Profesor dari Bantaeng

Kamis, 7 September 2017 12:16 Reporter : Hery H Winarno
Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pada tanah gersang dia membangun pabrik. Nurdin mengajari kita kekuatan pengetahuan dan jaringan. Tentang kerja keras. Lihatlah Bantaeng hari ini.

Seperti tanjung. Melewati bibir pantai, menjorok ke laut. Separuh dari lahan seluas lima hektar itu adalah bikinan. Hasil urukan. Laut di kiri kanan. Dan samudera lepas di depan. Pohon-pohon rindang tumbuh di pinggir. Sejuk. Dan, dari langit terlihat seperti karangan bunga yang dibaring di laut. Lihatlah ke utara. Tanah hijau, rumput tumbuh pada lahan seluas lapangan sepak bola. Rindang pohon mengitar. Dan di sisi kanan ada bangunan perkantoran. Pada utara lapangan itu, berdiri gedung tinggi. Di tengah umah-rumah penduduk, perkantoran, gedung itu terlihat jangkung. Delapan lantai. Itu pusat kesehatan.

Cobalah jelajahi pula jalanan di situ. Semua mulus. Beraspal. Di kanan dan kiri, berderet rumah-rumah makan. Berbagai menu yang menyenangkan selera tersedia. Dari jajanan tradisional hingga menu dari dunia modern. Jika melancong ke situ, kita tak perlu cemas kelaparan. Lalu, datanglah ke pantai itu sore hari. Ketika mentari beranjak rebah. Dan buang pandangan ke barat. Ke arah cakrawala. Tempat ufuk merindukan senja. Sajian petang itu kerap kali membuat orang lupa pulang.

Jangan beranjak dulu. Bertahanlah hingga malam. Lihatlah pohon-pohon yang pada siang hari memberi teduh itu. Mereka akan menyala. Lampu hias yang menjalari batang, kelap-
kelip. Meremangi pantai. Kedai ramai. Orang-orang meriung pada warung. Berdenyut hingga larut. Ini bukan pantai di Bali. Bukan pula Losari, pesisir kondang di kota Angin Mamiri, Ujung Pandang. Surga itu bernama Seruni. Destinasi baru yang sedang membetot mata banyak orang. Inilah 'New Bantaeng'. Ikon baru kotalama. Kabupaten di Sulawesi Selatan, yang baru sekian tahun belakangan bergeliat.

Lima tahun lalu, kawasan itu seperti tak terurus. Terlihat seperti kumuh. Jadi tempat pembuangan sampah. Dirubung belukar. Hingga Nurdin Abdullah datang, mengubahnya. Bupati Bantaeng itu mereklamasi pantai sepanjang satu setengah kilometer. Pantai Seruni berubah permai. Jadi primadona. Tak lagi merana. Inilah hasil tangan dingin Nurdin. Dia telah menghidupkan pantai mati.

Menjabat bupati sejak 2008. Kini masuk periode ke dua. Dari pesisir Sulawesi Selatan itu, Nurdin mengajari kita bagaimana mengejar ketertinggalan. Melihat peluang. Turunkan angka kemiskinan. Menaikkan taraf hidup. Dan lihatlah hasilnya. Nyaris tak pernah kedengaran, Bantaeng melesat ke panggung publikasi nasional.

Lihat juga angka ini. Setahun setelah menjadi bupati ekonomi berlari cepat. Tumbuh 5,1 tahun 2007. Melonjak menjadi 7,3 pada tahun 2009. Pada periode yang sama angka kemiskinan melorot dari 61 persen menjadi 41. Sebelum Nurdin menjabat, Bantaeng masuk dalam 199 daerah tertinggal. Hanya butuh tiga tahun. Wilayah itu mentas dari zona minus. Pada hari-hari ini, dia bahkan menjadi 'laboratorium'. Tempat belajar 104
kabupaten.

Rakyat senang, dan nama Nurdin mencorong. Bupati 54 tahun itu diganjar banyak sanjungan. Dia menerima lebih dari 50 penghargaan. Dari berbagai lembaga. Wilayah yang dulu tenggelam dari publikasi itu, kini sohor dengan bermacam inovasi. Dikenal seantero Nusantara, hingga dunia.

Rumah Selalu Ramai

Jika Anda ingin mengetahui bagaimana Nurdin memimpin daerah itu, cobalah berkunjung ke sana. Sekitar 120 kilometer sebelah selatan Makassar. Berkunjunglah ke rumah pribadinya.
Di Bonto Atu. Perhatikan pintu gerbangnya. Di bawah gapura itu. Baca tulisan pada kertas putih yang dilaminating. Di sana ada jadwal sang bupati. Lengkap. Senin sampai Minggu. Tulisan pada kertas itu memberi tahu kita bahwa Nurdin nyaris tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Senin pagi, mulai pukul delapan hingga sepuluh, digunakan untuk minum kopi bareng. Selasa sampai Jumat, jam yang sama, dipakai menerima masyarakat. Sabtu senam. Minggu terima tamu yang sudah terjadwal. Kalau Anda benar-benar berkunjung,
Anda akan bertemu banyak orang di sana.

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah ©2017 Merdeka.com


Inilah cara Nurdin memimpin Bantaeng. Menyatu dengan rakyat. Lewat open house saban hari, dia mendengar keluh kesah. Menyerap aspirasi. Nurdin tahu, rakyat paling paham persoalan. Lalu dipecahkan bersama. Urusan keluarga warga pun selesai di sana. Semua dibantu.

Nurdin juga kerap turun ke lapangan. Menjemput aspirasi. Lewat cara inilah dia menemukan obat banjir yang bertahun-tahun melanda Bantaeng. Dia paham wilayahnya diapit bukit dan laut. Gunung Lompobatang menjulang di utara. Lautan menghampar di selatan. Kontur itu membuat Bantaeng jadi lintasan luncur air.

Saban musim hujan, bah menerjang. Tapi saat kemarau, kering kerontang. Nurdin menemukan resep. Dia bangun cekdam di Balang Sikuyu. Pada lahan sepuluh hektar. Bendungan itu menampung luapan delapan anak Sungai Allu. Cekdam inilah yang mengendalikan air bah di musim penghujan. Mengalirkan air di musim kerontang. Bendungan yang dibangun sejak 2009 itu sungguh berguna banyak. Jadi sarana irigasi. Dan, cadangan air minum untuk warga. Bantaeng kemudian merdeka dari banjir. Dan roda ekonomi berputar cepat.

Dongkrak Pangan

Memang Nurdin ahli pertanian. Dia adalah profesor bidang agrikultur. Lulusan Universitas Kyushu, Jepang. Berbekal semua ilmu itu dia mengajari rakyat cara bekerja yang efektif. Bisa menjadi mandiri. Tak lagi bergantung pada uluran tangan daerah lain. Tanah subur tak selalu jaminan makmur.

Nurdin mengajari kita bagaimana menanamkan pengetahuan ke dalam tanah. Dia memulai dari hal-hal dasar. Soal benih. Pola tanam. Dan pupuk. Dia menggandeng Southeast Asian Regional Centre For Tropical Biology atau Seameo Biotrop. Membangun laboratorium pertanian. Ini penting. Profesor itu sungguh paham, sekian tahun sudah Indonesia bergantung pada benih impor.

Pemuliaan tanaman dilakukan. Lahirlah bibit-bibit unggul dari sana. Bahkan telah me-rebranding jagung Jepang. Bantaeng tak lagi bergantung benih impor. Dari ketertinggalannya, daerah itu sukses menjadi pemasok benih berkualitas ke banyak daerah di Indonesia.

Teknologi, sebagaimana ilmu pengetahuan, sanggup memberi nilai tambah pada lahan pertanian. Jadilah kini, dunia pertanian Bantaeng menjadi destinasi wisata. Lihatlah Uluere. Di atas lahan enam puluh hektar. Dia sulap perbukitan jadi kawasan agrowisata. Apel, stroberi,wortel, bawang, dan kentang, tumbuh subur di sana.

Nurdin juga membangun pabrik pupuk. Menggandeng BPPT. Menjadi pilot project pabrik Slow Release Fertilizer (SRF). Saban tahun menghasilkan sepuluh ribu ton pupuk pintar itu.
Saat daerah lain langka penyubur tanah, Bantaeng tak pernah kelimpungan.

Dan, ilmu Nurdin tak habis hingga tanaman bertumbuh. Mekar dan berbuah. Bupati pertama yang bergelar profesor ini juga paham lika-liku pemasaran. Paham cara meningkatkan nilai jual. Industri pertanian dibangun di Pajukukang. Hasil bumi tak langsung dijual. Diolah dulu. Dikemas menarik. Baru dilepas ke pasar. Harga tentu sudah beda. Bisa dua kali lipat.

Tanah subur, bibit berkualitas, teknologi dan kerja keras, maka panen pun melimpah. Daerah itu surplus pangan 21 persen beberapa tahun lalu. Dan kini, sektor pertanian menyumbang 80 persen pendapatan asli daerah.

Nomor 'Ajaib' 113

Inilah gebrakan Nurdin yang lain. Mobile ambulance. Sebenarnya ini bukan hal baru. Nurdin mengadopsinya dari Jepang. Tapi terobosan ini membuka mata semua orang. Dia menunjukkan kepada kita bahwa tersedia begitu banyak jalan membangun warga. Meski dana cekak.

Gebrakan ini bermula dari kenyataan yang pahit. Tingkat kematian ibu hamil tinggi. Selama 2010 saja ada sebelas kasus. Nurdin tahu, ini bukan masalah kesadaran. Akses terhadap pelayanan kesehatan adalah musabab. Tak ada puskesmas buka sehari semalam. Bila gelap tiba, kelam pula nasib warga. Bingung harus berobat ke mana.

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah ©2017 Merdeka.com


Dan inilah ide brilian itu. Nurdin jemput bola. Brigade Siaga Bencana (BSB) dibentuk. Tim kesehatan jadi penopang. Dokter, perawat, dan sopir, menjadi awak armada mobile ambulance.

Sejak tujuh tahun lalu, bukan lagi warga yang datang. Tim kesehatan itulah yang hilir-mudik ke rumah-rumah penduduk. Tak butuh kartu sakti. Tinggal pencet nomor 'ajaib' 113. Dua puluh menit setelah telepon, ambulans pasti datang. Lengkap dengan alat dan obat. Cukup untuk operasi kecil. Mudah, cepat, dan gratis!

Setahun setelah mobile ambulance diluncurkan, tingkat kematian ibu hamil jadi nihil. Bantaeng diganjar titel kabupaten sehat nasional. Kini, BSB punya 20 ambulans, 20 dokter, dan 25 perawat. Mereka wara-wiri, 24 jam sehari. Tujuh hari seminggu. Dari kota hingga pelosok desa. Memang tak gampang memulai rencana baik ini. Saat itu anggaran tak ada. Tapi Nurdin memberi tahu kita, betapa pentingnya sebuah jaringan. Apalagi bagi pemimpin. Dia benar-benar memanfaatkan para kolega selama belajar di Negeri Sakura. Mencari hibah. Kata Nurdin, dengan cara ini ia menjadi semacam, 'pemulung intelektual'.

Dan lihatlah hasilnya. Nurdin sukses menggaet Ehime Toyota Motor. Ambulans pertama datang delapan tahun silam. Dan, terus mengalir hingga hari ini. Kini dia bahkan jadi pemrakarsa bantuan Jepang. Delapan kabupaten telah menerima hibah serupa. Nurdin yang membuka jalan.

Bangun 'Singapura' Baru

Pertanian surplus. Wisata menggeliat. Soal kesehatan pun dia jadi teladan. Nurdin tahu potensi Bantaeng masih berlimpah. Ekonomi bisa digenjot lagi. Bukan soal bercocok tanam melulu. Apalagi tidak semua lahan produktif. Pada tanah Bantaeng yang tak layak digarap, dia menyalakan industri. Terletak di Pajukukang. Bantaeng timur yang kurang curah hujan. Nurdin menyiapkan kawasan tiga ribu hektar. Jadi lahan menyemai berbagai kilang. Inilah Bantaeng Industrial Park (BIP). Mesin ekonomi baru dengan target investasi Rp 55 triliun.

Bantaeng memang tak punya tambang. Tapi Nurdin berani mengundang investor untuk bangun smelter. Dia tahu, tetangga kaya tambang. Tapi pengolahan belum ada. Inilah peluang. Perut bumi Morowali, Kolaka, dan Bombana, terus mengeluarkan isi bumi. Bantaenglah yang mengolah. Cerdik. Karpet merah digelar. Investor dimanja. Dijemput di bandara. Izin dipermudah, pembebasan lahan pun dibantu. Kini pemodal sudah terhimpun. Antre. Ada taipan Tiongkok, juga Korea. Dua smelter bernilai enam triliun rupiah lebih sudah menancap. Beroperasi tahun ini. Nurdin membuka mata kita, kehidupan juga ada di tanah gersang.

Kerja keras hampir delapan tahun kini berbuah. Sebelum Nurdin menjabat, pertumbuhan ekonomi tak sampai lima persen. Angka itu dipacu. Kini lebih dari sembilan persen. Sepuluh tahun lalu, APBD Bantaeng hanya Rp281 miliar. Terkecil di Sulsel. Jumlah itu dikerek. Sekarang jadi Rp 880 miliar. Melambung.

Bantaeng kini jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Bukan lagi marjinal. Dan, Nurdin ingin membangun kota jasa. Seperti Singapura.Negara tak punya sumber daya alam, tapi tak ada kemelaratan. Tanah sempit. Penduduk kecil. Penghasilan besar. Dalam sebuah wawancara Nurdin bilang, 'Orang Bantaeng tak layak miskin.' [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Kisah Inspiratif
  2. Pria Merdeka
  3. Bantaeng
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.