Wawancara Imajiner Bung Karno

Peta Eropa baru oleh Daniel Pipes menyambut seabad Bernard Lewis

Senin, 13 Juni 2016 10:58 Penulis : Christianto Wibisono
Peta Eropa baru oleh Daniel Pipes menyambut seabad Bernard Lewis Peta Eropa. ©2016 merdeka.com
colom 2

Merdeka.com - Bersama Bung Karno saya baru melanglangbuana mengikuti seabad Bernard Lewis, pakar sejarah Islam yang pada 31 Mei 2016 tepat berusia satu abad dan masih segar bugar sehingga membenarkan definisi baru WHO bahwa manusia abad XXI berpotensi dan berpeluang hidup hingga usia 120. Bernard Lewis adalah pakar inggris yang sekarang bermukim di AS sejak 1974 menjadi guru besar emeritus Princeton University.

Tahun 1976 jauh sebelum konfrontasi Barat Islam meledak dengan tabrakan pesawat WTC 11 September 2001, Lewis sudah mengingatkan akan bahaya clash of civilization. Dari Princeton kita ke Teuku Umar memantau peringatan haul 3 tahun wafatnya Taufiq Kiermas Rabu 8 Juni yang ko insidensi dengan jarig Jenderal Soeharto ke-95. Di acara itu hadir lengkap Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla dan Gubernur Ahok

CW: Selamat malam pak, bagaimana Bapak membaca situasi geopolitik seabad Sykes Picot agreement yang merancang pembentukan Israel 15 hari setelah lahirnya Bernard Lewis dan situasi tanah air dengan heboh kenaikan harga daging sapi dan revisi UU Pilkada yang melibatkan isu konflik PDIP-Ahok.

BK: Kamu perhatikan pidato Presiden di depan eselon 2-3 yang dikumpulkan di Dhanapala dimana jelas jelas Jokowi menyatakan bahwa apa yang terjadi di Eropa, referendum Brexit, apakah Inggris mau keluar dari Uni Eropa atau tetap di UE akan berdampak bagi Indonesia. Karena itu saya sudah instruksikan kita masuk dan memahami semua organisasi atau pakta perdagangan seperti RCEP, TPP atau TTIP (pakta Uni Eropa – AS) yang pasti berdampak juga bagi dunia di luar UE dan AS). Terus kembali merujuk yang sudah sering kita diskusikan di kolom ini bahwa daya saing itu tergantung pada efisiensi birokrat. Tandatangan surat kok perlu beberapa hari, kan Cuma 1 detik. Ketik SIUPP hanya perlu beberapa menit, kenapa mesti antre beberapa hari bahkan minggu bulan. Jadi Republik Indonesia itu nasibnya bukan di tangan presiden, menteri, dirjen, direktur tapi justru asdep dan eselon 3 itulah yang menentukan apakah RI akan naik peringkat EODB nya dari 109 ke 40 (baca lagi WIBK Edisi ke-20 Senin 23 Mei 2016).

Presiden juga paham soal geopolitik ketika mengutus menlu ke Konferensi Perdamaian Timur Tengah yang diprakarsai Prancis. Karena memang Prancis Inggris itulah sebetulnya yang melahirkan negara Israel yang menimbulkan konflik dengan Palestina. Bernard Lewis mencapai umur 100 tahun masih sehat wal afiat, Emil Salim merupakan tokoh 84 tahun masih segar bugar dan IQ tetap cemerlang dengan ide-ide strategis seperti reklamasi seluruh pantai utara Jawa. Jadi elite Indonesia sudah memenuhi kriteria masih kategori penduduk dengan usia harapan hidup universal sekitar 100 tahun. Jadi akan banyak orang yang berpotensi menikmati seabad Indonesia 2045.

CW: Saya termasuk yang berdoa dan berpengharapan bisa menyaksikan Indonesia jadi no 4 sedunia dalam kualitas pada seabad Republik 2045. Tapi saya agak was was dengan curhat Presiden yang sadar handicap di lapangan untuk instruksi yang dia berikan. Kok mirip dengan situasi dimana bapak dulu berpidato gegap gempita, tapi dalam delivery sembako gagal karena mengikuti etatisme korup seperti gagalnya Uni Soviet dan Maoisme mendeliver sembako di supermarket Moskow Beijing mengakibatkan Deng Xiaoping banting setir dan Gorbachev terguling.

BK: Pidato Jokowi betul, ini dunia sudah berkelindan berselingkuh dan bertiwikrama semua masalah punya jaringan global. Dulu DI/TII/NII itu local Darul Islam Tentara Islam Indonesia dan Negara Islam Indonesia itu local Jawa Barat dibawah Kartosuwiryo. Kemudian diikuti oleh Daud Beureuh di Aceh dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Tapi sekarang ini Darul Islam dan atau ISIS itu sangat internasional jadi ada dimensi transnasional dan multinasional, Kalau istilah komunis mungkin orang komunis sendiri sudah “bertobat, mawas diri dan sudah paham tidak bakal laku” maka diganti Sosial Demokrat, dan macam-macam istilah anti liberalism, anti neolib, anti kapitalisme, anti nekolim tapi intinya tetap klasik penuh teori konspirasi CIA super neolib. Biasanya di AS dan Eropa itu berlaku apa yang disebut politically correct, tidak terang terangan menyebut terorisme terkait agama Timur Tengah. Bernard Lewis dengan berwibawa tetap mengritik radikalisme sambil tetap mengupayakan reformasi Islam oleh tokoh Islam sendiri.

Maka bukunya diterjemahkan serempak oleh Israel maupun Ikhwanul Muslimin yang menyatakan bahwa Lewis itu adalah kawan yang terus terang dan “lawan yang ksatria” yang tidak pernah merekayasa statemen kemunafikan. Lewis berani berkata sebenarnya tanpa takut akan dimusuhi, karena tujuan akhirnya adalah dunia yang selamat dari clash of civilization.

CW: Dalam Simposium National Review 8 pakar geopolitik Dari Ali Hirsi sampai Victor Hanson mengingatkan jangan sampai konflik bebuyutan Barat Islam akan menghancurkan kedua ideologi dan meninggalkan dunia dikelola oleh Tiongkok dan India.

BK: Ya kita harus menganjurkan para elite nasional Indonesia membaca lengkap komentar tentang Bernard Lewis baik yang pro maupun yang kontra. Sebetulnya Dominique Moisi dalam buku The Geopolitics of Emotion sudah memberikan resep, mengharapkan Indonesia bisa berperan sebagai Islam reformis, moderat, pluralis, toleran untuk menjadi ujung tombak pemrakarsa perdamaian Timur Tengah secara konkret dan realistis. Sekaligus bukan cuma membereskan akar masalah konflik peradaban tapi juga menghindari perang peradaban antara Barat, Islam dan Confucius.

Sebetulnya buku Huntington kan menyebut ada 5 peradaban lagi di luar 3 besar itu, yaitu India, Rusia, sub sahara Afrika, Amerika Latin dan kawasan ASEAN dengan jantung motor dan dynamo Indonesia. Tapi untuk itu tentu harus benar benar netral dan dipercaya kedua pihak. Soeharto pernah punya peluang ketika Yitshak Rabin sowan ke Cendana karena Soeharto menjadi Ketua GNB 1993-1994. Sayang itu tidak ditindaklanjuti lebih konrket padahal 3 orang Rabin, Peres, Arafat akan memperoleh hadiah Nobel 1994. Kalau Soeharto lebih proaktif barangkali Timur Tengah sudah damai dijaga oleh pasukan perdamaian TNI pada era Seeharto.

CW: Salah satu pakar Claire Berlinski mengutip pepatah Turki tentang popularitas Bernard Lewis di kalangan elite Turki: “Türk’ün Türk’ten ve Bernard Lewis’ten başka dostu yoktur” — the Turk has no friend but the Turk and Bernard Lewis. Wanita itu adalah pakar Ricochet.com penulis buku Menace in Europe: Why the Continent’s Crisis Is America’s, Too. Indonesia seperti ketinggalan zaman mengikuti debat, diskusi intelektual teori dan empiris karena terbelenggu konflik domestik ya pak. Apa resep bapak agar kita tidak ketinggalan dari transformasi geopolitik yang serba cepat digital instan itu.

BK: Nah dalam artikel mutakhir Daniel Pipes ada peta Eropa yang disimplifisir. Eropa telah menjadi Eurabia dengan nama Ingris Raya diganti North Pakistan, Prancis jadi Republik Islam Algeria Baru, Jerman jadi New Turkey dan yang menggelitik adalah Belanda diganti menjadi New Indonesia. Memang sentiment geopolitik di Eropa dan AS sedang menuju pada titik didih antara dua peradaban Eropa vs Islam. Karena itu Presiden Prancis memprakarsasi Konferensi Paris meskipun dinilai “gagal”. Sudah lama golongan yang sinis terhadap kebijakan appeasement Eropa membuat istilah Europe akan berubah menjadi Eurabia. Gelombang kemenangan Trump di AS terutama dipicu oleh ketakutan sara, arus peradaban Timur Tengah yang melanda Eropa Barat dan Amerika Serikat. Trump justru lahir oleh kegiatan ISIS dan radikalis teroris bom di Eropa dan dimana saja, pasti akan mengingatkan pemilih AS bahwa Trump adalah pembela peradaban demokrasi liberal Barat yang sedang diancam oleh ideology peradaban khalifah.

Sementara itu 3 peradaban lain Hindu, Tiongkok dan Rusia menanti “barji barbeh-nya” Europa vs Eurabia untuk seperti Hulagu mengambil alih Baghdad di abad XII. Ini satu millennium bangkitnya Mongol sebagai imperium continental terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Elite kita masih asyik mengurus masalah sepele supply daging sapi Lebaran masih belepotan. Mereka tidak punya waktu untuk kontemplasi dan merenungkan dengan serius cerdas dan cermat proyeksi bangsa Indonesia seabad ke depan apalagi semilenium ke depan. Tapi menantu saya yang diperingati haulnya, cukup proaktif menggarap program berwawasan filosofois jangka panjang.

CW: Ya pak manusia kan memang stagnan selama puluhan ribu tahun dalam feodalisme otoriter dan baru mengenal demokrasi sekitar 250 tahun. Kita baru umur 71 tahun malah baru dapat Akta Lahirnya Pancasila. Komentar bapak terhadap kelambanan elite.

BK: Ya perkembangan demokrasi dan karakter manusia ternyata stagnan, masih tetap primitif benci iri dengki Kabil (Kain) terhadap Habil. Sementara kemajuan teknologi mencapai lompatan quantum exponential yang luar biasa. Artinya iptek dalam 25 tahun terakhir lebih berlipat ganda dibanding kemajuan manusia selama 2500 tahun sebelumnya. Manusia abad XXI ribuan kali lebih sadar dan paham iptek ketimbang nenek moyang bahkan kakek nenek yang baru 100 tahun, ketinggalan dari generasi cucu digital yang sudah menikmati Ipad dan Youtube sejak bayi beberapa bulan. Tapi moral etik dan mental manusia tetap tidak “fair”; cemburu, benci, dengki iri kepada orang yang lebih berprestasi dan berusaha me-manipulasi kekalahan itu secara tidak fair.

Inilah rahasia konflik manusia bangsa dalam kemelut sejarah peradaban. Nah orang semacam Bernard Lewis ini punya posisi unik untuk mencerahkan elite yang masih tenggelam dalam kecemburuan primitif ala Kabil. Celakanya orang yang bermental Kabil itu sekarang kalau berkuasa bisa menekan tombol nuklir yang bisa membunuh jutaan manusia sekaligus. Dan mereka itu tidak perlu menjadi pemimpin atau kasta suatu negara, tapi secara “private” menjadi aktor bukan negara yang menteror nation state lain. Melintasi batas negara, bangsa sambil mengobarkan sentiment sara lintas benua, lintas negara, lintas peradaban.

CW: Petuah bapak untuk generasi penerus bangsa Indonesia yang akan memimpin Indonesia memasuki abad ke 2 nation state Republik Indonesia.

BK: Saya yakin kita akan punya Sukarno-Sukarno dan Suharto-Suharto lain Gus Dur-Gus Dur lain. Ya tidak apa-apa ada Soeharto lagi tapi yang sudah mawas diri, sudah demokratis, sudah kapok dengan hukum karma Ken Arok Harmoko menikam dari belakang. Juga Gus Dur yang to be fair to my daughter, menyalip Megawati di tikungan dengan Poros Tengah Amin Rais. Jadi semua orang itu ada dosanya tidak ada malaikat termasuk saya dan Soeharto. Kami berdua sudah menjalani karma turun tidak dengan hormat oleh people power yang tidak puas dengan kinerja kita berdua di akhir senja masa jabatan kita sebagai presiden pertama dan kedua RI. Habibie juga punya andil, berita pembelian kapal selam bekas membuat Tempo terbreidel, tapi Menpen Junus Josfiah di bawah Presiden Habibie yang mencabut ketentuan SIUPP hingga Tempo bisa terbit kembali.

Pokoknya di zaman digital ini Tuhan juga mau cash and carry cash upon delivery dalam membayar utang karma politik. Tidak menunggu anak cucu tujuh turunan, harus langsung dihukum secara konkret paling tidak secara moral. Jadi saya optimis walaupun kadang kadang keki juga melihat lambannya orang Indonesia bekerja seperti ketidaksabaran Jokowi terhadap eselon 2-3 yang dinilainya telah menyabot program pembangunannya. Termasuk DPR yang “memeras” dengan membahas bertele-tele RUU Tax Amnesty. Tapi saya tetap berpesan Jokowi jangan terpancing seperti saya waktu tahun 1960 membubarkan DPR hasil pemilu 1955, karena tidak menyetujui APBN 1960 dan saya ganti dengan DPR GR mengawali era otoritarian Demokrasi Terpimpin yang ternyata Cuma berumur 5 tahun. Sebab sejak 1 Oktober 1965 ketika Soeharto mbalelo menolak panggilan saya ke Halim sebetulnya saya sudah merasa wangsit saya sudah tergerus disedot oleh mantan KNIL itu. Ketika Soeharto teken LoI di depan Camdessus yang bersidekap, saat itu wangsitnya sudah mulai meninggalkan jendral umur 77 tahun itu. Itu kan urusan Menko buat apa presiden teken LoI. Itu karena di sudah desperate merasa mau jatuh harus meraih apa saja siapa saja untuk bertahan.

CW: Terima kasih atas tema besar mawas diri dan optimisme kepemimpinan masa depan yang sanggup membawa bangsa ini menjadi nomor 4 sedunia dalam kualitas. Bagi anda yang berminat membaca tentang seabad Bernard Lewis dan komentar pakar seperti Ayaan Ali Hirsi, Jay Nordlinger, Martin Kramer, Victor Davis Hanson dan lain lain bisa mengakses ke website National Review. Sampai bertemu di edisi 24 Senin 20 Juni 2016. Bagi yang bergerak di bidang IT dan berminat ikut Technology Summit 2016 PDBI Kamis 16 Juni 2016 silakan ke website pdbionline.com. [war]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini