Tangga Brandweer setinggi bangunan

Senin, 13 Agustus 2012 12:26 Reporter : Mohamad Taufik
Tangga Brandweer setinggi bangunan Markas pemadam kebakaran di Willemstad. Foto diperkirakan diambil pada 1936-1940. (http://kitlv.pictura-dp.nl)

Merdeka.com - Apa yang membedakan pemadam kebakaran tempo dulu dengan sekarang? Jawabannya tentu menyangkut peralatan dan musuh api. Menurut pegiat sosial bidang pelestarian situs dan sejarah Jakarta, Asep Kambali, ibarat pahlawan super, pemadam kebakaran juga mengalami perkembangan peralatan karena permukiman semakin padat. Dulu alat memadamkan api cukup dengan semprotan tangan, jas hujan tidak tahan api, mobil pegangkut petugas dan tangga.

Sekarang, mobil pemadam mampu mengangkut berkubik-kubik air, dilengkapi selang dan mesin diesel, keran, tangga otomatis, dan baju plus helm anti api. Semua harus berubah menyesuaikan zaman. Dulu permukiman belum sepadat sekarang. Teknologi juga belum semaju ini, kata dia ketika ditemui di kompleks Museum Thamrin, Jumat pekan lalu.

Pada zaman kolonial Belanda, pemadam kebakaran masih bernama Brandweer. Setelah kebakaran besar-besaran terjadi di kampung Kramat-Kwitang, gubernur jenderal Hindia Belanda langsung membuat aturan tentang pembentukan petugas kebakaran ini. Tapi persoalan tak lantas selesai. Masalah bagaimana mendapatkan air dengan cepat menjadi persoalan selanjutnya.

Kebakaran sering terjadi di kawasan jauh dari sumber air. Saluran air mungkin ada di dekat lokasi kerap kering di musim kemarau dan berlumpur. Untuk mengatasi masalah itu, sumur kebakaran dibikin di beberapa tempat. Air sumur bor dialirkan ke sumur kebakaran. Ketika aturan brandweer terbentuk, gubernur jenderal juga membuat aturan baru tentang desain tinggi bangunan di Batavia. Kala itu bangunan tidak boleh lebih dari dua lantai.

Ketinggian bangunan menyesuaikan peralatan petugas pemadam kebakaran. Baru beberapa tahun kemudian, ketika peralatan Brandweer mulai lengkap, tangga sebagai alat bantu pemadaman juga mulai didesain tinggi, desain bangunan diubah. Saya nggak tahu kalau sekarang, ada nggak aturan seperti itu. Ketinggian bangunan disesuaikan peralatan pemadam kebakaran, kata dia.

Perbedaan lain, dulu Brandweer tidak hanya berisi orang-orang Belanda. Bahkan mayoritas diisi oleh pribumi: mulai orang Betawi, Manado, dan Jawa. Tapi kebanyakan justru orang-orang dari Maluku. Jumlah petugas tidak sebanyak sekarang. Buktinya dulu hanya ada sekitar tiga lokasi markas. "Karena dulu permukiman tidak sepadat sekarang, tuturnya.

Markas Pemadam Kebakaran kota praja Batavia ini masih ditempati oleh Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, yaitu di Gang Ketapang. Di abad ke-20, tangsi pemadam memiliki kantor, ruang jaga, dan garasi dengan tiga mobil penyemprot air. Enam sepeda juga menjadi bagian dari perangkat pemadam kebakaran ini. Kini pemadam kebakaran di jakarta sudah berkembang menjadi enam suku dinas di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu.

Dulu permukiman padat bisa dibilang cuma ada di Menteng, Kota Lama, dan Kebayoran Lama. Menurut sejarawan Jakarta, JJ Rizal, persoalan jumlah petugas pemadam sepertinya sejak dulu selalu sama, yakni selalu kurang. Apalagi sekarang ketika Jakarta kian padat, tenaga mereka makin jauh dari cukup.

Rizal mengaku tidak tahu banyak soal sejarah pemadam kebakaran ini. Namun setahu dia, pemadam kebakaran memang peninggalan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Pemadam ini biasa disiapkan di pangkalan-pangkalan VOC." [fas]

Topik berita Terkait:
  1. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini