Susah Payah Caleg Curi Suara

Senin, 3 Desember 2018 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Susah Payah Caleg Curi Suara Pengundian nomor urut Parpol peserta Pemilu 2019. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Mobil double kabin berwarna putih itu terparkir di sebuah lahan kosong. Tongkrongannya gagah. Hampir seluruh bodi kendaraan dipasang stiker foto wajah pria berpeci hitam. Bertuliskan nama Awaludin Wahab. Lalu terdapat juga lambang Partai Keadilan Sejahtera ( PKS). Semua menempel lengkap. Berkilap.

Siapa saja melihat mobil ini sudah pasti tahu. Sang pemilik merupakan calon legislatif (caleg). Sedang mengampanyekan dirinya di pemilihan legislatif sebagai anggota DPRD Provinsi.

Ustaz Encep, begitu si caleg ini disapa. Menggunakan mobilnya alat transportasi bertemu calon pemilih.Kami berkesempatan mengikuti dia berkampanye pada pekan lalu. Melihat lebih dekat bagaimana para caleg ini melakukan sosialisasi program dirinya, partai dan memperkenalkan calon presiden maupun wakil presiden. Semua itu harus dilakukan bersamaan.

Ada dua agenda hari itu. Arisan di Pendopo sekaligus kediaman Bupati Garut, Rudy Gunawan. Dan setelah itu dilanjutkan pengajian mingguan di masjid samping rumahnya. Kami berangkat dari kediaman Encep di Kampung Tegalega Desa Langensari, Tarogong Kidul, kami menuju Pendopo Bupati. Ikut pula istri Encep, Elis. Semua menumpang mobil putih tadi.

Kurang dari setengah jam, tiba di acara pertama. Arisan. Siang itu para peserta arisan hadir mengenakan pakaian batik. Cukup sederhana. Perbincangan mereka tampak akrab. Saling menanyakan kabar dan perkembangan proses sosialisasi. Di antara mereka bukan cuma Encep tengah jadi caleg. Ada beberapa tamu juga menjadi calon wakil rakyat di daerah pemilihan berbeda.

Sebagai Ustaz, Encep diminta mengisi acara arisan dengan berceramah. Tanpa basa-basi, pria usia 47 tahun ini menyampaikan ceramah. Menggunakan bahasa daerah. Bahasa Sunda. Mengambil tema hikmah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Meski tidak secara terbuka, Encep di beberapa kesempatan tampak menyisipkan materi kampanye. Semisal menyebutkan lima cara hidup ala Rasulullah. Angka lima merupakan nomor urutnya di surat suara. Mendengar itu audiens terlihat tertawa. Mereka paham maksud pernyataan Encep. Lebih dari itu memang cara dakwah Encep termasuk interaktif dan kerap menyisipkan guyonan agar tidak jenuh.

Usai menyampaikan tausiyah, Elis mengambil kesempatan. Membatu suaminya. Memimpin salawatan. Lalu peserta arisan lantas mengikuti salawat dibawakan Elis. "Jadi biasanya memang begitu kalau ada acara. Saya tausiah, istri saya pimpin salawat atau yang ngaji," kata Encep kepada merdeka.com.

Berangkat dari latar belakang tokoh agama, membuat dakwah jadi sarana Encep mendekati warga. Tiap kali melakukan sosialisasi, pola dipakai selalu begitu. Harus diakui, target utamanya adalah pemilih muslim. Mulai dari pesantren sampai pengajian majelis taklim. Sehingga cara ini dianggap efektif. Semua ini dikarenakan Encep ingin memperbaiki dunia pendidikan agama. Khususnya pesantren.

Keresahan ini lantaran dia melihat banyak pihak memandang sebelah mata pesantren tradisional. Posisinya memang sulit. Apalagi, diakui dia, dalam tiap kunjungan ke pesantren tak pernah mengkampanyekan diri. Dia sadar. Lingkungan pesantren adalah salah satu area terlarang untuk kampanye.

Hal serupa juga ia lakukan saat datang ke tiap majelis taklim. Maupun blusukan dari pesantren ke pesantren. Tapi kehadirannya hanya untuk memperkenalkan diri. Lalu berdakwah seperti biasa. Karena biasanya diundang sebagai penceramah. Membawa tema sesuai kondisi terkini. Salah satunya materi tentang kepemimpinan.

Meski begitu ia tak pernah bicara visi misi di hadapan para santri. Begitu juga jemaah majelis taklim. Padahal tak sedikit santri atau jemaah sudah memiliki hak suara secara politik. Barulah usai acara dia mengadakan pertemuan. Berbicara khusus dengan para tokoh agama. Bila usai pengajian di masjid maka pertemuan diadakan di rumah warga. Begitu juga di pesantren. Pertemuan diadakan di kediaman kiai.

Di sini ia baru menyampaikan maksud dan tujuannya. Menyampaikan visi misi kepada tokoh masyarakat. Lalu meminta doa dan dukungan. "Jadi kampanye lewat anggota DKM (Dewan Kemakmuran Masjid), Kiai, RT, RW dan tokoh masyarakat saja," kata Encep.

Demi mendapat kursi wakil rakyat, tak sedikit dana telah disiapkan. Encep blak-blakan mengenai itu. Duit sekitar Rp 500 juta telah disiapkan. Jumlah itu bisa saja lebih. Demi memaksimalkan maka peran tim pemenangan wilayah menjadi vital. Mereka harus memastikan warga memilih Encep. Menjaga suara hingga hari pencoblosan mendatang.

Meski tak menyampaikan kampanye di dalam pesantren, Tim pemenangan Encep cukup lihai. Biasanya jarak 15 meter dari masjid atau pesantren telah dipasang baliho atau spanduk kampanye bergambar Encep. Semua cara itu harus dilakukan. Sebab hanya ada 8 kursi tersedia untuk Dapil 5. Itu diperebutkan 128 caleg dari PKS dan partai peserta pemilu lainnya.

Ayah 5 anak ini mengakui, membeli alat peraga kampanye bisa menghabiskan 30 persen dari dana yang disiapkan. Sisanya dipergunakan untuk pengeluaran bahan kampanye. Yakni uang untuk merawat basis dan dana kunjungan ke warga. Misalnya, untuk membeli konsumsi ke majelis taklim. Memberikan bantuan kepada masjid atau pesantren berupa Alquran atau kitab bahan ajar.

Encep mengaku tak ada hambatan berarti tiap kali ia berkampanye. Dia beruntung maju lewat PKS. Sebab Kabupaten Garut khususnya Dapil 5 menjadi lumbung suara bagi pemilih Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 lalu.

Pada Pilpres 2014, pasangan Prabowo-Hatta memperoleh suara 70,12 persen atau 866.613 suara. Sementara pasangan Jokowi-JK hanya 29,88 persen atau 369.199 ribu. Saat itu jumlah pemilih ada 1.805.455 ribu. Namun hanya 69,24 persen atau 1.250.119 pemilih yang menggunakan hak politiknya.

Lalu pada Pilkada Kabupaten Garut 2018, pasangan Rudy-Helmi yang diusung Partai Gerindra, PKS dan NasDem berhasil meraup suara 428.113 suara atau sekitar 35,8 persen. Pesaingnya pasangan Iman Alirahman - Dedi Hasan memperoleh suara sebanyak 395.283 atau 33,05 persen.

Pasangan calon nomor urut tiga Suryana - Wiwin Suwindaryati berhasil mengumpulkan suara 132.667 suara atau 11,09 persen. Sementara pasangan nomor urut empat Agus Hamdani - Pradan Aditya Wicaksana mendapat suara 239.848 suara atau 20,06 persen.

Kampanye Caleg Milenial

Bukan cuma Encep. Kami juga berkesempatan mengikuti giat kampanye caleg bernama Arief Budiman. Usianya baru 23 tahun. Calon anggota dewan Nomor urut 3. Dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Arief sapaannya jadi 1 dari 150 caleg DPRD Kabupaten Bogor Daerah Pemilihan (Dapil) 1. Ada 10 kursi anggota dewan yang mewakili 5 kecamatan. Yakni Kecamatan Babakan Mandang, Sukaraja, Citeureup, Cibinong dan Klapanunggal.

Sekitar jam 10 pagi, kami bertemu di sekitar pintu masuk Sirkuit Sentul, Bogor. Hari itu Arief dijadwalkan blusukan ke Desa Sumur Batu, Kecamatan Babakan Mandang, Kabupaten Bogor. Arief datang bersama dua temannya. Mereka datang menggunakan dua sepeda motor.

Hari itu dia mengenakan kaos berkerah warna merah marun. Dibalut jaket model parka warna merah. Di bagian punggungnya bertuliskan 'PSI'. Celana jeans warna biru dongker dan sepatu olahraga warna merah marun melengkapi penampilannya hari itu.

Sementara dua temannya. Eko dan Ridwan. Mereka hari itu memakai kaos merah dan mengenakan rompi hitam. Eko merupakan Ketua Tim Pemenangan Arief. Bertugas mengatur jadwal dan keuangan selama masa kampanye. Sedangkan Ridwan memiliki tugasnya mendokumentasikan kegiatan Arief dan mengelola sosial media.

Lokasi kampanye berjarak 5 kilometer dari tempat kami bertemu. Sepuluh menit berselang. Kami tiba di lokasi. Langsung diarahkan timnya menemui warga dari satu rumah ke rumah lainnya.

Arief sebagai caleg tanpa ragu langsung memperkenalkan diri. Menghampiri setiap warga di rumah atau di pinggir jalan. Terlebih dulu mengucapkan salam. Lalu memperkenalkan diri. "Assallamulaikum Pak, perkenalkan nama saya Arief Budiman," kata Arief memperkenalkan diri kepada warga sedang duduk di teras rumah.

Sambil berjabat tangan, dia memperkenalkan diri sebagai caleg dari PSI. Menyampaikan maksud kedatangannya untuk silaturahim sekaligus ingin mengenal warga Sumur Batu.

"Insya Allah saya mau jadi caleg Pak, dari PSI nomor urut 3. Mohon doa restu dan dukungannya Pak," lanjut Arief. Ketika Arief berbincang dengan warga, Ridwan tampak membagikan permen lolipop pada anak-anak. Kebetulan, di depan rumah itu ada beberapa balita sedang asyik bermain.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Keliling kampung. Tiap ada warga di depan rumah, kami berhenti. Kami juga berhenti bila melihat ada kerumunan warga yang tengah bersantai. Atau mampir ke warung-warung yang ramai pembeli. Arief lantas memperkenalkan diri dan menyatakan tujuannya.

Beragam reaksi warga saat didatangi Arief. Mulai dari bingung, malu-malu, menyambut hangat dan sebagainya. Tak jarang Arief didoakan warga sudah sepuh di lokasi itu. Selain berkenalan, Arief juga kerap mengajak warga swafoto. Beberapa ada yang menolak. Alasannya sedang tidak memakai kerudung. Hanya memakai daster.

Bahkan ada warga enggan diajak foto. Sebab, Arief tak memberikan amplop berisi uang. Melainkan hanya membagikan permen kepada anak-anak. "Lamun dibere duit mah hayu (Kalau dikasih uang baru mau)," ujar seorang Ibu.

Mendengar itu, Arief hanya tersenyum sambil undur diri. Tapi ada juga warga yang mau berfoto bersama. Sambil membuat jari mereka seperti hitungan tiga. Sesuai nomor urut Arief di surat suara.

Selain menemui warga, Arief mendatangi rumah Ketua RT. Di situ dia mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya. Sambil menanyakan keluhan dialami warga. Setelah banyak mendengar, dia menjanjikan bakal memperjuangkan nasib warga bila lolos jadi anggota dewan.

Adapun keluhan didengarnya, seperti permasalahan pengelolaan sampah. Warga mengeluhkan petugas kebersihan tak rutin mengambil sampah warga. Akibatnya, warga memilih jalan pintas. Membuang sampah ke aliran sungai.

Mendapat keluhan ini, Arief menjanjikan satu TPA di tiap desa kepada warga. Apalagi banyak sampah warga di Babakan Mandang harus dibuang ke TPA Galuga, Cibungbulang. Jaraknya lumayan jauh. Tak hanya itu ia menginginkan warga bisa mengelola sampahnya sendiri.

Dua jam kami keliling kampung. Tak ada alat peraga kampanye yang dibagikan Arief. Baik stiker, pin, kartu nama, atau bahkan kaos. Mereka hanya membagikan permen kepada anak-anak kecil.

Hanya membagikan permen merupakan bagian dari strategi. Malam sebelum kampanye, Arief bertemu dengan Regi. Dari situ diketahui warga tempatnya berkampanye banyak orang kreatif dan idealis. Tak hanya itu, ternyata Desa Sumur Batu berdekatan dengan kediaman Prabowo di Desa Bojong Koneng.

Dapil 1 tempat dia nyaleg nyatanya lumbung suara Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 lalu. Dari jumlah suara sah 2.489.002, pasangan Prabowo-Hatta menang 63,73 persen atau 1.636.134 suara. Sementara pasangan Jokowi-JK hanya mendapat 34,27 persen atau 852.888 suara.

Sadar kampanye di kandang lawan, Arief tidak menggunakan alat peraga kampanye. Pembagian permen kepada anak-anak memiliki filosofi. Sesuatu yang sederhana tetapi bisa membekas.

Pikirnya, orang dewasa akan menanyakan dari mana anak-anak mendapatkan permen gratisan. Lantas warga jadi penasaran dan mencari tahu. Berharap permen itu membekas dalam benak warga. Sebab, biasanya caleg lain membagikan stiker, kartu nama dan sejenisnya.

"Jadi memunculkan mindset yang baru, beda dari yang lain. Saya memang atur seperti itu," ungkap Arief.

Sebagai anak muda, justru tertantang menang di kandang lawan. Dengan cara terus mengasah dan memutar otak agar bisa diterima masyarakat. Baginya pilihan presiden boleh saja beda, tapi dirinyamenaruh harapan besar dipilih jadi anggota DPRD.

Caranya datang ke lumbung penantang petahana pun baik-baik. Tidak menantang pendukung Prabowo-Sandi. Meminimalisir penggunaan alat peraga kampanye. Termasuk pemasangan spanduk dan banner. Timnya sempat memasang banner dan spanduk dibeberapa lokasi strategis. Sayang belum lama ini 3 balihonya dicopot orang. Untuk itu, dia menahan kampanye dengan alat peraga kampanye hingga akhir tahun 2018.

Model kampanye ini diadopsi Arief dari Ridwan Kamil. Pada Pilgub Jawa Barat lalu, dia jadi bagian dari tim sukses Ridwan Kamil. Arief mengawal serangkaian kegiatan kampanye Ridwan Kamil di Kabupaten Bogor. Termasuk di Dapil 1 Kabupaten Bogor tempatnya berkampanye.

Kedekatan dengan Ridwan Kamil berbuah manis. Kang Emil sapaannya turut memberikan dukungan kepada Arief. Bahkan jadi salah satu tamu undangan saat Ridwan Kamil dilantik Presiden Jokowi di Istana Merdeka. Tak hanya itu, lima tahun lalu saat Pilpres 2014, Arief juga jadi relawan pemenangan Jokowi-JK. Tergabung dengan Projo.

Selain membagikan permen, mengajak warga swa foto juga jadi bagian dari strategi. Sebagai anak muda dan merasa melek teknologi, dia ingin meninggalkan kesan baru di warga. Pesan anak muda berani terjun ke dunia politik. Mengunggah pelbagai kegiatan kampanye demi menunjukkan identitasnya sebagai anak muda.

Arief mengaku, kesulitan dalam permodalan kampanye. Sebagai anak muda, belum punya penghasilan tetap dan berlebih. Sehingga perlu menggalang dana kampanye dari masyarakat. Ridwan dan Eko sebagai tim kampanye pun bekerja sukarela. Tak jarang mereka juga mengeluarkan uang untuk menutupi kebutuhan kampanye.

Selain menerima bantuan kampanye berupa uang, Arief membuka donasi dalam bentuk alat peraga kampanye. Dia cukup lega, sudah ada pengusaha menyumbang kaos sebanyak tujuh ribu buah. Kaos ini baru akan dibagikan mulai tahun depan.

Survei yang dilakukan LSI Denny JA pada 12 September lalu menyebut elektabilitas partai besutan Grace Natali ini hanya memiliki 0,2 persen. Begitu pula survei dilakukan Indikator. Elektabilitas PSI masih 0,2 persen. Sementara untuk lolos parlemen harus meraih suara 4 persen ditingkat nasional.

Beban Kampanyekan Capres

Memasuki bulan kedua masa kampanye, saat ini para caleg masih melakukan penjajakan. Melakukan pendekatan dengan pemilih. Masa pengenalan ini berlangsung sampai akhir bulan Desember. Mereka baru tancap gas di bulan Januari. Para caleg mulai agresif mendekati warga. Menyampaikan visi misi dan merawat suara.

Bersaing melawan ratusan caleg di tiap Dapil tidak mudah. Belum lagi beban tugas pengurus partai pusat. Mengampanyekan capres-cawapres mereka usung. Baik Encep maupun Arief mengaku mendapat tugas demikian.

Ada pesan tersirat mereka punya beban baru. Secara elektoral, efek ekor jas para tokoh capres-cawapres tidak begitu berpengaruh. Sebab pada akhirnya dua pasang tersebut sudah populer dan memiliki elektabilitas tinggi.

Encep mengaku, kampanye capres-cawapres cukup dengan memasang foto keduanya dalam baliho, stiker maupun jenis APK lain. Namun tak jarang ia fokus pada pemenangan diri sendiri. Terutama bisa masuk ke basis massa lawan politik. "Saat kampanye kita pasti kampanye presiden juga. Tapi lebih utama kampanye diri sendiri," kata Encep.

Sebab, fakta di lapangan berbeda dengan harapan ideal partai politik. Ada beberapa pendukung Encep pilihan Pilpresnya kepada Jokowi-Ma'ruf. Dia pun tak bisa memaksakan kehendaknya. Membuat semua pendukungnya jadi pemilih Prabowo-Sandi. Kata dia, terpenting tugasnya mengkampanyekan Prabowo-Sandi sudah selesai. Soal pilihan caleg dan capres-cawapres kembali jadi hak konstituen.

Sementara itu, Arief punya cara sendiri mengkampanyekan kandidat pilpresnya. Dia membagi dua jenis kampanye. Kampanye Pileg dan Pilpres. Saat kampanye pileg, dia fokus memenangkan diri sendiri. Terutama saat ada di basis garis keras Prabowo-Sandi.

Sedangkan saat jadwal kampanye Pilpres, dia cukup diuntungkan dalam hal ini. Sebab, sambil kampanye Pilpres, dia bisa menumpang nama untuk di Pileg DPRD tingkat kabupaten/kota. "Kalau saya kampanye pilpres saya bisa membawa nama saya, memanfaatkan elektoral Jokowi," kata Arief.

Dilema sistem Pemilu Serentak disadari Pengamat politik Usep Ahyar. Menurutnya ada perbedaan mendasar dalam pileg dan pilpres. Meski diadakan serentak, namun keduanya bertolak belakang secara logika.

Dalam Pilpres, ketokohan dari kandidat jadi kunci utama. Sebaliknya, dalam pileg faktor ketokohan dan citra partai politik jadi penentu. Dalam pengamatannya para caleg lebih fokus memenangkan diri sendiri dan partai. Apalagi bila berada di basis lawan politik. "Karena logikanya beda walaupun periode ini dalam waktu yang sama," kata Usep.

Dia melihat suara partai koalisi di daerah tidak utuh. Di beberapa tempat tertentu, pengurus pusat cenderung membiarkan calegnya tak maksimal memenangkan pilpres. Sebab, kemenangan pilpres tidak berbanding lurus dengan kemenangan caleg di daerah. Sehingga pada akhirnya para caleg memilih bermain aman.

Maka sebaiknya pileg dan pilpres memiliki mesin partai yang berbeda. Sehingga semua bisa bekerja maksimal. Menang dalam kategori yang beda. "Jadi memang harus punya mesin politik yang berbeda agar hasilnya maksimal," ungkap Usep. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini