Taat tapi sesat

Senin, 20 Mei 2013 07:55 Reporter : Faisal Assegaf
Taat tapi sesat Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera Hilmi Aminuddin usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi, Rabu (15/5). (merdeka.com/dwi narwoko)

Merdeka.com - Petaka bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu muncul pada Kamis malam, akhir Januari lalu. Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq di sarang partai, Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan.

Luthfi dituding terlibat kasus suap Rp 1 miliar dalam proyek impor daging sapi. Dari hasil penyidikan, KPK belakangan menyimpulkan dia juga dituding melakukan pencucian fulus.

Tidak sampai setengah hari, mobilisasi opini buat membersihkan nama partai sekaligus Luthfi sudah di terima di tangan semua kader di seantero tanah air, Jumat pagi. Pendiri Partai Keadilan sekaligus mantan anggota Majelis Syura PKS Yusuf Supendi, termasuk yang menerima pesan terusan itu dari seorang anggota Dewan Syariah partai di Aceh.

Doktrin itu menyebutkan Luthfi Hasan Ishaaq adalah mujahid terzalimi. "Mobilisasi itu lewat SMS (pesan pendek) atau pesan BlackBerry. Dari DPP langsung ke ketua DPW seluruh Indonesia, kemudian diteruskan hingga ke grup-grup pengajian," kata Yusuf saat ditemui merdeka.com Selasa pekan lalu di kediaman mertuanya, bilangan Tebet, Jakarta Selatan.

Cara ini terbukti ampuh. Bahkan, Sekretaris Jenderal PKS Muhammad Taufik Ridho mengklaim kasus menimpa Luthfi malah kian memperkuat persatuan kader. "Saya lihat tidak ada (gejolak). Di kampus-kampus juga nggak ada," ujar Taufik Ridho ditemui dua bulan lalu di kantor Dewan Pimpinan Pusat PKS.

Yusuf pun mengakui sebagian besar kader partai memang fanatik dan bahkan cenderung taklid. Justru sikap ini berbahaya dan keliru. "Kader PKS itu saleh tapi salah dalam memposisikan ketaatannya kepada pemimpin," tuturnya.

Dia mengakui betapa dahsyatnya kekuasaan sekaligus pengaruh Ketua Majelis Syura Hilmi Aminuddin. Sampai-sampai tidak ada yang berani bantah kalau dia bicara dalam rapat.

Korban Hilmi antara lain Ketua Departemen Kewanitaan PKS Nursanita Nasution. Dia diberhentikan dari jabatannya setelah mendesak Hilmi soal uang dari Wiranto dalam musyawarah tiga lembaga tinggi di Jakarta. Ketika itu, Hilmi menjawab secara politis secara resmi partai belum pernah mendapatkan uang dari Wiranto. "Pertanyaannya, secara enggak resmi?" kata Yusuf ketika ditemui akhir Februari lalu di rumahnya, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Pada putaran pertama pemilihan presiden 2004, Hilmi mendukung pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid. Padahal, 70 persen anggota majelis syuro memutuskan menyokong pasangan Amien Rais-Siswono Yudohusodo. Setelah kandidat ini takluk, Hilmi mengalihkan dukungan kepada duet Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla, di babak penentuan.

Karena dianggap melawan, Nursanita dilengserkan dari posisinya. "Yang memecat bukan dia, orang lain tapi disuruh dia," ujar Yusuf.

Kemudian Muhammad Haikal. Dia kehilangan posisinya sebagai anggota Dewan Syariah PKS Wilayah DKI Jakarta karena mengirim pesan pendek kepada Mahfudz Siddik, Fahri Hamzah, dan Andi Rahmat, anggota Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat untuk kasus Bank Century. Di antara isinya harus tetap konsisten membela dakwah, tidak perlu mengikuti arahan Lembang (Hilmi).

Ini menjadi faktor utama Yusuf keluar dari PKS. Menurut dia, aturan tidak lagi ditegakkan secara adil. "Aturan dalam PKS ditegakkan berdasarkan suka dan tidak suka," ucapnya. Dia menuding kader-kader partai percaya terlalu berlebihan terhadap Hilmi Aminuddin dan bahkan sudah mengarah ke pengkultusan.

Hingga tulisan ini dilansir, Hilmi belum bisa dimintai komentar. Telepon tidak dijawab dan pesan pendek tak dibalas.

Sungguh keblinger. Kan'an putra Nabi Nuh saja bisa sesat, apalagi cuma ustad. [fas]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini