Sulit selamat hutan Gunung Slamet

Jumat, 25 Agustus 2017 06:00 Reporter : Abdul Aziz
PLTP Baturraden. ©istimewa

Merdeka.com - Langit mulai gelap. Enam belas orang tengah menyusuri hulu Sungai Prukut di lereng Gunung Slamet. Mereka penasaran. Merasa heran. Sebab 60 hari lebih air sungai keruh. Kabar mereka dengar, ada longsor besar di lereng gunung. Perjalanan panjang akhirnya dimulai.

Mereka menyusuri sungai. Jalan kaki. Menempuh selama enam jam. Mengambil rute dari Telaga Kumpe, Desa Gunung Lurah, rumbul persawahan sampai alas Sudem. Area itu masuk dalam kawasan hutan lindung Gunung Slamet. Semua dilalui. Demi mengetahui penyebab keruhnya Sungai Prukut. Apalagi menjadi obrolan hangat warga sejak awal tahun 2017.

Dalam perjalanan, tampak patung ikan sepanjang 2 meter. Disangga dua bilah bambu. Berada di aliran sungai, Berjarak 10 meter dari balai desa Karangtengah. Kepala ikan ditutup kain bertuliskan "Aku ingin hidup".

Selama menyusuri hulu Sungai Prukut, mereka sempat melihat banyak patok. Berada di antara alang-alang. Terbuat dari semen, sebagian lain dari paralon. Juga ditemukan banyak pita beraneka warna. Semua digantung. Menimbulkan rasa heran.

Masih mengikuti aliran sungai. Mereka akhirnya tiba di suatu lokasi. Dalam hutan. Rombongan lantas bertemu beberapa orang. Sibuk menggotong alat ukur tanah. Mereka disapa. Sekaligus memperkenalkan diri. Mengaku dari PT Sejahtera Alam Energy (SAE).

Rombongan lantas diarahkan menuju barak para pekerja. Ada empat barat. Semua memakai atap terpal warna biru. Berukuran 9 x 4 meter. Diperkirakan ada 50 pekerja. Perasaan mereka makin merasa aneh. Bahkan semakin tercengang. Ketika melihat sekeliling lokasi barak banyak pohon seukuran lebih dari sepelukan manusia roboh. Tak terhitung jumlahnya.

Kusworo, anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banyumas, tak bisa sulit melupakan kondisi rusaknya hutan. Dia ikut dalam rombongan. Mengingat perjalanan melelahkan. Menerobos semak-semak sengkarut tanaman liar. Akhirnya kaget melihat kondisi kelam sungai selebar 2 meter di tengah hutan tercemar lumpur.

"Kagetnya luar biasa, kok diacak-acak kayak gini," kata Kusworo kepada merdeka.com pada awal Agustus lalu. Ketika itu kami menemui di rumahnya. Tepatnya di Desa Sambirata, berada di ujung utara Kecamatan Cilongok.

Ketika pertemuan itu, kata Kusworo, seorang pekerja berdalih terpaksa merobohkan pohon. Lantaran untuk pembukaan infrastruktur jalan. Rombongan lalu diminta melanjutkan perjalanan menuju embung (penampungan air) di taman Dlingo ke arah Kaligua, Kabupaten Brebes. Di lokasi itu, mobil PT SAE dijelaskan seorang pekerja akan memberi tumpangan turun gunung. Lima belas menit berjalan, nampak nyata di hadapan Kusworo pembukaan infrastruktur jalan selebar lebih dari 10 meter. Banyak alat berat memangkas tebing. Gundukan material tanah nampak menonjol berserakan di tepian jalan.

Kusworo baru mengerti. Gundukan material tanah pembukaan infrastruktur jalan itulah penyebab keruhnya sungai Prukut. Sebagaimana diakui PT SAE dalam beberapa sosialisasinya. Sisa pembukaan lahan (cut and fill) tersebut mengalami longsor karena cuaca buruk. Longsoran menggelontorkan massa sedimen dalam jumlah besar ke hulu sungai Prukut pada awal tahun 2017. Diduga terulang untuk kedua kali pada akhir Juli 2017 lalu.

Mobil Pajero Sport dan Isuzu Strada milik PT SAE telah menunggu. Disiapkan untuk rombongan. Di dalam mobil, Kusworo sempat menjawab pertanyaan para pekerja. Bahwa ingin menindaklanjut laporan longsor. Mobil lantas melaju. Sampai akhirnya terlihat pos, portal dan beberapa penjaga menenteng senjata laras panjang.

"Kami diikuti banyak orang ketika di mobil. Di antara penjaga, ada yang sempat bertanya begini, 'benar ini sudah semua, tidak ada yang ketinggalan?" ucapnya. Ketika itu perasaan Kusworo dan para rekannya semakin was-was.

Dua mobil itu kembali meluncur sampai di gerbang masuk wisata Kali Gua. Memasuki halaman kantor PT SAE. Kusworo turun, sempat meminta izin ganti baju, cuci muka dan membersihkan diri dari lumpur di sepatunya. Meninggalkan kantor, rombongan lantas diajak bersantap di sebuah rumah makan. Sambil makan, mereka saling berbincang. Inti perbincangan saat itu PT SAE meminta rombongan jangan menyebarluaskan apapun selama dilihatnya tadi.

"Saya tidak anti pembangunan. Tapi jangan rusak hutan kami. Saya punya tanggung jawab untuk bercerita tentang apa yang saya lihat," tegas Kusworo.

PT SAE merupakan pengembang panas bumi. Mereka akan membangun PLTP Baturraden sebesar 220 MW. Kepala Teknis PT SAE, Petto Rashidho Mawajaya pernah menjelaskan kepada kami bahwa pemegang saham SAE terdiri dari STEAG PE GmbH (Jerman) sebesar 75 persen dan PT Trinergy (Indonesia) sebanyak 25 persen, dalam rentang waktu 30 tahun. Kegiatan eksplorasi panas bumi di WKP Baturraden dilaksanakan berdasarkan Kepmen ESDM No. 4577.K/30/MEM/2015 dengan rekomendasi UKL-UPL baru No.660.1/BLH.II/1191 tertanggal 08 Juni 2016 dan Izin Lingkungan No.660.1/BLH.II/1192, tertanggal 08 Juni 2016.

Periode eksplorasi, perusahaan itu diperkenankan menggunakan lahan hutan sebesar 488.28 hektar. Ini sesuai dengan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) tahap eksplorasi nomor 20/1/IPPKH/PMA/2016 diterbitkan pada tanggal 5 Oktober 2016. Luas lahan hutan telah dibuka PT SAE tidak lebih dari 45 hektar. Sedangkan Wilayah Kerja Panas Bumi Baturraden sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1557.K/30/MEM/2010 seluas 24.660 hektar.

Ironisnya, tak semua warga di sekitaran lereng Gunung Slamet mengetahui mega proyek PLTP Baturraden. Semula, banyak warga di Cilongok maupun Baturraden justru mengira pembukaan jalan tol. PT SAE lantas dinilai alpa dalam transparansi seluruh tahapan pembangunan. Baik pra atau pasca pelaksanaan. Termasuk dampak dan antisipasinya.

Pandangan kritis itu misalnya disampaikan Lembaga Kajian Banyumas (LKB) dan Komunitas Peduli Gunung Slamet (Kompleet) di Aula Fisip Unsoed. Dalam rilis hasil penelitian dan diskusi publik bertemaDampak Tahap Eksplorasi Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi(PLTPB) Baturraden Februari tahun ini.

Minimnya pengetahuan warga, juga dialami Suyadi (48). Kediamannya di Grumbul Semaya Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas. Buruh serabutan terbiasa masuk keluar hutan ini suatu kali mendengar situasi tak biasa. Ketika itu tengah menuju alas Rata Amba di lereng utara gunung Slamet. Dua telinganya bising mendengar dengung gergaji mesin. Dua matanya awas. Sempat melihat rumah panggung setinggi 15 meter. Banyak kerumunan orang berkaos, bercelana panjang dan sebagian berpeci di sekeliling hutan.

"Saya takut untuk mendekat. Saya sendirian. Saya lantas mencari informasi di kampung. Ada yang bilang pembangunan jalan tol Brebes-Baturraden," cerita Suyadi kepada merdeka.com.

Sepekan setelah hari aya Idul Fitri, Suyadi pernah diminta tujuh mahasiswa menjadi penunjuk jalan ke alas Rata Amba. Rombongan ini menempuh perjalanan kaki selama lima jam. Rutenya jalan setapak. Melewati alas Munggang, alas Taman Sari, alas Pondok Mantri, alas Pondok Tentara dengan tujuan akhir alas Rata Amba. Sampailah di lokasi. Suyadi justru diliputi kesedihan. Dia mendapati kenyataan miris. Banyak pohon di alas Rata Amba sudah rata. Hilang. Hanya nampak jalan selebar 16 meter telah dipadatkan.

"Hutan dibabat. Saya merasa kehilangan. Sedih. Saya baru tahu dari mahasiswa kalau di Gunung Slamet ada pembangunan PLTP," ungkapnya.

Suyadi masih ingat betul kondisi alas Rata Amba ketika masih alami. Banyak rimbunan pohon besar. Tinggi dan wingit. Pohon berjajar rapat, udara dingin, dan sinar matahari hanya menyusup di celah-celah daun. Membentuk garis-garis tipis. Area bermain dan berpetualang ketika kecil, kini hilang. "Sekarang di Rata Amba buat jemur gabah saja bisa. Dulu boro-boro."

Ratamba telah berubah. Panorama keindahan alamnya musnah. Kini justru menghadirkan perasaan takut dari ancaman malapetaka. Suyadi juga merasa terancam. Dia masih ingat, melihat ada rumah kayu paling besar berukuran 9 x 8 meter dan lainnya 4 x 6 meter. Banyak pohon ditebang dengan diameter batang paling kecil 5 meter. Di pelataran rumah kayu ada petak-petak tanaman jagung. Tampak pula Pita warna-warni. Digantung pada benang juga patok paralon.

"Ada satu hal yang membuat saya heran. Ada papan kayu lebar 20 cm. Tebal 3 cm. papan kayu itu berlubang seperti ditembus peluru. Seperti papan tembak. Hidup saya terasa terancam," jelasnya.

Kekhawatiran telah mendiami batin sebagian warga kecamatan Cilongok dan Semaya. Pembangunan PLTP di hutan lindung gunung Slamet ditakutkan warga Cilongok membuat mereka rawan mendapat air bersih. Sedang di Semaya, pembangunan infrastruktur jalan PLTP disebut-sebut telah menyebabkan puluhan ekor babi hutan turun gunung. Merusak banyak lahan pertanian. Juga mengancam pemukiman.

PT SAE tak dapat mengelak. Kecerobohan penumpukan material tanah pembukaan infrastruktur jalan tak hanya berdampak ekologi tapi juga sosial ekonomi. Mereka sempat menghentikan pekerjaan proyek pada periode Januari sampai Mei 2017. Pada 17 Mei 2017 di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes dan 24 Mei 2017 di Kecamatan Cilongok. Perusahaan itu menyampaikan informasi tentang dimulainya kembali kegiatan pelaksanaan pembangunan infrastruktur proyek serta penjelasan mengenai metode teknisnya.

Tapi kali ini sikap penolakan terhadap proyek PLTP makin meluas. Aliansi Selamatkan Slamet menggelar demonstrasi besar-besaran. Di depan lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Pemkab Banyumas dan DPRD Banyumas pada Selasa, 18 Juli lalu. Mereka menuntut Bupati Banyumas, Ir H Achmad Husein mengeluarkan rekomendasi pencabutan izin eksplorasi panas bumi PT SAE.

Di hadapan para demonstran, Husein mengatakan tak punya wewenang. Merasa tak etis sebagai bawahan mesti menekan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Orang nomor satu di Banyumas itu mengambil jalan tengah. Setiap kejadian dikeluhkan aliansi terkait dampak pembangunan PLTP akan ditindaklanjuti. Melalui sosialisasi ilmiah, sekaligus menghadirkan para tenaga ahli PT SAE.

Seminar series on New and Renewable Energy bertajuk "Geotermal sebagai Sumber Energi Terbarukan yang Ramah Lingkungan" lantas dilangsungkan di Auditorium Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman sesuai hari telah dijanjikan. Seminar tersebut dinilai Koordinator Aliansi Selamatkan Slamet, Muflih Fuadi, justru berjalan buntu. PT SAE dinilai gagal menjawab secara ilmiah. Semua pertanyaan dijawab mentah. Terutama menyangkut potensi bencana maupun potensi kerusakan lingkungan.

Bahkan PT SAE tidak dapat membeberkan sejumlah data terkait peta kerawanan gerakan tanah di wilayah Kecamatan Cilongok. Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Bambang Purbiantoro, juga hadir dalam seminar. Menilai forum berjalan urakan. Meski begitu memastikan bahwa PLTP sebagai proyek nasional tetap jalan terus.

Namun kenyataannya, alam tak mudah ditaklukkan. Sekitar akhir bulan Juli, Sungai Prukut kembali keruh. Seiring cuaca buruk hujan deras. Keruhnya air membawa material pekat. Melayangkan ingatan mereka pada kejadian tujuh bulan silam. Warga semakin khawatir. Kerawanan air bersih bakal terus mengancam kelangsungan hidup mereka.

Achmad Husein, sebagai kepala daerah, sempat mendatangi lokasi proyek PLTP. Kala itu datang bersama empat kepala desa di wilayah kecamatan Cilongok, yakni Kalisari, Panembangan, Karanglo dan Cikidang. Kepala Desa Kalisari, Ardan Aziz dan Kepala Desa Penembangan, Suparto, memberi keterangan seragam bahwa keruhnya sungai Prukut masih disebabkan tumpukan tanah hasil kerukan infrastruktur jalan terbawa air hujan. Tumpukan tanah hasil kerukan sebenarnya telah ditutupi terpal untuk meminimalisir potensi longsor. Di samping terpal juga telah dibangun drainase, serta di aliran sungai juga telah dipasang saringan.

Di Desa Kalisari, menurut pengamatan Aziz, sejak adanya PLTP masyarakat terbagi dua kelompok. Sebagian kecil warga terutama 15 orang pemuda tergabung dengan Aliansi Selamatkan Slamet. Asumsi mereka PLTP akan menyebabkan bahaya jangka panjang. Mulai tanah longsor sampai kerawanan gempa. Sedang kelompok lain lebih praktis, terpenting air tak tercemar serta mengganggu kegiatan ekonomi pembuatan tahu telah berjalan turun-temurun.

Sementara Suparto, mengaku sekitar 90 persen warga di Panembangan menggantungkan diri pada air. Terutama aliran Sungai Prukut. Setidaknya warga di tiga RW menggunakan air Prukut untuk mandi, mencuci bahkan memasak.

Air keruh memantik konflik. Sementara PT SAE dinilai sudah mencarikan sumber air baru dari Desa Sambirata. Jaraknya sekitar 7 kilometer. "Saat ini sumber mata air belum sempurna," ujar Suparto kepada merdeka.com di ruang kerjanya.

Suparto optimis proyek PLTP Baturraden. Dia merasa perlu didukung. Sebab, informasi didapatnya, selama PLTP beroperasi akan ada fee. Nantinya masuk sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyumas. Dana itu kabarnya juga akan disalurkan ke tiap desa.

Menjalani kehidupan normal. Itulah harapan setiap warga baik di Cilongok maupun Semaya. Warga menyadari di Gunung Slamet memang tengah dikuras sumber daya alamnya. Tanah, air dan hutan. Semua dengan dalih untuk kepentingan energi. Atas nama pembangunan Nasional. Ketika Gunung Slamet nantinya digali terlalu dalam, hutan bisa roboh. Malapetaka dikhawatirkan tiba. Mereka ingin kepastian hidup. Tak ingin kecewa. Meski akhirnya kekayaan Gunung Slamet hanya dinikmati segelintir para penguasa. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.