan dari wajan. Sementara pelayan sibuk membersihkan meja. Merapikan tumpukan piring dan gelas bekas pelanggan. Namun, di sini sampah sedotan plastik berserakan. Lumayan banyak.

Sambil menunggu makanan, pelayan rumah makan menyajikan minuman. Siang itu kami memesan dua es teh tawar dan dua teh manis hangat. Dari empat pesanan, hanya minuman dingin disajikan dengan sedotan. Katanya, sedotan hanya diberikan untuk jenis minuman dingin dan jus buah.

Sedotan sengaja tak disajikan di meja makan. Selain alasan kebersihan, juga termasuk penghematan. Bila sedang ramai, satu bungkus sedotan berisi 500 buah itu habis dalam waktu dua sampai tiga minggu. Tergantung jumlah pelanggan saja.

"Kalau lagi ramai 2 minggu habis. Kalau lagi sepi bisa 3 minggu baru habis," kata Pak De sapaan juru masak sekaligus pemilik rumah makan Nasi Goreng Surabaya di Tebet.

Harga tiap jenis sedotan plastik beragam. Mulai dari Rp4.000-Rp10.000. Tergantung jenis dan kualitas plastik. Pak De memilih membeli sedotan kualitas terbaik. Harganya sepuluh ribu isi 500 buah. Berukuran diameter 6 mm dan panjang 24 cm.

Kualitas sedotan plastik harga Rp 6.000 per 500 buat sedikit lebih rendah. Meski memiliki warna cerah, namun secara kasat mata terlihat lebih kusam. Diameter lubang sedotan lebih kecil. Termasuk sedotan harga Rp 4.000 per 500 buah. Meski secara ukuran sama, namun dilihat dari warna, sedotan plastik ini lebih kusam. Selain kusam, bau plastik masih sangat terasa.

Sedotan plastik jenis ini banyak digunakan pedagang kaki lima. Utamanya pedagang minuman dingin pinggir jalan. Kebetulan dekat tempat saya makan ada warung pinggir jalan. Karena sedang penasaran dengan banyaknya sampah sedotan plastik, saya coba menanyakan.

Lina, seorang pedagang minuman mengaku memang memakai sedotan plastik paling murang. Semua demi menekan duit pengeluaran. Apalagi sedotan jenis ini memiliki beragam warna tiap bungkusnya. Warna-warni disukai beragam pelanggan. "Kalau anak-anak kan sukanya yang warna-warni. Sudah gitu harganya murah," kata Lina, seorang pedagang es teh rumahan.

Dalam sehari, Lina bisa menjual 40 bungkus es teh manis per hari. Per bungkus dijual Rp3.000. Bila cuaca panas, dia bahkan bisa menjual hingga 60 bungkus. Sementara saat cuaca mendung atau hujan, hanya sebanyak 30 bungkus es teh manis. Bila dalam seminggu dia mampu menjual 300 bungkus es teh maka ada 300 sampah sedotan plastik tiap pekan dia hasilkan. Dalam satu bulan ada sekitar 1.200 batang sedotan jadi sampah plastik terbuang.

Pesanan makan siang sudah tersaji. Tidak salah pilih memang siang itu. Saya memesan ayam mercon. Pedas dari sambal berhasil menyatu dengan gurihnya ayam. Acungan dua jempol buat makan hari itu.

Pengganti Sedotan Plastik ©2018 hipwee.com


Selesai santap siang, kami masih berbincang. Membahas soal pekerjaan. Tiba-tiba ponsel di saku celana berdering. Panggilan dari seorang teman. Mengajak ketemuan. Menawarkan saya bisnis dan enaknya dibahas sambil makan malam. Tanpa pikir panjang saya menerima ajakan itu. Janji bertemu di jam delapan malam.

Kembali saya ke kantor. Duduk menghadap komputer dan mengerjakan banyak tugas dari atasan. Rutinitas hampir tiap hari. Sebagai pekerja di ibu kota itu memang hal wajar. Bersyukur saya memiliki kerja. Karena bila melihat banyak kabar di media berita online maupun media sosia, banyak orang berduyun-duyung menghadiri bursa lowongan kerja.

Jelan Magrib, kerjaan pun beres. Memang sudah waktunya pulang juga. Namun, biasa saya memilih untuk bersantai dulu. Karena balik kerja di waktu itu tentu bikin tambah stress. Jalan sangat padat. Semua pekerja di Jakarta seolah berlomba. Adu cepat sampai rumah.

Sekitar jam 7.30 malam, saya pamit. Karena ingat sudah ada janji, berangkat menuju lokasi. Lalu lintas jangan ditanya lagi. Masih sama jawabnya: Macet. Sekitar 25 menit, sudah tiba di lokasi. Padahal hanya berjarak 5 kilometeran.

Lokasinya tepat di pinggir jalan. Setelah memarkirkan motor, langsung masuk ke kedai kopi kekinian di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dua teman sudah tiba duluan. Bahkan sudah pesan makanan. Kedai kopi ini menawarkan ragam makanan dan minuman. Mulai dari espresso, beragam olahan kopi, teh hingga jus buah. Dari makanan ringan sampai menu makanan berkarbohidrat. Tersedia lengkap.

Mereka beroperasi sejak jam 3 sore hingga jam 2 dini hari. Di malam hari, tempat ini makin ramai. Nyaris tak ada tempat kosong. Pelanggan datang dan pergi. Silih berganti. Datang sendiri maupun berkelompok. Tampak menikmati suasana klasik kedai kopi.

Beberapa pelayan sibuk mondar mandir dari dapur ke meja tamu. Membawakan pesanan para pelanggan. Untuk pesanan kopi panas disajikan tanpa sedotan. Sementara minuman dingin disajikan menggunakan sedotan plastik. Berwarna hitam dan dibengkokkan. Ujung lubang masih tertutup kertas kemasan sedotan. Berdiameter 6 mm dan panjang 24 cm. Di pasaran jenis sedotan ini dijual dengan harga Rp 30.000 per 500 buah.

Hampir di tiap meja tersaji minuman bersedotan. Pramusaji menyebut, dalam sehari ada sekitar 100 sedotan plastik dipakai. "Mungkin sekitar 100 sedotan tiap hari," kata pramusaji itu.

Bila dalam sehari kedai kopi menghabiskan 100 buah sedotan plastik. Maka kedai kopi ini bisa menyumbang 3.000 sampah sedotan plastik per bulan. Itu belum termasuk sampah kertas pembungkus sedotan.

Berkaca dari fenomena itu, pantas saja jika satu hari masyarakat Indonesia menggunakan 93 juta batang sedotan. Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Sampah dan Bahan Berbahaya dan Beracun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat jumlah sampah plastik tahun 1955 mencapai 9 persen dari sampah yang dihasilkan. Persentasenya pun terus bertambah setiap tahun. Hingga bulan November 2018, peningkatan sampah plastik hingga 16 persen.

Ada beragam jenis sampah plastik. Mulai dari kantong plastik sekali pakai, sedotan plastik, styrofoam dan lain-lain. Sumber sampah jenis ini berasal dari restoran, rumah makan, minuman kemasan dan sebagainya. Sampah sedotan plastik masuk dalam daftar 10 besar masalah serius di dunia. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini