Tahta Singkat Sunan Kuning, Raja Jawa-Tionghoa Penentang VOC

Senin, 27 Januari 2020 05:08 Reporter : Danny Adriadhi Utama , Arie Sunaryo, Ramadhian Fadillah
Tahta Singkat Sunan Kuning, Raja Jawa-Tionghoa Penentang VOC Geger Pecinan. ©2020 buku Geger Pacinan @Penerbit Kompas

Merdeka.com - Lokasi makam itu ada di atas bukit. Sekitar lima kilometer arah barat Kota Semarang. Terletak di wilayah Kalibanteng Kulon. Sedikit mendaki dari bawah ke sisi tebing yang sedikit miring.

Berpuluh-puluh tahun nama Sunan Kuning identik dengan komplek pelacuran terbesar di kota lunpia itu.

Dulu di wilayah Kalibanteng Kulon tak pernah sepi setiap malamnya. Musik dangdut dan dentingan botol minuman keras selalu terdengar dari warung remang-remang. Berdiri pula wisma tempat para PSK menjajakan diri.

Sejak Oktober 2019 lalu, lokalisasi ini sudah ditutup. Pemerintah Kota Semarang berencana menjadikan kawasan ini sebagai tempat wisata religi. Tak lagi nampak para PSK atau warung remang-remang di sana.

Merdeka.com mengunjungi petilasan Sunan Kuning ini pekan lalu. Ada bangunan bercat kuning dan merah dengan sedikit gaya Tionghoa.

"Di sini ada tiga bangunan di tengah pemakaman umum yang dipisahkan gapura. Tiga bangunan bergaya Tiongkok itu terdiri dari cungkup makam Sunan Kuning, cungkup makam tiga pengikutnya, dan mushola," kata Tri, Juru Kunci petilasan di sana.

Jika melihat fakta sejarah. Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning sebenarnya tak dimakamkan di Semarang. Berbeda dengan cerita rakyat yang terlanjur beredar. Setelah ditangkap VOC di Surabaya Bulan Desember 1743, dia memang dibawa ke Semarang. Tapi lalu ke Batavia dan akhirnya dibuang ke Ceylon atau Sri Lanka.

Besar kemungkinan yang dimakamkan di sini adalah para pengawal Sunan Kuning yang saat itu dieksekusi mati oleh VOC di Semarang.

1 dari 3 halaman

Siapa Sunan Kuning?

Nama aslinya Raden Mas Garendi. Cucu Amangkurat III yang melarikan diri dari Keraton Kertasura saat perebutan tahta oleh kerabat keraton. Ayahnya, Pangeran Teposono, tewas dalam peristiwa itu.

Nama Raden Mas Garendi muncul dalam Peristiwa Geger Pecinan atau Perang Kuning. Para Panglima Perang Jawa dan Laskar Tionghoa kecewa dengan sikap Sunan Pakubuwono II yang berbalik arah mendukung kompeni.

"Nama Raden Mas Garendi muncul akibat kekecewaan pemberontak dan masyarakat Kartasura terhadap Pakubuwono II yang menyerahkan Patih Notokusumo ke VOC. Sikap tidak konsisten PB II itu kemudian memunculkan tokoh tersebut," kata Pakar Sejarah Universitas Negeri Solo DR Susanto kepada merdeka.com.

Geger Pecinan diawali dengan pembantaian orang-orang Tionghoa oleh VOC di Batavia pada Bulan Oktober 1740. Sejumlah orang Tionghoa yang melarikan diri kemudian bersekutu dengan kekuatan Mataram di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka bersumpah setia pada Pakubuwono II.

Perang besar berkobar nyaris di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beberapa kota berhasil direbut oleh pasukan gabungan Jawa-Tionghoa. Sejarawan Universitas Negeri Semarang Prof Wasino menyebut perang ini adalah perang terbesar yang dialami VOC.

"Perang gabungan Jawa-Tionghoa ini adalah perang terbesar sepanjang sejarah penjajahan VOC di Nusantara," kata Prof Wasino.

Beberapa nama dalam perang ini adalah Kapiten Sepanjang atau Siaw Pan Chiang, Patih Notokusumo, Raden Mas Said, Pangeran Mangkubumi serta Singseh yang memimpin laskar Tionghoa dan para jago silat.

2 dari 3 halaman

Sunan Kuning Naik Tahta

Pada awal 1742, VOC berhasil menekan beberapa posisi Mataram dan Laskar Tionghoa. Sunan Pakubuwono memutuskan untuk berbalik arah dan mendukung VOC.

Niat Sunan mengubah arah perjuangan ditentang sejumlah Petinggi Keraton, Panglima Perang dan Bupati di bawah Mataram. Mereka tetap setia berjuang bersama Laskar Tionghoa melawan VOC.

Membelotnya Sunan Pakubuwono II justru membuat peperangan makin besar. Pasukan Raden Mas Garendi dan Kapiten Sepanjang bergerak untuk merebut Keraton Mataram di Kartasura. Sunan Pakubuwono II terpaksa melarikan diri dengan kawalan VOC.

"Raden Mas Garendi kemudian memimpin pemberontakan ke Mataram. Sehingga PB II lari ke Ponorogo. Dia kemudian diangkat menjadi Sunan Kuning," kata DR Susanto lagi.

Walau masih muda, RM Garendi dipilih karena punya kharisma dan kepemimpinan. Dia pun punya darah keturunan raja dari kakeknya, Amangkurat III.

1 Juli 1942, Raden Mas Garendi naik tahta dengan gelar Sunan Amangkurat V Senopati Ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama.

Dalam Buku Geger Pacinan 1740-1742 yang ditulis Daradjadi dan diterbitkan Kompas tahun 2013, disebutkan juga dia disebut Sunan Kuning.Kabarnya, kata ini berasal dari Cun Ling yang berarti bangsawan tertinggi. Bisa juga diartikan sebagai raja yang memiliki pasukan berkulit kuning saat melawan VOC.

Naik tahta sebagai Raja Mataram tak membuat hidup Sunan Kuning tenang. Kini dia harus menghadapi tiga kekuatan sekaligus. Pakubuwono II, VOC, dan pasukan Madura di bawah Cakraningrat.

Serangan demi serangan terus dilancarkan untuk mengusir Sunan Kuning dari tahta Mataram.

3 dari 3 halaman

Akhir Perjuangan Sunan Kuning

Bulan Agustus 1742, tiga kekuatan itu mulai melancarkan serangan balasan. Pakubuwono II menyerang Sragen, VOC menyerang Demak dan Cakraningrat terus berupaya merebut langsung Kartasura. Pasukan Sunan Kuning mulai terdesak.

Bulan November 1742, Cakraningrat IV berhasil merebut kembali Keraton Surakarta. Setelah berdebat dengan VOC, dia akhirnya mau menyerahkan kembali Keraton itu ke tangan Pakubuwono II.

Sunan Kuning mundur melalui Kali Bengawan. Pertempuran dahsyat terjadi, ratusan pasukan Jawa-Tionghoa yang mengawal Sunan Kuning meninggal dalam palagan tersebut.

Mereka terus bergerak ke arah Timur. Dalam sebuah pertempuran, Sunan Kuning terpisah dengan pengawal setianya, Kapten Sepanjang.

Sunan Kuning kemudian menyerah pada Belanda diSurabayatanggal 2 Desember 1743. Versi lain menyebut Sunan ditangkap saat datang untuk berunding di markas VOC. Dia kemudian dibawa ke Semarang. Di sana pengawalnya dieksekusi mati. Setelah itu dibawa ke Batavia sebelum akhirnya dibuang ke Sri Lanka.

Usianya baru 16 tahun saat itu. Dia bertakhta enam bulan di atas Mataram, menjadi raja bagi orang Jawa dan Tionghoa.

[ian]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini