RI masuk MEA 2016

Senin, 11 Januari 2016 10:10 Penulis : Christianto Wibisono
RI masuk MEA 2016 Soekarno. ©2012 Merdeka.com/dok

Merdeka.com - Menjelang pergantian tahun 2015 ke tahun 2016 saya menemui Proklamator dan Presiden pertama RI, Bung Karno di private room restoran Skye rooftop Grand Indonesia dengan cakrawala pemandangan Jakarta bermandikan cahaya LED. Dengan santai memakai baju batik modis dan tetap berpeci necis ia merangkul saya dan mengikuti tradisi elite Jakarta cipika cipiki.

CW: Selamat Tahun Baru 2016 Pak, Terima Kasih bersedia meluangkan waktu pergantian tahun untuk serial wawancara imajiner merdeka.com. Semoga bapak tetap berkenan memberikan wejangan mencerahkan dan memberdayakan generasi muda bangsa Indonesia yang sekarang sudah hiidup di bawah naungan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

BK: Selamat Tahun Monyet Api 2016. Lihat saya pakai batik karena malu juga lihat Nelson Mandela kemana mana pakai batik. Sedang kita di wilayah tropis ini pakai jas dan dasi yang mencekik leher dan kepanasan kegerahan keringatan. Semestinya salah satu dari 7 impian presiden Jokowi adalah bagaimana batik bisa jadi warisan dunia UNESCO dan setara dengan black tie Barat modern. Kalau ini dilakukan dengan sadar berapa banyak devisa kita hemat tanpa membeli wool impor negara 4 musim. Juga memupuk surplus devisa mengekspor batik
ke ASEAN. Dan seluruh dunia yang berkat Mandela, jadi lebih mengenal batik dibanding waktu Soeharto pakai batik bersama seluruh pemimpin APEC di Bogor 1994.

Berbicara tentang MEA, APEC dan TPP saya ingin mengingatkan wawancara kita tahun 1977 dan 1990-an. Ketika itu saya sudah mengingatkan kamu bahwa di akhirat saya bertaruh dengan Paman Ho (Ho Chi Minh: 1890-1969, presiden Vietnam) bahwa RI dan Vietnam akan jadi competitor dalam balapan pembangunan ekonomi setelah Vietnam mengalahkan AS pada 1975. Ternyata kekawatiran saya itu sudah menjadi kenyataan kalau membaca betapa cengengnya elite RI silih berganti curhat dan mengeluh bahwa RI tidak siap menghadapi MEA. Lho saya ini menggembleng kalian jadi bangsa besar pejuang yang bangga merebut kemerdekaan melalui revolusi dan bukan hadiah kok sekarang malah elite Indonesia tidak percaya diri. Ibarat kesebelasan divisi I ASEAN yang terdiri dari 6 negara Brunei, Indonesia Malaysia, Philipina Singapura dan Thailand serta divisi II Cambodia, Myanmar, Laos Vietnam. Kita malah kurang percaya diri dan inferior serta minta di voor (ini Bahasa Belanda, diperlakukan sebagai pemain lemah masuk divisi II. Bludruk saya mungkin sudah kumat kalau masih tinggal di Jakarta. Untung saya sudah di Nirvana beneran, bukan Nirvana lounge Hotel Indonesia Kempinski jadi saya tetap bersemangat memberdayakan elite Indonesia.

CW: Ya realitasnya memang kita tidak siap dibanding tetangga ASEAN seperti Singapura.

BK: Baca ulasan mutakhir tentang Singapura pasca Lee Kuan Yew oleh Prof Michael Barr pemred Asian Studies Review, asisten professor hubungan internasional Flinders University. Bahwa tantangan terbesar Singapura ialah sikap complacent, puas diri, take it for granted. Sedang dunia sudah berubah mengejar dan membuat Singapura tidak relevan karena hal-hal yang selama ini menjadi jasa unik Singapura, sudah bisa dilakukan oleh negara tetangga. Faktor geografis hub transportasi juga ditandingi oleh Dubai yang lebih kaya raya dengan harta migas memanjakan wisatawan dan korporat dalam lintas wisata global.

Ho Kwon Ping, mantan koresponden Far Eastern Economic Review yang dulu kritis terhadap Lee Kuan Yew dan sekarang memimpin Banyan Tree Group menyatakan bahwa Singapura beruntung walaupun melenceng dari tradisi. Yaitu membayar birokrat pegawai negeri lebih
mahal dari swasta ketimbang membiarkan pegawai negeri dan aparat birokrasi membebani rakyat dengan pungutan liar korupsi. Dalam Program Tantangan 50 tahun ke depan Singapura, Ho menyatakan mungkin aparatur negara Singapura sekarang harus memikul beban yang lebih realistis jangan terlalu manja dengan gaji ala korporat. Sedang rakyatnya berpenghasilan kelas menengah biasa. Memang Singapura sedang berada di simpang jalan kalau sektor swastanya tetap bergantung pada birokrat dan BUMN.

Setelah wafatnya Lee Kuan Yew, Singapura akan menghadapi situasi pasca dinasti Lee bila PM Lee Hsien Loong meninggalkan teater Singapura. Salah satu top intelektualnya mantan menlu George Yeo yang kalah di pemilu oleh tokoh grass root sekarang menjadi CEO Kerry
Logistics Hongkong meramalkan persaingan lebih ketat bagi masa depan Singapura vis avis Indonesia yang sudah lebih independen dari jasa Singapura. Kita harus siap mengatasi metamorphose dan transformasi dari negara birokrat menjadi negara meritokrat. Negara harus menjadi penyedia prasarana social legal yang tangguh yang memungkinkan
pembangunan prasarana fisik tehnik dan industral yang canggih dan tepat waktu. Singapura ketinggalan dalam mentransformasi tenaga kerjanya menuju dunia pasca industry dan bahkan pasca IT generasi pertama.

CW: Bagaimana menjabarkan Sapta Impian Presiden Jokowi menurut visi yang bapak pantau dari Kahyangan, terlalu sederhana, simplistic atau cukup realistis tidak bombastis tidak mercu suar yang muluk muluk.

BK: Saya dulu memang muluk muluk dan tidak didukung oleh aparatur dan cabinet 100 menteri yang saya bikin dan masuk rekor tidak ada negara di dunia ini kapanpun yang punya cabinet 100 menteri. Tapi cabinet itu juga yang gagal mendeliver Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana 1961-1968. Saya berutang sepenuhnya untuk membangun Angkatan Laut dan Udara terkuat di belahan bumi Selatan. Jadi armada kapal selam dan MIG yang membuat Kennedy mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat (Papua) ke pada RI tanpa perang. Tapi itu semua memang utang dari Uni Soviet US$ 2,5 miliar. Ekonomi memang mundur karena konsentrasi mau merebut Irian. Ironisnya setelah kita kuasai secara adminstratif, penikmat konsesi kontrak karya pertambangan tembaga (yang kini lebih banyak emasnya ketimbang tembaganya) justru Freeport yang malah sampai sekarang ini belum bisa di Indonesianisasi kan secara damai tertib dan beradab.

CW: Konkretnya apa resep bapak menghadapi Freeport mbalelo ini.

BK: Freeport itu seperti kerajaan dunia ketiga. Selama 25 tahun orang bernama Moffett memimpin nyaris tanpa koreksi dan innovasi. Malah dia berspekulasi masuk ke tambang migas dan memang menemukan sumber migas di Teluk Mexico tapi di kedalaman 7000 m kategori
laut dalam. Nah kalau anda main di tambang minyak lepas pantai maka risikonya mirip casino kalau tepat sumur dan tepat teknologi ya anda menikmati harta karun. Kalau lahan itu jauh di kedalaman yang memerlukan teknologi dan biaya sangat tinggi, maka mustahil bisa
menghadapi externalities seperti turunnya harga minyak karena alternative energy non fosil maupun shale oil. Timing temuan migas di kedalaman Teluk Mexico dan kegagalan teknologi tidak cocok dengan penurunan harga minyak bumi maka Freeport menderita kerugian dan menanggung utang US$ 20 miliar. Nah ini yan harus dipantau cermat oleh elite kita. Sedang penguasa pemegang saham terbesar Freeport ternyata sejak 27 Agustus 2015 sudah berpindah ke tangan seorang predator Carl Icahn, ini adalah pelaku hostile take over yang di tahun 1980an - 1990an menguasai Wall Street dibukukan dan difilmkan: Berbarians at the Gate. Carl Icahn membeli hampir 10% saham Freeport hanya US$ 800 juta dan pernah menikmati US$ 5.35 kenaikan harga saham menjadi US$13.35 ketika surat Menteri ESDM 8 Oktober diungkap ke publik. Sekarang ketika Moffett mundur saham ambruk ke US$ 6.85 pada 29 Desember 2015.

CW: Lalu Kabinet kerja Jokowi ini harus merespons bagaimana?

BK: Kabinet Kerja ini ya harus kerja, bukan retorika. Kirim pelaku bisnis Indonesia yang bisa mewakili Indonesia Inc untuk mewaspadai mencermai dan melobby Carl Icahn. Kemudian menjalankan dwifungsi sebagai regulator maupun operator secara canggih. Pemerintah RI sebagai regulator bisa mengambil kebijakan yang bisa membuat saham Freeport naik turun kayak roller coaster. Terbukti begitu surat Menteri keluar maka saham naik 60%. Jadi dari pengalaman ini maka Pemerintah Indonesia seharusnya cerdik cerdas canggih untuk bisa
mengambil alih Freeport induk secara rapi dan sukses. Pemerintah Malaysia 1981 pernah membeli Guthire di London yang membuat orang inggris malu dan keki karena diambil alih perusahaan raksasanya secara mendadak melalui mekanisme jual beli saham terhormat ksatria dan bukan penyitaan atau nasionalisasi konfiskasi. Dulu kita juga membali Bank Indonesia dari De Javasche Bank dengan nilai bursa, bukan disita. Kalau main sita kena hukum karma seperti Orde Baru. Asset bisnis trio pengusaha teman saya, Aslam Markam Bram Tambunan di sita oleh Orba sebagian jadi Bank Duta. Kita semua tahu Bank Duta bankrut pertama kali 1990 karena Dicky Iskandardinata kalah valas dan kedua bangkrut waktu krismon.Jadi Tuhan tidak membiarkan perampokan dan kejahatan terlepas dari hukum karma.

CW: Wah ini sudah mendekati count down semoga elite kita membaca wawancara ini Kita bersulang dulu pak untuk 2016 yang lebih baik bagi seisi dunia termasuk Indonesia


BK: Cheers. Ya dunia ini masih akan survive sampai 7 miliar tahun lagi meski Star Wars episode 7 sudah mengingatkan kita bahaya kiamat galaxy antara yang Gelap dan Terang. Seperti caping Goenawan Mohammad tentang Mani di Tempo 4-10 Januari. Kita lanjutkan
wawancara ini sampai minggu depan. Selamat memasuki Tahun Hanoman Obong bagi rakyat Indonesia. jangan takut jangan minder jangan turun kelas jadi divisi II ASEAN memasuki era MEA. Kita bahas apa Tritura masih relevan setelah 50 tahun dicetuskan Sarwo Edie dan
KAMI di kampus Salemba 10 Januari 1966.

Iringan lagu Auld Lang Syne dan gemuruh petasan serta pesta kembang api mengakhiri wawancara imajiner perdana 2016. [war]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini