Setengah hati buat Prabowo-Sandiaga

Senin, 29 Oktober 2018 09:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Prabowo-Sandiaga di Kampanye Damai Pemilu 2019. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Suara lantang Sekjen PAN Eddy Soeparno membuat koalisi Adil dan Makmur resah. Dia curhat. PAN kesulitan memenangkan Prabowo-Sandiaga. Banyak kader kecewa. Prabowo tak mengambil calon wakil presiden dari partainya untuk melawan petahana.

Bukan tanpa sebab dia ungkapkan itu. Sebagai elit partai, Eddy sudah keliling pelbagai daerah dalam dua bulan terakhir. Kampanye. Memenangkan partai berlambang matahari putih. Termasuk kampanyekan Prabowo-Sandi.

Selain kampanye, Eddy juga bertemu kader akar rumput di daerah. Berkonsolidasi memenangkan Pileg dan Pilpres 2019. Tak lupa mendengar aspirasi kader sendiri.

Saat bertemu kader, banyak suara yang dia dengar. Mulai dari masukan hingga keresahan. Mereka sulit terang-terangan kampanyekan Prabowo-Sandi. Setengah hati dukung pasangan itu. Terutama di wilayah basis suara petahana. Kader khawatir bila tetap memaksakan diri, justru berimbas negatif pada partainya.

PAN menyadari, tengah berada dalam sebuah pilihan. Dalam koalisi ini, Partai Gerindra tentu sangat diuntungkan. Sebab, kadernya diusung sebagai kandidat. Hal serupa juga terjadi di kubu seberang. PDIP juga jadi pihak diuntungkan.

Maka Eddy mengambil langkah konkret. Kader di wilayah basis petahana diminta lebih cermat lagi. PAN ingin kader di daerah mempelajari secara mendalam orientasi kebijakan PAN di tingkat nasional, tingkat I dan tingkat II. Tak tanggung, bahan riset dan diskusi pun digelontorkan dari pusat.

"Kalau kita sekarang keluar teriak-teriak Pak Prabowo, yang dapat angin positifnya Gerindra, bukan PAN. Akhirnya tersadarkan ujung-ujungnya kita harus bergerak untuk memenangkan Pileg," ucap Eddy saat diskusi pada 19 Oktober lalu.

Eddy juga menginginkan, kader PAN di daerah menjadi pembeda saat memenangkan pasangan Prabowo-Sandiaga.Caranya dengan menghadirkan tokoh muda dalam setiap kampanye di ruang publik. Kondisi ini ditangkap sebagai cara jitu. Wakil Sekjen PAN Faldo Maldini merasa ini merupakan cara PAN dalam merepresentasikan sosok Sandi.

Lebih dari itu, kata Faldo, Sekjen PAN juga meminta kader PAN aktif dalam setiap rapat pemenangan. Agar gagasan PAN muncul dalam platform perjuangan memenangkan Prabowo-Sandi. Kader PAN datang ke koalisi membawa gagasan. Bukan ikut arus belaka.

"Jadi itu solusi dari Pak Eddy untuk memperkuat peran strategis PAN. Kami harus menjadi barisan terdepan pemenangan," ungkap Faldo Maldini kepada merdeka.com pekan lalu.

Mantan Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) itu menilai, minimnya dampak elektoral bagi partainya justru jadi cambuk sendiri. Melahirkan hasrat agar PAN memberikan warna lain dalam koalisi. Mewarnai partai koalisi dengan napas nasionalis dan reformis. Hingga berbuah berbagai kebijakan mandiri dan peningkatan produktivitas.

Faldo meyakini hal ini disadari Prabowo dan Sandi. Sebab, tidak mudah meningkatkan suara PAN dalam kondisi seperti saat ini. Apalagi ini pemilu dengan format baru. Serentak.

Bila sebelumnya yang dijual lebih dulu adalah partai. Maka kali ini partai dan kandidat 'dijual' dalam waktu bersamaan. Meski begitu, ia menegaskan tidak ada instruksi dari partai untuk memenangkan salah satu. Pileg atau Pilres. Semua harus berjalan bersamaan. Dilakukan secara paralel.

Namun, jangan sampai kondisi ini menjebak kader dalam menyuarakan gagasan otentik PAN. Bila sudah tak ada kader yang mewakili di Pilpres maka adu gagasan jadi kunci memenangkan PAN dalam Pileg. "Jika publik percaya dengan gagasan, maka masyarakat pilih PAN," ungkapnya percaya diri.

Senada dengan Faldo, Ketua DPP PAN, Yandri Susanto, mengaku beberapa daerah basis petahana memang sulit ditembus partainya. Saat ini, internal partai tengah melakukan riset. Hipotesis sementara beberapa kabupaten di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur jadi wilayah tersulit bagi PAN.

Selain itu, beberapa wilayah basis nonmuslim juga jadi perhatian PAN. Bahkan, sepanjang pemilu sebelumnya, ada tiga wilayah terberat bagi PAN. Yakni Bangka Belitung, Bali dan Gorontalo.

Selain terhalang basis muslim yang menjadi minoritas, faktor jumlah kursi juga memengaruhi. Dari tiga wilayah itu, Pileg untuk DPR memperebutkan 2-3 kursi saja. Menyiasati itu, PAN memilih fokus memelihara basis suaranya.

Yandri mengklaim basis suara PAN tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Buktinya dalam beberapa kali pemilu, PAN selalu masuk dalam 5 besar partai politik di parlemen. Inilah modal PAN memenangkan Pileg 2019 meski dengan format baru.

"Jadi kita rawat basis suara PAN. Bukan berarti mengabaikan wilayah lain. Tapi kita ada skala prioritas," ujar Yandri.

Meski begitu ia menepis tudingan kader akar rumputnya pecah. Sebab, dalam dua bulan terakhir, sejumlah pimpinan PAN justru berkampanye bersama Cawapres Sandi. Belum lagi, dalam waktu dekat, PAN juga akan berkeliling bersama Prabowo Subianto ke beberapa daerah.

Ini jadi bukti solidaritas PAN memenangkan Prabowo-Sandi di Pilpres 17 April mendatang. Sekaligus memenangkan partai untuk melenggang di parlemen. "Kita ingin Prabowo Sandi menang tapi di parlemen juga kita kuat," ucapnya.

Dalam melakukan kampanye PAN juga membawa gagasan penting. Salah satunya berhenti mempekerjakan tenaga kerja asing tanpa keahlian. Yandri mengaku sering mendapati pekerja asing tanpa keahilan masuk ke Indonesia. Terjadi di daerah pemilihannya, Banten II. Dia banyak melihat buruh proyek asal Cina. Sementara masih banyak pengangguran di sekitarnya.

Masalah pertanian juga turut jadi perhatian PAN. Pihaknya menyayangkan sebutan Indonesia negara agraris tapi untuk bahan pokok pun harus impor. Maka petani jadi korban. Harga jual hasil pertanian tak membuat petani senang. Sebab, mereka berjibaku melawan barang impor dari luar. "Nah PAN tidak mau seperti itu, kita akan mengedepankan potensi yang ada," kata Yandri saat berbincang dengan merdeka.com pekan lalu.

Mengenai pernyataan Eddy, Sandiaga merasa koalisinya masih solid. Apalagi dia baru saja keliling dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Banyak lokasi disinggahi. Sambil menyerap aspirasi untuk memenangkan Prabowo-Sandi.

Untuk masalah PAN soal banyak caleg masih enggak mendukungnya, Sandi merasa itu merupakan keputusan politik masing-masing. Dia optimis PAN mampu menyelesaikan masalah internal tersebut.

"Sudah dua bulan PAN dan saya keliling Indonesia, menangkap aspirasi atas nama Prabowo Sandi. Isu internal mereka biar PAN yang menjawab," ujar Sandiaga.

Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Capres-Cawapres Prabowo-Sandiaga, Hashim Djojohadikusumo, meragukan adanya kader PAN menolak mengkampanyekan pasangan nomor urut 02 tersebut. Hashim menyebut informasi itu dipelintir pihak lawan politik. "Itu enggak bener itu, dipelintir oleh sejumlah pihak. Pihak lawan lah, biasa dan Pak Eddy Suparno sudah meluruskan pernyataannya itu tidak demikian," ujar Hashim.(19/10).

Sinyal kegelisahan PAN dalam kampanye akbar tahun depan ditangkap Direktur Populi Center Usep Ahyar. Terlihat dari keresahan kader akar rumput PAN yang tak bisa terang-terangan mengkampanyekan Prabowo-Sandi di beberapa wilayah. Khususnya basis di basis massa pasangan Jokowi-Maruf.

Meski dalam setiap pemilu PAN masuk dalam 5 partai besar di parlemen, namun ia membaca adanya kekhawatiran PAN tak lagi mendominasi. Sebab, format pemilu telah berubah. Pileg dan Pilpres diselenggarakan bersama. Apalagi tak ada kader PAN dalam Pilpres yang jadi magnet utama publik.

Maka ia memandang, wajar bila pada akhirnya PAN mengutamakan pemenangan legislatif. Sebab, partainya tak mendapatkan dampak signifikan untuk meningkatkan elektabilitas partainya.

"PAN tidak mendapatkan dampak yang penting untuk kepentingan elektabilitas partainya," kata Usep kepada merdeka.com.

Pernyataan Eddy sejatinya tengah menggambarkan realitas yang terjadi di masyarakat. Sebagai elit partai, ia tengah berusaha mendengar keluh kesah kadernya di wilayah tertentu. Ia lantas memberikan arahan agar kadernya tetap berjuang memenangkan partai.

Bukan hanya PAN yang mengalami kondisi seperti ini. Semua partai pengusung di dua kubu juga bernasib sama. Tak ada keterwakilan kader sebagai kandidat Pilpres jadi perhatian khusus. Mereka harus putar otak demi memenangkan partai di parlemen.

Menghadapi ini, Usep melihat adanya kecenderungan partai membiarkan kadernya bekerja keras untuk pileg dan mengesampingkan pemenangan Pilpres. Sebab, partai tak rela kehilangan kader dan suaranya. Sementara kader di daerah lebih realistis meskipun itu bertentangan dengan kebijakan elit partainya.

Usep menilai logika pileg dan pilpres tak sama. Saat ini publik mengedepankan sosok yang diusung. Bukan siapa pengusung sosok tertentu. Meski tak semua, namun kecenderungan itu terlihat jelas.

Tentunya ini akan menguntungkan partai yang kadernya menjadi kandidat. Ia melihat Partai Gerindra dan PDIP sangat diuntungkan oleh ini. Kondisi ini sekaligus menjadi pelajaran bagi partai politik dalam menyiapkan kader terbaiknya dalam kontestasi politik. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini