Selamat dari Bunuh Diri

Senin, 22 Februari 2021 10:20 Reporter : Ronald
Selamat dari Bunuh Diri Ilustrasi gantung diri. ©shutterstock.com

Merdeka.com - Segenggam pil bersiap ditelan. Sambil berdiri di balkon lantai 27 apartemen, pria itu berniat mengakhiri hidup. Bunuh diri. Tekanan hidup sudah tak bisa dia tahan lagi. Kuat dorongan untuk melepas berbagai beban. Seketika dia menangis. Menyadari keputusan ini pilihan salah.

Sebut saja namanya Ar. Niat bunuh diri itu adalah pengalaman pahitnya. Kejadiannya sekitar 2017 lalu. Semua persiapan bunuh diri sengaja dibeli. Mulai dari obat-obatan hingga tali. Selama empat bulan semua dipersiapkan. Semua terasa semakin berat. Kata bunuh diri selalu muncul dibenaknya.

"Saat itu aku merasa ingin menghilangkan rasa sakitnya," ujar Ar bercerita kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu.

Masalah bunuh diri memang jadi masalah yang penting diperhatikan. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan jumlah angka kematian akibat bunuh diri di dunia mendekati 800.000 per tahun hampir 1 kematian setiap 40 detik. Ketika ada satu orang meninggal karena bunuh diri diperkirakan terdapat 20 kasus percobaan bunuh diri. Pada 2018, jika diasumsikan rata-rata sekitar 9.000 kasus kematian dengan bunuh diri terjadi di Indonesia.

Dalam kasus ini, penyebab kematian kedua pada kelompok umur 15-29 tahun, dan 79 persen terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Setiap kasus bunuh diri merupakan tragedi yang mempengaruhi keluarga, teman, dan masyarakat serta berakibat jangka panjang bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Tak hanya itu, data Kemenkes kembali mencatat keinginan untuk bunuh diri telah menyasar anak pada kisaran SMP sampai SMA, dari hasil survei 10.837 responden, sebanyak 4,3 persen lali-laki dan 5,9 persen perempuan memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Ar memang dikenal penggila kerja. Pria 30 tahun ini secara kepribadian, dikenal baik dan mudah bergaul. Kepandaiannya sering kali membuat lingkungan kerja mengandalkan. Bahkan tak boleh ada kegagalan, begitu prinsipnya.

Kehidupannya cenderung normal. Sejak bekerja 2013, tidak ada keluhan didengar para teman selama ini. Bahkan sampai akhirnya memilih menikah pada medio 2016 lalu. Seiring berjalan, semua pekerjaan mulai sulit ditangani. Ada saja masalah baru dirasakan. Tapi semua dipendam sendiri. Enggan menceritakan kepada siapa pun.

Bertemu wanita pujaan hati ternyata tidak membuat hidupnya lebih tenang. Beragam pekerjaan justru makin banyak datang. Semua coba diatasi sendiri. Namun, kegagalan kerap kali datang. Hasil itu membuatnya merasa menjadi manusia paling bodoh sedunia.

"Sebelum menikah aku tuh gila kerja dari 2013, nginep di kantor dan aku melakukan apa yang aku mau. Aku bisa kerja sebanyak mungkin apa yang aku mau, selama mungkin apa yang aku mau," kata dia.

Kala hidup terasa jatuh, di situ Ar mulai mencari informasi tentang bunuh diri. Segala informasi dari situs luar negeri mudah didapat. Bahkan semua peralatan yang disiapkan untuk bunuh diri diketahui dari penjelasan di situs tersebut.

Dalam mencari, ditemukan banyak sekali caranya untuk mengakhiri hidup. Akhirnya ia pilih caranya. Yakni meminum zat kimia dan meloncat dari ketinggian dengan leher terikat.

Dari situs itu, cairan itu membuat tenggorokan seperti terbakar. Reaksi cairan itu 3 hingga 6 menit, setelah itu loncat dan semua rasa sakit akan hilang. Namun, situs itu kita sudah tak terlihat lagi.

"Sebenarnya bunuh diri itu bukan bunuh diri, tapi ingin hilangin rasa sakitnya itu. Aku ini sudah sakit banget," Ar mengungkapkan.

Tiba saat yang ditunggu. Ar menyiapkan segala pendukung agar bunuh dirinya lancar. Namun, di menit terakhirnya, ia mengingat kepada sang pencipta. Ia pun beribadah. Meskipun dirinya merasa sangat drop kala itu. Saat beribadah, ia mengaku menyampaikan kalimat terakhir kepada sang pencipta. "Ini ibadah terakhirku, sebentar lagi kita ketemu," ujarnya sembari meneteskan air mata.

Selang beberapa menit, rencana bunuh diri pun gagal. Ia tersentak sadar apa yang akan dilakukan salah. Melihat cairan kimia dan tali yang disiapkan, seketika menangis sangat deras. Ar segera tersadar. Memohon ampun kepada sang pencipta. Ar pun membuang seluruh zat kimia dan tali tadi.

Semua kejadian itu belakangan baru diceritakan kepada sang istri. Kemudian kejadian buruk itu juga diceritakan kepada teman-temannya. Reaksi mereka masih tak percaya. Bahwa orang yang penuh semangat seperti Ar punya masalah kesehatan mental serius. Kemudian dia diantarkan ke psikolog dan psikiater. Kondisinya kini semakin tenang.

WHO Global Health Estimates mencatat angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia tahun 2016 sebesar 3,4 per 100.000 penduduk. Untuk laki-laki sebesar 4,8 per 100.000 penduduk, lebih tinggi dibandingkan perempuan 2,0 per 100.000 penduduk.

Secara umum, angka kejadian semakin tinggi pada kelompok umur yang lebih tua, kecuali kelompok umur 20-29 tahun sebesar 5,1 per 100.000 penduduk yang lebih tinggi dibandingkan pada kelompok umur 30-39, 40-49, dan 50-59 tahun.

Kepala koordinator dari komunitas Into The Light Indonesia, Benny Prawira Siauw, menyebutkan saat niat bunuh diri muncul, terdapat banyak faktor. Di antaranya faktornya biologis, psikologis dan sosial. Semua kemudian menumpuk dan berkembang secara dinamis sepanjang masa kehidupan dimulai dari rahim hingga titik kematian.

Menurut Benny, ada delapan tanda peringatan seseorang yang ingin melakukan bunuh diri. Pertama membicarakan keinginan bunuh diri. Kedua membenci dan menghujat diri sendiri. Ketiga mencari cara memastikan untuk bunuh diri. Keempat mengatur segala hal untuk ditinggalkan.

Kelima ialah mengucapkan perpisahan, keenam menarik diri dari orang lain. Ketujuh perilaku merusak diri sendiri, dan kedelapan adalah perubahan fisik dan mood yang drastis. "Semakin banyak tandanya, semakin kuat indikasi bahwa ia memiliki risiko bunuh diri," kata suicidolog tersebut. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini