Repatriasi Panama Papers

Penulis : Christianto Wibisono | Senin, 18 April 2016 09:04
Repatriasi Panama Papers
Ilustrasi Panama Papers. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Bersama Bung Karno saya masih menjelajah dunia lintas waktu, lintas benua dan menyaksikan liputan khusus Thoman Friedman Senin 11 April di Agadez, kota pusat pengungsi Afrika bermukim untuk hijrah ke Libya dengan tujuan akhir Eropa. Dari Agadez kami balik ke Jakarta memantau relokasi penduduk Luar Batang, demo anti pabrik semen pegunungan Kendeng dan pemeriksaan intensif Gubernur Basuki, Sunny Tanuwijaya dan pengusaha Sugianto Kusuma di KPK Selasa Rabu 12-13 April 2016.

Semua ini terjadi 61 tahun setelah Konferensi Asia Afrik di Bandung 18-24 April menjadi platform kemerdekaan Asia Afrika pasca Perang Dunia II. Saya melihat Bung Karno termenung dan merenung serta sering menarik napas panjang, prihatin, peduli dan nyaris patah semangat. Sehingga saya sangat berhati hati menyapa tokoh yang sangat melankolic romantic meski dijuluki singa podium.

1. Agadez Candra Naya Sumber Waras

CW: Saya lihat bapak sedih dan termenung melihat ribuan pengungsi Afrika yang antre ingin masuk ke Eropa, benua bekas penjajah dengan harapan dapat menjadi manusia karena di 10 negara asal mereka Senegal, Sierra Leone, Nigeria, Ivory Coast, Liberia, Chad, Guinea, Cameroon, Mali dan Niger mereka sudah kehilangan segalanya, kerja dan peluang kerja akibat peng-gurun-an (desertifikasi) negara mereka. Mengapa bisa terjadi seperti ini setelah merdeka setengah abad lebih sejak Konferensi Bandung menjadi 'sesame buka pintu jembatan emas kemerdekaan.'

BK: Saya sedih dan prihatin, peduli dan frustrasi sekaligus lebih dari 3 in1 juga melihat di negara kita rakyat masih miskin sedikitnya 1/5 dari 250 juta penduduk meskipun elitenya punya rekening di Panama Papers. Saya di sini tidak bisa menangis seperti kamu, sudah beyond manusia; tapi Gus Mus dengan tepat bicara di Mata Najwa Rabu 13 April bahwa manusia di dunia ini masih terbelenggu oleh dendam kesumat Kabil terhadap Habil. Kakak sulung yang tega membunuh adik sendiri itulah hukum yang masih berlaku. Padahal Tuhan mengajarkan agar kompetisi berlangsung secara merirokratis untuk memuliakan berkah omnipotensi parsial yang diwariskan Tuhan kepada manusia untuk mengelola bumi dan penghuli flora faunanya di bawah jurisdiksi dan otoritas manusia sebagai wakil, turunan dan utusan Tuhan. Ini menjadi sangat teologis tapi memang harus berawal dari situ. Puncak dan inti teologi adalah kebenaran mutlak itu ada pada Tuhan secara universal dan lintas sara, agama, etnis, ras dan kelas. Membunuh adalah membunuh harus dihukum, tidak bisa diampuni dan dimaafkan atas nama balas dendam atau antipasti karena orang lain melakukan kesalahan mesti dibalas dengan pembunuhan. Teroris ya teroris, tidak bisa dibenarkan atas alasan ideologis termasuk penyandra WNI AbuSayyaf di Philipina yang menuntut uang tebusan Rp 15 miliar atau Rp 150 juta tiap orang. Meski kita gembar gembor tidak mau berunding akhirnya toh harus bernegosiasi untuk pembebasan penculik itu menguasai daerah gerilya yang tidak mungkin dilokalisir seperti menggerebek Woyla di bandara Bangkok 1981. Jadi saya ini gregetan karena merasa tidak berdaya. Tapi saya tetap beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa seluruh elite dunia yang sebagian baru saja berkumpul di G7 dan Bank Dunia IMF baru saja mengeluarkan prediksi stagnasi ekonomi global harus tetap optimis menghadapi medan turbulensi model Agadez serta kemelut pilkada 2017 terutama kontroversi AHok dengan dua kasus yang disidik KPK, reklamasi dan RS Sumber Waras. Saya tahu apa dan siapa Sin Ming Hui (Candra Naya) perkumpulan social yang seolah tidak rawan, tidak aman dari kondisi dikudeta. Sesuai dengan tradisi Orde Baru, hanya orang yang punya backing politik bisa menguasai ormas dan perkumpulan sebesar Candra Naya.

CW: Tapi soal Candra Naya ini tidak ada kaitan langsung dengan temuan BPK yang di-challenge oleh Gubernur DKI yang memicu investigasi KPK. Kita juga masih harus membahas Panama Papers yang menjadi trending topix sebetulnya sudah sejak wawancara seri 13 Senin 4 April.

BK: Justru saya mau tuntaskan bicara kembali kepada khittah manusia dan agama apapun. Tidak mungkin yang jahat itu akan memperoleh kemenangan final, pasti Jayabaya berlaku tidak pandang bulu. Hanya yang eling lan waspada yang akan menang di babak final. Bagaimana Candra Naya sebagai perkumpulan social Tionghoa di era Orde Baru yang rasis harus menciutkan diri dan berlindung dibalik oknum tokoh 'pribumi' dan kemudian dikuasai oleh tokoh tokoh konglomerat era Orde Baru dan seperti organisasi lain yang sekarang ini ditentukan dan dikuasai oleh orang yang kuat duitnya, maka Yayasan RS Sumber Waras terpisah dari Candra Naya, begitu pula Universitas Tarumanegara, lepas dari Candra Naya. Nasib yang sama dialami Universitas Res Publica milik Baperki yang diambil alih oleh tokoh LPKB alm Ferry Sonneville dan Sindhunata SH diganti namanya jadi Universitas Trisakti. Karma menghukum mereka dengan kudeta oleh Rektor ThobyMutis menguasai Universitas dari tangan Yayasan Trisakti. Meskipun proses legal sampai tingkat Mahkamah Agung dimenangkan oleh Yayasan, tapi de fakto Thoby Mutis dkk menguasai asset dan mengelola Universitas Trisakti dan sesepuh Yayasan Begawan Harry Tjan Silalahi yang sangat berpengaruh di awal Orde Baru, sekarang tidak berdaya seperti Ny Kartini Mulyadi yang berkursi roda di periksa 11 jam di KPK terkait RS Sumber Waras hari Senin 11 April lalu. KPK juga unjuk gigi bahwa mereka bisa memeriksa Gubernur Ahok dari pagi sampai malam, hingga tidak bisa hadir di ILC yang mendiskusikan kasus Sumber Waras. Saya tetap yakin beriman dan optimis bahwa scenario Jayabaya tetap akan valid dalam proses turbulensi reklamasi Teluk Jakarta, investigasi Sumber Waras maupun repatriasi dana terkait Panama Papers.

2. Repatriasi Panama Papers

CW: Panama Papers 2016 dan Offshore leaks 2013 menyangkut hampir seluruh elite kita dari keluarga Wakil Presiden, Kepala BPK, Ketua KADIN, konglomerat bahkan aktivis LSM yang gemar mengkritik pemerintah sebagai neolib terlibat namanya. Bagaimana keluar dari kemelut itu tanpa mengambil langkah drastic seperti mundurnya PM Islandia Sig mundur dan Menperin Spanyol.

BK: Ribuan nama itu pernah membuat SPV Special Purpose Vehicle, perseroan terbatas yang modal formalnya cuma US$ 1 tapi bisa berfungsi sebagai entitas penerima atau pentransfer dana dari pihak ketiga ke SPV ybs. Dalam diskusi tentang Panama Papers di kantor Bisnis Indonesia Senin 11 April Hariadi Sukamdani Ketua Apindo, Sigit Pramono ketua Himbara dan Agus Santoso Wakil Ketua PPATK diakui bahwa terdapat 3 kategori dari penyimpan dana di luar negeri.

Pertama :pengusaha dan masyarakat professional yang ingin mengamankan asset dalam valuta asing, karena pengalaman 71 tahun Indonesia merdeka, didevaluasi 8 kali hingga nilai mata uang merosot dari setara 1 S$ pada awal kemerdekaan sekarang hampir Rp. 10.000 untuk 1 S$. Kedua: para koruptor dan money launderers yang memang harus menyembunyikan dananya dari tuntutan hukum. Yang ketiga adalah yang abu abu memanfaatkan tax avoidance (penghindaran pajak) atau tax evasion (penggelapan pajak). Nah bagaimana resep untuk mengembalikan dana tersebut yang dikenal sebagai repatriasi asset secara efektif dan produktif. Pemerintah secara proaktif sudah mengusulkan UU Tax Amnesty dengan uang tebusan 1,2,3 persen atau 2,4,6 persen untuk jangka waktu 1,3 dan 6-12 bulan berlakunya UU Amnesty bila disahkan oleh DPR bulan April 2016.

Yustinus Prastowo CEO dari Center for Indonesian Tax Analysis (CITA) mengingatkan agar pemerintah jangan terlalu menggelembungkan asset yang ditargetkan pulang dari luar negeri. Yustinus terkejut bahwa Menkeu menyebut angka Rp. 11.450 triliun atau lebih besar dari PDB Indonesia sehingga seandainya 1 persen akan menjadi penerimaan negara sebagai uang tebusan maka nilainya Rp. 114,5 triliun sedang yang Rp 11.300 bisa menjadi dynamo lokomotif pembangunan infrastruktur dan percepatan pertumbuhan ekonomi RI secara signifikan.

CW: PDBI mencatat secara lebih realistis barangkali dana ACU di Singapura yang total assetnya US# 1,2 triliun, hanya 20% yang berasal dari Indonesia sehingga hanya berjumlah US$ 240 miliar. Jika uang tebusan 1% maka minimal Rp.31,2 triliun maksimal Rp. 187,2 triliun (tarip 6 persen). Dulu bapak yang mempelopori pengampunan pajak 1964 kenapa gagal dan terus malah sanering 1965 berdampak bapak lengser 1966.

BK: Waktu itu 1964 Tan Kiem Liong alias Mohamad Hasan dari NU saya angkat jadi Menteri Pendapatan Pembiayaan dan Pengawasan dan menerapkan pengampunan pajak pertama yang akan ditiru oleh Menkeu Radius Prawiro tahun 1984. Waktu pemerintahan saya itu sampai 1963 kan budget dipakai untuk alutsista, membangun Angkatan Laut dan Udara terbesar di belahan bumi Selatan dengan kapal selam dan pesawat jet tempur mutakhir MIG 21 sehingga membebani negara dengan utang US$ 2,5 miliar.

Tidak ada yang gratis di dunia ini bung Chris, kamrad Khruschov juga buka rekening kirim dan menagih utang kita untuk beli pesawat dan kapal selam itu. Saya sendiri terus terjebak pada konfrontasi Malaysia yang memakan beaya lagi sehingga ekonomi semakin terbengkalai walaupun sebetulnya pada 28 Maret 1963 saya mencanangkan Deklarasi Ekonomi. Yang merupakan deregulasi dan liberalisasi dari kemacetan ekonomi etatisme mengandalkan BUMN. Yang ternyata tidak efisien karena dikelola oleh pamen ABRI yang dikaryakan memimpin bekas perusahaan Belanda yang di nasionalisasi 1957. Semua sudah menjadi sejarah, sekarang ini jika Pemerintah bersatu padu dengan kekuatan pasar yang produktif dan meritokratis dengan semangat Indonesia Incorporated pasti bisa berbeda hasilnya. Karena presiden Jokowi adalah pengusaha yang mengandalkan efisiensi dan pasar berdaya saing global tentu sangat memahami kepentingan
mendesak memangkas birokrat pemburu rente. Kalau saya bicara Indonesia Inc saya terus bersemangat karena yakin bahwa jika Indonesia ini bersatu padu maka kita dapat mewujudkan transformasi Indonesia menjadi nomor 4 sedunia pada 2045 Seabad Indonesia dalam satu generasi. Marilah kita berdoa agar dunia dan Indonesia selamat dari kondisi turbulensi mengenaskan ala Agedez dan kita sendiri menghindari negara gagal karena elite yang bermental Kabil mendendam Habil terhadap sesame elite politik. Saya sudah bisa mengatasi kesedihan mengikuti pandangan mata Thomas Friedman.

CW: Terima kasih bapak tetap bersemangat seperti ketika kita baru merdeka 10 tahun sudah mampu jadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika 18-24 April 1955. Sampai bertemu pada edisi ke -16 Senin 24 April 2016. Catatan CW: Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan tentang tulisan 'Balada The Long Ranger A Hok' di media social ingin saya tegaskan bahwa itu bukan tulisan saya namun hanya memforward dari WA group saja. Seperti juga tulisan penulis lain tentang A Hok & Jaya Suprana yang heboh dulu. Tulisan otentik saya sejak 1977 adalah kolom Wawancara Imajiner dengan Bung Karno (WIBK) yang merupakan edisi perdana. Kemudian di majalah cetak Detik pimpinan Eros Djarot 1994 dan sekarang ini merdeka.com setiap Senin dan sudah mencapai edisi ke 15 hari Senin 18 April ini. Terima kasih atas respon para pembaca budiman.

[hhw]

Rekomendasi Pilihan


Komentar Anda



BE SMART, READ MORE