Ridwan Kamil: Politik saya senyap

Kamis, 2 November 2017 07:00 Reporter : Randy Ferdi Firdaus, Angga Yudha Pratomo
Ridwan Kamil. ©2017 merdeka.com/dian rosadi

Merdeka.com - Kami mendapat kesempatan bertemu dengan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. Pertemuan terasa spesial. Kami dijamu pria akrab disapa Emil itu di rumah dinasnya, Bandung, Jawa Barat. Pagi itu dia banyak menceritakan mengenai manuver politik tengah dibangun demi memenangkan Pilgub Jawa Barat (Jabar) tahun 2018 nanti.

Hari itu Emil tengah merasa bahagia. Dua hari sebelum kami bertemu, 'tiket' sebagai calon gubernur dalam Pilgub Jabar sudah di tangan. Tiga partai resmi mendukung, di antaranya NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Termasuk soal permintaan Partai NasDem memintanya untuk mendukung Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019 nanti.

Di samping itu dia juga menceritakan bagaimana dukungan Partai Golkar kepada dirinya. Meski Emil menyadari partai berlambang pohon beringin itu tengah ada masalah internal. Sebab, Bupati Purwakarta sekaligus Ketua DPD Golkar Jabar, Dedi Mulyadi, tengah menunggu surat rekomendasi. Apalagi dua kali rapat pleno Partai Golkar memutuskan nama Dedi.

Masalah di Golkar tidak mau terlalu dipikirkan Emil. Dirinya hanya merasa kota Bandung selama ini dipimpinnya telah maju dibanding kota lain di Jabar. Sindiran juga dilontarkan kepada Kabupaten Purwakarta. Dengan membandingkan kemajuan di kota berjuluk Paris Van Java itu. Meski harus diakui dirinya masih banyak programnya belum beres dikerjakan selama ini.

Kepada wartawan merdeka.com, Randy Ferdi Firdaus dan Angga Yudha Pratomo, pria dengan khas kaca mata itu menceritakan semuanya di tengah jadwal padatnya sebagai pemimpin daerah. Berikut petikan wawancara kami dengan Ridwan Kamil di Bandung, Kamis, 26 Oktober lalu. Atau sehari sebelum Partai Golkar resmi mengusung dirinya dengan Daniel Mutaqien.

Sudah ada tiga partai resmi mengusung. Sebenarnya apa yang Anda tawarkan kepada mereka untuk Pilgub Jabar nanti?

Begini ya. Yang pertama terkait pilgub ini. Ini kan sebuah perhelatan demokrasi. Demokrasi hari ini itu mayoritas fokus pada figur. Ada pengaruh faktor. Partai pastilah tentunya ada. Tapi lebih besar pengaruh figur. Punya kursi, figurnya enggak kuat? juga buang- buang energi. Maka di sini terjadi sebuah kesepemahaman.

Saya yang saya tidak duga sebenarnya adalah posisi elektabilitas. Jadi bargaining (posisi tawar) saya elektabilitas. Dulu saya menduga elektabilitas yang tertinggi itu Pak Deddy Mizwar (wakil gubernur Jabar). Karena incumbent. Wakil gubernur. Artinya selama 4 tahun, kerjanya keliling ke masyarakat Jawa Barat tentunya. Ternyata posisi elektabilitas ada di saya sementara ini.

Berarti artinya apa? Berarti kinerja saya yang selama ini buat warga saya juga dikonsumsi oleh warga di luar Kota Bandung. Sehingga akumulasi informasi itulah yang meningkatkan elektabilitas saya. Maka saya berterima kasih kepada media. Bahwa pengaruh-pengaruh berita inovasi positif di Bandung ini diberitakan dan dibaca lintas wilayah.

Karena berujung pada elektabilitas dari awal tahun sampai September ini. Sudah delapan kali (survei). Dari LSI, Indobarometer, SMRC dan lain sebagainya. Itu yang jadi pertimbangan. Saya datang ke partai anu, salah satu yang saya pegang adalah 'Pak Ridwan, kami ini ingin menang. Jadi untuk menang, kami memilih calon dari kader atau dari luar kader'. Tapi ujung pengambilan keputusannya adalah elektabilitas. Jadi saya pahami juga, partai ingin kader-kadernya kan. Tapi kalau elektabilitasnya tidak memadai, mereka juga kan realistis. Jadi jawabannya itu.

Kerja-kerja politik saya itu senyap sebenarnya. Tidak banyak hingar bingar ya. Tidak kirim orang demo minta (surat) rekomendasi. Saya tidak lakukan itu. Saya lobi-lobi politik yang efisien. Kuncinya itu.

Pemanfaatan media sosial selama ini juga menjadi bagian Anda dalam melakukan lobi politik?

Jarang saya menyampaikan lobi-lobi politik di media sosial. Yang saya sampaikan di media sosial itu kan kerja. Peningkat elektabilitas saya kan kinerja. Maka semakin banyak saya posting terkait kinerja. Sebenarnya itu poin-poin yang bisa menarik hati orang yang membaca kan. Bahwa saya ini ya kerja. Kira-kira begitu.

Lobi politik yang efisien ini. Yang tidak bising ini. Memang gaya saya. Saya ini gayanya rileks tapi narget.

Contoh, NasDem jatuh cinta duluan. Di Bulan Maret. Terus ada bully-bully seolah saya melupakan yang dulu. Saya tidak melupakan yang dulu, Gerindra dan PKS itu duluan. Tapi dalam hidup ini saya taat pada ibu saya. Ibu saya itu menyampaikan satu fatwa. 'Jangan masuk parpol dulu sebelum terpilih'. Saya bilang kenapa? 'Kalau belum masuk parpol sebelum terpilih, Insya Allah dukungan dari mana-mana. Tapi kalau setelah terpilih berarti karirmu memang mau di politik. Sok silakan'.

Nah, Gerindra mensyaratkan itu yang tidak bisa saya penuhi. Kan berarti melanggar nasihat ibu saya.

Anda sudah masuk dalam politik, kenapa tidak lebih memilih menjadi anggota Parpol saja?

Bukan tidak mau. Tapi belum. Kan saya mau nanti setelah terpilih. Karena bagi saya kalau sudah terpilih, dua periode menjabat pejabat publik saya kira, betul harus masuk partai. Jadi jangan salah arti ya.

Partai mana saja yang selama ini satu pikiran dengan Anda?

Ya masih kayak pacar banyak kan, pilih-pilih dulu. Jadi paham ya. Bukan tidak, tapi belum. Ya perjodohannya itu lah.

Nah dari NasDem dari Maret sampai sekarang orang menduga efek Jakarta akan pengaruh, semua partai pendukung Ahok akan terkena imbas. Ternyata kan trennya naik bukannya turun. Kedua, dulu sempat ada gossip Ridwan Kamil akan 'diyatimpiatukan'. Ada itu wacananya. Artinya bagaimana caranya tidak dapat tiket. Tapi saya tahu begitu bahwa yang memutus itu di Jakarta. Silakan di bawah berkonspirasi, melakukan poros ini poros itu. Betul?

Ya kadang-kadang wartawan Tanya, Pak ini bagaimana? Santai saja saya mah. Kalau kata Jakarta enggak, ya enggak. Jadi saya lakukan dua cara itu, dan terbukti teori saya. Setelah NasDem, PKB masuk. Alhamdulillah dua hari lalu PPP masuk. Jadi teori yatim piatu tidak terbukti, teori poros-porosan tidak terbukti.

Inilah politik yang saya lakukan. Media sosial saya gunakan sebagai politik komunikasi, lobi politik tidak bising dan senyap, saya gunakan di elit-elitnya. Jadi kombinasi dua inilah, mendapat keyakinan elit politik dan dapat kepercayaan dari publik. Bertemu di tengah-tengah dalam bentuk elektabilitas dan rekomendasi.

Untuk pasangan wakil gubernur, PPP sudah mengusung nama Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum. Bagaimana dengan partai pengusung lainnya?

Dalam politi selalu ada dinamika. Dinamika itu ada yang kaya NasDem. NasDem mendahului, emang partai ada yang senang? Enggak juga kan, ada beberapa termasuk ada statement dari partai yang mengatakan karena saya sudah nyalon duluan maka komunikasi ditutup, ya silakan saja. Saya kan enggak bisa menghalangi orang jatuh cinta. Masa ada yang menyatakan ke saya, terus dilarang terima duluan. Orang mau didukung. Prinsip hidup kan lebih baik banyak didukung.

Jadi artinya karena PPP merasa kursinya lebih banyak, menurut matematika berarti yang berhak power sharing secara praktis adalah PPP. Tapi kan, dalam politik ada komunikasi.

Secara garis besar apakah sosok UU Ruzhanul sudah sesuai kriteria Anda?

Kriteria saya kan cuma dua. Mempunyai nilai kepemimpinan. Pak UU kan sudah bupati, dua kali pula. Kedua, punya elektabilitas. Jangan punya kapabilitas, elektabilitasnya nol kan. Membebani saya nanti. Atau, dia punya elektabilitas tapi enggak punya kapasitas. Ini bahaya juga.

Untuk elektabilitas UU Ruzhanul ini apa Anda anggap sudah cukup?

Kan sudah terpilih bupati dua kali, artinya dia pernah terjun di dalam konstelasi Pilkada kan. Nah itu, tapi partai-partai lain kan juga ingin. Makannya dikomunikasikan.

Sebelum janur melengkung di waktu pendaftaran, ya semua bisa berubah kan. Contoh Yusril diwacanakan, ternyata Anies masuk. Anies menang. Saya juga sama. Sudah dilatih supaya tidak kaget.

PPP resmi dukung Ridwan Kamil ©2017 Merdeka.com/Yunita Amalia

Golkar dikabarkan segera mendukung Anda, sebetulnya sudah sejauh mana komunikasi dengan partai ini?

Begini ya. Di level Golkar ini saya menghormati prosedur yang ada di level daerah. Di level daerahnya kan ada calonkan Pak Dedi Mulyadi. Jadi saya tak banyak ikut campur terhadap decision making (pembuat keputusan) di Golkar. Jadi kepada Golkar saya menyampaikan sama. Kalau memang cocok, mari bergabung. Kalau tidak, jangan dipaksakan.

Nah Golkar ini secara umum kalimatnya Cuma satu. Kami ingin menang!

Kan tadi persis teori saya, jadi karena kami ingin menang, alat ukur apa yang membuat confident kemenangan itu. Hari ini dengan design of politik, tidak ada instrument lagi selain survei kan. Konsistensi di tujuh hingga delapan kali survei itulah kemungkinan besar Golkar pun kalau jadi ke saya itu, alasannya itu (elektabilitas). Walaupun ada kadernya nyalon.

Apa benar ketika Anda diusung PPP, sudah ada surat rekomendasi dukungan dari Partai Golkar?

Saya konfirmasi, berita surat itu ada betul. Katanya. Tapi saya belum lihat benda itu. Apalagi pegang.

Di hari Selasa itu. Saya sampaikan bahwa PPP nanti malam menyampaikan SK (surat rekomendasi). Siangnya bertemu ke DPP (Golkar) menyampaikan sedang proses, tapi saya klarifikasi verbal. Ada suratnya. Tapi kan belum saya lihat. Belum saya pegang.

Itu komunikasi langsung dengan Ketua Umum Partai Golkar?

Dengan Pak Nurdin Halid (Ketua DPP Golkar) dan Pak Novanto (Setya Novanto, Ketua Umum Golkar).

Jadi berita dukungan itu tersampaikan, tapi karena bahannya belum saya lihat, saya tidak bisa menyatakan, 'iya itu dukungan yang terkonfirmasi'.

Jadi sekarang menanti suratnya?

Iya kalau itu benar.

Apakah Setya Novanto menyatakan mendukung Anda dengan Daniel Mutaqien?

Iya.

Apakah sosok Daniel ini bisa melengkapi Anda untuk memimpin Jawa Barat nanti?

Jadi begini. Kelemahan saya itu, ya saya banyak kelemahan. Jadi intinya saling melengkapi. Kalau dengan Pak UU, melengkapi segmentasi santri. Islam tradisional. Saya dicitrakan lebih ke intelektual milenial. Itu istilah Pak Romi ya. Bukan yang religius tradisional. Pak UU mengisi itu. Walaupun saya cucu kiai sebenarnya. Pesantren delapan, sehari-hari urus pesantren. Cuma saya bukan ustaz.

Kalau Daniel, mengisi segmentasi wilayah. Saya kuat di Jawa Barat kecuali Pantura. Dia punya jaringan kuat di sana. Kalau dengan Pak UU tadi mengisi dari segi segmen. Saya segmen kota, tradisional. Pak UU segmen desa tradisional. Jadi sebenarnya menurut saya compatible (cocok).

Bukankah segmen religius sudah cukup dengan hadirnya PKB dan PPP di sisi Anda?

Iya seharusnya. Maka saya senang dengan koalisi ini. Kenapa? Karena Saya mendapat dua partai islam, yang dominan 2/3-nya kan. Jadi wajahnya islam tradisional. Bahwa visi saya religius berkemajuan. Religiusnya di partai pendukung, berkemajuannya kiprah saya, visi saya, cara saya. Jadi nasionalis. Tapi Islamnya lebih dominan.

Anda dikabarkan bersedia membayar mahar Rp 25 miliar untuk surat rekomendasi dari Partai Golkar, apa itu benar?

Tidak ada. Saya tidak pernah keluar uang sepeser pun. Catet ya! Untuk partai apapun.

Apakah permintaan itu ada?

Tidak ada. Karena dari awal saya fokus pada partai-partai yang menyepakati power sharingnya di kemudian hari bukan di pra kompetisi. Kalau sudah terpilih misalkan ya, semua kegiatan kita diskusikan, kita sinkronisasi tidak masalah. Bagi saya itu wajar, selama ikuti aturan ya.

Saya itu tak punya duit. Kalau urusan gitu-gitu.

Jadi dua konfirmasi. Tidak pernah ada permintaan ke saya menyebut angka itu dan karena tidak ada, saya tak ada rencana bayar-membayar juga.

Itu gosip ya, agar seolah-olah saya dapatkan SK golkar itu seolah-olah membeli gitu. Makanya pakai logika sederhana saja. Saya kan sekarang sudah lengkap. Buat apa nyari-nyari partai lain dengan membelikan. Karena saya sudah 21. Kursi sudah cukup kan. Buat apa saya penambahan itu dengan cara membeli. Jadi kalau mendukung atas kesepahaman visi misi dan kemenangan politik, itu saja.

Bagaimana komunikasi dengan partai lain yang sekiranya akan mendukung Anda?

Saya mah semua, saya komunikasikan. Asal syaratnya tadi, jangan melanggar nasihat ibu saya. Kedua tadi, (tidak) minta mahar.

Apa ada partai yang selama ini meminta mahar ke Anda?

Gosip-gosip

Salah satu permintaan partai NasDem adalah meminta Anda mendukung Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019, bisa dijelaskan soal komitmen itu?

Tidak tertulis. Jadi bahasa saya, 'dukung ya Jokowi 2019, iya saya pahami, Pak'. Tapi timing-nya nanti. Itu bahasa saya. Jadi tidak ada tanda tangan saya dengan Partai NasDem mendukung Jokowi, tidak ada.

Sifatnya memahami bahwa itu yang diminta Partai NasDem. Tapi keputusan riilnya nanti di waktu yang tepat

Berarti belum tentu dukung Jokowi di Pilpres 2019 nanti?

Oh berarti dukung Jokowi. Tapi secara formal saya menanti waktu yang pas.

Sedangkan partai pendukung Anda yang lain, apa juga meminta hal serupa?

Urusan Jokowi hanya NasDem saja. PKB dan PPP tidak memberi syarat seperti NasDem itu.

Jadi pilihan koalisi ini koalisi yang diridai semesta dan ibu saya. Tidak ngeberatin di punggung, enggak ngeluarin duit, enggak melanggar ibu. Sudah enak. Pokoknya lagi happy.

Ridwan Kamil jenguk Rico ©2017 Merdeka.com

Di Jawa Barat banyak pengembang besar, salah satunya Lippo Grup dengan proyek Meikarta. Apa sudah ada di antara mereka mendekati Anda untuk memberi dukungan?

Saya hubungan dengan Lippo itu hanya urusan proyek-proyek di Bandung. Itu pun belum ada yang jadi ya. Mau bikin rumah sakit katanya di Jalan Aceh. Bikin pembangunan di alun-alun sedang proses, di luar itu saya tak ada komunikasi soal Jawa Barat.

Apa saja yang belum selesai Anda kerjakan selama memimpin Kota Bandung?

Utang saya apa? Jadi kalau ditanya utang saya itu cuma dua. Mendapatkan WTP (wajar tanpa pengecualian) tapi itu sedang proses, mudah-mudahan Maret ada hasilnya. Agak berat karena asset-aset Belanda ini luar biasa. Pak Aher dapet WTP di tahun ke-6. Jadi tidak langsung kan. Saya baru 4 tahun. Ya mudah-mudahan ya.

Nah kalau kemacetan, saya itu sedang menunggu dua surat. Itu yang masih mengganjal. Jadi saya engga bisa mengontrol sebuah surat bukan di bawah saya. Satu rekomendasi provinsi untuk kereta gantung, satu surat rekomendasi menteri untuk LRT. Tinggal dua surat. Duit ada, rute ada, izin sudah siap, coba bayangin.

Jadi kalau disebut, semua janji saya, saya kejar. Cuma si dua surat saya masih kejar di detik-detik sebelum cuti. Tapi saya ini masih punya satu tahun anggaran yakni 2018. Walaupun secara fisik saya tak hadir, tapi itu akan menjadi danau-danau lagi mengatasi banjir, jadi jembatan.

Saya cuti sampai Juni dan Juli-Agustus-September saya masuk lagi. Kan kayak Pak Djarot. Habis itu saya mengeksekusi lagi. Tapi waktu cuti itu dalam status gubernur terpilih atau tidak kan.

Jadi saya meyakini, sampaikan ke warga Bandung bahwa semua janji Insya Allah tersampaikan walaupun timing delivery-nya bisa saja saat saya cuti secara fisik.

Dalam prosesnya nanti bagaimana?

Ya kita tes. Karena saya membuat sistem. Bukan sistem mengandalkan kepemimpinan. Disiplin kerja, ada TKD kan. Tunjangan kerja dinamis. Rajin dapat duit, tidak rajin tidak dapat. Sistem e-budgeting, memastikan tidak ada dana siluman karena sudah dikunci dari awal. Jadi saya melakukan legacy itu.

Jangan pesimis, saya mah optimis. Saya tinggalin, sistem akan berjalan.

Untuk penyerapan anggaran di Bandung tahun ini?

Lelang saja sudah 95 persen.

Lalu selama memimpin Bandung, apa saja prestasi sudah dibuat?

Kalau saya sebutin bukan berarti saya sombong ya. Saya bagi dua, prestasi yang terlihat fisik dan tidak terlihat fisik. Yang terlihat fisik, PKL-PKL dari 10 titik sudah saya rapikan. Alun-alun, jalan merdeka, dayang sumbi, gasibu yang dulunya ada di lapangan tidak dibereskan. Fair, (masih) ada. Belum semua titik, betul.

Kedua, trotoar-trotoar menyebabkan orang jalan kaki lagi di kota ini. Jalan Dago sudah spektakuler, Jalan Asia Afrika dulu mati sekarang super ramai. Taman-taman sudah jadi citra saya. Saya kan Wagiman, wali kota gila taman.

Selanjutnya, kedua, yang tidak terlihat. Dulu kan ranking kinerja akuntabilitas kita kan 200an. Sekarang sudah ranking satu. Dari semua kota hanya bandung yang dapat A. Lalu, IPM manusia kita. Sekarang tembus 80, satu-satunya di jawa barat. Tiga besar di Indonesia. Dengan Jakarta selatan dan Malang. Di Tempo dengan frontir consulting survei kita 5 penghargaan kota paling atraktif. Pariwisata.

Ekonomi mau 8 persen. Indeks kebahagiaan, kita sangat baik, survei Unpad (Universitas Padjajaran) kita orang yang menyatakan bahagia sangat bahagia 87 persen. Jadi banyak orang coba nge-bully saya, 'oh taman lagi'. Karena orang tidak tahu yang tidak terlihat fisik ini kurang terberitakan. Maka saya bilang. Aset saya dalam nanti berdebat di Pilgub juga dengan data-data itu.

Purwakarta itu IPM-nya masih 60an. Padahal sudah 15 tahun beliau itu menjabat. Contoh ya kalau mau fair membandingkan. Bukan karena citra ya, citra terlihat. kita bedah dapur aslinya. Saya punya statistik itu.

Jadi itu pencapaian-pencapaian saya dari sisi birokrasi. Oh enggak belain orang miskin? Di Bandung sekolah gratis, kesehatan dibayarin, Dokter datang ke rumah miskin, kita ada kartu bandung juara untuk beli sepatu, beli apapun dan sebagainya. Anak miskin di swasta pun kita bayarin enggak hanya di negeri dan lain sebagainya. Kita ada kredit melati tanpa agunan. Sekarang ada kredit di masjid menuntaskan kemiskinan di lingkungan masjid. Kurang apa lagi dibelain yang namanya warga miskin. Belanja dikasih kartu, namanya e-warung. Jadi saya merasa semua dimensi pembangunan sudah dilakukan.

'Oh Pak Ridwan mah enggak bela islam'. Sok diteliti, di mana ada kota yang paling lengkap bela islamnya. Kecuali bandung. Magrib mengaji, 6 miliar untuk gurunya, subuh berjemaah. Zakat naik 5x lipat dengan aplikasi. Kita sedang ngebangun PTQ alquran. Juara MTQ 6 kali berturut-turut. Kota paling islami menurut Marif Institut, itu kan keislaman, pengentasan kemiskinan, birokrasi, ekonomi, fisik yang terlihat, Maka kalau jujur tadi, nanya yang kurang apa. Dua itu memang. Ngejar WTP sama ngejar mass transportasi.

Tapi perawatan taman di Bandung selama ini masih tidak maksimal?

Enggak ada masalah. Saya sudah kritisi. Melaunching jangan tidak dirawat. Tapi relatif masih baiklah kira-kira begitu.

Dengan pelbagai prestasi ini apakah Anda rasa cukup jadi modal di Pilgub?

Modal pilgub dua, saya akan memperbesar kesuksesan yang sudah terjadi di bandung. Dan saya bikin visi baru untuk jawa barat, salah satunya satu kampong satu produk. Supaya orang kampong tidak hijrah ke kota. Kita yang order produk ke mereka tanpa mereka berpikir marketingnya itu urusan Negara. Nanti mereka kerja mendapatkan nilai ekonomi sehingga sejahtera. Itu tidak terjadi hari ini. Hari ini desa disuruh mikir sendiri. Disuruh nyari market sendiri.

Lalu program prioritas Anda buat Jawa Barat apa saja?

Empat isunya ekonomi. Itu daya beli, pengangguran, harga sembako, infrastruktur, maka kalau saya kampanye saya akan ikut keilmiahan survei. Isunya ekonomi. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.