Rabu Paling Indah Buat Abah

Senin, 22 April 2019 10:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Rabu Paling Indah Buat Abah Maruf di TPS. ©2019 Merdeka.com/Anisyah Yusepa

Merdeka.com - Sambil sarungan Ma'ruf Amin mengayuh sepeda statis. Berpeci hitam, memakai baju koko warna putih. Lengan bajunya digulung hingga siku. Rabu, 17 April 2019, dia mengawali hari dengan olahraga sebelum melakukan pencoblosan.

Sarapan telah disiapkan. Plus secangkir teh hangat buatan Nyai Wury Estu Handayani, istri kedua Ma'ruf. Menu sarapan hari itu terbilang sederhana. Nasi goreng dengan telur mata sapi.

Tak ada raut gelisah. Padahal hari itu adalah penentuan setelah delapan bulan kampanye keliling Indonesia sebagai calon wakil presiden mendampingi capres petahana Joko Widodo. Semua dijalani biasa saja. Tanpa persiapan berlebihan.

Pagi itu dijadwalkan melakukan pencoblosan jam 9 pagi di kediamannya kawasan Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bersama keluarga, tercatat di TPS 051. Selain ditemani istri, beberapa anaknya juga akan melakukan pencoblosan di tempat sama.

Ma'ruf berangkat dari rumah di Jalan di Jalan Situbondo, Menteng jam 9 pagi. Semenjak kampanye dia sementara lebih banyak tinggal di sana. Sementara anak-anak Ma'ruf sudah menanti di rumahnya kawasan Koja.

Saat berangkat, Ma'ruf terlihat menambahkan jas putih di bajunya. Tak lupa mengalungkan sorban putih di bahunya. Terlihat lebih rapi dan formal. Ma'ruf juga mengenakan sepatu pantofel berwarna hitam. Sementara Wury menggunakan baju yang sama saat sarapan.

Perjalanan menuju Koja hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Waktu singkat dibandingkan hari biasanya. Kebetulan, ruas jalan di Jakarta masih lengang. Mengingat pemerintah menetapkan hari pencoblosan sebagai hari libur nasional.

Lima ratus meter dari rumah Ma'ruf, terlihat lebih ramai dari biasanya. Warga Jalan Deli Lorong menyambut kedatangannya. Mobil mewah berplat pejabat itu berjalan dengan kecepatan rendah. Sebab rumah Ma'ruf berada di gang kecil.

Setengah jam kemudian, Ma'ruf baru mendatangi TPS. Setelah masuk ke dalam rumahnya di Koja. Masuk ke tempat pencoblosan bersama keluarga. Mereka duduk di kursi barisan depan. Tak sampai lima menit, namanya dipanggil. Menerima empat surat suara. Yakni, surat suara berlabel biru untuk Caleg DPRD Provinsi, surat suara berlabel kuning untuk Caleg DPR RI, surat suara berlabel hijau untuk caleg DPD RI dan surat suara untuk Pilpres.

Hampir lima menit Ma'ruf berada di bilik suara. Dibandingkan istri dan anaknya, Ma'ruf lebih lama selesai saat melakukan pencoblosan. Dia juga terlihat kerepotan saat membuka lembar surat suara berlabel warna biru.

Setelah melakukan pencoblosan, Ma'ruf bersama sang istri mengacungkan jempol kepada semua orang yang ada di TPS. Momen itu lantas diabadikan awak media dan warga setempat.

"Saya kira ini pencoblosan paling nikmat. Mencoblos di tempat sendiri dapat dukungan masyarakat," ungkap Maruf.

Melihat antusias warga, Ma'ruf optimis di TPS itu akan menang telak. Tak tanggung, dia yakin 90 persen unggul dari pesaingnya Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Namun, dari 300 pemilih yang terdaftar di DPT, Ma'ruf harus puas dengan perolehan 132 suara. Pasangan Jokowi-Ma'ruf unggul tipis dari Prabowo-Sandi yang mendapat 129 suara. Sementara ada 5 surat suara tidak sah dan 31 orang tidak menggunakan hak pilihnya.

Menanti Hitung Cepat

Usai menggunakan hak pilihnya, Ma'ruf dan Wury kembali ke rumahnya di Menteng. Dia tiba di sana sekitar pukul 11 siang. Beristirahat, sambil menunggu kabar akan bertemu Jokowi. Selang beberapa waktu, banyak keluarga berdatangan. Anak-anak, menantu dan cucu sampai cicit berdatangan satu per satu. Masuk ke dalam rumah. Beberapa di antara mereka juga terlihat bolak balik.

"Anak-anak datang, mau nunggu hasilnya bareng-bareng sambil berdoa," tutur Wury.

Setibanya di rumah, Wury bercerita, bahwa Abah, sapaan Ma'ruf, langsung makan. Setelah makan siang, dia kembali duduk di ruang tengah. Di samping kursi terdapat meja kecil menjembatani kursi tempat duduk Wury. Di atas meja terlihat ada segelas air putih dengan alas dan ditutup. Setumpuk koran juga ada di sana. Rais Aam PBNU ini memang terbiasa membaca koran tiap hari. Salah satu sumber informasinya.

Di ruang tengah, terpasang dua televisi berlayar 50 inci. Diletakkan dua meter dari tempat duduk Maruf. Dua televisi itu terkoneksi internet. Masing-masing televisi menyiarkan dua stasiun tv berbeda.

Suara azan Dzuhur berkumandang. Kiai Pondok Pesantren An Nawawi Tanara di Serang Banten ini meninggalkan kursinya. Segera melaksanakan ibadah. Setelah itu, Ma'ruf kembali duduk di kursinya. "Bismillah, kita menunggu yang terbaik untuk Abah," ungkap Wury.

Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Bersiap menyaksikan hitung cepat hasil pemilihan Pilpres. Mereka menonton bersama Ma'ruf. Matanya tak lepas dari layar televisi. Terlihat serius. Begitu juga dengan keluarganya.

Sebagian duduk di lantai karpet. Ada yang mengoleskan sesuatu ke tubuh Maruf. Ada juga yang mengisi air ulang air minum Ma'ruf ke meja di samping kursinya. Beberapa cicit Ma'ruf pun terlihat berlarian ke sana ke mari.

Saat hitung cepat dibuka pukul 3 sore. Perolehan sementara keluar. Lembaga survei Charta Politika dengan suara masuk 49,03 persen mencatat pasangan Jokowi-Ma'ruf unggul dengan perolehan 54,22 persen. Sementara pasangan Prabowo-Sandu 45,78 persen.

Survei Litbang Kompas mencatat dari suara masuk 45,65 persen, pasangan Jokowi-Ma'ruf memperoleh suara 55,48 persen dan pasangan Prabowo-Sandu mendapat suara sebanyak 44,52 persen. Begitu juga lembaga survei lainnya yang menunjukkan pasangan nomor urut 01 lebih unggul.

Ragam reaksi ditunjukkan keluarga. Ada yang tepuk tangan. Bersorak. Memanjatkan syukur. Begitu juga dengan Ma'ruf. Dia terlihat tersenyum. Air mukanya berubah. Lebih santai dari sebelumnya. Tapi itu tidak membuatnya lengah. Tatapannya tetap tertuju pada televisi di depannya. Suasana berubah lebih santai setelah mengetahui hasil sementara.

"Alhamdulillah kita sudah menduga menang. Tapi tunggu keputusan dari KPU," kata Maruf.

Bukan Deklarasi Kemenangan

Jam menunjuk pukul 15.30. Gerbang hitam rumah Ma'ruf terbuka. Mobil ditumpangi keluar. Menuju ballroom Djakarta Theater di kawasan MH Thamrin di Jakarta Pusat. Sebelumnya, sejak pukul 2 siang, tim pemenangan sudah berdatangan.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf memang sudah menjadwalkan untuk berkumpul. Menyimak bersama detik-detik pembukaan hitung cepat dari berbagai lembaga survei. Namun, keduanya baru tiba di lokasi acara setelah televisi menyiarkan usai hasil hitung cepat sementara muncul.

Tiga puluh menit kemudian Jokowi tiba di ballroom. Masuk lewat jalur khusus. Jokowi datang menggunakan kemeja putih dan celana bahan warna hitam. Jokowi duduk di meja paling depan. Disambut para ketua umum partai yang sudah datang sejak tadi. Selang 10 menit Ma'ruf juga tiba di lobby.

Masuk ke ballroom, Ma'ruf disambut banyak orang. Tidak cuma para ketum partai koalisi. Sejumlah menteri Kabinet Kerja menyambut Ma'ruf Amin. Dia kemudian duduk satu meja bersama Jokowi yang berdampingan juga dengan Jusuf Kalla di sisi sebelah kiri.

Di meja bundar itu, semua ketua umur partai politik berkumpul. Termasuk beberapa menteri. Seperti Menko Polhukam Wiranto dan Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Perempuan dan Pemberdayaan Anak Puan Maharani duduk satu meja. Sementara menteri dan tim pemenangan lainnya duduk di meja berbeda.

Semua tamu yang hadir tampak serius memperhatikan layar utama. Berupa beragam siaran berita televisi yang membahas seputar hari pencoblosan dan hitung cepat. Meski sudah mengetahui hasil hitung cepat sementara, namun wajah tegang begitu terlihat di meja itu. Sebab, suara yang masuk rata-rata belum mencapai 70 persen dari sampel TPS. Sehingga pernyataan pers pun di tunda sampai jam 5 sore.

"Kita sama-sama menunggu angka-angka yang masuk karena ini hal yang sangat serius dan tentunya merasa sangat penting untuk diperhatikan," ungkap Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu.

Selain memantau angka-angka yang masuk, mereka menyimak beragam komentar para narasumber yang ada di layar utama. Kata dia ini sangat penting karena bisa menjadi masukkan yang baik. Sehingga kandidat mau pun tim pemenangan bisa memberikan respon yang bijak kepada para pendukungnya.

"Jadi harus sesuai dengan melawan suasana kebatinan masyarakat," tambah Triawan.

Suasana sore itu memang cukup tegang. Takut suara hitung cepat berubah seiring bertambahnya sampel yang masuk. Tetapi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko memastikan semua tim yang hadir menikmati rangkaian proses demokrasi. Hasil hitung cepat yang mengunggulkan pasangan Jokowi-Maruf direspon sekadarnya. Tidak ada selebrasi khusus atau berlebihan.

Perbincangan di meja bundar Jokowi cs tidak begitu serius. Sesekali diiringi gelak tawa. Apalagi setelah memastikan suara masuk 70 persen dengan posisi yang sama. "Saya pikir itu tadi meja santai dan damai. Tidak membicarakan ketakutan kalah, langkah-langkah provokatif," kata Moeldoko kepada merdeka.com.

Mantan Panglima TNI era Presiden SBY ini mengaku hasil hitung cepat itu tidak sesuai ekspektasinya. Semula dia memprediksi jagoannya memperoleh suara 58-60 persen. Namun dia berharap akan ada perubahan. Minimal sesuai ekspektasinya.

Meski begitu Moeldoko meyakini hasil tersebut merupakan keputusan rakyat. Tidak bisa didikte, dipaksa atau diprovokasi. Sebab hal itu merupakan hasil dari agregat kepemimpinan, manajemen, karakter dan lainnya.

Jam 5 sore, Jokowi-Maruf Amin bersama tim pemenangan menggelar konferensi pers. Dalam keterangannya, Capres Jokowi mengatakan meski hasil hitung cepat dan exit poll sudah terlihat indikasi kemenangan, namun dia meminta agar pendukungnya tetap sabar menunggu keputusan resmi dari KPU. Dia meminta usai pemilu ini, semua masyarakat kembali bersatu. Menanggalkan pandangan politik yang berbeda.

"Marilah kita kembali bersatu sebagai saudara sebangsa setanah air setelah pileg dan pilpres ini," kata Jokowi.

Sorak sorai pendukung Jokowi-Maruf menggema di ruangan itu. Ramai orang berdesakan untuk melihat langsung sang juara. Pernyataan pers itu ditutup dengan doa yang dipimpin langsung Ma'ruf Amin. Lalu mereka kembali meninggalkan lokasi acara. Kembali ke rumah asing.

Usai salat magrib, Ma'ruf Amin dan keluarga menggelar pengajian. Pengajian itu dilakukan untuk mensyukuri proses pelaksanaan hari pencoblosan yang berjalan lancar. Acara sederhana itu juga hanya dihadiri keluarga, kerabat dan beberapa santri ponpes Ma'ruf Amin yang menginap semalam.

"Pengajian ini sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran pesta demokrasi hari ini," kata Koordinator Media Kiai Ma'ruf Amin, Monang Sinaga.

Di waktu yang bersamaan Ma'ruf juga kedatangan banyak tamu. Mereka datang untuk mengucapkan selamat langsung kepada Ma'ruf Amin yang unggul dalam hitung cepat hari itu. Misalnya Pengurus PBNU Assroun Niam dan Ketum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO). Menjelang jam 9 malam, para tamu mulai meninggalkan rumah Maruf. Termasuk sejumlah santri laki-laki yang sejak kemarin bermalam di rumah Sang Kiai. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini