Wawancara Imajiner Bung Karno

Teologi 4.0 VS Teknologi 4.0

Senin, 25 Januari 2016 07:23 Penulis : Christianto Wibisono
Teologi 4.0 VS Teknologi 4.0 Pidato Bung Karno. ©2012 Merdeka.com/dok

Merdeka.com - Pengantar:

Sejak Senin 11 Januari 2016 merdeka.com memuat Wawancara Imajiner dengan Bung Karno mengikuti pola yang diawali 1977 dan dibukukan serta dibreidel bersama Kompas dan buku putih Dema ITB menjelang Sidang Umum MPR 1978. Serial kedua dimuat di majalah Detik (edisi cetak) 1993-1994 dan ikut dibreidel bersama Tempo dan Editor. Semoga Serial ke 3 2016 ini dapat berkelanjutan berbagi ilmu dan pengalaman saya selaku aktivis dan jurnalis sejak 1966.

Jika kolom pertama berlangsung di restoran Skye malam pergantian tahun baru dan kolom kedua berlatarbelakang Rakernas PDIP DI JIEXPO, maka Kolom ketiga ini berlangsung lewat interactive digital multimedia.

Bung Karno muncul di monitor televisi berdiameter miniteater simultan dengan siaran real time media televisi meliput "geger Sarinah" Kamis 14 Januari yang tertayang di media elektronik sedunia.

CW: Pak apa implikasi serangan terror di Sarinah terhadap agenda nasional kita ?

BK: Agenda Nasional Indonesia dan agenda public Global tetap tidak tergoyahkan oleh serangan teror "quasi mini Paris di Sarina", teror Paris dan Istanbul atau dimana saja. Agenda Global mengarah pada konvergensi kubu yang dianggap "baik" menurut Star Wars dan kubu "hitam" yang sempat jadi abu abu juga di episode terakhir Star Wars. Saya keliling dunia memantau pergantian tahun termasuk insiden Cologne dimana ratusan wanita Jerman yang ingin merayakan di lapangan terbuka, dilecehkan oleh "imigran Afrika Utara/Timur Tengah". Karena itu Donald Trump menurut Bill Liddle di Kompas Sabtu 16 Januari 2016; kemungkinan besar bisa menjadi capres Partai Republik. Tapi Bill Liddle optimis bahwa Hillary Clinton akan mengalahkan Trump secara mutlak.

Seperti biasa eseis terbaik Indonesia, Goenawan Mohamad menyesalkan pemusnahan Hatra symbol 'berhala' Babilonia oleh IS mengulang penghancuran patung Budha oleh Taliban menjelang penabrakan WTC 11 September 2001. Caping GM Tempo 18-24 Januari jelas menyesalkan dan menyamakan IS dengan Pengawal Merah gemblung zaman Mao Zedong yang menghancurkan situs Confucius bersejarah di Tiongkok.

Jadi terorisme bukan hanya monopoli Islam tapi juga pernah melanda bangsa non Arab dan non Islam. Bahwa sekarang ini seolah 90% teroris adalah Arab dan Islam merupakan persepsi, generalisasi dan stereotype yang susahnya memang sulit dibantah dari data data serangan teror maupun pemusnahan situs 'berhala kafir' oleh elemen IS di Timur Tengah. Dalam konteks itulah The Clash of Civilizations dari Huntington dipraktekkan secara 'telanjang' oleh Osama bin Laden dan IS. Oleh Dominique Moisi, filsuf Prancis dalam bukunya The Geopolitics of Emotion dijabarkan situasi dunia terancam konflik segi tiga, karena dendam sejarah berkepanjangan terhadao kolonialisme Eropa, maka negara negara Timteng dihinggapi culture of hate and revenge terhadap Eropa yang mundur ke culture of fear, paranoid dan ketakutan. Ini bisa berkonflik langsung seperti WTC, teror bom London Madrid, Paris, bahkan ke Istanbul dan Jakarta.

Dalam tesis Moisi ia mengharapkan Asia jangan sampai terlibat jadi penyiram bensin pengipas konflik tapi bisa menjadi juru damai dan harapan untuk memimpin dunia menuju meritokrasi meninggalkan abad konflik Barat Islam. Di sinilah Presiden Jokowi harus mempergunakan leveragenya untuk membangkitkan kekuatan Islam Nusantara yang pluralis, Pancasilais, moderat, toleran dan memprakarsai interaksi positif menuju kinerja global ummat manusia lintas agama, lintas SARA menuju fenomena Star War.

CW: Wah kalau soal Star Wars buat rakyat Indonesia yang 100 juta di bawah kemiskinan tentu tidak mudeng, tidak berkepentingan dan mereka benar benar hanya mau sandang pangan papan sekolah yang cukup dan sehat jasmani rohani tidak takut teror maupun satpol pp untuk pedagang kaki lima. Yang membumi untuk rakyat Indoneisa apa yang harus dilakukan oleh elite RI 2016 pak?

BK: Betul rakyat Indonesia sama dengan penduduk AS juga hanya peduli tentang kesejahteraan hidup sehari hari, keluarga yang aman menikmati kemakmuran kelas menengah. Nah kelas menengah inilah yang sedang mengalami krisis global maupun nasional. Sejak 2012 ketika Word Bank menerbitkan China 2030 Report dunia terviral dengan wacana tentang The Middle Income Trap, kenapa negara seperti Brazil, Malaysia terjebak dalam kondisi stagnan tidak berdaya mengentaskan kelas menengah bawah dan masih menyisakan sebagian besar rakyat di tingkat kemiskinan dan gagal jadi kelas menengah.

Indonesia ini bisa dibagi 50 juta kelas atas, 100 juta kelas menengah atas dan 100 juta kelas bawah miskin. Bagaimana menjamin pemerataan yang lebih manusiawi dan tidak semakin tajam GINI rationya seperti dihebohkan oleh pakar anti neolib. Menaikkan pendapatan 100 juta yang miskin dibawah US$ 2 per hari itulah tugas utama pemerintah dan negara sambil tetap memberdayakan kekuatan yang produktif. Sebab pemerataan memerlukan pertumbuhan asset yang kemudian dibagi kepada yang kurang 'diuntungkan'. Kalau terlalu memaksakan redistribusi aset maka kemelaratan yang akan dibagi, bukan kemakmuran yang senantiasa harus bertumbuh.

Di sini masuk perdebatan tentang filofosi kemajuan peradaban manusia. Sekitar satu millennium sebelum Masehi manusia menerima 'wahyu' dari pelbagai filsuf dan nabi di Barat dan Timur yang melahirkan Golden Rule. Jangan lakukan kepada sesama, apa yang kamu tidak ingin orang lain mempelakukan dirimu. Atau berbuatlah yang baik kepada sesama kamu, seperti kamu ingin diperlakukan oleh masyarakat. Golden Rule ini lebih mudah dikhotbahkan dan didakwahkan, tapi sulit dipraktekkan. Justru yang dominan adalah kecemburuan, kedengkian dan iri hati yang memicu kebencian, dendam kesumat dan kejahatan ingin membunuh mengeliminasi orang lain yang dianggap 'mengalahkan' ego dan kineja-nya. Inilah filsafat Kain menbunuh adiknya sendiri Habil karena benci, cemburu, dengki dan iri kenapa kinerja adiknya Habil 'direstui' oleh Tuhan sedang jerih payahnya tidak berkenan di mata Tuhan.

Seharusnya kalau kembali ke Golden Rule maka manusia tidak perlu cemburu, kalau anda memang lebih hebat dari pesaing anda, ya tinggal anda berkinerja kemudian jika memang lebih hebat pasti terpancar dari hasil yang dinilai oleh masyarakat. Tidak perlu cemburu kalau orang lain lebih hebat dari anda. Sebab kala anda lebih hebat tentu sudah menggungguli pesaing itu. Tapi kalau anda memang kalah berbobot, ya sudah akuilah dan hormatilah secara ksatria bahwa orang lain itu layak memimpin kamu dan jangan pakai alasan SARA atau benci, cemburu, dengki iri untuk memusuhi orang itu.

CW: Sudah bosan juga mendengar khotbah golden rule itu pak. Kayaknya yang menang itu Joyoboyo yang pesimis yaitu dunia dikuasai orang sesat yang baik tersingkir oleh money politics transactional. Termasuk kader PDIP Damayanti yang baru terkena OTT KPK. Lebih menukik lagi apa yang bisa dilaksanakan secara konkret pak dalam kaitan Revolusi Mental dipimpin cucunda Puan Maharani?

BK: Ada unsur baru dalam perkembangan mutakhir. Teknologi sedang memasuki revolusi generasi ke-4 atau the Fourth Industrial Revolution yang mulai dibahas di World Economic Forum Davos Rabu 20 Januari. Akan ada konvergensi dan integrasi holistic dari revolusi BCP 3-in-1. Secara simultan akan ada interaksi lintas dimensi ilmu Biogenetika, Cyber digital dan Physical systemic yang akan melipatgandakan kemampuan dan kecanggihan iptek manusia secara exponential melampaui yang dicapai manusia pada 240 tahun terakhir sejak 1776 (revoluri industry 1.0). Manusia primitif hidup selama 10.000 tahun dalam gelombang pertanian tanpa mengenal industri yang baru muncul perempat terakhir abad XVIII. Revolusi industri. 1.0 James Watt disusul revolusi 2.0 listrik dan pola produksi masal ban berjalan perakitan mobil Ford General Motors 1900an dan revolusi industri 3.0 teknologi informasi sekitar 1970an. Sekarang revolusi itu akan berlangsung simultan konvergen holistik di tiga matra BCP. Dampaknya akan menuju “keajaiban: yaitu kemungkinan imortalitas manusia tanpa perlu harus menjadi ateis. Karena justru revolusi industri 4.0 ini akan mewujudkan teologi 4.0 imortalitas.

Dalam kitab Genesis 3:22-24 disebut adanya pohon kehidupan berbuah kekekalan, imortalitas. Sebelum manusia sempat makan buah kehidupan atau kekekalan; Lucifer sudah menjebak Hawa memakan buah Moralitas atau buah Golden Rule kesadaran moral tentang baik dan buruk yang berdampak sampingan mental dan moral Kain pencemburu dan pembunuh Habil. Sejak itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tumbuh secara exponential, quantum leap sehingga secara teknologik manusia 2016 jauh berbeda bahkan dengan manusia 1976 yang belum punya telpon genggam. Tapi secara teologi manusia masih dikungkung oleh teologi primitif, dimana manusia malah memperlakukan Tuhan secara egois sesat. Tuhan diklaim sebagai 'properti pribadi' dan teroris IS malah mengklaim bisa menjadi Tuhan Allah itu sendiri dan menghakimi orang lain sebagai kafir yang layak dibunuh dengan latar belakang kebencian SARA maupun kinerja konkret.

Nah sekarang ini dunia dihadapkan pada konfrontasi ala Star Wars, sampai dimana 'orang baik' bisa menang melawan 'orang jahat' yang menurut GM bisa saja IS itu mirip Pengawal Merah Mao atau Ku Klux Kan dan stigma Perang Salib. Manusia abad XXI dan MIlenium ketiga ini memang harus membuang jauh jauh sisa sisa teologi primitif. Juli 2005 Thomas Friedman menulis bahwa ummat Islam mengklaim agamanya sebagai God 3.0 yang paling mutakhir dan final ibarat Tuhan edisi terbaru dibanding God 2.0 Kristen dan God.1.0 Yahudi kalau Hindu dan Budha dianggap God 0.0 . Yang relevan adalah God itu Infinite.Nol. Tuhan tidak berubah dari awal sampai akhir dari alpha ke omega. Tuhan melampaui Taurat Injil Quran, kekal permanen tidak berubah sedang manusia terbatas yang menafsirkan Tuhan menurut periode kuno primitif sampai modern, tentu saja akan ketinggalan zaman.

Dengan self rejuvenation stem cell, Yohannes Surya saja termasuk yang percaya bahwa dalam satu generasi manusia mengalami peremajaan terus menerus hingga wajah oma 75 tahun tidak berbeda dengan cucu gadis 25 tahun.

CW: Wah ini revolusi bioteknologi yang lebih mirip laporan utama majalah Playboy. Bapak masih akrab dengan John Kennedy di Nirwana sana? Mumpung lagi geger Freeport boleh kasih komentar bapak tentang hiruk pikuk ini.

BK: Kita undang John Kennedy ya nanti kita bicara bertiga waktu ulang tahun ke 69 Megawati. Kita ketemu di Teukur Umar go show saja. Kita akhiri dulu kolom ketiga ini sebagai kejutan pasca geger Sarinah departement store pertama di Indonesia tahun 1961 setelah generasi pertokoan modern Belanda Ataka, Comemo di jalan Djuanda. Saya ikut bangga campur sedih kenapa Sarinah tidak bisa berkembang seperti atau melebihi Matahari dan toko lain, tapi syukur dia masih survive sejak 1961.

Catatan CW:

--- TV Monitor berganti acara siaran lain dan wawancara ketiga berakhir disiarkan 25 Januari.

Liputan Diskusi imajiner Bung Karno dan John Kennedy di Teuku Umar 23 Januari 2016 menyambut ulang tahun ke 69 Presiden ke-5 Megawati akan ditayangkan merdeka.com Senin 1 Februari 2016. [war]

Topik berita Terkait:
  1. Jakarta
  2. Wawancara Imajiner Bung Karno
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini