Wawancara Julian Pasha (2)

'SBY bisa saja maju lagi di Pilpres 2019'

Selasa, 31 Maret 2015 07:21 Reporter : Anwar Khumaini
'SBY bisa saja maju lagi di Pilpres 2019' Julian Aldrin Pasha. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah merampungkan masa jabatannya selama dua periode berturut-turut. Setelah lengser dari kursi kepresidenan, SBY kini fokus sebagai Ketua Umum Partai Demokrat serta melakukan beberapa aktivitas lainnya.

Namun SBY kemungkinan bisa saja menjadi capres kembali dalam Pilpres 2019. Mengingat aturan yang ada saat ini mensyaratkan kepada capres belum pernah menjabat sebagai Presiden atau Wakil Presiden selama dua kali masa jabatan dalam jabatan yang sama, hal ini masih multitafsir.

Apakah SBY yang pernah dua kali berturut-turut menjabat presiden, lalu jeda lima tahun, dan akan maju lagi dalam Pilpres 2019 diperbolehkan atau tidak?

"Saya tidak ingin bicara probabilitas, sesuatu yang tidak pasti. Tapi logika politik mengatakan, kalau tidak ada aturan yang melarang seorang untuk maju meskipun dia mantan presiden atau wakil presiden, ya sah-sah saja," kata mantan juru bicara presiden, Julian Aldrin Pasha dalam wawancara khusus dengan merdeka.com, Jumat (27/3) lalu.

Berikut wawancara lengkapnya:

SBY apakah ada rencana maju lagi sebagai calon presiden dalam Pemilu 2019 mendatang?

Saya tidak ingin bicara probabilitas, sesuatu yang tidak pasti. Tapi logika politik mengatakan, kalau tidak ada aturan yang melarang seorang untuk maju meskipun dia mantan presiden atau wakil presiden, ya sah-sah saja. Tinggal bagaimana nanti ada yang memilih atau tidak. Ini yang masih belum kita ukur. Tapi bahwa ada harapan, ada ungkapan, tak sampai desakan, dari saluran yang kami terima memang tidak sedikit yang menginginkan lagi figurnya Pak SBY maju sebagai presiden. Bukan berarti dikaitkan dengan situasi dan kondisi yang sekarang terjadi.

Seperti JK yang maju lagi sebagai cawapres?

Seperti Pak JK-lah, mungkin kalau untuk mengkroscek bagaimana jawaban biar lebih kuat, mungkin bisa ditanyakan langsung ke wapres, setelah dulu jadi Ketua PMI. Setelah 5 tahun, setelah itu ada banyangan atau keinginan untuk jadi wapres.

Harapan sebagian masyarakat tersebut direspons baik oleh SBY?

Beliau wise dan open minded. Saya juga sudah katakan meskipun itu hal-hal yang kecil misal melalui Instagram Ibu Ani, atau SMS yang langsung. Tentu kami tidak mengecek siapa dan dari mana. Tapi ini suatu ekspresi tentu oleh Pak SBY didengar. Tinggal bagaimana nanti mekanismenya. Sejauh ini beliau sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Dari kadernya sendiri mengharapkan kembali beliau menjadi presiden. persoalannya apakah ini yang betul-betul diinginkan oleh rakyat.

Apakah SBY optimis bisa maju sebagai capres dan optimis menang?

Saya kira beliau orang yang optimis, jauh dari apa yang dikesankan bahwa, pandangan beliau terhadap pengelolaaan bangsa ini kan tetap positif. Hanya memang terus terang saya belum menanyakan secara langsung kesediaan beliau. Memang pada saatnya nanti. Pemahaman kami, kami punya gagasan yang baik untuk memajukan bangsa ini. Untuk memajukan bangsa ini ada dua cara, dari dalam sistem yang mempunyai otoritas, dan dari luar, suka atau tidak suka kalau kita dari dalam lebih baik, lebih cepat, dan lebih sinergis.

Kalau benar SBY akan maju lagi, berarti secara internal Partai Demokrat sudah menyiapkan?

Saya kira tidak hanya Demokrat, saya bicara dalam kapasitas sebagai seorang pengamat. Kalau sebagai jubir, bicara parpol saya nggak punya kapasitas. Tapi sebagai pegamat saya bilang, seluruh parpol yang ada fokusnya ke sana (capres), posisi yang paling diharapkan di dalam pemerintahan ya akan jadi kepala negara, dalam konteks kalau itu memungkinkan karena instrumen lain mendukung kenapa tidak. Tapi kita harus menunggu bagaimana dinamika ke depan kita juga tidak tahu. Saya kira Pak SBY sangat obyektif, nalar, mengikuti dinamika dan terus merespons apa yang jadi kebutuhan atau diharapkan masyarakat.

Saat jadi jubir presiden dulu, apa yang paling berkesan dari seorang SBY?

Soal bagaimana beliau memanage masalah, handle, a hand on langsung kalau ada masalah dan cari solusinya, dengan cara beliau sendiri, the way of SBY, SBY's way, SBY style. Saya kira ini sangat berbeda cara mengambil keputusan seorang SBY, dalam mengambil keputusan penting, dengan melibatkan begitu banyak variabel yang memang diperlukan untuk membuat suatu keputusan tidak keliru. Jadi secara singkat, saya katakan belaiu tidak pernah menyederhanakan persoalan, tapi juga tidak membuat-buat persoalan. Hanya saja di luar persepsi berbeda-beda, ada yang bilang presiden lambat, lama, tidak aware, tidak care, beliau ingin sesuatu yang komprehensif menerima akses dari seluruh yang ada. Konsekuensi dari itu berakibat pada anggapan yang lambat. Itu tergantung situasi sih, ada hal-hal yang diputuskan secara cepat dan risiko tinggi, seperti pembebasan sandra kapal kita yang dibajak di Somalia, itu keputusna yang diambil cepat dan maraton. Itu tidak diekspos, langsung bergerak. Kapal hampir sampai, yang di sini (Indonesia) berteriak-teriak kenapa belum ambil keputusan.

Pemerintahan SBY dibanding sekarang?

Saya 5 tahun di dalam, saya orang di lingkaran paling dekat dengan presiden. Saya kira yang saya pertimbangkan adalah ketika kini saya sebagai orang ordinary, kalau dibadingkan seperti itu saya tidak tahu persis apa yang dilakukan di dalam pemerintahan saat ini. Tapi merasakan yang dulu dilakukan (SBY) ada bedanya. Tapi memang ada

persepsi kok lambat, dll, semua hal yang kami putuskan sangat komprehensif, yang bisa jadi solusi. Melihat pada saat dulu konflik yang muncul ketegangan para ABK, ada tensi yang naik, cara presiden menghandel begitu proper, selesai.

Hal kenapa tidak dilakukan hal yang sama sekarang, sekali lagi saya bukan bagian dari pemerintahan. Ketika saya bicara di depan mahasiswa post graduate, Universitas Malaya, mahasiswa Malaysia tanya hal-hal yang sama. Saya mengalami kesulitan dan saya memilih untuk no comment terhadap hal itu. Karena saya tidak mewakili lembaga dan pemerintah, saya datang sebagai akademisi, sebagai pengajar. Jadi saya bukan jubir dan bukan orang yang harus menjawab, mungkin mereka mengarahkan seharusnya ada jubir. Apa yang sebenarnya mereka lakukan yang mereka harapkan dan sebagainya. Ini saya melihat ada little bit different. Saya tidak mengatakan mana yang lebih baik. Tapi memang kami rasakan little bit diffferent.

Sebagai jubir presiden, dulu pernah dimarahi SBY?

Marah dalam konteks yang bagaimana?

Ditegur misalnya?

Ketika saya menjadi jubir presiden pada 2009 akhir, saya harus akui saya nggak punya pendidikan formal dalam hal komunikasi politik, dengan media yang khusus, sebagaimana halnya dipelajari mereka di fakultas komunikasi, karena saya murni political science. Saya memang menanyakan langsung kepada beliau apa yang harus saya lakukan.

Saya diminta untuk menyampaikan langsung apa yang dianggap pantas layak untuk disampaikan ke publik dan apa yang tidak perlu disampaikan. Saya tahu apa yang menyebabkan distorsi, ketegangan publik, tensi, atau mungkin kegaduhan yang muncul.

Oleh sebab itu karena saya salah satu orang yang dekat dengan presiden, maka tentu saya punya info yang cukup mengenai apapun yang berkaitan tentang presiden. Hal yang saya lakukan adalah saya mencerna info, saya sortir dalam arti positif agar tidak menimbulkan kegaduhan, mensortir bukan berarti manipulasi, saya tidak pernah manipulasi. Menyortir membatasi saja mana yang perlu disampaikan. Kalau memanipulate berarti berbeda. Seingat saya, saya tidak pernah mendapatkan komplain langsung dari presiden. Pernah dapat teguran iya, dalam konteks saya sebagai jubir 1-2 kali. tapi bukan berarti saya melakukan kesalahan yang fundamental sehingga harus diluruskan langsung oleh presiden karena statement saya.

Dulu Bang Julian dianggap 'pelit' kasih info?

Tidak. Saya punya pengetahuan yang cukup, apa yang harus di-deliver atau tidak. Saya juga baca UU Keterbukaan Informasi Publik, apa yang harus diketahui publik dan apa yang bukan jadi keharusan saya untuk sampaikan. Saat itu ada masa dimana saya harus hati-hati, tapi saya tidak pernah menghindar darii jawaban. Satu-satunya hal ketika saya

mengetahui begitu banyak informasi dengan klasifikasi A1, maka yang berat bagi saya adalah menyampaikan biar tidak muncul seperti yang saya sampaikan tadi kegaduhan, dll. Mungkin karena saya bersandar dengan hal itu kelihatan saya kelihatan normatif, tidak ekspresif. Tapi beberapa teman, kami bisa bicara dengan leluasa. Saya bisa mengekspos apa yang tidak pernah saya sampaikan ke publik tapi dengan catatan tidak diberitakan, off the records.

Cukup yang paling penting saja dari substansi yang harus disampaikan dan publik inginkan kan yang demikian. Sensasional, saya tidak berada dalam posisi itu, saya tidak boleh bayangkan saya masuk infotainment, saya bukan penggembira. [war]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini