Taktik Kuasai Lahan Parkiran

Taktik Kuasai Lahan Parkiran Parkir Liar. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Ingatan Iwan masih tajam. Enam tahun lalu. Sekitar tahun 2015. Dia melihat lahan uang di balik sebuah minimarket yang baru dibangun di Jalan Juanda, Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Dia bersama sejumlah rekannya langsung mendatangi Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat. Tujuannya cuma satu, minta diizinkan menjadi juru parkir. "Waktu ada pembangunan dan rencana akan dibuat minimarket, kita mengajukan lewat RT," kata Iwan.

Gayung bersambut. Ketua RT setempat mendatangi minimarket tersebut. Dia mengajukan agar Iwan dan rekannya bisa mengais rezeki dari jasa parkiran kendaraan di depan minimarket.

"Setelah RT masuk ke dalam (pihak toko), baru kita bisa markirin di sini," jelasnya.

Dalam proses negosiasi untuk menguasai lahan parkiran, juru parkir biasanya tidak berhadapan langsung dengan pemilik toko. Selalu ada perantara. Seperti dijelaskan Feri, juru parkir di pusat pertokoan kawasan Banyumanik, Semarang. Ada penguasa wilayah yang bertugas membuka lahan uang. Disebut-sebut bernama Agus.

Agus adalah orang yang menawarkan pekerjaan juru parkir kepada Feri. Urusan pelebaran wilayah parkiran jadi tanggung jawab Agus. Feri hanya ditugaskan memungut uang parkir.

"Soal omongan sama pemilik toko itu teman saya Agus yang punya wilayah parkir di situ yang ngomong ke toko," singkat Feri.

Feri mendapat sedikit cerita. Pemilik toko menyetujui dengan satu syarat. Lahan parkiran harus dikelola dengan baik. Tidak menganggu kenyamanan pengunjung. Semisal, jika pengunjung meminta uang kembalian, maka juru parkir wajib memberikan.

"Dia tidak masalah asalkan mengelolanya tidak ngawur," ucapnya.

Pemilik toko Koh Yhang tidak mempersoalkan ketika ada juru parkir di tokonya. Awalnya, mereka datang meminta izin secara lisan. Koh Yhang juga tidak pernah meminta jatah uang parkir.

"Itu pernah ada yang bilang kalau tokonya mau diparkiri. Saya tidak masalah asalkan kerja baik. Kalau kerja sama bagi setoran tidak lah. Kalau kerja sama tukar uang receh iya. Kan sama-sama membutuhkan," kata Koh Yhang.

Kondisi berbeda dilakukan Tomo, juru parkir di Jalan Pleburan, Semarang. Pria paruh baya itu justru meminta izin langsung kepada pemilik toko. Agar bisa mencari rezeki dari uang receh pengunjung toko jahit milik Deni.

Keinginan Tomo langsung disambut hangat Deni. Tidak dipersoalkan. Bahkan, pemilik toko jahit itu cukup baik terhadap Tomo. Hampir setiap Lebaran, Tomo diberikan bingkisan. Tak hanya dari pemilik toko, tapi juga datang dari pelanggan.

"Sudah ada omongan pemilik tailor. Tidak apa-apa katanya," ucap Tomo.

Deni membenarkan ketika Tomo datang untuk meminta izin mengurus parkiran toko. "Itu parkir ya awalnya omong baik baik mau parkirin. Ya begitu saja," kata Deni.

Babeh, sapaan akrabnya. Seorang juru parkir Alfamart di Pamulang, Tangerang Selatan. Kepada kami, Babeh berbagi cerita. Awal mula 'memegang' area parkir Alfamidi. Dulunya, lahan tersebut merupakan lapangan tenis. Selain menjadi pelatih tenis, Babeh juga dipercaya menjaga keamanan. Dari hasil menjaga keamanan, Babeh digaji Rp150.000 tiap bulannya.

Sekitar Tahun 2001, pertama kali Alfamart berdiri di sana. Minimarket baru menjadi daya pikat warga. Lokasi tersebut menjadi ramai. Banyak yang sengaja berbelanja di minimarket meski tinggal di lokasi yang cukup jauh.

Sekitar tahun 2009, Alfamart menjadi Alfamidi. Tidak mau kehilangan ladang rezeki, Babeh memberanikan diri bertemu manajer minimarket. Dia meminta izin menjaga area parkir.

"Dia bilang boleh dengan persyaratan. Kamu boleh (jaga) parkir tapi jangan suka meminta. Saya bilang siap," katanya.

Manajer juga menitipkan pesan pada Babeh. Tidak sekadar menjaga parkiran. Tapi juga keamanan minimarket. Urusan keamanan diserahkan sepenuhnya pada Babeh. Dia juga dipesan agar tidak membuat onar. Dari hasil menjaga parkiran, Babeh bisa mengantongi Rp100.000 per hari. Dengan tarif parkir sama, Rp 2.000 untuk mobil dan motor.

Beda Alfamart, lain lagi Indomaret. Babeh bercerita lahan parkir Indomaret tidak boleh dikomersilkan. "Dari atasannya (Indomaret) perintah memang tidak boleh diparkirin."

Keterlibatan Ormas

Lahan bisnis parkiran juga tak lepas dari keterlibatan ormas. Ada beberapa anggota ormas yang menjadi juru parkir di minimarket atau pertokoan. Mencari rezeki dari uang receh parkiran.

Di wilayah Depok, ada beberapa ormas yang menguasai lahan parkir. Ada Pandawa 5, FBR, Forkabi, Pemuda Pancasila Banten dan lainnya. Mereka tidak boleh saling menganggu. Seolah sudah memiliki jatah wilayah masing-masing.

Sekretaris Forum Betawi Rempug (FBR) Depok periode 2018-2022, Anshori menceritakan proses penguasaan lahan parkiran. Awalnya pihaknya meminta izin pengurus wilayah setempat.

"Kita bikin surat ke RT-RW isinya kita kelola. Ya uangnya buat kita pada jajan dan santunan Yatim. Itu wajib," bebernya.

Menurutnya, izin pengurus wilayah sangat diperlukan. Jika tidak dilakukan, khawatir terjadi perang perebutan lahan parkiran.

"Ya kalau tidak izin dulu bisa rusuh kan yang punya wilayah siapa. Yang punya wilayah kan RT yang punya warga kan RT," jelasnya.

Setelah mendapat izin pengelolaan parkiran, FBR Depok tidak sepenuhnya berkuasa sendirian. Parkiran tetap dikelola bersama RT dan RW serta aparat keamanan. "Minimal Babinsa diikut sertakan. Jadi kita aman. Seperti di Beji di Roxy kan seperti itu."

Seorang Supervisor Indomaret yang enggan disebut namanya menceritakan hal sama. Biasanya, orang-orang yang hendak berbisnis lahan parkiran minimarket, harus sowan kepada pengurus lingkungan. Baik RT maupun RW.

"Kalau misalnya lingkungan mengizinkan, ya silakan, biasanya gitu," kata dia.

Pihak minimarket atau pemilik toko hanya meminta bukti surat izin dari RT maupun RW. Urusan pengelolaan parkiran jadi tanggung jawab pengurus wilayah setempat. Pekerja minimarket tidak dilibatkan.

"Makanya harus izin RT-RW sekitar karena dia yang nentuin berarti RT-RW itu yang bertanggung jawab," ucapnya.

Jika Minimarket berdiri di wilayah yang rawan dan banyak premannya, keberadaan juru parkir merangkap petugas keamanan cukup dibutuhkan. Biasanya, mereka mengaku warga sekitar. Mereka yang bertanggung jawab keamanan wilayah.

"Tidak sedikit juga ada orang, sepertinya sih warga sekitar. Meminta izin untuk jaga parkir. Nah, kalau sudah begitu nanti kita kembalikan lagi ke RT setempat. Dia harus dapat izin RT dulu baru kita bolehin," tegasnya.

Keberadaan juru parkir dilihat dari dua sisi. Positifnya, ikut membantu mengamankan kendaraan pengunjung dan pekerja minimarket atau toko. Namun negatifnya, terkadang juru parkir memaksa pengunjung memberi uang parkir.

Dia tidak sepakat jika pembeli hanya datang membeli satu produk namun harus dikenakan tarif parkir. "Yang kayak seperti itu harusnya tidak usahlah ditagih. Toh cuma sebentar kan," ucapnya.

Penulis: Adi Nugroho, Danny Adriadhi Utama, Ronald, Wilfridus Setu Embu, Henny Rachma Sari, Ya'cob Billiocta [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini