Setelah kesepakatan nuklir Iran di Wina

Rabu, 15 Juli 2015 01:37 Penulis : Mudzakir Amdjad
Setelah kesepakatan nuklir Iran di Wina Perundingan nuklir Iran. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com -

Hari ini, Selasa, 14 Juli 2015 tercatat sebagai sejarah bagi Iran dan negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yaitu AS, Rusia, China, Prancis, inggris plus Jerman (P5 + 1 Talks) dalam menempatkan diplomasi sebagai solusi konflik yang utama khususnya dalam isu nuklir Iran.

Sebuah kesepakatan komprehensif telah tercapai, mengakhiri 12 tahun ketegangan yang hampir saja memicu perang baru di Timur Tengah, serta sekaligus dapat menerbitkan fajar baru hubungan Iran dengan Barat.

Kesepakatan yang diumumkan dalam sebuah pernyataan bersama oleh Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif dengan Policy Chief Uni Eropa, Federica Mogherini di Wina menggarisbawahi pentingnya diplomasi, koordinasi dan kerjasama dalam mengatasi ketegangan dan konfrontasi yang telah berlangsung lama.

Presiden AS Barack Obama di hari yang sama di Washington memuji hasil perundingan dan kepada rakyatnya mencoba meyakinkan bahwa kesepakatan yang baru saja dicapai di Wina itu tidak dibangun atas dasar kepercayaan (trust) melainkan atas dasar verifikasi atas komitmen Iran yang disampaikan dalam perjanjian. Obama menegaskan bahwa sanksi atas Iran baik yang datang dari AS maupun PBB hanya bisa dihapus jika Iran sudah terbukti memenuhi janjinya.

Bila dunia bisa bergembira dengan tercapainya kesepakatan itu, lain halnya dengan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dikabarkan telah menyebut kesepakatan itu sebagai kesalahan historis bagi dunia. Katanya, Iran dengan pembebasan sanksi akan memperoleh miliaran dollar yang bisa digunakan untuk menghidupkan mesin terornya.

Perdana Menteri yang akrab dipanggil Bibi memang konsisten. Kita masih ingat dalam sidang Majelis Umum PBB pada September 2012, Netanyahu sambil membawa gambar bom yang mau meledak, memprovokasi dunia bahwa Iran telah 70% menyelesaikan tahapannya membuat senjata nuklir.

Dengan lantang bahkan ketika itu Netanyahu mengatakan bahwa pada musim semi atau paling lambat musim panas 2013, dengan tingkat pengayaan uranium seperti saat itu, Iran akan menyelesaikan pengayaan uranium tingkat menengah dan segera ke tahap akhir di mana Iran akan mampu membuat senjata. Tapi dunia tahu bahwa itu tidak terjadi.

Persoalannya kemudian, dengan dokumen perjanjian yang dikabarkan setebal 100 halaman termasuk 5 lampirannya, apakah butir-butir kesepakatannya tanpa tantangan, baik di Iran sendiri maupun di Barat khususnya AS?

Presiden Obama harus menghadapi Kongres AS yang selama ini skeptis dengan proses perundingan terlebih ada tentangan pula dari Israel dan Arab Saudi. Untuk itu nampaknya Obama harus bekerja keras untuk menghadapi tekanan Kongres yang berhak mereview perjanjian itu, jika tidak mau ditinggal oleh Uni Eropa dan China yang siap menghapus sanksi dan segera meningkatkan hubungan perdagangan dengan Iran.

Sementara itu Presiden Rouhani juga perlu mengatasi tentangan kelompok garis keras yang pada bulan April 2015 lalu berdemonstrasi di depan Parlemen Iran. Kelompok ini menilai apapun kesepakatan dengan Barat akan mencerminkan kekalahan Iran mengahadapi Barat yang selama ini telah menerapkan sanksi yang telah menyusahkan Iran khususnya secara ekonomi dan penguasaan teknologi.

Kelompok itu juga menilai bahwa kesepakatan di Wina bukanlah prestasi bersejarah bagi Iran namun lebih menjadi titik lemah Iran (achilles heel) karena dengan itu negara-negara asing bisa menerapkan syarat-syarat ketat bagi pengembangan program nuklir Iran.

Memang dari kesepakatan yang dicapai di Wina itu, kekalahan Iran akan berupa kesanggupannya antara lain untuk mengurangi dua pertiga centrifuge dari 19.000 buah menjadi 6.104, dan dari jumlah itu 1.044 di antaranya akan digunakan untuk tujuan selain pengayaan uranium.

Selain itu muncul pula pandangan misalnya dari Fatima Ahmad Alsmadi (Al Jazeera, 14/7) bahwa kesepakatan itu akan dapat memicu ketegangan baru di Timur Tengah, karena Iran yang bebas dari sanksi ekonomi akan menjadi makin kuat dan makin terlibat dalam konflik di luar negaranya di kawasan Timur Tengah. Perwujudan kesepakatan nampaknya masih harus ditempuh dalam jalan yang terjal. [war]

Topik berita Terkait:
  1. Kolom Dunia
  2. Jakarta
  3. Kolom Merdeka
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini