Wawancara Khusus Ketum PPNI

Tenaga Kesehatan Pertahanan Terakhir, Semua Harus Melindungi

Rabu, 30 September 2020 08:17 Reporter : Rifa Yusya Adilah
Tenaga Kesehatan Pertahanan Terakhir, Semua Harus Melindungi Dukungan untuk Tim Medis. ©2020 Merdeka.com/ANTARA NEWS dan Instagram

Merdeka.com - Sebanyak 85 perawat di Indonesia meninggal selama bertugas di masa pandemi corona. Di antara mereka dinyatakan positif corona, namun ada pula dalam status pasien dalam pengawasan (PDP). Kini sebanyak 3.000 lebih perawat lainnya sedang berjuang sembuh dari virus tersebut.

Jumlah perawat di Indonesia dirasa masih jauh dari kata ideal. Bahkan belum mencapai rasio standar menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tercatat hingga kini hanya Indonesia memiliki 1 juta perawat.

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional indonesia (PPNI), Harif Fadhillah, menyadari bahwa banyak wilayah kekurangan perawat. Selain itu, para perawat ketika awal pandemi juga mendapatkan minim perlindungan. Padahal mereka termasuk garda terdepan dalam melayani masyarakat yang terinfeksi virus asal Wuhan, China tersebut.

Perlahan insentif mulai diterima. Tentu upaya ini sedikit mencerahkan. Harapan mereka masyarakat jangan abai protokol kesehatan hingga wabah pandemi ini segera usai. Tentu semakin mencekam bila ini dibiarkan.

Dalam bincang bersama jurnalis merdeka.com Rifa Yusya Adilah pada Kamis pekan lalu, banyak hal lebih dalam diceritakan Harif Fadhillah tentang masalah perawat di Indonesia. Berikut petikannya:

2 dari 3 halaman

Jumlah Perawat Indonesia Belum Ideal

Berapa jumlah rasio perawat di Indonesia dengan jumlah penduduk Indonesia?

Jumlah penduduk di Indonesia berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, yaitu sebanyak 267 juta orang. Sedangkan jumlah perawat di Indonesia itu satu juta. Rasio standar menurut World Health Organization (WHO) adalah 18:10.000. Indonesia masih 10:10.000

Jadi, rasio perawat kita masih di bawah standar WHO. Padahal, jumlah produksi perawat di Indonesia kurang lebih 100.000 orang per tahun. Namun, serapannya tidak lebih dari 20 persen. Lalu 80 persennya ke mana? 80 persennya lebih berminat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dibandingkan perawat. Padahal, lowongan PNS sangat terbatas.

Berapa jumlah perawat yang terinfeksi Covid-19?

Per 22 September 2020, hampir 3 ribu orang, tepatnya 2.983. Baru 4 provinsi yang mengirimkan datanya ke kami. DKI Jakarta 1.629 orang, Jawa Timur 848 orang, Sulawesi Selatan 350 orang, Bali 156 orang. Bukan berarti provinsi lain tidak ada yang terinfeksi Covid-19. Ada, namun belum memberikan informasinya ke pengurus pusat. Kami sudah minta ke provinsi yang lain.

Para perawat tersebut paling banyak tertular Covid-19 di mana?

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) tidak memiliki banyak akses untuk mengetahui riwayat kontak para perawat karena semua datanya dimiliki oleh rumah sakit. kami merupakan organisasi profesi, jadi akses untuk tracing terbatas. Hal itu juga menyangkut rekam medis pasien. Rekam medis seseorang itu sifatnya rahasia.

Mengapa ada perawat yang meninggal dunia dengan hasil rapid test non reaktif sampai dua kali?

Kita tidak bisa menyimpulkan jika hasil rapid test-nya non reaktif, maka artinya ia negatif virus Corona. Bisa jadi error, kan mungkin saja? Termasuk jika hasil tes PCR-nya negatif. Jika gejala-gejala yang dimunculkan mirip Covid-19, kemudian dia memiliki penyakit komorbid, serta keterangan lainnya juga menunjukkan bahwa dia terinfeksi Covid-19, maka dia akan dirawat dan diperlakukan sebagai pasien Covid-19. Bahkan dimakamkan dengan protokol Covid -19.

Dari 85 perawat yang meninggal dunia, paling banyak wafat karena dinyatakan positif Covid-19. Hanya beberapa saja yang meninggal dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Apa saja penyebab para perawat tersebut meninggal dunia?

Ada banyak penyebabnya. Salah satunya karena tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD). Pada bulan Maret dan April, APD masih langka. Lalu alasan lainnya, yaitu karena APD yang digunakan tidak sesuai dengan levelnya. Kalau misalnya tenaga kesehatan (nakes) di front office, maka APD level 2 sudah cukup karena mereka tidak melakukan tindakan sebanyak nakes di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Sementara itu, para dokter yang menangani pasien Covid-19 langsung di IGD bisa menggunakan APD level 3.

Alasan lain para perawat meninggal dunia karena sebagian besar memang memiliki penyakit komorbid atau penyerta. Selain itu, bisa jadi karena petugas kesehatan itu sendiri yang tidak disiplin, maksudnya, ia sering melepas APD.

Sebenarnya, kami tidak bisa menyimpulkan apa penyebab yang lebih dominan.

Bisa saja para bagian front office malah melakukan kontak lebih banyak dengan pasien, sehingga risiko tertularnya lebih tinggi.

Apakah saat ini masih ada keluhan soal kelangkaan APD?

Untuk saat ini, APD sudah cukup terpenuhi. Keluhan soal APD hanya terdengar di beberapa rumah sakit saja. Khususnya rumah sakit swasta. Mungkin uang mereka tergerus karena beli APD terus. Jadi, pemerintah bisa memperhatikan para tenaga medis di rumah sakit swasta. Soalnya mereka juga ikut menangani pasien Covid-19.

3 dari 3 halaman

Upaya Menekan Angka Kematian

Apa yang akan dilakukan PPNI untuk menekan angka kematian perawat?

Mari kita bersama-sama berusaha menurunkan kasus Covid-19 di Indonesia dengan 3M. Seluruh dunia sudah mencanangkan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. 3M merupakan hasil dari penelitian ilmiah. Bukan mengada-ngada apalagi hoax. 3M ini perlu selalu kita sarankan kepada masyarakat untuk menurunkan kasus. Sehingga, kita bisa bekerja dengan normal kembali. Kami, para tenaga medis juga ingin memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat.

Kasus ini merupakan darurat kesehatan masyarakat. Sehingga, naiknya jumlah kasus akan mempengaruhi fasilitas kesehatan. Karena fasilitas kita terbatas, maka para tenaga medis bisa mempunyai beban yang lebih berat dibanding pandemi atau bencana alam sebelumnya.

Cara lain menekan penyebaran Covid-19 yaitu dengan mengadakan gerakan bermasker. PPNI bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ingin membuat gerakan memakai masker. Sebenarnya, gerakan bermasker sudah dimulai di beberapa daerah. Namun yang kami inginkan adalah gerakan yang terus menerus berlangsung. Jadi tidak ada hentinya untuk dikampanyekan.

Kita akan memulainya dari para pejabat dan public figure. Kita tidak boleh menyerah. Kita harus selalu mengedukasi masyarakat soal pentingnya memakai masker untuk mencegah penularan virus Corona.

Apa yang PPNI harapkan dari pemerintah maupun masyarakat Indonesia?

Semua unsur masyarakat harus melindungi para tenaga kesehatan karena kami adalah pertahanan terakhir. Oleh karena itu, negara juga harus melindungi kami. Misalnya harus dijamin ketersediaan APD-nya. Jangan sampai kurang. Kalau perlu, diberikan suplemen dan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jam kerja para tenaga medis juga tidak boleh over time agar tidak kelelahan.

Pemeriksaan tenaga kesehatan juga sangat penting. Kami sangat mendukung upaya Satgas dan Kemenkes untuk melakukan pemeriksaan fisik gratis bagi petugas kesehatan.

Mengapa testing bagi tenaga kesehatan itu sangat penting? karena jika mereka merasa dirinya aman, maka motivasinya untuk melayani pasien sangat tinggi. Sedangkan, jika mereka merasa tidak aman, tentunya akan menghambat pelayanan kesehatan. Hal ini dikarenakan para nakes merasa dirinya bisa menularkan Covid-19 ke pasien maupun orang-orang sekitarnya.

Sebenarnya, garda terdepan dalam memerangi virus Corona adalah masyarakat. Dalam pelayanan kesehatan, kami tetap dianggap yang terdepan. Jadi soal pencegahan dan penanganan Covid-19 secara menyeluruh, kami berada di belakang karena kami melayani pasien yang sudah terinfeksi Covid-19.

Apakah para tenaga medis sudah mendapatkan insentif dari pemerintah? Jika sudah apakah insentif yang diberikan itu cukup?

Sebagian sudah, karena pemberian insentif kan diperpanjang. Kami tidak bisa menentukan cukup atau tidak, karena memang baru kali ini diberikan insentif. Kebanyakan orang mengira, dokter spesialis akan mendapatkan Rp 15 juta per bulan selama pandemi. Dokter umum Rp 10 juta per bulan, perawat atau bidan Rp 7,5 juta, dan nakes lainnya Rp 5 juta.

Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Jika kita lihat peraturan tekniknya, semua sesuai dengan proporsinya. Perawat yang hanya bertugas 5 hari dalam sebulan dengan yang 22 hari dalam sebulan tentu beda insentifnya. Selain itu ada, faktor lain yang mempengaruhi besaran insentif para nakes. Misalnya, sesuai dengan jumlah pasien yang ditangani atau jumlah rujukan. Jadi, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa besaran insentif setiap tenaga medis itu sama.

Dalam Kepmenkes Nomor HK.01.07/MENKES/278/2020 tercantum bahwa insentif diberikan kepada Rumah Sakit Rujukan Penanganan Covid -19, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang diteruskan Puskesmas sebagai pelaksana di lapangan.

Sejauh ini, PPNI selalu melengkapi data-data para perawat yang meninggal dunia agar mereka bisa mendapatkan santunan. Sebenarnya PPNI dan IDI pernah memikirkan nasib para dokter yang membuka praktik pribadi kemudian meninggal dunia akibat Covid-19. "Dia meninggal terinfeksi Covid-19 namun buka praktik di rumah, apakah mereka dapat santunan?"

Apa yang ingin Anda sampaikan kepada seluruh keluarga besar perawat Indonesia?

Untuk sejawat-sejawatku yang saat ini sedang berjuang tanpa kenal lelah, walaupun ada beberapa yang sudah kelelahan dan yang selalu ditunggu keluarga di rumah, yakin lah bahwa anda tidak bekerja dan berjuang sendiri. Ada kami, PPNI yang akan selalu mendampingi.

Kita pasti bisa bersama-sama menyelesaikan tugas ini. Kita harus selalu waspada terhadap keselamatan diri masing-masing. Tokoh perawat kita pernah mengatakan pada tahun 1870 "Perlu 150 tahun untuk mengetahui kebaikan perawat" dan tepat sekali, di tahun 2020 ini, genap 150 tahun dari tahun 1870.

Barangkali tahun ini menjadi momentum bagi kami. Selama ini, perawat tidak pernah dilihat, didengar maupun diapresiasi. Tidak pernah meningkat juga pengakuannya. Semoga ada hikmah yang bisa diamil dari pandemi Covid-19 ini

Teruslah berjuang untuk mendapatkan pengakuan yang nyata dari masyarakat. Semoga masyarakat bisa sadar bahwa perawat adalah profesi yang penting dalam setiap kondisi, bukan hanya di tengah pandemi Covid-19 saja.

Untuk keluarga dari teman sejawat kami yang telah meninggal dunia, kami bangga punya sejawat yang berjuang mengorbankan jiwanya untuk keselamatan orang lain. Semoga semua yang telah gugur, diterima di sisi-Nya. Perjuangan saudara-saudara kita yang telah gugur ini menjadi motivasi. Terima kasih telah mengikhlaskan.

[ang]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini