Q&A: Mengenal Varian Baru Virus Corona, Benarkah 70 Persen Lebih Menular?

Selasa, 5 Januari 2021 09:45 Reporter : Hari Ariyanti
Q&A: Mengenal Varian Baru Virus Corona, Benarkah 70 Persen Lebih Menular? Ilustrasi corona. ©2020 Merdeka.com/shutterstock

Merdeka.com - Varian baru virus corona terdeteksi di Inggris baru-baru ini. Varian baru ini disebut menjadi penyebab melonjaknya kasus infeksi Covid-19 di negara tersebut hingga menyebabkan dan rumah sakit mulai penuh.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson menyebut varian baru virus corona ini 70 persen lebih menular. Benarkah demikian? Untuk mengetahui lebih jelas soal varian baru ini, merdeka.com merangkumnya dalam Q&A berikut.

Apakah varian baru virus corona?

Varian baru virus corona adalah mutan baru, yang disebut B.1.1.7. Dikutip dari Live Science, Senin (4/1), ini adalah sebuah versi virus dengan 23 mutasi, delapan mutasi di antaranya berada dalam bagian mahkota yang digunakan virus untuk mengikat dan memasuki sel manusia, sebagaimana dilaporkan Science Magazine.

Kapan dan di mana varian baru virus pertama kali muncul?

Menurut WHO, varian baru ini pertama kali terdeteksi pada 21 September di Kent County, Inggris. Sejak saat itu, menjadi varian yang paling banyak ditemukan di Inggris, mewakili lebih dari 50 persen kasus baru antara Oktober dan 13 Desember di Inggris.

Benarkah varian baru 70 persen lebih menular?

Awalnya para ilmuwan memperkirakan varian baru 70 persen lebih menular, tapi penelitian pemodelan terbaru menetapkan tingkat penularannya 56 persen, seperti dikutip dari The New York Times.

Setelah peneliti menyaring semua data, ada kemungkinan bahwa varian tersebut hanya 10 hingga 20 persen lebih menular, menurut ahli biologi evolusi di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Seattle AS, Trevor Bedford.

Namun demikian, Bedford mengatakan kemungkinan varian baru ini akan menjadi bentuk dominan di AS pada Maret. Ilmuwan seperti Dr Bedford melacak semua varian yang diketahui dengan cermat untuk mendeteksi perubahan lebih lanjut yang mungkin mengubah perilaku mereka.

Apa perbedaan varian baru dengan varian lama yang terdeteksi di Wuhan?

Mutan baru ini bisa jadi menyebar lebih mudah, tapi di sisi lain sedikit berbeda dengan varian lama. Sejauh ini, setidaknya, varian baru ini tak terlihat bisa membuat orang lebih parah atau bahkan menyebabkan kematian.

Tapi yang juga menjadi kekhawatiran ialah sebuah varian yang lebih menular akan meningkatkan angka kematian sederhananya karena dia menyebar lebih cepat dan menginfeksi lebih banyak orang.

"Dalam hal ini, ini hanya permainan angka," jelas virolog yang berafiliasi dengan Universitas Georgetown, Angela Rasmussen.

Efeknya akan diperkuat "di tempat-tempat seperti AS dan Inggris, di mana sistem perawatan kesehatan benar-benar berada pada titik puncaknya".

Bagaimana penularannya?

Jalur penularan – melalui tetesan kecil, dan partikel aerosol kecil yang mengapung di dalam ruangan tertutup – tak berubah. Itu berarti masker, jaga jarak, dan meningkatkan ventilasi ruangan tertutup akan membantu mencegah penyebaran varian baru ini, sama dengan tindakan pencegahan virus lainnya.

"Dengan meminimalisir paparan Anda terhadap virus apapun, Anda akan mengurangi risiko terinfeksi, dan itu akan mengurangi penularan secara keseluruhan," jelas Rasmussen.

Apakah varian baru ini lebih mematikan?

Hal ini belum dapat disimpulkan, tapi para ahli menduga varian ini tidak lebih mematikan daripada versi lama.

Namun jika virus lebih mudah menyebar, konsekuensinya rumah sakit akan penuh karena lebih banyak orang yang akan dirawat. Jika rumah sakit penuh, kualitas perawatan pada pasien yang parah akan menurun yang dapat memicu lonjakan angka kematian.

Negara mana saja yang telah mengonfirmasi kasus varian baru virus corona selain Inggris?
Ada beberapa negara yang mengonfirmasi kasus varian baru Covid-19, salah satunya Jepang. Pada Senin (28/12/2020), Jepang mendeteksi varian virus corona yang ditemukan di Afrika Selatan. Kasus ini menjadi penemuan pertama di Jepang yang sebelumnya telah mengidentifikasi lebih dari belasan kasus varian virus corona asal Inggris.

Sebelumnya pada 24 Desember 2020, Singapura mengonfirmasi kasus pertama virus corona varian baru. Selain itu, 11 orang lainnya yang sedang berada dalam karantina dinyatakan positif terkena virus corona varian baru. Dikutip dari Nikkei Asia, Kamis (24/12), semua pasien, yang pernah berkunjung ke Eropa, dikarantina selama 14 hari di fasilitas khusus atau langsung diisolasi saat baru tiba dari Eropa. Kontak dekat para pasien ini juga dikarantina.

Negara Asia lainnya yang mengonfirmasi kasus varian baru Covid-19 yaitu Vietnam. Hal ini disampaikan Kementerian Kesehatan Vietnam pada Sabtu (2/1). Varian tersebut dideteksi pada perempuan berusia 44 tahun, yang kembali dari Inggris. Perempuan itu melakukan karantina saat tiba di Vietnam dan pada 24 Desember dikonfirmasi positif terpapar virus itu, menurut pernyataan kementerian.

Sementara itu di Eropa, Prancis mengonfirmasi kasus pertama pada akhir Desember. Kementerian Kesehatan Prancis mengatakan, orang yang dilaporkan terinfeksi virus varian baru ini merupakan warganya yang baru pulang dari Inggris.

Dikutip dari BBC, Minggu (27/12), kementerian mengatakan orang ini tanpa gejala dan saat ini melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Pria ini dites di rumah sakit pada 21 Desember.

Sementara di Spanyol dilaporkan ada empat kasus infeksi virus corona varian baru. Demikian disampaikan pemerintah wilayah Madrid. Empat kasus yang pertama kali terdeteksi di Spanyol ini dari orang-orang yang baru tiba dari Inggris. Demikian disampaikan Wakil Deputi Departemen Kesehatan Madrid, Antonio Zapatero dalam konferensi pers pada Sabtu.

"Para pasien ini tidak sakit parah, kita tahu bahwa varian baru ini lebih menular, tapi tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah," jelasnya, dikutip dari Aljazeera, Minggu (27/12).

Bagaimana cara pencegahan yang efektif agar tak tertular?

Cara penyebaran varian baru ini sama dengan virus corona versi lama. Artinya tindakan pencegahan yang perlu dilakukan juga sama, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, jaga jarak sosial, dan meningkatkan ventilasi atau sirkulasi udara di dalam ruangan tertutup.

Apakah vaksin Covid-19 ampuh melawan varian baru ini?

Banyak ahli menilai vaksin yang ada saat ini ampuh melawan varian baru ini. Ketika vaksin merangsang sistem kekebalan tubuh, tubuh akan membangun pertahanan sel untuk mengikat banyak bagian virus.

Menurut CEO BioNTech, Ugur Sahin, yang mengembangkan vaksin Covid-19 bersama Pfizer, mengingat 99 persen protein pada varian baru identik dengan strain yang ditargetkan vaksin mRNA Pfizer-BioNtech (vaksin Moderna sangat mirip), sangat mungkin bahwa vaksin tersebut akan ampuh.

Kepada Financial Times, Sahin mengatakan ada kemungkinan seiring waktu dapat muncul varian yang akan menghindari beberapa vaksin yang mereka kembangkan, serupa dengan bagaimana vaksin flu perlu diperbarui setiap tahun. Namun, vaksin mRNA baru dapat diperbarui untuk mencerminkan mutasi baru dalam waktu sekitar enam minggu. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini