Wawancara Khusus Dirut TASPEN

Dirut TASPEN: Mayoritas Investasi Kami Tempatkan di Instrumen Sangat Aman

Rabu, 5 Februari 2020 12:39 Reporter : Anisyah Al Faqir
Dirut TASPEN: Mayoritas Investasi Kami Tempatkan di Instrumen Sangat Aman Dirut Taspen Antonius NS. ©2020 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Sebagai perusahaan yang mengatur dana pensiun Pegawai Negeri Sipil, PT TASPEN (persero) merasa sudah melangkah sesuai jalur. Walau sempat menjadi sorotan DPR karena utang, pemerintah segera melakukan perombakan.

Akhir Januari 2020, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mencopot Iqbal Lantaro lalu digantikan Antonius NS sebagai direktur utama. Langkah ini dianggap sebagai upaya menyegarkan sekaligus menggairahkan industri yang selama ini dijalani.

Pergantian dilakukan di tengah marak isu dugaan korupsi di ASABRI dan Jiwasraya. Baru kasus Jiwasraya yang sedang fokus ditangani Kejaksaan Agung. Sedangkan TASPEN beberapa kali sempat disinggung berada di pusaran serupa.

Antonius membeberkan berbagai upaya dilakukan TASPEN selama ini. Termasuk bagaimana mereka mempertahankan dan menginvestasikan dana yang dimiliki secara aman. Berikut petikan wawancara dengan jurnalis merdeka.com Anisyah Al Faqir di kantor KLY, Selasa (4/2):

1 dari 2 halaman

Industri jasa keuangan saat ini tengah mengalami tekanan akibat sejumlah sentimen, mulai pelambatan ekonomi global hingga kasus Jiwasraya. Bagaimana Anda melihat ini dan apa antisipasinya?

To reform artinya seluruh pelaku industri punya peluang yang sama untuk membuat industri keuangan ini menjadi tumbuh dan berkembang lagi. Kepercayaan kita bisa menangkan dengan cara-cara yang benar. Menunjukkan kinerja yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik. Secara transparansi GCG menyiapkan banyak hal dan menyampaikan dengan cara-cara yang baik dan benar dan mengikuti peraturan perundang-undangan untuk challenges good goverment.

Bagaimana strategi TASPEN dalam mengelola dana nasabah dan berapa persentase pembagian dalam tiap portofolio untuk mengantisipasi risiko investasi?

TASPEN membukukan total revenue sebesar Rp19,28 triliun di tahun 2019 melonjak sebesar Rp2,75 triliun dibandingkan tahun 2018 yang mencatat pendapatan total Rp16,53 triliun atau terdongkrak 16,63 persen (year on year). Kenaikan pendapatan ini jauh lebih besar daripada kenaikan beban klaim sebesar Rp12,35 triliun di tahun 2019 yang naik hanya sebesar 12.27 persen (year on year) dibandingkan beban klaim tahun 2018 sebesar Rp11 triliun.

Kinerja positif TASPEN juga terlihat pada pertumbuhan aset yang naik secara signifikan sebesar Rp31,38 triliun di mana pada tahun 2019 TASPEN membukukan nilai aset sebesar Rp263,25 triliun atau naik atau naik sebesar Rp31,38 triliun atau 13,53 persen (year on year) dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp231,87 triliun.

Sementara dari sisi ekuitas terjadi pertumbuhan sebesar Rp1,7 triliun sepanjang tahun 2019, di mana TASPEN membukukan ekuitas sebesar Rp11,4 triliun atau meningkat 17.52 persen (year on year) dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp9,7 triliun.

Total Liabilitas pada tahun 2019 tercatat Rp251,84 triliun, yang sebagian besar terdiri atas Dana Akumulasi Iuran Pensiun PNS Rp151,40 triliun serta Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis sebesar Rp99,48 triliun.

Kenaikan Cadangan Teknis yang ditetapkan oleh Direksi TASPEN menunjukkan prinsip kehati-hatian dan Good Corporate Governance yang sangat ketat diterapkan TASPEN untuk menjaga keamanan pengelolaan dan kesejahteraan peserta TASPEN.

Di tahun 2018 angka Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis yang dicatat TASPEN sebesar Rp93,96 triliun. Hal itu berarti dengan lonjakan pendapatan yang ada TASPEN mencatatkan kenaikan Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis sebesar Rp5,52 triliun atau ekuivalen dengan kenaikan sebesar 5,9 persen.

Sebagian sangat besar portofolio investasi TASPEN ditempatkan pada instrumen yang sangat aman. Mayoritas investasi ditempatkan pada instrumen yang memberikan hasil tetap (fixed income), yaitu surat utang maupun deposito sebesar 86,2 persen dari total portofolio.

Porsi investasi di surat utang atau obligasi sebesar 67,5 persen di mana sebagian besar merupakan obligasi pemerintah dan deposito 18,7 persen di mana sebagian besar ditempatkan di bank BUMN. Adapun sisanya berupa investasi langsung 2,2 persen, saham 4,9 persen, dan reksa dana 6,7 persen di mana reksadana saham hanya sebesar 1,3 persen, itupun dengan seleksi pemilihan Manajer Investasi yang sangat ketat.

Mayoritas investasi TASPEN ditempatkan pada surat utang negara maupun obligasi korporasi dengan fundamental yang kuat, dengan tingkat risiko yang sangat rendah namun tetap memberikan imbal hasil yang baik.

Untuk menjaga likuiditas perusahaan dan keamanan dana, TASPEN menempatkan hampir 80 persen deposito di bank BUMN, 18 persen di Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan hanya 2 persen pada bank umum yang merupakan anak usaha dari Bank Mandiri dan TASPEN yaitu Bank Mandiri TASPEN.

Untuk investasi di saham, TASPEN memilih saham-saham emiten yang sebagian sangat besar terdaftar pada Indeks LQ-45 dan didominasi oleh saham-saham BUMN yang tergolong saham-saham blue chip.

Dalam proses pemilihan saham untuk alokasi investasi, kami selalu mengutamakan aspek makro ekonomi, fundamental, prospek bisnis, likuiditas, dan valuasi perusahaan yang wajar dan seksama serta memperhitungkan pula faktor-faktor teknikal.

Pada instrumen reksadana, TASPEN berinvestasi melalui maksimum 15 Manajer Investasi (MI) yang memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) di atas Rp4 Triliun hingga sekitar Rp50 triliun, di mana 90 persen di antaranya adalah MI yang menduduki peringkat 15 besar.

Selain itu, hampir 50 persen penempatan reksadana TASPEN adalah pada MI BUMN. Kami berkomitmen untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian yang kami pegang teguh guna menjamin keamanan dana investasi yang kami kelola untuk memberikan manfaat secara maksimal kepada peserta.

2 dari 2 halaman

Pada 2018, TASPEN menjadi salah satu BUMN yang disorot DPR memiliki utang terbesar. Bagaimana kondisi utang TASPEN saat ini dan strategi pengelolaannya seperti apa?

Tahun lalu indeksnya turun. Turun segini saja sudah signifikan. Kalau saya tidak gambarkan selama 5 tahun terakhir cuma gambarnya ini doang, itu turunnya dalam banget karena ini ada turunnya di bawah, nah jadi turunnya sedikit. Padahal turunnya banyak. Nah ini 5 tahun terakhir segini-gini saja.

Obligasi yang kita pegang hari ini biar dapat kupon, kita pegang itu untuk dapat kupon. Perolehan kupon utang surat utang terendah 6 persen dan tertinggi 12 persen. Kita punya obligasi kupon rata-rata 8,4 persen. Ini kita pegang buat bayar pensiunan bulanan, kalau cash bisnis mana lagi yang keuntungannya bisa sampai 12 persen setahun? Enggak ada.

Karena TASPEN itu selalu punya kupon yang harus di bayar. Enggak ada bon kupon TASPEN yang nilai di bawah 6 persen, rata-rata di angka 8 persen. Artinya kalau diperdagangkan harganya enggak tidak sampai segitu.

Oleh karena itu begitu pada turun indeksnya sebetulnya (defisit) bukan investasi dari 2017 ke 2018. Andaikan akhir tahun 2018 dijual, itu untung apa rugi? Kalau dijual semua Rp256 triliun, rugi Rp4 triliun, ruginya emang kecil tapi ini sebagai syarat indikator sehat atau tidak nya keuangan perusahaan.

Kalau sampai ada apa-apa sama indonesia, Indonesia bangkrut atau mau bangkrut, lalu tagihan harus dibayar semua, maka kita melakukan pre-balancing. Yang kuponnya bagus kita pisahin, yang kuponnya lama, kemudian pasar jual yang lama kemudian kita beli yang baru. Saham juga, yang baru kita beli dan yang lama kita jual.

Jadi penghasilan rugi komprehensif dari yang minus Rp4,2 triliun menjadi surplus Rp1,69 triliun. Lalu kita lihat pada akhir tahun kenaikannya hampir Rp6 triliun.
Jadi kalau ada yang bilang "wah minus tu', harusnya juga bilang "ini ada positifnya".

Total aset kita Rp32 triliun dari sini karena kenaikan aset lebih tinggi dari kenaikan tagihan dan kenaikan penghasilan, artinya kita pengelolaannya bagus. Kemudian layanan terbuka, ini dari dulu sudah kita antisipasi, karena uang yang dicadangkan lebih dari dua kali lipat.

Apa inovasi yang Anda siapkan untuk TASPEN di masa mendatang?

Rahasia dong, karena sebagian masih konfidensial. [ang]

Baca juga:
Curiga Taspen Dikelola dengan Skema Ponzi, Anggota DPR Ingatkan Presiden Jokowi
Taspen Bentuk Unit Investasi Syariah di Semester I-2020
Perusahaan Asuransi Gagal Bayar, Taspen Pamer 3 Tahun Dapat Opini WTP
Pendapatan Investasi Tembus Rp9 Triliun, Taspen Tanam Saham di 51 Perusahaan Ini
Dalam Satu Tahun Aset Taspen Naik Rp31,38 Triliun
Serahkan Putusan Peleburan ke BPJamsostek pada Pemerintah, Taspen Fokus Jaga Kinerja

Topik berita Terkait:
  1. Taspen
  2. Pensiun PNS
  3. Investasi
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini