Kolom Inspira

Perusahaan keluarga berdasar merit

Jumat, 24 Oktober 2014 13:42 Penulis : Sapto Anggoro
Perusahaan keluarga berdasar merit Ilustrasi karyawan. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/Creativa

Merdeka.com - Dari sebuah majalah yang menemani perjalanan di pesawat, saya menemukan artikel yang menyelipkan sebuah hal menarik. Seseorang yang sebelumnya mengelola perusahaan bersama saudara-saudaranya (perusahaan keluarga) merasa usahanya kian lamban.

Akhirnya orang itu memilih pamit dan mendirikan perusahaan sendiri dan membuat keluarga baru dalam bentuk perusahaan. Yang dimaksud keluarga baru adalah, dia membuat usaha dengan orang-orang yang bukan saudara, tapi dibangun dengan cara kekeluargaan. Dia memberikan penghargaan kepada karyawan berdasarkan jasa yang diberikan.

Di perusahaan baru tersebut, pola hubungannya sudah seperti perusahaan keluarga. Namun bukan lagi perusahaan keluarga berdasarkan perkawinan (family’s company by married) akan tetapi berdasarkan sistem kontribusi positif (family’s company by system of merit).

Orang yang berpandangan itu adalah Toto Sugiri, seorang pebisnis yang visioner yang memiliki banyak perusahaan di bidang IT sejak 1990an. Jadi, ini artikel bukan murni pikiran saya tapi menuliskan kembali pandangan orang lain dengan harapan menyebarkan definisi baru dalam entrepreneurship. Dengan orang-orang baru, Toto tak segan memberikan ilmu dan kesempatan kepada karyawan yang berprestasi untuk mencapai puncak karir bahkan kalau perlu ketika mengembangkan usaha, mereka yang berprestasi itu mendapat kepercayaan mengelola, jadi direksi, dan mendapat hak saham.

Kita sudah banyak kenal, bahwa sejumlah perusahaan konglomerasi, diawali dari perusahaan keluarga dalam arti sebenarnya. Yakni keluarga karena perkawinan (married). Tersebutlah kelompok usaha Lippo, didirikan oleh Mochtar Riady kemudian menurun ke anaknya James Riady dan cucunya John atau Michael Riady juga sudah terlibat bisnis. Begitu juga cerita tentang perusahaan keluarga Sampoerna, mulai dari Liem Swie Ling, dilanjutkan Liem Seeng Tee (anak), Putera Sampoerna (cucu), dan ada Michelle, Michael, Jonathan Sampoerna (buyut). Begitu juga keluarga Rachman Halim (Gudang Garam), keluarga Hartono (Djarum), atau keluarga Eka Tjipta (Sinar Mas).

Nah, apa yang dimaksud dengan perusahaan "keluarga berdasar merit". Ini perusahaan yang dibangun dengan cara merit system. Yaitu perusahaan yang memperhitungkan kontribusi karyawan. Perusahaan memberikan kompensasi kepada karyawan atas dasar baik buruknya kinerja karyawan. Semakin baik kinerja karyawan maka semakin besar kompensasi yang akan diperoleh.

Kata merit berasal dari bahasa inggris yang memiliki arti jasa, manfaat serta prestasi. Merit pay adalah pembayaran imbalan (reward) yang dikaitkan dengan jasa atau prestasi kerja (kinerja) seseorang atau manfaat yang telah diberikan karyawan kepada perusahaan (performance base).

Dengan sistem merit ini, maka tidak mengherankan hubungan antara pemilik dengan karyawan-karyawan yang berprestasi tersebut menjadi dekat, seperti saudara, bahkan bisa sangat emosional. Karena saling menggantungkan dan terikat satu sama lain dalam ritme kerja yang sama yang diharapkan. Implikasi dari konsep merit, semakin tinggi kinerja yang diraih karyawan akan semakin tinggi pula kenaikan imbalannya. Untuk pembayaran didasarkan prestasi atau kinerja yang merupakan bagian dari sistem pembayaran reguler maka para pekerja harus dievaluasi secara reguler kinerjanya (performance appraisal).

Dalam ilmu pengelolaan karyawan, seperti disampaikan Edward E Lawler III dalam Center for Effective Organization menjelaskan bahwa dalam bisnis dan ekonomi yang lebih luas sedang mengalami perubahan dramatis struktur kerja mereka dan cara mereka memberikan kompensasi kepada karyawan.

Hal ini terjadi, karena perusahaan dihadapkan dengan tekanan untuk meningkatkan kualitas dalam jangka waktu yang singkat dan sering dengan biaya lebih efisien dan efektif. Akibatnya, konsep kompensasi bergeser dari membayar untuk pekerjaan, menjadi kompensiasi untuk pengetahuan, keterampilan (skill), kompetensi, dan kinerja, seperti disampaikan Odden & Kelley dalam teori strategic management of human capital (1997).

Dengan fakta-fakta di atas, maka muncullah nama-nama seperti Jonathan Ivy (desainer Apple) misalnya, yang sudah sangat emosional dengan almarhum Steve Jobs meski tak ada hubungan saudara perkawinan, tapi sudah seperti keluarga sendiri. Atau mungkin seorang Gandhi Sulistyanto di Sinar Mas yang begitu dipercaya dan dekat dengan keluarga Eka. Pasti Anda juga merasakan ada orang-orang champion yang memang berprestasi dan dekat banget dengan pemilik perusahaan. Jadi jangan salah dengar, bukan family by married saja dalam membangun perusahaan besar, tapi family by merit pun perlu. *** [tts]

Topik berita Terkait:
  1. Kolom Inspira
  2. Kolom Merdeka
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini