Gugatan pulau buatan 2

Setelah menang gugatan

Senin, 6 Juni 2016 06:38 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Setelah menang gugatan Nelayan segel Pulau G. ©2016 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Perasaan senang masing menyelimuti Kuat Wibisono, Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) setelah mendengar putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dimenangkan. Namun setibanya di rumah, dia justru mendapati hal tak mengenakan. Kediamannya di bobol maling. Kuat menduga, musibah menimpanya itu terkait dengan gugatan reklamasi dia lakukan bersama dengan masyarakat dari Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta.

Kejadian itu dialami Kuat setelah pulang mendatangi sidang putusan Gugatan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) terkait Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama soal izin Reklamasi Pulau G kepada PT Muara Wisesa Samudra. Ketika tiba di kediamannya, dia mendapati rumahnya di bobol pencuri. Sejumlah barang-barang seperti televisi, laptop, dan perhiasan raib.

"Ya benar rumah saya kebobolan setelah putusan di PTUN kemarin," ujar Kuat saat berbincang dengan merdeka.com melalui sambungan seluler, Jumat pekan lalu. Dia menambahkan, tak ada yang mengetahui peristiwa pembobolan itu. Bahkan selain perabotan, berkas-berkas Kepengurusan KNTI juga ikut raib.

"Semua hilang, kegiatan anggaran dasar KNTI, foto kopi pendanaan KNTI, Formulir anggota KNTI, 650 lebih foto copyan KTP anggota, dan beberapa foto kegiatan anggota KNTI, dan uang di bawah Rp 10 juta pun hilang," katanya.

Bukan hanya Kuat Wibisono saja yang mengalami musibah setelah menghadiri pembacaan putusan di PTUN. Hal serupa menimpa Taher , Ketua Dewan Pimpinan Wilayah KNTI Jakarta. Menurut Taher, dalam perjalanan pulang usai menghadiri sidang, dia dicegat oleh tiga orang pengendara motor. Pengendara itu kata Taher, memepet sepeda motor dia tumpangi dan memaksanya untuk berhenti. Salah satu dari tiga orang itu langsung mengarahkan senjata tajam.

Taher pun langsung menyelamatkan diri. Beruntung ada warga saat kejadian. Senjata tajam diarahkan ke Taher itu pun hanya mengenai jaket. "Untung cuma kena jaket saja. Setelah itu, tiga orang ini kabur karena ketahuan warga setempat," ujar Taher. Baik Kuat dan Taher pun langsung membuat laporan di Kepolisian atas insiden menimpa keduanya. "Ini baru dua kali saya ngurus laporan ini. Minggu depan saya akan memberikan BAP (Berita Acara Pemeriksaan),". tutur Taher.

Ketua Bidang Pengembangan Hukum dan Pembelaan Nelayan KNTI, Martin Hadiwinata mengatakan ada dugaan kejadian menimpa Kuat dan Taher karena ada pihak terganggu dengan putusan PTUN terkait gugatan reklamasi. Apalagi baik Kuat dan Taher merupakan penggugat. "Ada dugaan seperti itu karena peristiwa persis terjadi setelah kami selesai menjalani sidang. Mereka (Taher dan Kuat) adalah penggugat," ujar Martin Hadiwinata. Meski demikian, Martin tak mau gegabah menyimpulkan kejadian menimpa Kuat dan Taher adalah bentuk teror.

Selasa pekan lalu, Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Usaha Negara memenangkan gugatan dilayangkan Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta terhadap Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta atas izin reklamasi Pulau G. Penantian panjang gugatan dilakukan sejak September tahun lalu pun terbayar. Ratusan nelayan yang hadir dalam sidang itu pun langsung berteriak shalawat ketika Majelis Hakim memenangkan gugatan mereka. [arb]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini