Sulit Kendalikan Fanatisme Pendukung

Senin, 4 Maret 2019 09:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Sulit Kendalikan Fanatisme Pendukung Debat kedua Pilpres 2019. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Tidak mudah bagi tim pemenangan capres-cawapres mengendalikan para relawan. Begitu derasnya dukungan, membuat mereka kewalahan. Sehingga ada saja cara pendukung mengampanyekan jagoannya justru dengan cara salah.

Kondisi itu sedang dirasakan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto- Sandiaga Uno. Mereka sedang dihebohkan video tiga perempuan sedangan mengampanyekan pasangan nomor urut 02 itu dengan cara tidak elegan. Terlihat agak memaksa.

Tiga wanita itu juga menyebut bahwa tidak akan ada suara azan berkumandang di masjid bila Jokowi- Ma'ruf Amin menang di Pilpres. Tidak sampai di situ, mereka menyampaikan bahwa tidak ada lagi wanita mengenakan kerudung dan pernikahan sejenis akan dilegalkan.

Video kurang dari satu menit itu banyak dikecam warganet. Bahkan tiga kaum ibu itu dilaporkan ke polisi lantaran menyebarkan fitnah. Belakangan diketahui, mereka bagian dari Relawan Partai Emak-emak Prabowo-Sandiaga (PEPES).

Wakil Direktur Relawan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferry Juliantono, mengakui tiga wanita itu bagian dari pendukung capres nomor urut 02. Dirinya melihat bahwa beragam hal disampaikan para ibu itu merupakan keresahannya selama ini bila Jokowi kembali terpilih. Namun, kata dia, bukan berarti BPN mengarahkan relawannya untuk melakukan fitnah dan intimidasi.

Justru sebaliknya, Ferry menegaskan, BPN kerap mengingatkan relawan untuk berhati-hati dalam kampanye. Mereka diberikan pembekalan beragam materi seputar visi misi dan program kerja. Cara kampanye dan mengajak masyarakat untuk memilih Prabowo-Sandi.

Hanya saja, jumlah relawan banyaknya jumlah relawan membuat BPN tak bisa mengawasi satu per satu. Belum lagi informasi lain bertebaran di media sosial. Sehingga banyak di antara mereka salah mendapat referensi.

"Ibu-ibu kan tahu ada isu LGBT, dengan keterbatasannya mereka bicara itu. Padahal itu bukan bagian dari materi kampanye," kata Ferry kepada merdeka.com akhir pekan lalu.

Politikus Partai Gerindra ini menerangkan, koordinasi BPN Prabowo-Sandi berjalan efektif. Mereka memiliki pimpinan di tiap kelompok relawan. BPN tak hanya memberikan pembekalan materi kampanye. Para relawan juga disokong alat peraga kampanye (APK). Misalnya stiker, spanduk, kaos hingga dana untuk mengadakan acara tertentu.

Tidak cuma itu, kata dia, para relawan berencana akan membuat dapur umum di berbagai TPS. Dapur Umum ini diperuntukkan untuk mereka yang menginap di TPS menjelang hari pencoblosan. Ini dilakukan untuk menghindari adanya kecurangan pada kotak suara dari pihak tak bertanggungjawab.

Pendukung Jokowi dan Prabowo adu yel-yel Liputan6.com/Faizal Fanani


Selain itu, ada fenomena baru gerakan sumbangan relawan untuk kampanye Prabowo-Sandi. Mereka rela menyisihkan uangnya untuk biaya kampanye Prabowo-Sandiaga. Meski tak banyak, namun mereka dedikasikan urunan tersebut untuk kepentingan safari politik.

"Mereka berikan sumbangan untuk kemenangan Prabowo-Sandi dan ini tidak direkayasa," tegas Ferry.

Melihat antusias warga membuat dia makin optimis. Prabowo-Sandi pasti menang pada pemilu 17 April mendatang. Bahkan dia mengklaim hasil survei internal BPN menunjukkan elektabilitas sang jagoan telah mengalahkan petahana. Namun, Ferry enggan membeberkan angka pasti hasil survei itu.

Naluri Pendukung

Gelombang dukungan relawan juga terjadi di kubu petahana. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf membagi dua sumber relawan. Yakni, relawan caleg partai koalisi dan relawan inisiatif masyarakat.

Sejauh ini dua kelompok relawan ini bekerja sinergi di lapangan. Militansinya tak diragukan. Termasuk relawan Jokowi dari kalangan ibu rumah tangga. Mereka juga memberikan banyak kontribusi demi kemenangan Jokowi-Ma'ruf.

Juru bicara TKN Ace Hasan Syadzily mengatakan munculnya inisiatif warga jadi relawan lantaran prestasi Jokowi sebagai kepala negara. Apalagi, kata dia, banyak masyarakat merasa Jokowi telah berhasil menciptakan beragam program kerja yang bisa dirasakan manfaatnya

Misalnya Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP). Tak hanya itu, Jokowi juga mampu menjaga stabilitas harga bahan pokok. Salah satu unsur terpenting dalam kehidupan.

Ace menyebut TKN membina langsung para relawan Jokowi-Ma'ruf. Meski tidak semua terpantau, namun TKN selalu meminta relawan satu komando memenangkan capres-cawapres nomor urut 02. TKN ingin relawan menyampaikan prestasi, visi-misi dan program kerja. Misalnya Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Kartu Pra Pekerja dan harga sembako murah.

Di luar materi kampanye, relawan inisiatif (akar rumput) biasanya tak berkoordinasi soal materi kampanye. Mereka secara spontan selalu menangkal tudingan, isu negatif hingga fitnah yang dilakukan lawan politik.

"Mereka spontan karena Jokowi selalu difitnah dengan narasi negatif. Ini kan naluriah saja," kata Ace saat dihubungi mereka.com pekan lalu.

Kehadiran relawan sangat berarti bagi TKN. Sebab, relawan cenderung tidak terikat kepentingan politik. Berbeda dengan partai politik yang memiliki agenda tertentu untuk massa pendukungnya. Namun hal ini tidak berarti partai politik tidak bekerja maksimal.

Koordinasi relawan dilakukan oleh direktorat khusus di TKN. Baik di tingkat nasional maupun daerah, sudah ada bagian yang mengatur. Dalam pergerakan relawan, TKN juga memberikan dukungan secara materi. Yakni berupa alat peraga kampanye (APK). Namun, tidak banyak relawan yang meminta perlengkapan kampanye kepada TKN.

Banyak dari mereka justru membuat dan mencetak sendiri APK. TKN hanya memberikan arahan ketentuan pembuatan APK sesuai dengan rancangan yang telah ditetapkan. Ini jadi penting karena untuk penyeragaman pencitraan. Apalagi, desain harus menyesuaikan dengan pola yang telah didaftarkan ke KPU.

"Harus dalam pencitraan yang sama. Jadi kami hanya menggerakan relawan untuk bekerja spontan, partisipatif di lapangan," kata Ace.

Pendukung Jokowi dan Prabowo adu yel-yel Liputan6.com/Faizal Fanani


Pengamat politik Yunarto mengatakan relawan tiap kubu hampir selalu mendapat sokongan dana. Bentuknya bukan saja berupa uang tunai. Dukungan alat peraga sekalipun termasuk bagian dari pendanaan tim sukses.

Yunarto menyangsikan adanya relawan akar rumput di dua kubu ini. Sebab, sekalipun mereka bergerak dengan swadaya membuat APK, pasti jumlahnya terbatas. Maka yang terjadi adalah, kelompok relawan ini melakukan deklarasi. Lalu menjalin relasi dengan partai politik atau tim sukses kandidat. Setelah itu, barulah terjadi relasi keberlanjutan antara relawan dan timses untuk memenangkan capres-cawapres tertentu.

"Kalau sebatas deklarasi efek elektoralnya kecil, tidak bergerak menjadi mesin politik," kata Yunarto saat dihubungi merdeka.com.

Kecuali relawan bergerak langsung dari rumah-rumah konstituen. Penetrasi pemilih di satu bulan hari pencoblosan sudah memasuki masa pertarungan teritorial. Memperkuat suara di basis masing-masing.

Memelihara basis massa pun membutuhkan dana yang tak sedikit. Kelompok relawan swadaya biasanya hanya mampu menjaga daerah dari praktik kecurangan. Sementara, untuk menambah dukungan dibutuhkan biaya pemeliharaan suara.

Marketing Politik Terbaik

Trend perempuan terjun ke dunia politik bukan hal baru. Dalam tiap pesta demokrasi perempuan kerap dijadikan objek politik bukan subjek politik. Kehadiran perempuan khususnya kaum ibu rumah tangga lebih banyak dimanfaatkan sebagai marketing politik. Sebaliknya, keterlibatan perempuan sebagai peserta pemilu masih dibatasi.

Dalam berbagai hal perempuan adalah marketing terbaik dibandingkan laki-laki. Termasuk dalam dunia politik. Mereka biasanya lebih fanatik terhadap kandidat peserta pemilu. Fanatisme ini tak terbatas dalam konteks positif dan negatif. Ini mudah dibangun dan tidak hanya untuk kepentingan politik. Dunia teroris pun memanfaatkan ini. Tak heran, ada perempuan yang rela jadi 'pengantin'.

Selain itu mereka memiliki sifat ingin menularkan pilihan politiknya. Berbeda dengan laki-laki yang menyimpan pilihan politiknya untuk diri sendiri. Sehingga bukan hal baru kalau perempuan lebih memungkinkan dikerahkan untuk kampanye dari rumah ke rumah. Apalagi ibu rumah tangga bisa meluangkan waktunya untuk melakukan pekerjaan politik praktis.

"Perempuan itu marketing terbaik dibandingkan laki-laki," kata Yunarto.

Sayangnya, sebagian dari mereka dimanfaatkan untuk menjadi corong penyebar informasi hoaks, memfitnah dan jadi korban fanatisme buta.

Pengamat Psikologi Politik Hamdi Muluk mengatakan relawan fanatik ini biasanya memiliki literasi politik rendah. Dia tak lagi bisa membedakan isu dan fakta.

Emosinya lebih mudah terpancing ketika sang jagoan diledek atau direndahkan. Berpotensi melakukan intimidasi bila tak sepemikiran. Bila dibiarkan, demokrasi Indonesia justru mundur. Padahal susah payah selama ini dibangun agar naik kelas.

"Sayangnya demokrasi kita malah mundur. Kita kan ingin naik kelas, tidak dengan fanatisme buta," kata Hamdi kepada merdeka.com.

Maka saat ini, tak hanya pendidikan politik yang diperlukan masyarakat. Lebih dari itu yakni literasi politik. Sebab, publik berpendidikan baik pun belum tentu memiliki pemahaman literasi politik.

Bila dibiarkan, Hamdi khawatir makin menjamurnya sumbu pendek di masyarakat. Kondisi ini justru bakal menghasilkan perpecahan. Apalagi tidak menutup kemungkinan hal itu bakal dimanfaatkan pihak tertentu untuk mendulang suara tanpa memikirkan akibat di masa depan. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini