Perjuangan Berat Pendamping Penyintas Bipolar

Senin, 2 Desember 2019 09:05 Reporter : Anisyah Al Faqir
Perjuangan Berat Pendamping Penyintas Bipolar Ilustrasi Bipolar. Ilustrasi Bipolar ©2019 Merdeka.com/Liputan6.com (sumber: unsplash)

Merdeka.com - Raut kecemasan terlihat jelas di wajah Yasmine. Matanya tak lepas memperhatikan gerak gerik sahabatnya Nabila. Bagaimana tidak, pagi tadi dia melihat sahabatnya melukai diri sendiri. Berusaha mengiris tangan karena tengah mengalami masa depresi.

Nabila merupakan penyintas gangguan bipolar tipe 2. Sejak tahun 2017, gadis 18 tahun ini divonis menderita penyakit mental tersebut. Faktor lingkungan menjadi salah satu penyakit ini muncul.

Nabila pernah menjadi korban cyber bullying sejak kelas 1 SMP. Pola asuh keluarga juga jadi faktor lain. Dia kerap dituntut menjadi sempurna. Tanpa sadar, dia lupa dan kecewa saat ada bagian dalam dirinya yang tak sempurna.

Perkenalan Yasmin dan Nabila pertama kali saat masa orientasi di kampus Universitas Indonesia. Saat sedang berkenalan, mereka saling bercerita tentang alasan memilih fakultas psikologi.

Dalam perbincangan itulah, Nabila memberanikan diri mengakui jika dirinya mengidap gangguan bipolar tipe 2. Pengakuan tersebut tak lantas membuat Yasmin menghindar dari Nabila. Sebaliknya, keduanya makin mengakrabkan diri. Yasmin kerap bertandang ke indekos sahabatnya untuk sekedar main atau beristirahat.

Tiga bulan pertama, Nabila tidak tinggal sendiri di Depok. Dia ditemani sang ibu. Alasannya, sang ibu masih mengkhawatirkan kambuhnya depresi Nabila. Sebab, di masa depresi tak jarang Nabila ingin mengakhiri hidupnya.

Merasa kondisi psikologinya semakin membaik, Nabila meminta sang ibu kembali ke Jember, Jawa Timur. Meski tak langsung mengiyakan, sang ibu akhirnya luluh. Dia pun menitipkan Nabila kepada Yasmin, sahabat baru putrinya. Yasmin pun memutuskan indekos di tempat yang sama dengan Nabila. Harapannya, dia bisa mengawasi gerak-gerik Nabila.

Sebagai pendamping, Yasmin bertugas memantau Nabila dalam minum obat. Setiap malam, Yasmin akan mengetuk kamar Nabila. Memberi jatah obat dan menyaksikan langsung Nabila meminum obat wajibnya. Bukan tanpa alasan, jika hal ini tidak dilakukan, Nabila kerap lupa atau minum obat dalam jumlah yang banyak.

Pernah suatu hari dia titipkan obat di pintu kamar Nabila. Yasmin pun membubuhkan pesan khusus agar Nabila meminum obatnya. Sayangnya, esok hari obat tersebut masih utuh dan belum tersentuh. "Pas aku lihat lagi, obatnya masih utuh," ungkap Yasmin bercerita kepada merdeka.com, Kamis pekan lalu.

Suatu hari Yasmin juga pernah memberikan satu strip obat kepada Nabila. Saat itu dia berpikir, sahabatnya akan minum obat sesuai aturan dokter. Sayangnya, harapan itu pupus. Bila menenggak 6 butir obat sekaligus. Awalnya hal ini tidak diketahui Yasmin. Namun, usai salat, Nabila datang ke kamar Yasmin dan melakukan pengakuan dosa.

"Yasmin, aku mau pengakuan dosa. Aku minum 6 obat sekaligus," kata Yasmin menirukan ucapan Nabila. Sesegera mungkin, Yasmin membawa Nabila ke UGD rumah sakit terdekat. Beruntung tidak ada hal buruk terjadi.

Menjadi pendamping (caregiver) bukan hal mudah bagi Yasmin. Tugasnya bukan cuma memastikan Nabila meminum rutin obatnya. Lebih dari itu, dia juga bertugas mengamati perubahan mood Nabila.

Di masa Nabila mengalami depresi, Yasmin setia mendengarkan segala keluhan sahabatnya. Tak jarang pula dia kehabisan akal untuk membawa Nabila keluar dari fase depresinya. "Kadang aku merasa enggak bisa bantu dia (keluar dari fase depresi)," ungkap Yasmin.

Jika Nabila mengaku suasana hatinya didominasi depresi, Yasmin menjadi protektif. Dia bahkan memastikan di kamar Nabila tidak ada benda tajam, garpu dan benda-benda yang bisa menyakiti dan membahagiakan Nabila.

Yasmin bukan satu-satunya pendamping Nabila. Kedua orangtuanya juga memberikan perhatian penuh kepada Nabila. Salah satunya memasang alat deteksi pada ponsel Nabila. Sehingga, ke mana pun dan kapan pun, orangtuanya bisa mengawasi dari jarak jauh.

Selain itu, Nabila juga memiliki satu sahabat di Jember yang sangat perhatian. Seorang sahabat ini kerap menanyakan kabar. Tak jarang mereka juga melakukan panggilan video.

Baca Selanjutnya: Bipolar Bukan Penyakit Menular...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini