Seragam oranye tiga bos First Travel

Senin, 28 Agustus 2017 06:00 Reporter : Rendi Perdana
Bos First Travel. ©2017 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Kemeja tahanan warna oranye dipakai Andika Surachman. Ada nomor 37 pada bagian dada kiri. Dia resmi menyandang status tersangka. Setelah menjalani pemeriksaan perdana pada 4 Agustus lalu. Istrinya, Anniesa Hasibuan menyusul. Memakai kemeja serupa, dengan nomor 78. Mereka merupakan bos First Travel. Tengah tersandung kasus penipuan. Diduga menggelapkan ratusan miliar dana calon jemaah umrah.

Pemeriksaan berjalan kooperatif. Andika lebih tenang di hadapan penyidik. Sedangkan Anniesa justru sering menangis. Mereka diperiksa penyidik Bareskrim Mabes Polri di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta. Semua pertanyaan dijawab. Semua terungkap. Salah satunya soal harga rumah mewah bak istana mereka di Sentul City, Kabupaten Bogor.

Andika menjawab tenang. Penyidik menanyakan soal harga rumah istananya. Dalam pengakuannya, dia menyebut hanya membeli seharga Rp 10 miliar. Polisi tak lekas percaya. Lalu dilakukan penggeledahan dan penyitaan. Rumah dengan 12 pilar besar itu lantas diamankan. Semua isi ruangan juga digeledah.

"Dia (Andika) sih mengaku rumahnya yang disita di Sentul itu dibelinya dengan harga Rp 10 miliar dalam bentuk sudah bangunan. Tapi, kan kita enggak tahu apakah dia renovasi lagi atau tidak," ungkap Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Herry Rudolf Nahak kepada merdeka.com, Selasa pekan lalu. Dari hasil sitaan timnya, terungkap harta bergerak dan tak bergerak milik pasangan suami istri, itu mencapai Rp 20 miliar.

Sedangkan informasi kepolisian terakhir menyebut dana calon jemaah umrah mencapai Rp 848,7 miliar. Uang sebesar itu berasal dari 72.682 orang calon jemaah promo umrah First Travel sejak Desember 2016 hingga Mei 2017. Semua lunas membayar. Kala itu promo ditawarkan sebesar Rp 14,3 juta. Dengan iming-iming di bawah harga Kementerian Agama.

Anniesa diperiksa di ruangan berbeda. Dia terus menangis. Rindu dengan anak keduanya baru masih berusia 3 minggu. Polisi tetap menjalankan kewajiban. Wanita itu tetap diperiksa. Dalam keadaan masih sembab usai menangis. Kondisi itu diungkapkan Kanit V Subdit V Jatanwil Dit Tipidum Bareskrim Polri, AKBP M Rivai Arvan. Anniesa bahkan sempat bilang rindu di tengah pemeriksaan. "Tapi ya proses penyelidikan terus berjalan."

Tak hanya Anniesa dan Andika ditahan kepolisian. Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki, adik Anniesa, juga ditahan. Setelah menjalani pemeriksaan pada 18 Agustus lalu. Dia dianggap membantu Anniesa menggelapkan uang jemaah umrah. Kiki ditahan. Memakai seragam oranye bernomor 22. Selama ini Kiki menjabat sebagai direktur keuangan sekaligus salah seorang komisaris PT First Travel.

Berbeda dengan kakak kandung dan kakak iparnya. Kiki berpenampilan tomboy. Gayanya lebih santai. Berambut pendek. Dia datang ke pemeriksaan memakai kemeja lengan panjang warna gelap dan celana jin. Duduk di hadapan penyidik di dampingi kuasa hukumnya. "Memang kalau Kiki terlihat biasa saja ketika diperiksa, beda dengan kakaknya yang sering menangis," ujar Rivai.

Dalam penggeledahan, kepolisian mengamankan empat mobil mewah milik Andika. Lalu dua kantor First Travel. Bahkan butik milik Anniesa di bilangan Kemang, Jakarta, turut disita. Semua dilakukan setelah Andika dan Anniesa resmi ditahan. Semua lokasi penggeledahan lalu disegel.

Kantor First Travel di bilangan Jalan TB Simatupang, Jakarta, menjadi tempat pertama. Berjam-jam polisi melakukan penggeledahan. Dari sana berhasil mengamankan sejumlah dokumen dari komputer. Isinya data para calon jemaah gagal berangkat umrah. Kepolisian melanjutkan penggeledahan. Mereka menuju rumah kontrakan pasutri ini di kawasan Kemang. Aset milik Kiki juga diamankan. Di antaranya rumah dan lima mobil. Adapun satu mobil rental sempat diamankan sudah dikembalikan.

Tidak sampai di situ. Kepolisian terus bergerak untuk menggeledah sejumlah aset miliki First Travel. Dari Kemang, polisi lalu menggeledah kantor lainnya di Radar Auri, Cimanggis, Depok. Di situ polisi juga menemukan sejumlah dokumen para jemaah. Butuh waktu dua hari menggeledah kantor di Cimanggis ini.

Dua hari menggeledah kantor First Travel di Cimanggis, Depok kemudian Polisi bergerak ke butik milik Anniesa Hasibuan yang ada di Kemang Jakarta Selatan. Butik tersebut langsung disegel dan diamankan polisi untuk penyelidikan lebih lanjut. Lalu pada sore harinya, mereka kemudian bergerak ke rumah mewah di Sentul. Penggeledahan dilakukan semalaman hingga pagi. Ketika penggeledahan kepolisian menemukan senjata airsoft gun. Ditemukan juga buku tabungan rekening.

"Kita geledah seluruh lantai 1, kita temuin dokumen, terus lanjut ke lantai 2 di atas kamarnya banyak, kita telusuri satu-satu," kata Rivai. "Semuanya kita amankan sebagai barang bukti dan penyelidikan lanjutan," tambahnya sambil menunjukkan foto di ponselnya kepada kami.

Rivai memberi tahu proses penggeledahan tersebut. Sudut demi sudut rumah mewah ditunjukkan. Bukan hanya bagian luar rumah saja tampak mewah. Bagian dalamnya memang mewah. Terdapat pula kolam renang, musala, ruang tamu maupun dapur. Bahkan kamar tidur utama untuk Andika dan Anniesa begitu besar dan mewah. Nuansa emas begitu mendominasi. Terlihat dari tembok, meja, sofa, tempat tidur, hingga tiap lemari.

Guna memperdalam kasus, kepolisian hampir tiap hari memeriksa semua tersangka. Rivai menyebut mereka mudah bekerja sama selama pemeriksaan. Pada Kamis pekan lalu, ketiga tersangka terakhir diperiksa di Bareskrim Polri. Mereka menjalani 12 jam pemeriksaan. "Sejauh ini para tersangka dalam pemeriksaan menjawab pertanyaan penyidik dengan kooperatif," tegasnya.

Sementara itu, Deski selaku kuasa hukum Andika dan Anniesa, memastikan dalam tiap pemeriksaan kliennya selalu didampingi timnya. Mereka diperiksa pada ruang terpisah. Para kliennya selama ini berada di rumah tahanan Polda Metro Jaya. "Setiap hari diperiksa, pertama diperiksa setelah penangkapan itu pas tanggal 9 Agustus langsung saya dampingin," kata Deski.

Selama proses pemeriksaan, kuasa hukum bos First Travel ini sempat mengajukan penangguhan penahanan. Ini menimbang kondisi Anniesa. Sebab, selama ini kliennya masih dalam tahap menyusui buah hatinya. Apalagi selama ini tidak mendapat kesempatan dekat dengan anaknya. Anniesa hanya diperbolehkan memompa Air Susu Ibu (ASI). Selanjutnya diambil pihak keluarga di tahanan untuk menyerahkan kepada bayinya.

"Sampai saat ini dia gak pernah ketemu dengan anaknya. Kadang pas sudah lihat gitu dia nangis si Anniesa," terangnya. Untuk itu dia berharap kepolisian menyadari kondisi kliennya. Sebab ini naluri Anniesa sebagai seorang ibu ingin memeluk erat sang buah hati. [ang]

Topik berita Terkait:
  1. First Travel
  2. Penipuan Umrah
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.