Tangisan Anniesa Hasibuan dari balik tahanan

Senin, 28 Agustus 2017 07:00 Reporter : Rendi Perdana
Anniesa Hasibuan di New York Fashion Week. ©AFP PHOTO

Merdeka.com - Air mata Anniesa Hasibuan tak terbendung. Matanya sembab. Menangis saban hari di tahanan. Lantaran terjerat kasus penipuan. Kesedihan bertambah berat. Ketika teringat anak keduanya masih berusia 3 minggu tak ada dalam dekapan. Sebagai ibu, Anniesa sangat rindu. Tak mampu memberi Air Susu Ibu (ASI) kepada sang buah hati.

Anniesa diamankan bersama Andika Surachman, suaminya. Pasangan suami istri (pasutri) ini merupakan bos First Travel. Mereka ditahan terpisah di Polda Metro Jaya. Masih satu gedung. Hanya beda blok. Selama di rumah tahanan, Anniesa dilarang menyusui anaknya. Tiap hari harus memompa ASI. Lalu dititipkan kepada kerabat untuk diberikan kepada anaknya. Sedih. Nalurinya sebagai ibu tak bisa dilawan. Membuatnya selalu menangis.

Hampir tiap hari pasutri ini diperiksa Bareskrim Mabes Polri di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta. Mereka diamankan sejak 9 Agustus lalu. Diduga menggelapkan dana Rp 848,7 miliar lebih dari 58 ribu calon jemaah umrah. Dalam setiap pemeriksaan, Anniesa selalu menangis. Lagi-lagi karena teringat anaknya. Begitu pula ketika dijenguk para keluarga. Tangisannya makin deras.

Deski, kuasa hukum Andika dan Anniesa, mengakui kliennya begitu terpukul. Sejak pertama ditahan, Anniesa dan Andika belum bertemu dengan kedua anaknya. Hanya melalui ponsel pintar milik Deski. Satu demi satu foto dan video dilihat. Pasutri ini bahagia. Andika terlihat lebih tenang dan terima kenyataan. Tetapi bagi Anniesa justru berat. Wanita itu selalu menangis melihat tingkah lucu dua anaknya dari layar ponsel.

Dalam salah satu video, terlihat anak pertama mencari keberadaan Andika dan Anniesa. Wajah bocah itu lucu. Namun, terlihat begitu rindu. "Mana mamah? Mana papah?" ungkap Deski menirukan suara anak pertama bos First Travel itu kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Meski begitu, kata Deski, kondisi kliennya masih sehat. Pasutri ini hanya kelelahan menjalani panjangnya proses pemeriksaan. Terlihat dari kantung mata mereka. Sebab pemeriksaan bisa selesai hingga dini hari.

"Kedua klien saya ini sehat. Cuma ya Anniesa pernah bilang ke saya, kalau dia kangen anaknya. Kan anaknya masih pada kecil, apalagi ada yang masih nyusu (bayi)," ujar Deski. Deski juga menyayangkan sikap kepolisian tidak memberikan hak kepada Anniesa memberikan ASI kepada anak keduanya. Sehingga sempat lakukan permohonan penangguhan penahanan kepada kepolisian.

Anniesa dan Andika baru bisa bertemu ketika disambangi kuasa hukum. Biasanya untuk membahas langkah hukum ke depan. Waktunya pun tak lama. Cuma 10 menit. Sesuai prosedur ketika mengunjungi tahanan.

Hampir sebulan Andika dan Anniesa mendekam di rumah tahanan. Tak ada lagi hidup mewah. Mereka hanya tidur kamar sepetak. Bukan lagi hotel bintang mewah, melainkan prodeo. Tidak ada pelayanan khusus. Semua sama. Makan dengan menu sama dengan tahanan lainnya. Berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Serba mewah. Di rumah istana bak raja dan ratu di negeri dongeng.

Selama di dalam tahanan, kata Deski, Andika dan Anniesa fokus ibadah. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Mereka beranggapan bahwa masih memiliki utang dunia dan akhirat. Terutama soal puluhan ribu jemaah batal berangkat umrah.

"Kata Pak Andika ngomong ke saya, 'ini utang saya dunia dan akhirat, saya akan tetap bertanggung jawab, walaupun saat ini saya ditangkap dan ditahan. Namun begitu keluar, saya akan melaksanakan tanggung jawab saya dengan memberangkatkan jemaah'," ucap Deski menyampaikan pesan kliennya.

Ditemui terpisah, Kanit V Subdit V Jatanwil Dit Tipidum Bareskrim Polri, AKBP M Rivai Arvan, menyebut Andika dan Anniesa kooperatif dalam tiap pemeriksaan. Dia mengakui bahwa Anniesa kerap menangis ketika diperiksa penyidik. Sebab kangen sama anaknya paling kecil. "Memang dia (Anniesa) sering nangis saat pemeriksaan kalau ingat anak bayinya, tapi penyidikan terus berlanjut yang dilakukan pihak kepolisian," kata Rivai kepada merdeka.com.

Dalam kasus ini, polisi terus berupaya melacak aset Andikan dan Anniesa. Sebagian telah disita. Rumah mewah di Sentul City, Kabupaten Bogor jadi target utama. Selanjutnya, kembali menyita rumah tinggal di kompleks Vasa Cluster, Jalan Kebagusan Dalam IV Nomor 5 Kavling D, Pasar Minggu, Jakarta.

Bahkan saldo tersisa dari delapan rekening Firs Travel cuma Rp 1,3 juta. Perusahaan ini justru memiliki utang kepada sejumlah provider. Provider tiket sebesar Rp 85 miliar, utang kepada provider visa Rp 9,7 miliar dan utang di tiga hotel Arab Saudi sebesar Rp 24 miliar. Jika ditotal sementara utang First Travel mencapai Rp 118,7 miliar.

Ada pula dugaan bos First Travel menggunakan uang calon jemaah umrah demi kepentingan pribadi. Seperti diungkap Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Penelusuran aliran dana dilakukan sejak Juli 2017. Terlihat ada beberapa aliran dana calon jemaah umrah yang diinvestasi ke valuta asing (valas).

Bos First Travel juga menggunakan uang calon jemaah umrah untuk kepentingan belanja terkait bisnis. Di antaranya untuk belanja tiket, dan juga membayar jasa sewa hotel. Uang First Travel juga dipakai untuk keperluan pribadi. Membeli rumah, mobil, dan tanah. Bahkan ada beberapa uang tersebut digunakan untuk liburan.

"Ada yang dibelikan mobil, rumah, tanah, atau juga ada pengeluaran yang sifatnya non, tidak bisa dilihat. Dalam arti liburan, barang-barang yang keperluan pribadi, misalnya sepatu," kata Ketua PPATK, Kiagus Badarudin, di kantornya, Kamis pekan lalu.

Sudah sejak tanggal 4 Agustus 2017, Kementerian Agama resmi membekukan izin operasi First Travel. Kepolisian lantas cepat bergerak. Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Herry Rudolf Nahak, mengaku telah menemukan beberapa bukti. Sehingga segera mengamankan Andika dan Anniesa.

"Dia terbukti melakukan pasal 378 dan pasal 372 KUHP tentang penipuan, menipu orang dengan modus travel umrah dengan biaya yang murah. Sudah ada minimal bukti, maka kita langsung bergerak cepat dan langsung menangkap kedua tersangka pada tanggal 9 Agustus di Kantor Kementerian Agama setelah melakukan konferensi pers," jelas Rudolf.

Akibat kasus ini, karir Anniesa dalam dunia fesyen juga hancur. Dia memang dikenal sebagai seorang perancang busana. Spesialis hijab. Rencananya mengenalkan hijab menjadi tren internasional terpaksa dikubur dalam-dalam. Bahkan Forbes Indonesia menghapus namanya dari daftar 'Inspiring Women 2017'. Mereka juga dituntut mengembalikan dana para jemaah. Sayangnya itu tidak mudah. [ang]

Topik berita Terkait:
  1. First Travel
  2. Penipuan Umrah
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.