Slamet di Tragedi Bintaro

Kamis, 19 Oktober 2017 16:59 Reporter : Purnomo Edi
tragedi bintaro. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Senin pagi, 19 Oktober 1987. Langit masih gelap. Ratusan orang sudah berkumpul di Stasiun Rangkasbitung. Menahan dinginnya udara pagi. Mereka siap beraktivitas. Kereta api KA 225 jurusan Rangkasbitung-Tanah Abang tiba. Satu per satu masuk ke gerbong kelas ekonomi. Saling berebut dan berhimpitan. Ada juga penumpang memilih naik ke atap dan dekat lokomotif. Tak lama, peluit ditiup. Petugas memberi tanda semboyan 46. Artinya kereta diberi izin berjalan. Tepat pukul 5.05 pagi, kereta melaju.

Perjalanan cukup panjang. Sudah 14 stasiun dilewati. Hingga tiba ke Stasiun Sudimara. Sekitar pukul 6.50 pagi. KA 225 berhenti. Sebagian penumpang bergantian turun dan naik. Lima menit kereta berhenti. Setelah itu melanjutkan perjalanan. Bergerak menuju Stasiun Tanah Abang sebagai pemberhentian terakhir.

KA 225 berada di lintasan tiga. Jalur itu nantinya akan dilewati KA 220, datang dari stasiun Kebayoran Baru. Jalur buat KA 225 diubah. Sebelum melaju, petugas mengarahkan ke lintasan satu. Sedangkan jalur dua tengah diisi kereta pengangkut semen milik PT Indocement. Petugas stasiun memberi tanda semboyan 46 dari peron.

Kondektur saat itu sudah naik ke kereta. Masinis telah menerima surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP) dari Stasiun Sudimara. Perpindahan akan terjadi di Kebayoran. Semua koordinasi sesuai prosedur. Kereta kembali berjalan. Seperti biasa, mengikuti jalur telah ditentukan.

Tak berselang lama, petugas stasiun kembali memberi tanda. Mengibarkan bendera merah. Sambil meniup peluit. Keras. Menyuruh kereta berhenti. Petugas itu berlari di peron. Sekencang-kencangnya. Mengejar KA 225. Beberapa penumpang di atap kereta tertawa melihat tingkah petugas stasiun itu. Tapi semua sia-sia. Kereta terus melaju.

Sampai akhirnya kejadian nahas terjadi. KA 225 sudah berjalan delapan kilometer atau selama 10 menit dari Stasiun Sudimara. Masinis kaget. Rem darurat tak mampu mencegah. Jarak sudah terlalu dekat. Sekitar 10 meter di depannya KA 220 tengah melaju. Tabrakan maut pun tak bisa dihindar. Di tikungan S Bintaro. Tepatnya di Pondok Petung, Bintaro, Jakarta Selatan. Sebanyak 129 orang tewas. Sementara ratusan lainnya mengalami luka. Hingga menyebabkan kerugian sampai miliaran rupiah.

Sudah 30 tahun peristiwa berlalu. Namun, tidak bagi Slamet Suradio. Insiden itu masih jadi mimpi buruk. Di usianya sudah sepuh. Kejadian itu tak bisa terlupakan. Sebagai masinis KA 225. Dia dianggap paling bertanggungjawab.

Slamet menceritakan pengalaman pahitnya kepada merdeka.com Sabtu pekan lalu di kediamannya. Dia kini tinggal di Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah. Kejadian hari itu masih terekam jelas di ingatannya. Perjalanan dari Stasiun Sudimara, kata Slamet, kereta melaju di kecepatan 40 kilometer per jam. "Jaraknya dekat sekali. Saya kaget lalu saya mengadakan airbreak (pengereman) tapi jaraknya terlalu dekat. Akhirnya terjadilah tabrakan," kata Slamet.

Slamet terpental dari tempat duduknya. Kondisinya berdarah-darah. Kaca jendela pecah. Pintu lokomotif tak bisa dibuka. Rusak dan macet. Dia berhasil keluar. Melalui jendela. Tergeletak tak berdaya. Pandangannya masih melihat ke arah kereta. Kondisinya mengenaskan. Lokomotif KA 225 posisinya berada di bawah lokomotif KA 220.

Setelah itu, dia ditolong banyak orang. Digendong dan dimasukkan ke dalam mobil. Lalu dilarikan ke Rumah Sakit Pelni Jakarta.

Berangsur-angsur kondisi Slamet pulih. Mulai bisa berjalan. Meski dibantu menggunakan tongkat. Kemudian Slamet dibawa ke Polsek Pasar Minggu. Diperiksa dan ditetapkan tersangka. Lalu dia ditahan di Rutan Cipinang. Sembari menunggu proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Slamet Suradio ©2017 Merdeka.com/Purnomo Edi

Hasil persidangan, pria kelahiran 18 Agustus 1939 ini divonis bersalah. Dia dianggap lalai hingga terjadi kecelakaan dan menyebabkan korban meninggal. Meski dalam persidangan dia telah menjelaskan. Namun itu tidak cukup. Slamet meyakini bahwa dirinya tidak bersalah. Hanya menjalankan perintah.

Hakim persidangan tetap pada putusannya. Menjatuhkan vonis Slamet bersalah dengan jeratan pasal 359 KUHP. Slamet pun harus menjalani masa hukuman selama 5 tahun penjara. Kemudian dijebloskan ke Rutan Cipinang. Dan keluar pada tahun 1993.

"Saya sampai sekarang heran kenapa saya dipenjara. Saya kan hanya menjalankan perintah saja. Saya herannya saya punya surat perintah ini (PTP) kok masih bisa kecelakaan. Bingung saya. Harusnya kan ada surat ini berarti kan sudah ada hubungan antara Stasiun Sudimara dengan Stasiun Kebayoran," ujar Slamet.

Keluar dari Rutan Cipinang, Slamet sempat kembali bekerja di Perum Kereta Api. Statusnya bukan lagi masinis. Turun pangkat. Penderitaannya tak berhenti di situ. Nasib buruk masih menimpa. Tahun 1996, Menteri Perhubungan mengeluarkan surat bernomor Sk 4/Kp 602/Pnb-96. Slamet dipecat. Secara tidak hormat. Akibatnya Slamet tidak mendapatkan uang pensiun. Padahal sudah mengabdi di Perum Kereta Api sejak tahun 1964.

Mulai saat itu kehidupannya mulai jatuh. Pria berumur 78 tahun ini memilih kembali ke Purworejo, kampung halamannya. Memulai hidup dari awal. Hingga berdagang rokok eceran. Di depan Toko Kue Tulip dekat RSUD Purworejo. Semua dilakoni. Demi menghidupi keluarga. Sampai sekarang.

"Saya jual rokok eceran. Tapi banyak ruginya. Karena sekarang harga rokok mahal jadi ketengannya (ecerannya) cuma dapat sedikit. Paling bagus saya bisa menjual lima bungkus rokok. Harga ecerannya satu batang Rp 1.500. Untungnya enggak seberapa," ucap Slamet.

Akibat insiden Bintaro, juga membuat Slamet mengalami gangguan kesehatan. Telinga kanannya tuli. Bahkan mata kanannya mengalami gangguan penglihatan. Selain itu tulang kaki dan pinggulnya pun patah. Membuatnya tidak mampu bekerja berat. Trauma paska kecelakaan pun masih dirasakan Slamet hingga saat ini.

"Saya kalau lihat kereta kadang masih suka teringat waktu kecelakaan," ujar Slamet.

Meski begitu Slamet tidak mau terlalu larut. Dia tetap bersyukur. Menyerahkan semua masalahnya kepada Sang Pencipta. Berharap diberi hal terbaik dari kejadian kelam di hidupnya. "Mungkin ini jalan yang terbaik untuk saya." [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.