Crime Story

Petaka Sate Sianida

Jumat, 11 Juni 2021 09:06 Reporter : Purnomo Edi
Petaka Sate Sianida Rekonstruksi kasus sate sianida. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Tawa ceria keluarga menyambut Bandiman di rumah. Tiba menjelang Magrib, sebuah kresek berisi sate ayam dibawa untuk berbuka puasa. Membuat kebahagiaan mereka bertambah. Rasa lelah setelah keliling menarik ojek online terbayar melihat istri dan dua putranya.

Sang istri, Titik, segera membantu Bandiman menyajikan makanan. Di kediaman mereka daerah Salakan, Kabupaten Bantul, suasana persiapan buka puasa begitu sederhana. Teh manis hangat ditambah sate ayam tadi, terasa sudah mewah. Hingga suara azan Magrib pun terdengar.

Raihan, putra pertama Bandiman, segera menyantap sate ayam untuk membatalkan puasa. Tanpa lontong dan bumbu, pemuda 17 tahun itu melahap satu tusuk sate dengan cepat. Bandiman hanya tersenyum melihat anak sulungnya itu.

Sepiring lontong dengan sate ayam diberi bumbu kacang, disiapkan terpisah. Istri Bandiman sengaja menyiapkan buat si bungsu, Naba Faiz Prasetya. Mereka makan sepiring berdua. Sambil disuapi sang ibu, bocah 10 tahun itu tidak mau kalah lahap dari kakaknya.

Seketika kebahagiaan keluarga sederhana itu berubah petaka. Naba tiba-tiba menjerit. Berlari ke arah kulkas mencari minuman dingin. "Pahit dan panas," teriak bocah itu. Tidak lama kemudian Naba terjatuh. Sementara Titik muntah-muntah.

Suasana nikmat buka puasa berubah panik. Bandiman bergegas membawa keduanya ke rumah sakit. Sepanjang jalan, pria 47 tahun itu terus berdoa. Berharap tidak ada kejadian buruk menimpa.

Setiba di rumah sakit, istrinya dan Naba masuk ke ruang gawat darurat. Bandiman menunggu di luar. Perasaannya tidak nyaman. Gelisah. Berdiri dan duduk jadi serba salah. Seraya berdoa. Dia berharap tim dokter rumah sakit memberikan hasil terbaik.

Sayang kabar buruk datang. Nyawa si bungsu tidak bisa terselamatkan. Naba dinyatakan meninggal dunia pada Minggu malam, 25 April 2021. Santapan sate ayam dibawa sang ayah menjadi penyebabnya.

Salah Sasaran Racun Mematikan

Sabtu, 13 Maret 2021. Suara ponsel NA berdering keras. Perempuan ini segera mengangkat. Dari seberang terdengar suara kurir jasa pengantaran barang. Mengabarkan paket dipesan telah tiba.

Berbegas NA membuka paket dipesannya. Paket ini berisi kalium sianida seberat 250 gram dibeli dari aplikasi jual beli online. Setibanya paket ini, NA pun menyimpannya di salon tempat kerjanya. Sebuah rak di salon menjadi pilihan tempat penyimpanan.

Racun Sianida itu rencanaya untuk balas dendam. NA sempat curhat tentang kedekatan dan kekesalannya kepada Tommy kepada pelanggan salonnya berinisial R. Ternyata ide meracuni itu datang dari pelanggannya tersebut. Kala itu, R menceritakan jika efek Sianida hanya akan membuat Tommy sakit perut. Tidak berpikir panjang, NA pun memesan.

Rencana meracuni Tommy dirancang. Setelah memikirkan beragam strategi selama 1,5 bulan, NA pun memutuskan beraksi pada Minggu, 25 April 2021. Berangkat dari rumahnya di daerah Piyungan, Bantul, NA menuju salon tempatnya bekerja. Mengendarai sepeda motornya dan mengenakan pakaian seperti lazim kesehariannya digunakan.

Tiba di tempat kerja, perempuan ini berangkat mencari sate ayam di daerah Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Sekaligus membeli makanan ringan lainnya. Rampung membeli, NA kembali ke salon. Mencari Sianida yang dia simpan. Racun ini kemudian dicampurkan NA ke bumbu sate.

Persiapan meracuni Tommy rampung. NA pun berganti pakaian. Memakai baju gamis dan hijab yang dibawanya dari rumah. Kemudian menukar sepeda motor dengan rekan kerjanya bernama Agus. Perempuan itu langsung tancap gas. Sekitar puku 3 sore, dia menyusuri jalanan Kota Yogyakarta.

Hingga tiba di daerah Jalan Gayam, tidak jauh dari Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Mata NA sesekali mengarah ke kanan dan kiri jalan. Berusaha mencari seorang pengemudi ojek online. Di sana perempuan itu bertemu Bandiman yang baru saja selesai menjalankan ibadah salat Asar.

Usai menyapa Bandiman, NA pun meminta tolong untuk mengantarkan paket makanan berbuka puasa ke Tommy. Order pengiriman paket buka puasa ini tanpa aplikasi. Menerima tawaran, Bandiman diberi alamat rumah Tommy sekitar Villa Bukit Asri, Bangunjiwo, Kabupaten Bantul. Sambil menyamakan harga ongkos kirim senilai Rp25 ribu.

Uang Rp30 ribu pun disodorkan NA kepada Bandiman. Saat akan diberi kembalian, NA menolak dan meminta Bandiman menerima uang itu. Bandiman pun segera berangkat ke alamat yang dituju. Tidak ada rasa curiga. Bandiman malah bersyukur dapat lebihan harga.

Usai Bandiman berangkat mengantar pesanan, NA pun menyalakan sepeda motornya. Dia bergegas kembali ke salon tempatnya bekerja. Setibanya di salon, pakaiannya segera diganti. Baju gamis dan hijab yang dipakainya bertemu dengan Bandiman dibuang ke tempat sampah.

Setiba di lokasi tujuan, makanan dibawa Bandiman ditolak istri Tommy. Wanita itu merasa tidak ada pesanan makanan melalui aplikasi ojek online. Makanan itu pun tidak diterima. Kemudian dibawa kembali Bandiman.

Sampai menjelang Magrib, sate ayam beracun itu masih dibawa. Bandiman merasa mubazir jika dibuang. Baginya hari itu adalah rezeki. Mendapat lebihan bayaran dan membawa pulang seporsi sate ayam. Sayangnya Bandiman malah membawa petaka bagi keluarga. Anak bungsunya meninggal usai menyantap sate Sianida saat buka puasa.

Selang beberapa hari, kabar meninggalnya Naba viral di media sosial. Tidak lama berselang disusul dengan sejumlah pemberitaan tentang meninggalnya Naba. Saat itu, dugaan makanan beracun pun sempat diungkap polisi.

Senin 3 Mei 2021, Dirreskrimum Polda DIY, Kombes Burkan Rudy Satria mengumumkan penangkapan NA di Polres Bantul. Polisi menyebut jika motif NA mengirim sate sianida ini karena sakit hati kepada Tommy.

Pelaku dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider 338 KUHP tentang Pembunuhan sub Pasal 80 ayat 3 jo Pasal 76c UU RI No 35 tahun 2014 tentang perubahan UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman bisa berupa hukuman mati atau pidana seumur hidup

"Untuk pasal yang diterapkan Pasal 340 KUHP subsider 338 KUHP jo pasal 80 dan 76 UU Perlindungan Anak," kata Burkan.

NA kembali muncul pada Senin 7 Juni 2021 saat Polres Bantul melakukan rekonstruksi. Saat memeragakan 35 adegan, NA nampak menangis. Hadir di Polres Bantul, Bandiman mengakui jika NA telah meminta maaf kepada keluarga atas perbuatannya. Permintaan maaf dan penyesalan NA ini dituangkan dalam sebuah surat yang ditujukan pada Bandiman.

Menanggapi permintaan maaf dari NA, Bandiman menyebut sebagai manusia dirinya telah memaafkan NA. Meski demikian Bandiman menyerahkan sepenuhnya proses ke pihak kepolisian.

"Kami sekeluarga menuntut proses hukum tetap berjalan dan hukuman setimpal. Jadi secara emosi manusia memaafkan, tapi masalah hukum harus tetap berjalan," ujar Bandiman mengungkapkan. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini