Wawancara Imajiner Bung Karno

Sanders Trump Bloomberg?

Senin, 15 Februari 2016 11:11 Penulis : Christianto Wibisono
Sanders Trump Bloomberg? Soekarno-Kennedy. ©blogspot.com

Merdeka.com - Selasa 9 Februari 2016 bersama Bung Karno saya menyaksikan New Hampshire Primary yang gegap gempita di tengah cuaca musim dingin Pantai Timur AS yang menusuk tulang. Tapi hasil pemilihan pendahuluan menunjukkan polarisasi AS dalam 2 kubu : extrem kiri populis sosialis dan ekstrem kanan bisnis corporate diwakili oleh Bernie Sanders (75 tahun) dan Donald Trump (70 tahun) yang sebetulnya dari kelompok usia yang lebih tua dari 3 presiden terdahulu Clinton, Bush dan Obama.

BK: Ayo kita ketemu Nixon dan Kennedy untuk evaluasi mereka tentang kalahnya Hillary oleh kakek Bernie Sanders dan menangnya Trump yang menganut garis keras terhadap imigran Muslim Timur Tengah. Hi Jack (sapaan Kennedy) and Dick (panggilan Nixon) apa assemsnt Anda tentang pilpres 2016 dengan kalahnya Hillary oleh Sanders dan memangnya Trump atas Bush dancapres Republik lainnya.

Nixon: Terima kasih Great Bung, AS ini sedang diambang divide yang gawat karena golongan menengah dalam arti ideology dan kelas menengah dalam arti kelompok ekonomi kuat sedang mengalami frustrasi dan ketidaknyamanan hidup. Karena itu mereka gampang diagitasi untuk ikut dalam kelompok ekstrem dari jalur SARA maupun jalur perbedaan kelas. Obama telah sukses melakukan trobosan dimana orang kulit hitam tidak tabu lagimenjadi presiden. Tapi segera kita semua menghadapi kenyataan bahwa tidak cukup hanya retorika dan wacana, janji kampanye yang didambakan pemilih. Melainkan the real delivery dibidang ekonomi serta keamanan di bidang ketentraman yang terganggu oleh terorisme sejak 11/9 yang terus saja mengganggu di pelbagai bagian dunia Jadi pemilih merasa tidak sejahtera ekonominya dan juga tidak nyaman ketentraman hidupnya.

Ini masalah fundamental yang dihadapi seluruh dunia. Munculnya actor bukan negara yang mengganggu rezim politik Westphalia berbentuk nation state, dirasakan bukan hanya oleh AS Eropa dan negara negara Barat tapi juga oleh Tiongkok dengan kaum

separatis Uighur dan perang saudara Shiah Sunni serta konfrontasi Arab Saudi Iran bahkan antara keturunan Abraham sendiri terjadi konflik dan perang saudara yang lebih gawat dari perang antar bangsa di pelbagai penjuru dunia. Saya menulis dalam buku saya Leaders bahwa ketika orang inggris mencapai consensus Magna Carta antara raja dan bangsawan dalam mengelola negara maka di Timur Genghis Khan justru mendirikan imperium kolosal Mongolia yang menjadi model suatu negara leviathan, tangan besi mengendalikan rakyatnya dengan pelanggaran HAM dan totaliterisme yang tidak demokratis. Demokrasilah yang membawa Barat ketingkat system politik meritokratis yang mengorbitkan Inggris dan AS memimpin dunia selama 2 abad terakhir melalui Pax Britanica dan Pax Americana.

BK: Wah Mr President anda masih berwacana dalam era superiority complex negara Barat yang merupakan masa lalu, sekarang ini kan nyatanya AS nyaris “pecah dua kubu” sosialis vs kapitalis yangdiwakili Sanders dan Trump. Mungkin Jack akan lebih obyektif dari kubu Demokrat menilai situasi pilpres AS dan dampaknya bagi mandala global termasuk Indonesia.

Kennedy: Dick (Nixon) benar tentang sejarah lahirnya Magna Carta dan imperium Mongol. Tentang superioritas Barat memang harus diakui bahwa Barat menciptakan sistim demokrasi sebagai yang terbaik dari yang lebih buruk Yang juga harus diakui adalah bahwa pemikiran antitese kapitalis juga datang dari Barat (Karl Marx) dan bukan dari Timur yang entah kenapa memang mengalami keterlambatan berfikir meski dari segi filosofi agama, tokoh tokoh seperti Lao Tse, Mencius dan Confucius serta Sidharta Gautama lahir setengah sampai seabad sebelum Masehi dan merupakan sumber kearifan Timur yang masih valid hingga dewasa ini. Sebetulnya kita semua harus kembali

kepada golden rule seperti yang sudah kita bahas pada 18 Januari 2016. Sebab akar masalah ada pada kecemburuan, kedengkian, iri hati melahirkan kebencian dan nafsu dendam kesumat ingin membunuh pada tingkat individu, kemudian kelompok, suku, bangsa dan sekarang kembali ke actor non negara seperti teroris ISIS.

Tapi kalau diusust usut ternyata pelbagai teori konspirasi itu sumbernya justru orang rasional seperti Noam Chomsky yang karena kebenciannya terhadap sistem yang dianggap menciptakan kesenjangan ekonomi maka wajib dan layak dihancurkan dengan segala cara, termasuk melalui terorisme. Mereka ini masuk golongan appeasers, pembuat teori pembenaran aksi terror WTC 11/9 karena AS adalah biang keladi kolonialsime imperislisme maka wajar kalau ada balas dendam dari korban imperialism. Jadi terror WTC dibenarkan sebagai tindakan balas dendam. Nah sejak waktu itu sebetulnya pola piokir appeasement, guilty complex dan anti system itu mengkristal dengan dahsyat.

Oleh John Fonte ideology baru ini disebut Transnasional Progresif diuraikan panjang lebar dalam buku Sovereignty or Submission. BK Jack too much theory, yang relevan dengan situasi sekarang di AS dan dunia dan urgen diatasi seperti pelembekan pertumbuhan ekonomi dan memburuknya iklim dan lingkungan hidup manusia.

Nixon: Konkretnya begini Bung, di Eropa dan AS banyak Marxis yang tidak rela teorinya gugur karena Uni Soviet dan Tiongkok menjadi negara “kapitalis” . Mereka menganggap kegagalan Uni Soviet dan Tiongkok membangun komunisme, adalah kegagalan elite borjuasi Soviet dan Tiongkok.

Karena itu walaupun Gorbachev dan Deng XiaoPing kapok dengan Marxisms Leninsisme Komunisme, mereka ini para neo Marxis yang sudah tahu diri tidak memakai bendera Marxis, berubah menjadi kaum Transnasional Progresif yang secara all out berjuang untuk merubah system kapitalis liberal demorkat dengan system transnasional progresif. Kalau dulu ada Internasionalis I-II=III sebagai wadah global organisasi buruh danpartai komunis seluruh dunia, maka meraka sekarang menggalang kekuatan NGO global dengan pelbagai wadah dan sector yang semuanya bersifat anti nasional dan anti negara dan menempatkan HAM serta privilege organisasi trnasnasional prpgresif diatas kepentingan nasional dan nation state. Mereka ini menduduki dan menguasai popsisi pposisi kunci di organisasi internasional di bawah naungan PBB dan memutuskan agenda global sesuai selera dan kepentingan dominan mereka mengalahkan kepentingan nasional anggota PBB terutama yang dianggap superpower arogan seperti AS.

Mereka ini tidak laku di negaranya (Eropa dan AS) melalui electoral pemilihan umum demokratis untuk menjadi wakil rakyat di parlemen. Tapi mereka langsung melompat menduduki elite puncak organisasi non pemerintha terutama yang terkait PBB. Kemudian mereka mengendalikan agenda sesuai selera mereka yang leftist, Marxist dan ingin menciptakan utopia “komunisme” yang telah gagal di Rusia dan Tiongkok melalui maneuver mereka dalam pelbagai organisasi internasional itu. Maka terjadilah kejanggalan bahwa negara negara pelanggar HAM berat malah menduduki kursi pimpinan Komisi HAM PBB dan banyak keganjilan lain. Terus terang kami malu kalah sama Anda yang berani keluar dari PBB ketika PBB memilih Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB 1965. Kami tidak berani keluar dari PBB meski pernah absen cuti dari UNESCO yang dipimpin Dirjen Ahmad Mbow yang korupsi

BK: Dick anda memang pintar polemic menyindir saya keluar dari PBB tapi AS kenapa pelit, kikir dan bo cengli (tidak layak kata orang Tionghoa). Anda dan Jack Kennedy harus bertanggungjawab menjadikan Indonesia anti komunis, tanpa korban satu senpun ataupun nyawa serdadu AS satu jiwapun. Malah orang Indonesia jutaan dan melebihi korban perang melawan Belanda, yang tewas terbunuh dalam democide Orde Baru. Menurut saya wajar jika AS menghapuskan seluruh utang pemerintah RI kepada AS. Sebab di Vietnam anda keluar dana milayran dollar dan kehilangan 50.000 nyawa prajurit AS untuk akhirnya kalah terusir oleh pasukan Ho Chi Minh pada 1975. AS juga mendesak kita teken KMB membayar utang US$ 1,1 milyar kepada Belanda dengna janji mau

dikasih bantuan AS. Ternyata cuma proyek Semen Gresik dan Pupuk Sriwijaya. Anda ini benar benar pelit kikir kayak Yahudi dalam mitos stereotype Yahudi rentenir tidak manusiawi.

Kennedy: Sabar Bung, memang kadang kadang dalam negosiasi dan diplomasi harus lugas dan berani sodorkan prasyarat atau penawaran dan permntaan kompensasi. Kalau tidak ya pihak mitra runding akan belagak pilon atau malah menekan untuk memperoleh sesuatu atau banyak imbalan sedang anda sendiri tidak memperoleh kompensasi yang layak. Terus terang saja memang AS ini setelah menjadi polisi dunia sejak Perang Dunia II terkuran hartanya secara tidak proporsional. Bayangkan kita ini jadi pihak yang menang perang melawan Hitler dan Tojo. Eh malah kita ini tidak dapat pampasan perang dari Jerman dan Jepang. Tapi malah kita keluarkan dana untuk pertahanan Jerman (Barat) dan jepang dari ancaman komunisme Uni Soviet dan RRT. Jadi sejak 1945 itu sebetulnya AS

menjadi pelopor negara yang menang perang, tapi malah harus membeayai pihak yang kalah, yang notabene biangkeladi penyulut perang yangmestinya membayar pampasan perang kepada korban seperti Indonesia yang menerima sekitar US$ 800 juta di tahun 1960an.

Setelah membiayai Perang Korea dan Perang Vietnam dan jadi polisi dunia selama 25 tahun Nixon menghentikan konvertibilitas dollar dengan emas pada Agustus 1971 dan membuka diplomasi segi3 Sam Kok untuk mengimbangi percaturan geopolitik Tiongkok Uni Soviet yang mulai retak dan AS menjadi penyeimbang. Setelah itu kami mulai lugas kepada Eropa dan Jepang.

Seperti ketika Perang Teluk membebaskan Kuwait dari Saddam, sebagian biayanya disumbang oleh Jepang yang berkepentingan mengankut minyak dari Timur Tengah ke Jepang. Gorbachev dapat pesangon US$ 50 milyar dari Helmut Kohl untuk mem PHK pasukan Soviet dari Eropa Timur kembali ke Rusia dan Tembok Berlin dihancurkan, serta Jerman bersatu kembali. Nah semua itu memang harus terjadi dalam quid oro quo diplomasi yang simbiosis mutualistis.

BK: Ya terus terang saya merasa Indonesia ini di”tipu” mentah mentah dengan KMB dan masuk kubu Barat tanpa kompensasi malah Freeportnya diambil perusahaan AS sampai 50 tahun masih tetap tergantung. Saya ras aharus ada renegosiasi strategis antara AS dan RI secara fair dan mutually beneficial. Konkretnya say amengusulkan begini semua utang yang masih ada antara RI dengan AS yang sifatnya G to G sudah dianggap saja lunas dengan membukukan sebagai hibah. Jadi secara dana riil, tidak ada dana dari RI ke AS, tapi di AS ditulis sebagai penerimaan kemudian dihibahkan kembali. Bisa juga hibah itu berupa beasiswa unuk 1 juta mahasiswa Indonesia di AS.

Sedang Indonesia tetap bisa menikmati yaitu APBN kita yang senantiasa mencantumkan kewajiban utang itu bisa mempunyai “surplus” yang bisa dipakai untuk belanja negara. Jumlah tepatnya barangkali maksimal US$ 50 miliar .

Nixon dan Kennedy: Ok Ok kami merasa memang AS lebih banyak utangnya kepada RI ketimbang nilai utang nominal yang tercatat di buku piutang. Kita akan segera telepati dengan Obama dan Kongres untuk secara gentleman melunasi kewajiban moral politik ideologis kepada Indonesia yang telah gratisan anti komunis ditahun 1965. Kami mau memantau terus primarie di South Caroline dst.

BK: Silakan Dick and Jack, kita juga mau balik ke Jakarta sudah ditunggu heboh kereta api

setengah cepat Jakarta Bandung. Begitulah bung Chris kalau elite kita hanya jago kandang, negosiasi dan lobby hanya bisa berjalan antara eksekutif dan legislative, yang dipakai ya duit rakyat. Mestinya Jokowi dan DPR lobby untuk memperoleh dana dana bagi Indonesia seperti Korea aktif melobby untuk dapat bantuan waktu masih Perang Dingin. Kita ini sok gengsi bahwa politik luar negeri is not for sale, tapi akibatnya malah kita jadi gratisan anti komunis, gratisan korban terror. Sementara Jepang menikmati boom Perang Keroa sebagai sumber logistic dan Korea ketiban rezeki logistic Perang Vientam, lalu Vietnam ikut dalam sekutu yang menyerbu Iraq gulingkan Saddam dan menikmati status serta ikut TPP kita malah berdebat tidak mau ikut TPP. Ya ini semua memang akibat elite keblinger yang sok gengsi sok lain dari yang lain.

Tapi akibatnya kita cuma jadi korban gratisan yang tidak menikmati apa apa dari Perang Dingin maupun Perang Teror dan Perang geopolitik yang canggih dan perlu kecerdasan bernegosiasi dan lobby global. AS sedang mengalami polarisasi ideology yang akan mempengaruhi kebijakan Presiden terpilih antara 1 tokoh yang mewakili ekstrim sosialis dan kapitalis Sanders dan Trump. Tampaknya Bloomberg akan turun menjadicapres independen untuk mengatasi polarisasi 2 extrem Sanders vs Trump. Mungkin kita perlu mengekspor Pancasila ke AS agar Bloomberg bisa mempersatukan lagi du akubu AS yang terbelah mirip ketika Jokowi bersaing dengan Prabowo di pilres 2014 yang dimenangkan oleh Jokowi. [war]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini