Setelah Taliban Berkuasa di Afghanistan

Jumat, 3 September 2021 08:39 Reporter : Hari Ariyanti
Setelah Taliban Berkuasa di Afghanistan Warga Afghanistan ramai-ramai tarik uang di bank. ©REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Tak pernah ada yang menyangka kelompok Taliban begitu cepat berhasil merebut Kabul, ibu kota Afghanistan pada 15 Agustus 2021. Ini jauh lebih cepat dari prediksi sebelumnya dari sejumlah pejabat intelijen Amerika Serikat.

Setelah Taliban menyapu dan merebut sejumlah wilayah di negara itu, mereka diprediksi akan menguasai Kabul paling lama dalam waktu 90 hari. Namun dalam hitungan hari, pejuang Taliban berhasil memasuki Kabul, menduduki istana kepresidenan dan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani melarikan diri ke Uni Emirat Arab bersama keluarganya.

Ketakutan menyelimuti warga Kabul setelah Taliban mengambil alih kekuasaan. Ribuan orang berbondong-bondong menuju Bandara Internasional Hamid Karzai, berharap bisa mendapatkan penerbangan dan kabur dari negaranya.

Sementara itu Amerika Serikat (AS) yang telah menempatkan pasukannya selama 20 tahun di Afghanistan mulai melakukan evakuasi warga negaranya, termasuk warga Afghanistan yang pernah bekerja sama dengan mereka sepanjang 20 tahun terakhir. Evakuasi harus rampung pada 31 Agustus. Negara-negara sekutu AS juga mulai melakukan evakuasi.

Pada Senin (30/8) malam, pesawat terakhir AS lepas landas dari bandara Kabul, membawa anggota militer dan staf diplomatik yang masih tersisa. Pasukan AS yang terakhir menaiki pesawat militer C-17 adalah Mayor Jenderal Chris Donahue, komandan jenderal Lintas Udara ke-82.

Saat ini para petinggi Taliban sedang membahas sistem pemerintahan, yang rencananya akan segera diumumkan dalam waktu dekat. Skeptisisme dan ketakutan terhadap pemerintahan Taliban yang akan datang masih menghinggapi rakyat Afghanistan, kendati ada juga masyarakat yang berharap Taliban bisa memegang janjinya untuk lebih moderat, tidak lagi menerapkan kebijakan-kebijakan keras seperti pemerintahan mereka pada 1996-2001 lalu.

Ketakutan setelah Taliban berkuasa diungkapkan mantan anggota pasukan khusus Afghanistan. Dia mengatakan telah pindah rumah beberapa kali setelah menerima ancaman dari panggilan telepon.

"Saya tidak tahu seberapa lama saya bisa hidup seperti ini," ujarnya, dikutip dari The Washington Post.

Secara perlahan, nuansa normal kembali terasa di Kabul. Di jalanan, aktivitas warga terlihat seperti biasa dan orang-orang berusaha menjalani hidup seperti biasa.

Kendati demikian, para pedagang di pasar mengeluhkan pendapatan mereka yang menurun. Pemilik toko elektronik di Kabul, Muhammad Ameen (74) mengeluh pendapatannya turun drastis belakangan ini. Penghasilan Ameen dari tokonya tidak pernah mencapai USD 20 atau sekitar Rp 286 ribu per hari sejak Kabul jatuh ke tangan Taliban.

Ameen mengakui memang ada orang yang datang ke pasar.

"Tetapi sekarang orang-orang datang ke toko saya memohon untuk menjual barang-barang pribadi mereka, bukan ingin membeli apa pun."

Di sisi lain, ada perubahan dari gaya berbusana kaum perempuan di Afghanistan. Biasanya mereka menggemari pakaian dengan berbagai model dan warna terang, kini mereka lebih tertarik berbelanja busana muslim atau abaya berwarna gelap. Di era pemerintahan Taliban 20 tahun lalu, perempuan dilarang menampakkan wajahnya dan wajib memakai burka atau cadar dan seringkali burka ini berwarna gelap.

"Perempuan ingin memakai warna-warna gelap sekarang," kata seorang penjaga toko kain, Muhammad Younis (19).

Ada secercah harapan kekuasaan Taliban akan membuat keamanan membaik, seperti yang diutarakan seorang pemilik bengkel, Zabiullah Qadiri (40). Menurutnya sebelum Taliban berkuasa, pencurian sangat marak. Termasuk maraknya pembunuhan bertarget yang sebagian besar dilakukan geng sepeda motor.

"Saya senang dengan situasi keamanan yang membaik," kata Qadiri.

Dia tidak khawatir dengan kejahatan seperti yang dia takutkan beberapa minggu lalu. Dia mengatakan korupsi, bersama dengan pemerintah, tampaknya lenyap dalam semalam.

"Setiap kali pejabat datang untuk menagih pajak saya, mereka selalu memintai saya lebih banyak uang. Sekarang itu tidak terjadi," katanya.

"Mungkin saja sistem baru bisa lebih baik.”

Namun demikian, Qadiri dan warga lainnya sedang harap-harap cemas menantikan seperti apa pemerintahan Taliban mendatang. Mereka menantikan apakah para militan itu memberlakukan pembatasan seperti yang mereka terapkan selama pemerintahan mereka di tahun 1990-an dan bagaimana mereka memberikan layanan publik seperti pendidikan. Mereka sedang menanti janji manis Taliban. [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini