Sederhana merayakan Lebaran Raya

Rabu, 10 Januari 2018 08:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Desa Guaeria di Halmahera Barat. ©2018 Merdeka.com/Anisyah

Merdeka.com - Sejumlah kaum ibu bergotong-royong. Memasak di sebuah dapur rumah warga. Membuat makanan. Kue maupun cemilan ringan. Demi menyambut perayaan lebaran. Hari di mana waktu tepat untuk temu warga. Bersilaturahmi. Saling bersalaman.

Lebaran Raya. Begitu biasanya warga di Desa Guaeria, Jailolo, Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara, ini menyebut. Bukan perayaan Idul Fitri. Melainkan merayakan dari Hari Raya Natal hingga malam pergantian tahun.

Lebih kurang ada 500 jiwa tinggal di sana. Semua masyarakat kristen protestan. Hampir semuanya lebih menghabiskan waktu beribadah ke gereja. Tidak ada perayaan pesta meriah dalam perayaan itu.

Tak ada gegap gempita jutaan orang menyambut malam pergantian tahun. Maupun mendengar suara terompet menggema. Hingga menyambut dengan suka cita dan letusan kembang api saat jarum jam menunjukkan pukul 12 malam.

Kondisi ini diceritakan salah seorang ibu bernama Grace. Dia bercerita pesta malam pergantian tahun tak berlaku di Desa Guaeria. Termasuk tak ada terompet dan kembang api di jual menjelang tahun baru. Tak ada pula pesta penyambutan tahun baru. Di malam pergantian tahun, semua warga Guaeria berkumpul di gereja. Berdoa, menjalankan ibadah malam tahun baru.

"Tidak ada pesta tahun baru, Torang (kita) semua pergi berdoa di gereja," kata Grace warga Desa Guaeria ketika bertemu kami akhir Desember tahun lalu.

Desa Guaeria berpenduduk sekitar 500 jiwa. Dibagi menjadi dua rukun warga (RW). Semua warga desa menganut agama kristen protestan. itu pun satu-satunya tempat ibadah di sana Gereja Galfari Pentakosta. Mereka dianggap taat beribadah. Setiap hari sebelum matahari terbit warga berkumpul di gereja untuk menjalankan ibadah.

Ketaatan warga Guaeria dalam menjalankan ibadah terlihat jelas saat malam pergantian tahun. Menjelang pergantian tahun, mereka tak pernah mengadakan pesta menyambut tahun baru. Sebaliknya penyambutan tahun baru dilakukan dengan cara beribadah dan berdoa bersama di gereja.

Di malam tahun baru, sejak pukul 10 malam, warga mulai menjalankan ibadah di gereja. Dipimpin seorang pendeta. Seluruh warga berdoa dengan hikmat di gereja. Mendengarkan tiap firman Tuhan dan menyanyi.

Tepat pukul 12 malam, ibadah malam tahun baru berakhir. Setelah saling berjabat tangan, warga Guaeria pulang ke rumah masing-masing. Sebab esok harinya mereka akan merayakan Lebaran Raya. Mengenakan pakaian terbaik. Lalu keliling kampung bersilaturahmi dari satu rumah ke rumah lainnya.

Lebaran Raya merupakan puncak perayaan Natal di Desa Guaeria. Saat Hari Natal mereka hanya beribadah ke gereja seperti malam tahun baru. Namun, puncak perayaan natal berlangsung pada tanggal 1 Januari.

Para kaum ibu itu masih sibuk. Menggunakan perlengkapan dapur seadanya. Biasanya mereka berkelompok. Membuat bermacam kue kering untuk disuguhkan kepada tiap tamu. Mulai dengan cara digoreng atau dibakar menggunakan oven memakai kompor minyak tanah.

Mereka pun urunan membeli bahan kue. Mulai dari tepung terigu, telur, minyak, gula, mentega hingga minyak tanah. Biasanya mereka membuat kue bersama di rumah salah satu warga. Para ibu ini membagi tugas. Ada membuat adonan, mencetak, menggoreng atau memanggang hingga membagikan kue sudah jadi. Tak jarang selama proses pembuatan kue canda tawa mengiringi.

"Kalau sudah jadi dibagi rata. Biasanya tidak banyak, hanya tiga sampai lima orang tiap kelompok," kata Yehezkiel, warga desa Guaeria lainnya mengungkapkan kepada kami.

Suasana hangat dan penuh keakraban ini tak hanya ada menjelang Lebaran Raya. Biasanya setiap sore para ibu berkumpul di bibir dermaga. Mereka saling berbincang. Sambil mengawasi anak-anaknya bermain. Atau berkumpul di rumah salah satu warga dan membawa anak-anaknya.

Tak hanya merayakan dengan cara sederhana. Tiap simbol perayaan Natal dan Tahun Baru juga tidak terlihat. Beberapa rumah kami sambangi. Tidak satu pun memasang pohon Natal. Biasanya tempat lain umat Nasrani sibuk menghias pohon Natal dan menghias rumah dan banyak kado.

Pohon Natal di Guaeria hanya ada di gereja. Tingginya hanya 2 meter. Di simpan di depan dekat mimbar tempat pendeta memimpin ibadah. Tak ada pohon Natal. Semua terlihat seperti hari-hari biasa.

Warga bukannya tidak peduli. Bagi mereka perayaan Natal dan Tahun Baru sebagai perayaan pribadi. Dan, terpenting tidak diselenggarakan cara mewah. Semua masih memegang teguh ajaran leluhur. Jangan coba-coba menentang ajaran agama. Meski belum ada sanksi tertulis.

Desa Guaeria di Halmahera Barat 2018 Merdeka.com/Anisyah


Dengan segudang keunikan, Bupati Maluku Utara akhirnya menunjuk Guaeria sebagai destinasi politik. Membuat satu ikon. Spesial buat warga. Bertuliskan 'Wellcome to Halbar'. Bila malam hari cara terang sudah terlihat dari jarak jauh. Sekaligus menunjukkan bahwa wilayah itu sudah mendapat listrik. Bahkan ke depan berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Program ini dianggap sejalan dengan visi Bupati Danny, 'Terang siang, terang malam tanpa polusi'. Sebagai destinasi wisata, Danny ingin Guaeria menjadi desa paling unik. Sebuah desa di Halbar dengan penduduk bersuku papua, memiliki pemandangan alam asri dan menjadi desa mandiri sekaligus mampu memanfaatkan panas matahari sebagai sumber listrik.

Juga sebagai desa wisata, Danny ingin desa Guaeria menjadi tempat wisata alami. Sehingga tak perlu membuka akses jalan darat. Semua orang bisa datang melewati jalur laut. Tujuannya untuk meningkatkan penghasilan para pemilik kapal penumpang. Bila proyek desa mandiri energi ini berhasil makan bakal dipakai percontohan mandiri energi. Sebab di Halmahera Barat, Guaeria bukan satu-satunya desa belum teraliri listrik. Masih ada 19 desa bernasib sama. Gelap dan mengandalkan mesin diesel untuk menerangi desa.

"Desa ini (Guaeria) akan menjadi contoh bukan hanya di Halbar tetapi juga di Maluku Utara dan Indonesia sebagai desa mandiri yang menggunakan tenaga surya sebagai sumber listrik," papar Danny.

Ketika tiba di sana, kami tidak sempat merayakan Tahun Baru bersama. Harus pergi ke pulau lain di wilayah Halbar. Tetapi, rasa kesederhanaan begitu terpancar. Bisa dilihat dari persiapannya.

Tanpa gegap gempita. Semua hanya ingin menikmati Natal hingga Tahun Baru. Dua perayaan hari besar itu bahkan hanya diisi doa. Meminta kepada Yang Maha Esa. Selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Dan, diberi kesempatan menjadi orang lebih baik di tahun berikutnya. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.