Saling Rebut Dukungan Alumni

Senin, 18 Februari 2019 06:59 Reporter : Anisyah Al Faqir
Saling Rebut Dukungan Alumni deklarasi alumni perguruan tinggi dukung parabowo sandi. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Dua pasang kandidat capres-cawapres berebut dukungan suara. Pelbagai kelompok masyarakat dikumpulkan. Selanjutnya mereka membuat deklarasi. Menyatakan sikap politik dengan embel-embel jebolan sebuah lembaga pendidikan.

Menjaga eksistensi dirasa perlu untuk tetap memanaskan tahun politik. Dalam Pilpres 2019 ini, kalangan alumni sekolah maupun kuliah tidak mau ketinggalan. Mereka memanfaatkan momen. Demi membuat citra bahwa dukungan orang terpelajar berada di belakang kubu 01 maupun kubu 02.

Sejarah mencatat cara dukungan ini dilakukan ketika Pilpres 2014 lalu. Di mana pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa melawan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Dalam kampanye di era itu, dua kelompok ini juga mendapat dukungan para alumni sekolah dan kuliah.

Cara serupa kembali terulang. Para alumnus itu kembali membuat gerakan. Langkah ini dimulai sebagian alumnus Universitas Indonesia (UI). Komunitas Ikatan Alumni UI pada 7 November 2018 menyatakan dukungan pada pasangan Prabowo-Sandiaga.

Kemudian pertengahan Desember, sejumlah masyarakat mengatasnamakan Gerakan Alumni UI untuk Jokowi menggelar konferensi pers. Dalam keterangannya kelompok ini mengumumkan akan ada lima ribu alumni UI untuk memenangkan pasangan Joko Widodo- Ma'ruf Amin. Alhasil acara dukungan terselenggara pada 12 Januari lalu, dengan menghadirkan hampir 25 ribu alumni UI dan perguruan tinggi lainnya.

"Deklarasi ini akan menjadi awal yang membawa pengaruh besar untuk membangkitkan semangat dan mendorong gerakan-gerakan serupa demi mendukung Paslon 01 (Jokowi-Ma'ruf)," kata Ketua Gerakan Alumni UI untuk Jokowi-Amin, Fajar Soeharto.

Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Usman Kansong mengakui kandidat didukungnya lemah di kalangan terpelajar. Sebaliknya pasangan nomor urut 02 ini unggul pemilih berpendidikan di bawah SMA.

Kalangan terpelajar pemilih Jokowi-Ma'ruf tak tinggal diam. Mereka muncul agar elektabilitas jagoannya meningkat. Terutama demi memengaruhi kalangan terpelajar lain yang masih belum menentukan sikap.

Derasnya dukungan kaum terpelajar ini memang belum banyak memengaruhi elektabilitas secara kuantitatif. Namun Usman meyakini secara kualitatif sudah mulai terasa. Sebab, para alumni sudah mulai bergerak ke akar rumput untuk memenangkan Jokowi-Ma'ruf.

"Mereka tidak berhenti sebagai seremonial belaka, buktinya menular dan saya tahu pasti para alumni ini bekerja di lapangan," kata Usman.

Ragam dilakukan para alumni mempertahankan kursi RI 1 untuk Jokowi. Mengampanyekan Jokowi-Ma'ruf secara terbuka maupun dari mulut ke mulut. Memanfaatkan sosial media atau lingkaran sosialnya.

Tanggal 26 Januari 2019, kelompok Alumni Perguruan Tinggi se-Indonesia mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Prabowo-Sandi. Setidaknya ada 115 perguruan tinggi menyatakan dukungan untuk pasangan nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga.

Mereka hadir memenuhi Padepokan Silat, Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta Timur. Ramai kedatangan para alumni itu di sana. Mereka mendengarkan banyak pidato Prabowo. Mereka mendorong agar terjadinya perubahan kepemimpinan secara konstitusional.

"Kami alumni perguruan tinggi seluruh Indonesia yang merupakan komponen anak bangsa yang terdidik dan berintegritas, menyadari sepenuhnya situasi kondisi objektif kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini yang sangat memprihatinkan," kata perwakilan Alumni Perguruan Tinggi, Ita Gultom.

Tak hanya alumni perguruan tinggi saja. Para alumni SMA pun ikut eksis menyatakan dukungan. Itu kali pertama dideklarasikan Alumni lintas SMA pada 22 Desember 2012. Bertempat di kediaman Prabowo Subianto, sejumlah alumni SMA 12 Jakarta, SMA 7 Jakarta dan SMK 4 Jakarta menyatakan dukungan untuk pasangan calon capres-cawapres nomor urut 02. Tiga minggu berselang, Kerabat 85 yakni para Alumni SMA di Jakarta kembali menyatakan dukungan kepada Prabowo-Sandi.

Para alumnus sekolah ini sampai memberikan sumbangan dan dukungan politik. Pertemuan itu dilakukan di kediaman Prabowo, Desa Bojong Koneng, Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor. Prabowo bahkan sampai terharu mendapat dukungan tersebut.

"Kami akan berjuang bersamamu untuk mengembalikan Indonesia kembali ke Pancasila dan UUD 1945," kata Prabowo kepada para relawan kala itu..

Memasuki bulan Februari, dukungan alumni SMA ditujukan kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf. Mulai dari alumni Sekolah Kanisius pada 3 Februari. Kemudian disusul alumni SMA Pangudi Luhur BerSATU pada 6 Februari. Terakhir alumni SMA se-Jakarta pada 7 Februari.

Pengamat politik Usep Ahyar mengatakan gerakan ini pertama kalinya terjadi dalam pemilu. Baru kali ini para alumni lembaga pendidikan berani menyatakan dukungannya secara terbuka. Berani mengekspresikan pilihan politik dengan mengatasnamakan lembaga pendidikan.

Menurut dia, pada pemilu sebelumnya mereka cenderung diam-diam. Bergerak tanpa menggunakan almamater. "Tahun 2014 mereka tidak terlalu terbuka walaupun ada dukungannya, itu relatif lebih kesukarelaannya terasa," kata Usep kepada merdeka.com akhir pekan lalu.

Lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melakukan survei pada 18-25 Januari 2019 dengan melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi. Dari jumlah responden itu 11,5 persen di antaranya berlatar belakang pendidikan lulus S1-S3. Dari jumlah itu, Prabowo-Sandi unggul dengan perolehan suara 44,2 persen. Sementara Jokowi-Ma'ruf mendapatkan suara 37,7 persen.

Setiap bulannya, LSI memantau pergerakan dukungan dari kelompok terpelajar. Hasilnya menunjukkan tiap bulan, posisi kedua kandidat selalu bertukar tempat. Pada survei bulan September, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf unggul dengan suara 44 persen dibandingkan Prabowo-Sandi 37,4 persen. Bulan Oktober Jokowi-Ma'ruf menurun di angka 40,5 persen dan Prabowo-Sandi unggul 46,8 persen.

Bulan November elektabilitas Jokowi-Ma'ruf kembali naik di angka 43,5 persen. Prabowo-Sandi turun ke angka 42,4 persen. Pada bulan Desember kedua pasangan ini mengalami penurunan. Namun, Jokowi-Ma'ruf tetap unggul di angka 42,7 persen. Sementara suara Prabowo-Sandi turun drastis di angka 36,9 persen.

Peneliti LSI Denny JA Adjie AlFaraby menilai ada dua hal yang bisa dibaca dari data tersebut. Pertama, dalam konteks pemilu, kalangan terdidik merupakan pemilih dinamis. Bukan pemilih militan atau loyal pada salah satu kandidat.

Sebagian memang sudah menentukan sikap politik. Tetapi, kata Adjie, mayoritas masih belum menentukan sikap. Namun dari lima bulan masa kampanye, Adjie menyimpulkan kalangan terpelajar lebih condong pada pasangan Prabowo-Sandi.

"Kalau kita hitung dari periodenya dalam 5 bulan sampai sekarang, kelompok terpelajar banyak ke Prabowo," kata Adjie kepada merdeka.com pekan lalu.

Selanjutnya, dinamisnya sikap kaum terpelajar sangat dipengaruhi isu yang berkembang tiap bulannya. Pertarungan di kalangan terpelajar kian menarik. Sebab para kandidat bisa meyakinkan konstituen terpelajar dari waktu ke waktu. Sehingga performa kandidat sangat memengaruhi pilihan kaum terpelajar ini. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini