Rindu Ketua DPR sebersih dan sesederhana Sartono

Selasa, 18 Juli 2017 06:45 Reporter : Ramadhian Fadillah
Sartono. ©mr.sartono pejuang demokrasi dan bapak parlemen Indonesia

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Ketua DPR Setya Novanto sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP. KPK mengaku telah mengantongi dua alat bukti soal keterlibatan politikus Partai Golkar itu.

Peran Setya Novanto terlacak mulai dari proses perencanaan hingga pembahasan anggaran di DPR hingga pengadaan barang dan jasa. Akibat perbuatannya, KPK menduga ada kerugian negara Rp 2,3 triliun dari nilai paket pengadaan sekitar Rp 5,9 triliun.

Mari mundur ke belakang. Mengingat kembali sosok Sartono, seorang politikus bersih dan berintegritas yang pernah dimiliki Indonesia.

Bersama Soekarno dia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927. Keturunan ningrat Jawa ini tak mau hidup nyaman sebagai bangsawan. Hidupnya dihabiskan sebagai aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dia juga mungkin ketua DPR paling lama sepanjang sejarah Republik Indonesia. Menjabat ketua parlemen sementara (DPRS) pada Republik Indonesia Serikat (1949) dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat antara tahun 1950 sampai 1959.

Tapi apakah Sartono menumpuk kekayaan selama bertahun-tahun bertugas. Nyatanya tidak. Para kolega yang datang ke rumahnya melihat perabotan di rumahnya sederhana. Saat ditawari pindah ke rumah yang lebih besar pun Sartono menampik. Dia memang tak punya uang lebih untuk itu.

Sikap antikorupsinya juga tampak saat dia keras memperjuangkan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban Keuangan Negara. Jika aturan tersebut saat itu gol, sebenarnya korupsi bisa ditekan. Namun sayangnya sejumlah anggota parlemen saat itu tak mau menyambutnya.

Sartono sahabat karib Presiden Soekarno. Tapi saat Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 1959 dan membubarkan parlemen, Sartono protes. Dia juga menolak dengan tegas saat Presiden Soekarno menawarinya menjadi pemimpin Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR).

Sartono menegaskan anggota dewan wajib dipilih oleh rakyat, bukan oleh presiden.

"Ini bertentangan dengan nurani saya," kata Sartono.

Maka dia menolak jabatan itu. Bukti Sartono adalah pria yang memegang teguh prinsip dan bukan orang gila jabatan.

Sekarang adakah politikus yang menolak jadi Ketua DPR?

Hal lain yang bisa diteladani dari Sartono adalah bagaimana dia berbicara. Jika banyak anggota DPR sekarang asal bunyi dan tak berisi, maka berbeda dengan Sartono.

Dia dikenal menjaga lisannya dengan sangat hati-hati. Seperti ilmu padi: Makin berisi, makin merunduk. Tapi jangan remehkan Meester in de Rechten lulusan Universitas Leiden Belanda ini. Di balik tutur katanya yang santun, tersimpan kecerdasan dan intelektualitas tinggi.

"Mr. Sartono adalah salah satu tokoh besar dunia parlemen Indonesia. Dia turut membidani lahirnya sumpah pemuda. Sartono berani menolak keinginan Soekarno untuk menjadi ketua parlemen, saat Soekarno menerapkan demokrasi terpimpin. Beliau juga sederhana dan selalu membela kepentingan rakyat", kata Daradjati, penulis buku Mr. Sartono: Pejuang Demokrasi Dan Bapak Parlemen Indonesia yang diterbitkan Kompas.

Rasanya memang masyarakat Indonesia rindu sosok Ketua DPR sebersih dan sesederhana Sartono. [ian]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.